Takdir Cinta Queenza.

Takdir Cinta Queenza.
Jadi Pengecut


__ADS_3

Inder duduk di ranjang tidurnya, menatap foto Za, seperti yang ia lakukan hari-hari sebelumnya.


Rindu... dia sangat merindukan gadis itu, terlebih setelah Mendengar kabar dari Rega. "Dia, Queenza... dia adalah gadis yang selama ini kau cari! Dia adalah peri burung itu, si pemilik sapu tangan itu." Ucap Rega penuh semangat, saat menyampaikan informasi yang ia dapatkan dari Alika, kemarin.


Sekarang ia mengerti kenapa hatinya bisa dengan mudahnya berpaling setelah bertahun-tahun tertambat pada seorang gadis kecil yang ditemuinya di desa saat ia liburan di rumah neneknya.


Kesalahfahaman yang berujung cerita manis di masa kecilnya, berhasil membuatnya terpaku pada satu gadis yang bahkan tak ia ketahui namanya saat itu. Tapi mampu membuatnya penasaran hingga membuatnya kembali kedesa setiap liburan semester hanya dengan satu harapan, bertemu kembali dengan gadis pemilik sapu tangan itu.


Dan kini setelah sekian lama mencari, ia mendapatkan titik terang. Gadis kecil sekaligus cinta pertamanya ia temukan!


Bahagia? Tentu ia bahagia namun juga ada ketakutan yang mengiringi kebahagiaannya.


"Ada satu hal lagi yang harus lo tau." Ucap Rega lagi, "Queenza adalah putri keluarga pramudza yang dipisahkan saat kecil."


"Hah maksudnya?"


"Alika juga gak tau gimana ceritanya, keluarga pramudza menyangka dia sudah tiada. Namun yang pasti Raja dan Queenza memang Saudara yang baru kembali bertemu setelah lama terpisahkan."


Inder menyandarkan kepalanya, "Itu berarti apa yang dikatakan Raja benar-benar akan terjadi, aku benar-benar akan kehilangan dia." Keluhnya terdengar putus asa.


"Belum tentu Queenza akan menyetujui permintaan kakaknya, jangan pesimis dulu." Ucap Rega menyemangati.


Nada dering telepon yang mengalun membuyarkan lamunannya. Nama gadis yang memenuhi pikirannya muncul di layar membuat bibirnya melengkung.


Ia menyambar ponselnya dengan cepat, namun sedetik kemudian keraguan menyelimuti benaknya membuatnya mengrungkan niat untuk menjawab panggilan itu.


Bagaimana bila dia menghubungiku hanya untuk mengajukan resign.


Benda pipih itu ia letakkan kembali, membiarkannya terus berdering karena panggilan yang terus diabaikan.


"Inder ponselmu berdering." Ujar Rega, yang sedang menemaninya saat ini.


"Aku tahu." Jawabnya singkat.


"Terus kenapa tidak diangkat?"


Ia menggeleng, "Aku tak siap bicara padanya." Ucapnya membuat Rega mendekat padanya, melirik siapa si penelpon.


"Za? Ada denganmu Inder? Kenapa kau jadi pengecut begini?"

__ADS_1


Inder tak bergeming, benda pipih itu tetap ia abaikan hingga akhirnya berhenti dengan sendirinya.


🌺🌺🌺🌺


Sementara di sebuah apartment, Friska menatap geram video yang dikirimkan anak buahnya yang ia tugaskan untuk mengamati Za.


Video Za tengah jalan-jalan menikmati pemandangan kebun teh bersama kakak angkatnya. Sejak bertemu dengan Za untuk pertama kalinya, ia sudah tidak memyukai gadis itu! Kedekatan gadis itu dengan lelaki yang disukainya menjadi alasan kebenciannya pada Za. Ia menyewa penguntit untuk melaporkan setiap kegiatan Za, namun ia tak pernah menyangka akan menemukan kejutan lain.


Dari laporan orang yang ia sewa ternyata tak hanya Inder, tapi kakak angkat yang selalu bersikap dingin padanya juga menaruh perhatian lebih pada gadis itu membuatnya makin meradang.


"Bahkan pria dingin itu bisa takluk olehnya, apa sebenarnya kelebihan gadis miskin itu sampai bisa membuat para lelaki bertekuk lutut padanya?" Geramnya, saat melihat video yang dikirim anak buahnya.


Sebuah notifikasi pesan yang ia terima membuat bibirnya tersungging, ia mengetikkan pesan balasan.


"Gadis miskin sepertimu tak pantas bersanding dengan orang-orang terhormat seperti kami! Tunggulah kehancuranmu!!!"


🌺🌺🌺🌺


Raisa duduk manis di cafe yang tak jauh dari Bandara, sesaat setelah mendarat ia sudah mengirimkan pesan pada friska dan friska memintanya menunggu disini.


