
Sementara itu Raja masih berusaha menyelesaikan pekerjaan kantornya, sebuah notifikasi pesan dari Maminya membuatnya menggeser benda pipih itu dan membaca pesannya.
Jangan lupa, pulang cepat! Kita ada makan malam dengan Inder dan asistennya.
Raja membereskan dokumen yang berantakan di meja kerjanya, ia bersiap untuk pulang.
Lelaki itu mengendarai kendaraannya menuju rumah, ia sampai di rumahnya tepat saat sebuah mobil Range Rover masuk ke halaman rumahnya, seorang pria keluar dari mobil itu lalu memutarinya untuk membukakan pintu lainnya.
Raja memarkirkan mobilnya di belakang mobil itu dan keluar dari mobil, ia mematung saat melihat gadis yang keluar dari mobil di depannya, "Apakah itu benar dirimu, Queen? Apa aku benar-benar telah menemukanmu?"
đşđşđş
Queenza dan Inder segera berangkat setelah berpamitan pada Ivana. Selama perjalanan, Queenza tak berbicara sepatah katapun, pikirannya sedang sibuk menyiapkan hati untuk bertemu dengan keluarganya lagi.
Kendaraan yang di tumpanginya masuk ke halaman rumah keluarga pramudza, ia diam sesaat, bergeming di tempatnya meski Inder sudah membukakan pintu mobil untuknya.
"Za... are you ok?" Tanya Inder yamg khawatir melihat ekspresi Za yang begitu tegang.
Za mendongak, kemudian mengangguk. "Aku hanya gugup." Ucapnya berbohong.
Ia keluar dari mobil itu bersamaan dengan suara pintu mobil yang tertutup di belakangnya, membuatnya menoleh.
Za mematung, netranya tak bisa berpaling dari sang kakak yang juga tengah menatapnya, pandangan keduanya bertemu.
"Kakak... betapa aku ingin berlari memelukmu, aku sangat merindukanmu." Ucapnya dalam hati.
__ADS_1
Inder yang melihat mereka saling berpandangan mendapati dirinya tak nyaman. "Ada hubungan apa sebenarnya diantara kalian berdua?" Tanyanya dalam hati.
Dan suara berat dari belakang membuat mereka menoleh."Syukurlah kalian sudah datang." Ucap Rendy.
Za tersenyum melihat Papinya yang masih gagah di usianya yang matang, "Selamat malam, Om." Ujar Inder dan Za serempak.
"Malam, Nak. Ayo! Tante Maura sudah menunggu kalian sedari tadi." Ucapnya.
Queenza mengangguk sopan, Rendy mengalihkan perhatiannya pada Raja yang masih berdiri di sisi mobilnya. "Kenapa hanya berdiri di sana, Ayo kita masuk, Ja. Mamimu sudah menunggu."
Mereka masuk kedalam.
Queenza mengedarkan pandang keseluruh rumah ini, Rumah masa kecilnya yang penuh kenangan. "Aku tak pernah menyangka akan kbali ke rumah ini lagi." Batinnya.
"Semuanya masih sama, tak banyak yang berubah." Gumamnya dalam hati. "Tuhan... aku sangat merindukan rumah ini." Batin, Za.
Maura menatap Za dengan berbinar, entahlah hatinya begitu bahagia sejak bertemu gadis itu tempo hari. Senyum tak pernah pudar dari bibirnya, sedari tadi ia terus menawari Za berbagai makanan yang ia masak. Dan itu membuat Friska jengkel, Friska tak mengerti apa istimewanya gadis ini hingga semua orang begitu menyukainya. Dan lihatlah bahkan kakaknya yang seperti kutub itu terus memandanginya.
"Kau tahu, Za? Ini pertama kalinya Tante masak setelah sekian lama." Ujar Maura. "Sejak bertemu di Mall itu, Tante terus berharap semoga kita di pertemukan lagi, dan tuhan benar-benar mengabulkan harapan tante." Sambung Mami Maura, membuat Za tersenyum.
"Makannya, Tante langsung meminta izin Om untuk mengundangmu makan malam, sebagai ucapan terima kasih karena kamu menolong tante saat itu." Sambung Mami lagi.
"Itu hanya sebuah kebetulan Tante." Ucap Queenza, "Tidak Nak, itu bukan kebetulan, tapi mungkin memang Tuhan mengirimmu untuk menolong tante."
"Yang benar saja, Mam. Dia itu hanya menolongmu yang hampir terjatuh, bukan menolongmu dari kecelakaan atau drama penculikan. Jadi tak perlu berlebihan seperti itu!" Cibir Friska, Kesal. Yang langsung di balas tatapan tajam kakak nya.
__ADS_1
"Friska, jaga bicaramu!" Tegur Raja merasa tidak suka dengan ucapan sang adik angkat.
"Aku berkata benarkan? kenapa kalian memujinya hanya karena pertolongan kecil yang dia lakukan?" Ucapnya lagi tak suka.
"Pertolongan kecilnya itu menyelamatkan Mami," Debat Raja lagi.
"Sudah...sudah kenapa kalian jadi bertengkar" Lerai Papi Rendy.
Keduanya terdiam, perdebatan mereka membuat rasa tak nyaman bagi Za, dia merasa menjadi penyebab pertengkaran ini.
Friska kesal karena tak ada yang membelanya, ia beranjak dari duduknya "Aku sudah selesai." Ucapnya seraya pergi meninggalkan meja makan.
"Maaf." Ucap Za.
"Maaf? Untuk apa?" Tanya Mami Maura.
"Karena saya keributan ini terjadi." Ucap Za.
"Ini bukan salahmu, Nak. Tante yang harusnya Minta maaf atas ketidak nyamanan ini." Ucap Mami Maura. "Dan jangan Perdulikan Friska ia memang seperti itu, ia selalu tak senang jika ada yang lebih di perhatikan darinya." Ucap Maura.
Maura mengajak Za berbincang di ruang tamu setelah makan malam selesai, tentu za tak keberatan. Ia senang bisa mengobrol sedekat ini dengan maminya, Rendy dan Raja juga ikut senang melihat Maura yang tak berhenti tersenyum saat bersama Za. Sudah sangat lama mereka tak melihat Maura seceria itu. Dan begitupun dengan Inder, ia bahagia melihat gadis pujaannya itu terlihat ceria.
"Tante, apa tak sebaiknya tante membujuk friska? Ia pasti akan makin kesal karena di abaikan." Ucap Za, masih merasa takmenak hati karena kepergian Friska.
"Jangan terlalu khawatir, Za! Friska memang cepat marah tapi tidak pernah lama, nanti setelah amarahnya mereda ia akan kembali baik" Ujar Rendy. Ia tersenyum lega.
__ADS_1
"Kau begitu mirip dengan putriku!" Ujar Maura, membuat semua orang beralih menatapnya.