
Rega kembali kekamarnya untuk mengecek keadaan Alika.
Kosong, tak ada siapapun disana membuatnya sedikit bingung, tidak mungkin gadis itu pergi kan? pikirnya.
Kemudian ia ingat terakhir kali, Alika sedang berada dikamar mandi membuatnya berinisiatif untuk mengecek kamar mandinya.
"Alika kau masih di dalam?" Ucapnya.
Ceklek. Pintu terbuka dari dalam.
"Kenapa? apa ada masalah?" Tanyanya bingung, karena gadis itu hanya melongokan kepalanya.
"Aku baru sadar, kalau aku tak bawa baju ganti." Ucap Alika. "Sementara bajuku yang semalam juga tak mungkin kupakai lagi karena sudah sangat kotor dan juga robek."
Ia mengulum senyum, "Jangan khawatir, aku sudah menyuruh anak buahku untuk membeli pakaian untuk mu." Ucapnya santai. "Tapi mungkin membutuhkan sedikit waktu." Sambungnya.
"Baiklah, aku akan menunggu didalam saja." Ucap gadis itu, seraya hendak kembali menutup pintu, namun dengan sigap tangannya menghalau pintu yang hampir tertutup itu.
"Kau akan kedinginan jika terus berada di kamar mandi!" Ujarnya.
"Tapi aku juga tak mungkin menunggu diluar hanya dengan berbalut handuk." Sergah gadis itu, membuatnya memutar otak.
"Tunggu disini." Ucapnya seraya berjalan menuju lemari pakaiannya kemudian kembali dengan pakaian di tangannya.
"Pakai ini dulu, agar kau bisa keluar karna lututmu harus segera diobati." Ucapnya. seraya memberikan pakaian miliknya pada Alika.
"Aku tunggu diluar, kau bisa memanggilku kalau sudah selesai." Ucapnya lagi lalu keluar dari kamar pribadinya.
đşđşđşđş
Alika keluar dari kamar mandi lalu menuju walk in closed untuk mengganti pakaiannya.
Cukup lama ia memandang pakaian yang diberikan oleh Rega, sebuah kaos dan celana pendek bahan yang sudah pasti kebesaran di tubuh mungilnya.
Ia memakai pakaian itu, walau bagaimanapun lelaki itu sudah berbaik hati menolongnya dan kini memberi pinjaman pakaian untuknya.
Ia keluar dari tempat itu bersamaan dengan Rega yang juga baru saja kembali masuk kekamar, pria itu berdiri mematung menatap dirinya membuatnya merasa tak nyaman.
"Ehem!" Ia berdehem, membuat pria itu segera tersadar, dan berjalan menuju sofa kemudia menaruh sesuatu disana.
Lelaki itu kemudian kembali mendekat dan membantunya berjalan menuju sofa yang ada di kamar itu, namun sebelum benar-benar sampai di sofa, kakinya terasa seperti terjegal sesuatu hingga membuat langkahnya menjadi oleng hingga akhirnya membuat keduanya terjatuh dengan posisi dirinya menindih tubuh pria itu.
__ADS_1
Deg...Deg..deg...
Jantungnya terasa berpacu dua kali lipat, mata mereka terkunci satu sama lainnya, membuat mereka berada di posisi itu cukup lama.
"Sepertinya kau begitu nyaman dengan posisi begini?" Ucap Rega dengan nada menyebalkan, Membuatnya segera bangkit dari posisi itu.
Ia duduk dengan perasaan canggung, sementara lelaki disampingnya menatapnya dengan senyum
"Aku membelikan sarapan." Ucap Rega mencairkan suasana, seraya membuka bungkusan makanan. "Kau pasti lapar, dari semalam belum makan." Ucapnya lagi, sembari menyodorkan sebungkus nasi uduk padanya.
"Mau ku suapi?" Tanya lelaki itu, melihatnya masih tak bergerak, Membuatnya segera menggeleng. "Aku bisa sendiri." Jawabnya, membuat lelaki itu mengulum senyum.
Ia mulai meraih makanannya dan mulai makan.
selepas sarapan Rega memberikannya obat yang diberikan dokter semalam, juga dengan telaten mengobati lututnya yang terluka, membuatnya tersenyum sembari memperhatikan apa yang dilakukan oleh lelaki itu.