"Hai, Kak. Maaf membuatmu lama menunggu." Ucap sang calon adik ipar sembari mencium pipi kanan dan kirinya.


Friska, ia mengenalnya sebagai adik Raja, kekasihnya. Saat masih berada di New York, Friska sering liburan disana dan mengenalkan diri sebagai adik kekasihnya, ia percaya saja karena Raja juga tak menyangkal saat gadis itu mengakuinya Sebagai kakak.


Meski... ia agak sedikit heran karena tak pernah melihat mereka akrab selayaknya adik kakak. Bahkan Raja cenderung dingin dan ketus pada Friska.


"Mungkin karena mereka terpisah jarak cukup jauh jadi mereka tak dekat." Pikirnya saat itu.


"Kak Raisa!" Panggilan dari Friska entah yang keberapa kalinya, menyadarkanya dari lamunan. "Ya."


"Kakak sedang melamunkan kak Raja, Ya?" Ucap Friska terkekeh.


Ia tersenyum menanggapi meski tebakan calon adik iparnya itu tak sepenuhnya salah. "Jangan khawatir, Kak. Kita hempas pelakor itu sama-sama." Ucap Friska bersemangat.


Sekali lagi dia hanya bisa tersenyum, "Fris, boleh aku tanya sesuatu?" Tanyanya, gadis itu mengangguk. "Bagaimana rupa gadis itu? Maksudku apa dia begitu cantik hingga kakakmu sampai berpaling dariku?" Lanjutnya.


"Bukankah beberapa hari lalu aku mengirim foto mereka."


Ia mengangguk, "Mereka terlihat begitu bahagia, Raja bahkan tersenyum begitu lebar." Ucapnya sedih.

__ADS_1


Friska beringsut mendekatinya, "Kakakku hanya sedang tersesat hingga tertipu oleh wajah polos gadis itu, dan kewajiban kita membawanya kembali kearah yang benar."


"Kau masih mencintai kakakku, kan?" Tanya Friska.


"Tentu saja, aku bahkan sangat mencintainya."


"Kalau begitu malam ini menginaplah di apartemenku, kita bahas rencana kita untuk memberi pelajaran pada gadis itu! Kakak tentu ingin Kak Raja kembali kan? Jadi kurasa kakak tidak akan keberatan dengan rencana yang ku katakan kemarin." Tanya Friska lagi


Ia mengangguk cepat, "Aku akan melakukan apapun agar Raja kembali padaku." Tekadnya yakin.


🌺🌺🌺🌺🌺


Inder menyandarkan kepalanya di sisi ranjang kamarnya. Sekarang ia sudah kembali kerumah Bundanya, sepulang dari rumah sakit Bunda menyuruhnya untuk tinggal di rumah karena tak mau kecolongan lagi.


Suara dering handphone tak membuatnya tergerak untuk menjawab panggilan itu, Pengecut! Jatuh cinta membuatnya jadi Pengecut.


"Sampai kapan kau akan menghindar dari Za seperti ini Inder? Dia bisa salah faham padamu kalau kau terus menghindarinya." Ucap Rega yang mulai gemas dengan tingkah sahabatnya.


"Gue gak siap bicara padanya." Ucapnya. Alasan sama yang selalu menjadi andalannya sejak tiga hari yang lalu, saat mengabaikan semua panggilan dari gadis itu bahkan semua chat yang di kirim dari Za tak ada satupun yang ia balas.


"Kalau begitu biar aku yang bicara padanya." Ujar Rega.


"Jangan, biarkan saja begitu." larang Inder, membuat Rega menggelengkan kepala tak mengerti.


"Ketakutan lo gak beralasan Inder! Belum tentu Za akan menuruti perintah kakaknya, dan kalaupun dia resign bukan berarti kalian tidak akan bertemu lagi." Ucap Rega yang mulai kesal.


"Apa jatuh cinta membuat orang jadi begitu bodoh, Tuhan...semoga aku tak pernah jatuh cinta." Batin Rega.


"Berhenti mengomel, Ga! Lo bisa ngomong gitu karena gak ngalamin apa yang gue alami." Bentak Inder. "Apa lo gak lihat? Sekarang saja pria itu sudah menjauhkan Za dari gue."


Rega tak menimpali perkataan Inder lagi. Percuma! pikirnya. Ponsel Inder kembali berdering, namun kali ini sebuah nomor tanpa nama yang muncul di layar ponselnya.


"Za, lagi?" Tanya Rega.


Inder menggeleng. "Nomor tak dikenal." Ucap Inder.


"Setidaknya angkat yang itu, berisik tau dari tadi ponsel lo terus berdering." Ucap Rega.


Meski malas, akhirnya Inder menjawab panggilan itu. "Halo."

__ADS_1


"Apa aku harus memakai nomor lain dulu, baru kau mau menjawab teleponku Inder?"


__ADS_2