
Alika baru saja keluar dari tempat kerjanya ketika sebuah mobil mewah berhenti tepat di depannya.
Seorang lelaki yang sangat ia kenali turun dari mobil itu, lelaki yang sama namum dengan setelan pakaian yang jauh berbeda.
"Reihan?" Rapalnya dengan alis berkerut, Pria yang beberapa bulan belakangan ini sempat hadir di hidupnya, dan juga pria yang beberapa hari ini sempat ia rindukan kehadirannya.
Alika mengamati Reihan, wajah tampan yang sama namun dengan tampilan yang berbeda, Reihan yang pria biasa berpenampilan sederhana memakai kaos, celana jins dan jaket, dan di depannya ini adalah pria dengan setelan jas mahal khas orang kantoran. Benarkah pria di depannya ini adalah orang yang sama? Sepertinya hanya lesung pipit yang terlihat di wajah yang kini tersenyum manis padanya itulah yang membuatnya cukup yakin bahwa itu adalah pria yang sama yang dekat dengannya beberapa bulan belakangan ini.
"Mari nona, Tuan muda meminta saya menjemput anda." Ucap pria itu, sopan.
"Tuan muda?" Ulangnya bingung.
"Benar, Tuan muda meminta kami menjemput anda untuk menemui nona Queenza.".
Kini mengerti siapa tuan muda yang dimaksud, ia masuk kemobil itu dengan suka rela.
Mobil mulai melaju, hanya keheningan yang ada selama perjalanan. Ia mengalihkan pandangannya keluar mobil jalanan perkotaan sudah berganti dengan pepohonan yang menyejukkan mata.
"Apa kau tak merasa perlu menjelaskan sesuatu?" Tanyanya, setelah tak bisa lagi menahan rasa penasaran.
"Saya adalah asisten Tuan muda pramudza." Ucap lelaki itu datar, tak ada lagi kehangatan dan keramahan seperti yang biasa ia lihat dari lelaki itu.
"Lalu kenapa kau bisa bekerja di resto itu? Dan untuk apa?"
Lelaki itu menghela nafasnya, "Tuan muda menugaskan saya untuk mencari informasi tentang keberadaan adiknya yang hilang, dan menurut informasi anda adalah orang terdekat dari orang yang kami cari." Ucap pria itu lagi, masih konsisten dengan wajah datarnya.
"Jadi kau Sengaja melamar kerja disana dan mendekatiku, untuk menggali informasi tentang adik tuanmu itu?" Tanyanya lagi dengan emosi. "Dan itu berarti semua perlakuan baikmu padaku itu palsu? Dan kedekatan kita hanya alasan agar kau bisa mendapatkan info dariku? begitu?" Depannya.
Tak ada jawaban, semuanya kembali hening.
Betapa bodohnya aku, bisa terbuai hanya karena perhatiannya selama ini. Dan mengapa rasanya begitu sakit saat tau kenyataannya kalau aku hanya di manfaatkan.
Alika kembali pada masa dimana pertama kali Manager hotel memperkenalkan Reihan sebagai karyawan baru di resto tempatnya bekerja, lelaki itu selalu bersikap dingin pada karyawan lain tapi selalu bersikap hangat padanya, bahkan seringkali pria itu memaksa untuk mengatarnya pulang dan mengajaknya untuk menghabiskan waktu libur bersama.
Mungkin semua perlakuan itulah yang membuatnya merasa istimewa, hingga hatinya mulai tersentuh dan melambung tinggi dengan semua yang dilakukan pria itu sekecil apapun.
Dan kini... setelah mengetahui semua kebenarannya, hatinya terasa terhempas menuju lubang terdalam. Sakit sekaligus malu pada diri sendiri karena merasa terlalu percaya diri hingga salah menyimpulkan semua perlakuan dan perhatian Reihan padanya selama ini.
Suara klakson mobil yang mencoba memberi tanda pada para pejalan kaki di depannya membuat kesadarannya kembali ke masa kini.
__ADS_1
Suasana pepohonan tadi sudah berganti dengan hamparan perkebunan teh yang terhampar bagai permadani hijau sejauh mata memandang.
Mobil yang ia tumpangi masuk ke halaman sebuah rumah dengan pemandangan asri di sekitarnya. Begitu supir menghentikan laju mobil, dengan sigap lelaki itu keluar dan membukakan pintu mobil untuknya.
