
Waktu berlalu dengan cepat, tanpa terasa kandungan Za sudah memasuki bulan ketujuh.
Pagi hari ini Za dan Inder mengikuti upacara adat tingkeban, prosesi adat tujuh bulanan khas sunda. Mereka melakukan prosesi adat ini dengan sangat antusias demi kelancaran kelahiran buah hati mereka.
selepas sholat magrib juga diadakan acara pengajian guna mendoakan kesehatan Ibu dan calon bayinya, juga mendoakan kelancaran persalinan Za.
Inder nampak khusyu ikut merapalkan ayat-ayat alqur'an bersama para undangan yang dibimbing oleh ustadz yang sengaja didatangkan kerumah mereka. Setelah acara pengajian selesai dilanjutkan dengan makan malam dan ramah tamah.
Satu persatu tamu undangan sudah meninggalkan rumah Queenza dan Inder, kini hanya keluarga dan kerabat dekat yang berada di rumah mereka, berkumpul mengobrol ringan.
"Apa kau sudah mengetahui jenis kelamin calon bayimu, Za?" tanya Maya penasaran.
Za mengangguk. "Dokter bilang dia laki-laki!" Ucapnya seraya mengelus perutnya.
"Wahh dia pasti akan tampan sepertiku!" Cetus Rega dengan percaya diri. membuat semua orang mengalihkan perhatiannya pada pria itu.
"Tidak...dia tidak boleh sepertimu." Sahut Alika keberatan. "Dia akan tampan dan baik seperti Inder." Imbuhnya lagi.
"Kenapa tak boleh sepertiku, bukankah aku juga tampan, bahkan orang bilang aku sangat menggemaskan." Sergah Rega tak terima.
"Mungkin kau memang tampan dan menggemaskan, Tuan! Tapi akan Sangat berbahaya jika baby boy ini menuruni sifat playboymu itu!" Ucap Alika, membuat semua orang terkikik geli melihat perdebatan sengit pasangan itu.
"Aku benar-benar akan menghukummu setelah ini, Sayang." Bisik Rega ditelinga Alika membuat gadis itu mendongak dan terkekeh.
"Aku hanya bercanda, Sayang!" Ucapnya seraya membentuk jarinya huruf V, pertanda damai. "Jangan marah, nanti ketampananmu akan berkurang satu persen setiap menitnya." Sambung Alika membuat pria itu tersenyum, "Kau membuatku gemas, Sayang!" ucapnya, lalu mencium pipinya membuat semua orang bersorak.
"Cieeee!" Ucap semua bersamaan.
"Regaaaa!" Protes Alika dengan membulatkan matanya.
"Tak perlu malu, Sayang, lagipula mereka juga tau kalau kau adalah calon tunangan playboy insyaf ini!" Ucapnya bangga.
"Yakin dia sudah insyaf, Al?" tanya Raja menggoda.
"Wahh pak Raja, Anda meragukan saya?" Sahut Rega.
__ADS_1
"Sebenarnya gak yakin juga sih, Kak." Ucap Alika membuat kedua mata Rega membulat sempurna.
"Kau memang tidak boleh terlalu yakin padanya Al! Karena yang namanya kebiasaan akan sangat sulit untuk berubah!" Ucap Ivana tertawa sambil menggendong bayi mungilnya.
"Gak usah jadi kompor, deh. Bilang aja sirik karena suamimu tidak ada disini!" Sergah Rega pada kakak Inder itu.
"Tapi Ivana ada benarnya, apalagi jika kebiasaan itu hal yang buruk dan sudah mendarah daging seperti kebiasaannu gonta-ganti cewek, Ga!" Timpah Inder, menggoda sahabatnya itu.
"Wahhh tega lo, bro! jatuhin gue." Ucap Rega membuat semua orang tertawa melihat ekspresi nya.
"Jangan dengarkan mereka, Sayang! Masa udah bela-belain di tamparin cewek se Rt masih Ragu juga tega banget kamu, Yang!" Rajuk Rega.