"Ternyata dia baik juga! Apa selama ini aku sudah salah sangka sama dia? Dia masih mau menolongku juga dengan lembut mengobatiku, padahal selama ini aku selalu ketus padanya." Gumam Alika dalam hati.
"Selesai!" Ucap Rega, menyadarkannya dari lamunan.
"Makasih!" Ucapnya tulus.
"Ya ampun! Aku lupa kabari dia." pekiknya, seraya menerima benda pipih itu dan mencari kontak Za, untuk menghubungi sepupunya itu.
"Aku sudah bilang kalau kamu sedang bersamaku, jadi dia minta aku mengantarmu." Ucap Rega membuatnya menghentikan aktifitasnya.
"Tadi Za udah sherlock, tapi kayaknya bukan tempat kostan kamu yang dulu, kamu pindah rumah?" Tanya lelaki itu, lagi.
Ia menggeleng, tapi kemudian mengangguk, "Kak Raja, membelikan rumah untuk Za, dia ingin Za punya tempat tinggal yang aman dan juga nyaman, Jadi dia meminta aku menemani Za disana!" Ucapnya.
"Wahh, keren! Beruntung banget Za! Beda emang kalau sultan." Ucap Rega. "Kayaknya Raja sayang banget sama, Za."
Ia mengangguk mengiyakan, meski ada yang terasa janggal dengan sikap kak Raja yang ia nilai berlebihan terhadap sepupunya itu.
Ketukan pintu membuat keduanya menoleh serempak, Rega segera bangkit lalu berjalan untuk membuka pintu dan kembali dengan membawa paperbag milik brand terkenal, lalu menyerahkan padanya.
"Ini, pakaian gantimu! Setelah itu kuantar ketempat Za." Ucap Rega. membuatnya menerima paperbag itu.
đşđşđşđş
Rega membantu Alika turun dari mobilnya begitu sampai di tempat yang ia yakini rumah Za. Rumah yang cukup nyaman dan berada di pusat kota,l.
__ADS_1
"Raja benar-benar ingin membuat gadis itu merasa nyaman bersamanya." Pikirnya.
Ia memapah Alika untuk berjalan ketika netranya menangkap sesosok pria yang memandang mereka dengan wajah tak senang.
"Alika!" Pekikan, Za. membuat mereka menghentikan langkah, membiarkan gadis itu menghampiri mereka.
"Ya ampun, kok bisa jadi gini sih, Al?" Tanya Za.
"Gak apa-apa, cuman ada sedikit insiden kemarin!" Ucap Alika.
"Sebaiknya ngobrol didalam saja, Za. Alika belum boleh terlalu lama berdiri." Ucapnya mengingatkan.
"Iya, Mas! ayo kita kedalam saja." Ucap Za, sembari membantu memapah Alika.
"Aku langsung balik, ya." Ucapnya, setelah mendudukkan Alika di sofa ruang tengah. "Inder ada jadwal syuting pagi soalnya." Sambungnya lagi.
"Oh, ya sudah. Makasih udah nganterin Alika kesini, ya Mas!"
Ia mengangguk, "Inder pasti senang kalau tau kamu sudah berada di kota ini." Ucap Rega kemudian.
"Aku memang belum sempat memberi kabar kepulangan ku, tapi nanti aku akan menghubunginya." Ucap Za.
"Baguslah! Kalau begitu aku permisi dulu." Ucap Rega melirik Alika sekilas, "Aku balik dulu!" Pamitnya pada wanita itu.
"Makasih untuk semuanya." Ucap Alika yang ia angguki.
"Aku anter Mas Rega kedepan dulu, ya!" Ucap Za yang masih bisa ia dengar, sebelum kemudian melangkahkan kakinya keluar dari rumah itu.
"Hati-hati, Mas." Ucap Za saat mengantarnya. "Dan makasih udah antar Alika kesini." Sambung gadis itu lagi.
Membuatnya mengangguk. "Masuk gih, kasian Alika nunggu sendirian." Ucap Rega pada Za.
"Oke, Hati-hati dijalan, Mas. Aku masuk dulu." Ucap Za.
Ia baru akan memasuki mobilnya ketika suara pria dari belakang bertanya padanya.
"Ada hubungan apa antara kamu dan Alika?"
Ia menoleh, "Menurutmu?" Jawabnya membalikkan pertanyaan, kemudian masuk kemobilnya dan melajukannya.
Meninggalkan lelaki itu kesal di tempatnya.
__ADS_1