"Terima kasih." Ucapnya singkat. "Sama-sama, itu sudah jadi tugas saya, Nona." Ucap pria itu, membuatnya kembali kesal.
"Ya, ingatkan aku kalau apa yang kau lakukan padaku adalah sekedar tugas tak lebih." Ucapnya berubah ketus.
"Alika." Pekikan dari arah belakang, disusul pelukan di tubuhnya membuatnya kembali tersenyum.
"Za. Kangen banget aku sama kamu." Ucapnya dengan bibir yang sudah bisa melengkung sempurna.
"Sama aku juga." Ucap sepupunya itu, kemudian melepas pelukannya dan beralih memeluk pria yang baru saja datang bersama sepupunya tadi.
"Makasih kak, ini benar-benar kejutan yang memyenangkan." Ucap Za seraya memeluk kakaknya yang dibalas kecupan hangat di pucuk kepalanya.
"Kakak senang jika kamu bahagia dengan kejutan yang kakak berikan." Ucap lelaki itu. "Masuk dan ajak Alika istirahatlah, dia pasti lelah setelah menempuh perjalanan jauh."
Za mengangguk, lalu mengajaknya kedalam vila itu.
đşđşđş
Ia mengekor sang tuan menuju tempat kerja tuannya di vila ini.
"Jadi bagaimana? Apa semua bukti sudah siap?" Tanya tuannya tanpa basa-basi.
Ia mengangguk mantap, "Sudah Tuan, saya hanya tinggal menunggu perintah anda untuk memastikan kapan membawanya pada tuan Rendy dan Nyonya." Jawabnya.
"Bagus, bawa semua bukti itu besok ke rumahku beserta orang dari rumahsakit itu. Lebih cepat orangtuaku tau kebenarannya itu jauh lebih baik."
"Baik Tuan."
"Istirahatlah, Rei. setelah makan malam nanti baru kau kembali kekota."
"Baik Tuan, terima kasih. Kalau begitu saya permisi."
đşđşđşđş
Queenza dengan antusias menarik Alika kekamarnya, "Kau tidur bersamaku disini, ya." Pintanya. "Aku sangat senang kau datang, kau tau aku sangat kesepian disini." Keluhnya.
__ADS_1
"Kenapa kau tidak kembali ke kota?" Tanya Alika.
Ia menggeleng, "Kakak memintaku tetap disini, dan..."
"Dan apa?"
"Dan dia memintaku untuk berhenti bekerja." Ucapnya dengan sedih.
"Kenapa?"
"Dia ingin aku melanjutkan pendidikanku lagi."
"kalau itu alasannya, kau turuti saja bukankah itu demi kebaikanmu juga." Saran Alika.
Queenza mengangguk, "Iya, itu sebabnya aku tidak menolaknya."
"Mungkinkah hal itu yang dikatakan kak Raja pada Inder hingga dia berakhir di rumahsakit?" Gumam Alika pelan namun masih terdengar oleh Queenza.
"Kau bilang apa? Inder masuk rumahsakit?"
Alika mengangguk, "Malam setelah menjengukmu dia dan kakakmu berbicara, Rega bilang setelah itu Inder terlihat marah dan minum alkohol, dia masuk rumahsakit karena ternyata tubuhnya punya alergi parah terhadap minuman itu."Jelas Alika membuatnya menangkup mulutnya.
"Lalu bagaimana keadaannya sekarang?" Tanyanya Khawatir.
"Kau bisa tenang, sekarang keadaannya sudah baik-baik saja.
"Al, boleh aku pinjam ponselmu? Aku ingin menghubungi Inder."
"Sebentar, ini ponselmu. Rega menyuruhku menyimpannya dan memberikannya langsung padamu."
"Ahhh terima kasih, aku mencari-cari ponsel ini."
Ia mengetikan nama Inder lalu menghubungi pria itu, tapi nihil panggilannya tersambung tapi tak dijawab membuatnya memcoba lagi dan lagi.
"Gak diangkat juga" Ucapnya mulai kesal.
"Apa dia sudah tahu tentangku dan keluarga pramudza, Al?" Tanyanya dan sepupunya itu mengangguk.
"Apa dia marah, karena merasa sudah di bohongi olehku, Al?"
__ADS_1