Takdir Cinta Queenza.

Takdir Cinta Queenza.
Bonchap 1


__ADS_3

Assalammualaikum😘


Masihkah ada yang stay di sini? Aku kasih bonchapnya Mbak Maya sama Mas Raja ya, semoga kalian suka😘


Kaisar gibran prasetya


Bayi gembul menggemaskan yang memasuki usia tujuh bulan itu tertawa senang saat sang Daddy dan pamannya berebut mengajaknya bermain, tawanya membahana hingga menularkan kebahagiaan bagi semua orang yang berada di sekitarnya.


"Da...da...da..."


Celotehan menggemaskan yang keluar dari bibir kecil baby Kai membuat bibir semua orang tak berhenti tersenyum bahagia.


Queenza tersenyum, ia benar -benar bersyukur karena putranya tak hanya menjadi kesayangan dan kebanggaan bagi dirinya dan juga suaminya tapi juga menjadi kesayangan semua orang.


Lihatlah, bahkan pria kaku seperti Raja pramudza rela melakukan hal konyol demi bisa membuat putranya tertawa senang.


Seorang pelayan datang kemudian menunduk hormat padanya.


"Maaf, Nona. Apa baby Kai mau di mandikan sekarang?" tanya pelayan itu.


Queenza mengangguk, hari sudah beranjak sore waktunya Baby Kai untuk mandi. Saat ini Ia tengah berada di kediaman keluarga Pramudza, janjian dengan sang kakak untuk menengok kedua orang tuanya.


Ia terkekeh geli melihat tingkah Kakak dan suaminya yang bersaing menyenangkan Kai, menggelengkan kepala tak habis pikir pria dewasa macam mereka berebut menarik perhatian seorang bayi seperti berebut mainan saja.


"Mainnya udahan dulu ya, Kai mau aku mandiin dulu, " ucapnya seraya meraih tubuh mungil bayi kecilnya lalu membawa bayi mungil itu untuk mandi.


"Kita mandi dulu ya sayang," ucapnya seraya mencium gemas bayi kecilnya.


"Umhh biar gak bau acem, " imbuhnya lagi. kemudian beralih pada pelayan yang mengikutinya di belakang.


"Kau boleh melanjutkan pekerjaanmu, biar aku saja yang memandikan Kai."

__ADS_1


Begitulah Queenza, sebanyak apapun pelayan di rumahnya jika urusan merawat anak dengan senang hati ia akan melakukannya sendiri.


"Aku bantu ya, Sayang."


Sang suami dengan sigap berdiri menghampirinya, mengambil alih bayi mungil itu, "Anak ganteng Daddy mandi dulu ya, biar tambah ganteng kayak Daddy nya," ucap Inder dengan mata memincing kearah kakak iparnya. "Biar kalau besar nanti jadi rebutan sama seperti Daddynya."


Raja berdecak kesal, adik iparnya itu selalu saja membuat gara-gara, "Kau lihat saja nanti, putraku akan lebih tampan dari baby Kai, ayah nya saja lebih tampan dari Daddy nya Kai," cetus Raja. Mereka masih saja saling bersaing.


Inder melirik kakak iparnya itu dengan jahil, "Lebih tampan tapi masih kalah dariku, " ucap Inder lagi dengan nada mengejek. Entahlah sekarang dia sangat suka menggoda kakak iparnya.


"Kau..."


Raja ingin membalas ucapan adik iparnya itu, tapi urung saat melihat tatapan istrinya yang penuh ancaman. Sementara Queenza segera membawa suami dan putranya, ia tau jika mereka sudah berdebat seperti ini tak akan ada yg mau mengalah di antara mereka.


Za juga tak habis pikir sejak ia hamil baby Kai suaminya jadi suka sekali mengganggu kakaknya.


🌺🌺🌺🌺


"Aku hanya bercanda sayang, habisnya dia menyebalkan," ucap Raja membela diri. Mami Maura dan Papi Rendy terkekeh geli melihat tingkah putranya.