"Iya, percaya kok percaya." Ucap Alika membuat Rega memeluknya gemas.
Keseruan mereka berlanjut hingga malam larut, dan satu persatu dari mereka berpamitan untuk pulang.
đşđşđşđşđşđş
Queenza merebahkan tubuhnya di ranjang king size miliknya, ia mengusap punggungnya yang belakangan ini sering terasa sakit.
Za mengangguk pelan. "Sedikit." Ucapnya." Terima kasih, Daddy." Ucap Za lagi membuat bibir pria itu melengkung sempurna.
"Sama-sama Mommy." Ucap Inder.
"Uhh!" Pekik Za, saat merasakan sesuatu diperutnya, seperti sebuah tendangan kecil, ini bukan pertama kalinya ia merasakannya hanya saja biasanya tidak sekeras ini.
"Kenapa, sayang? Perutmu sakit?" tanya Inder panik.
Za menatap suaminya dengan senyuman. "Dia menendang, Inder!" Ucapnya senang.
"Benarkah?"
Za mengangguk. "Sini, pegang di sini!" Ucapnya seraya menarik tangan Inder dan meletakkannya diperutnya. "Uhhh, kau merasakannya?" Ujar Za saat tendangan kecil itu terasa lagi.
Inder mengangguk, "Ini luar biasa, sepertinya dia sudah tidak sabar untuk keluar." Ucapnya. Ia mensejajarkan wajahnya dengan perut Za lalu menciumnya.
__ADS_1
"Hai, Boy! Bersabarlah sebentar lagi, ya! Lahirlah dengan sehat dan kuat, jangan menyusahkan Mommy mu ya sayang." Ucap Inder seolah berbicara dengan bayinya.
"Iya, Daddy!" Ucap Za menirukan suara anak kecil.
Inder terkekeh kecil, ia mengecup kening istrinya. "Terima kasih, ya sayang. Karena sudah bersedia menjadi istriku dan jadi ibu untuk anakku." Ucap Inder.
Za mengecup bibir suaminya sekilas. "Aku juga berterima kasih karena kau sudah mau memperistriku yang bukan siapa-siapa ini, dan juga bersedia menerima aku apa adanya." Ucap Za menyandarkan kepalanya didada bidang milik suaminya.
"Sayang!"
"Hemz."
"Tadi bayi kita membisikan sesuatu padaku." Ucap Inder membuat Za mendongak.
"Memangnya kau bisa mendengar suara bayi dalam perut?" tanya Za .
"Tentu saja bisa, itu namanya ikatan batin antara anak dan ayahnya." Ucap Inder, membuat wanita itu memincing curiga. "Kau tidak mau tahu apa yang dia katakan padaku?"
"Apa?"
"Kemari biar kubisikan!" ucap Inder seraya mendekatkan bibirnya ketelinga istrinya.
"Bayi kita ingin ditengok oleh Daddy nya." Bisik Inder dengan menahan tawa melihat Za. yang berubah kesal.
"Modus! Bilang saja kau ingin minta jatah padaku." Cibir Za seraya mencebik pada suaminya.
Inder tertawa, sembari menarik tubuh istrinya, "Modusin istri itu gak dosa, Sayang." Ucapnya.
"Lagipula kita kan sudah lama tidak melakukannya." Sambungnya menghiba.
Za tertawa kecil melihat ekspresi suaminya, ia mengucap lembut pipi suaminya membuat bibir pria itu melengkung sempurna.
Inder menatap lembut sang istrinya, "Bolehkah? Aku janji akan melakukannya selembut mungkin." tanyanya.
Za mengangguk dengan pipi merona, membuat suaminya mendekatkan wajah mereka mengecup lembut bibir ranum istrinya dengan perlahan ia merebahkan tubuh sang istri, Dan....
__ADS_1
Terjadilah apa yang Seharusnya terjadi....