Raja menghela napasnya saat melihat wajah Maya yang berubah murung, "Bukan begitu, Sayang."


Pria yang sebentar lagi akan menjadi seorang ayah itu menghampiri istrinya, dan membelai lembut puncak kepala wanita yang di cintainya itu. "Mas hanya tak suka kalah dari Inder. Sungguh, kau tau sendiri bukan, cinta dan sayang Mas hanya untukmu seorang. Sejak kau hadir di hidup Mas, hanya kamu yang selalu ada di pikiran Mas, percayalah kekesalan Mas tadi hanya semata-mata jengkel dengan keisengan Inder tak lebih dari itu."


Maya mengangguk, ia tentu percaya pada suaminya. Ia pun bisa merasakan sebesar apa cinta Raja padanya.


"Uhhhh..." pekik Maya tiba-tiba membuat suaminya panik seketika.


"Kenapa sayang? " tanya nya.


Mami Maura yang melihat itu juga mendekat menghampiri menantunya, "Ada apa Nak? Apa yang kamu rasakan?

__ADS_1


Maya menggeleng, " Gak apa-apa, aku hanya..."


"Apanya yang hanya, ayo kita kerumah sakit saja." pangkas Raja.


Pria itu benar- benar panik sekarang.


"Maafkan Mas, sayang. Kita kerumah sakit sekarang, ya? Mas takut terjadi apa-apa sama kamu,"


"Iya May, lebih baik kerumah sakit saja biar di periksa," timpal Papi Rendy mulai khawatir juga.


Yang diajak malah menggeleng lagi sambil tersenyum, "Aku gak apa-apa kok Mas."


"Gak apa-apa gimana? barusan kamu kesakitan."


Maya menghela napasnya, suaminya kalau sedang panik memang susah di ajak bicara. "Bukan kesakitan cuma kaget," jawabnya.


Maya meraih tangan suaminya lalu di dekatkan pada perutnya, "Coba rasain deh Mas."


Raja menurut meski masih dalam kebingungan. Ia menyentuh dan mengelus perut istrinya lembut. Satu, dua detik ia tak merasakan apa-apa, tapi detik berikutnya ia merasakan sesuatu bergerak di perut istrinya.


"Ada yang bergerak, May!" pekiknya girang seraya menatap sang istri dengan mata berbinar. "Aku udah bisa merasakan gerakan mereka, May."


"Mereka bergerak-gerak Pi, Mi," ucapnya pada orang tuanya tanpa mengalihkan pandangannya dari perut sang istri.


Maya mengangguk, senyum mengembang di bibir mereka. Ini pertama kalinya Raja bisa merasakan pergerakan bayi nya selama dalam kandungan sang istri, biasanya hanya Maya yang merasakan pergerakan bayi mereka tapi sekarang sepertinya bayi kembar mereka juga ingin berinteraksi dengan ayahnya.


Raja mulai menyentuh sisi lain perut istrinya, ia tersenyum lebar saat perut sang istri kembali merasakan pergerakan bayinya. Bahkan pergerakannya mengikuti sentuhan tangan Raja. "Lihat, Mi! gerakannya ngikutin aku."


"Sayang, ini Papi kalian, Nak."


Raja berbicara seraya terus mengelus lembut perut istrinya, puas mengelus, ia beralih menciumi perut istrinya, "Tumbuhlah sehat ya Sayang, Papi sudah tidak sabar menantikan kehadiran kalian."

__ADS_1


Mami Maura dan Papi Rendy ikut terharu melihat pemandangan indah itu, menitikan bulir bening yang keluar di sudut matanya, saat melihat senyum bahagia dari bibir putranya, apa lagi yang paling membahagiakan orang tua selain melihat kebahagiaan putra-putrinya.


"Terima kasih Tuhan, terima kasih atas kebahagiaan yang kau berikan pada keluarga kami."


__ADS_2