
Inder berdiri cemas di depan pintu kamar rawat Queenza, sudah hampir empat jam dokter dan beberapa perawat masuk kekamar itu untuk melakukan tindakan tapi masih belum ada satupun yang keluar.
"Dia pasti akan baik-baik saja!" Ujar Rega yang baru saja bangun mencoba menenangkan Inder.
"Siapa yang tadi menelpon?" Tanyanya, tadi ia sempat mendengar sahabatnya itu bercakap di telpon, tapi ia sama sekali tak memperhatikan karena pikirannya pokus pada Za.
"Sepupunya, Za. Gue sudah mengirim alamat rumahsakit ini agar dia bisa kemari." Ujar Rega.
"tanks, ya!" Ucapnya.
"Istiharatlah, lo belum tidur sama sekali." Ucap Rega lagi, tapi Inder menggeleng.
"Gue gak ngantuk." Jawaban yang sama yang selalu ia ucapkan.
"Kita lagi nungguin orang sakit, jangan sampai kita sakit juga." Ucap Rega lagi.
Ia baru akan menjawab ketika pintu kamar rawat terbuka dari dalam.
"Bagaimana keadaannya, Dok?" Tanya Inder begitu dokter keluar dari kamar.
"Pasien mengalami Hippotermia, suhu tubuhnya berada dibawah 35 derajat, beruntung kalian tidak terlambat membawanya kemari." Ucap dokter.
"Tapi sekarang masa keritisnya sudah lewat, tadi pasien sempat drop sehingga kami sempat khawatir pasien mengalami kegagalan fungsi organ, tapi untungnya kondisi pasien berangsur membaik dan sekarang sudah stabil." Ucap Dokter lagi, membuat Inder menghembuskan nafas lega.
"Syukurlah..." Ucapnya penuh kelegaan. "Apa sudah bisa di jenguk, Dok?" Tanyanya kemudian.
"Boleh, tapi maksimal dua orang yang boleh berada di dalam, pasien masih membutuhkan banyak istirahat untuk mengembalikan energinya, jadi kami memberinya obat tidur dia akan tidur delapan jam kedepan."
Inder menggangguk faham. "Terima kasih, Dok." Ucapnya.
"Kabari saya jika pasien sadar kami masih perlu melakukan pemeriksaan menyeluruh saat dia sadar nanti, untuk memastikan bahwa tak ada komplikasi lainnya." Ujar Dokter lagi, kemudian pamit dan pergi meninggalkan Inder.
Inder melangkah perlahan menghampiri ranjang tempat tubuh Za dibaringkan, Ia menatap wajah yang mulai menunjukan rona kemerahan setelah semalam wajah itu pucat bahkan nyaris membiru karena kedinginan.
"Apa yang sebenarnya kau pikirkan semalam, Za? Apa kata-kataku begitu menyakitkan hingga kau melakukan semua ini? Apa aku terlalu kasar padamu, semalam?" Gumamnya.
"Bangunlah, berikan aku kesempatan untuk meminta maaf padamu, Za! jangan diam seperti ini, aku lebih suka kau mengomel dan memarahiku daripada diam begini."
Inder menggenggam tangan gadis itu, hatinya pedih mengingat perlakuannya pada Za semalam, ia membentak nya membuatnya merasakan penyesalan teramat dalam karena ia merasa ialah penyebab Za jadi seperti ini.
__ADS_1
đşđş
Sementara itu Alika baru sampai di Rumahsakit tempat Queenza dirawat, ia diantar oleh Reihan karyawan sekaligus teman barunya yang beberapa bulan ini dekat dengannya.
Sejak pertama bertemu di resto tempatnya bekerja, pria itu mampu membuatnya terkesan dengan sikapnya yang selalu lembut dan penuh perhatian padanya.
"Kau duluan saja, aku harus menelpon dulu, nanti aku menyusul." Ucap Rei begitu mereka sampai di lobby rumah sakit.
Alika mengangguk setuju, ia berjalan melewati beberapa koridor hingga akhirnya sampai di kamar Sweet room seperti yang di katakan lelaki yang di telponnya beberapa saat lalu.
Ia menghampiri seorang lelaki yang membelakanginya, menepuk pundak lelaki itu yang ia yakini penelpon yang mengaku managernya Inder.
"Mas."
Lelaki itu menoleh, keduanya saling memandang dengan kedua bola mata yang membesar sempurna.
"Kamu?" Ucap keduanya bersamaan.
"Ya ampuunn kenapa harus bertemu dengan lelaki menyebalkan ini lagi." Batin Alika.
Ia masih kesal pada lelaki ini, karena keputusan sepihak membuang motornya.
"Ngapain lo disini?" Tanya lelaki itu.
"Jangan bilang kalau lo sepupunya Za."
Ucap lelaki itu. Tak menjawab pertanyaannya.
"Kau temannya Ivander? Astagaa jadi kau yang dari tadi bicara denganku di telpon." Ucapnya tak percaya.
"Jadi kau yang menelpon? Pantas saja aku tidak asing dengan suara cempreng mu!"
"Kau bilang apa? Dasar..."
Iya baru akan membalas Rega namun ucapannya terhenti begitu melihat seorang pria yang di kenalnya datang.
đşđşđşđş
Reihan segera menelpon Bosnya begitu memastikan Alika pergi terlebih dahulu, "Tuan, gadis itu masuk rumah sakit!" Lapornya.
__ADS_1
"Dia di Rumah sakit Xx, saya akan segera mengirim alamatnya pada anda." Ucapnya lagi menjawab pertanyaan dari sang bos.
"Saya belum tau keadaannya, Tuan. Saya masih di luar."
"Baik, saya akan mengabari anda segera." Ucapnya, kemudian memasukkan kembali ponselnya ketika percakapan itu berakhir.
Ia segera menyusuri koridor Rumahsakit menyusul Alika menuju kamar tempat rawat Za.
Alika gadis yang mengisi hari-harinya beberapa bulan belakangan ini, dia sengaja mendekati gadis itu untuk mempermudahnya menggali informasi tentang seorang gadis yang sedang di cari bosnya. Awalnya ia sempat berpikir Alika adalah gadis itu, ternyata ia salah! Alika adalah anak dari adik wanita yang ia selidiki beberapa tahun belakangan. Alika adalah sepupu dari gadis sedang dicari bosnya.
Reihan adalah putra bungsu dari Hendra, Asisten pribadi Andika pramudza. Sejak usianya menginjak sepuluh tahun sang ayah mengajarinya berbagai hal yamg tidak ia dapatkan di sekolah, yaitu pelajaran tentang bisnis dan perusahaan.
Ia bahkan harus mengikuti les berbagai bahasa dan juga bela diri, ia sempat protes pada sang ayah namun sorot penuh harap dari mata ayahnya membuatnya dengan suka rela melakukan apapun yang diperintahkan ayahnya.
Hingga akhirnya... di usia dua puluh tahun ia diperkenalkan pada Raja Pramudza, Tuan muda yang saat ini menjadi atasannya.
Sang ayah memintanya untuk mengabdikan diri pada cucu dari atasannya itu, sebagai penebusan dosa sang ayah yang merasa bersalah karena ikut andil dalam menyingkirkan putri angkat keluarga itu.
Dan sejak saat itulah, ia mulai di beri tugas oleh Raja untuk mencari informasi tentang adiknya beserta ibu kandung sang adik.
Dan disinilah dia sekarang Rumah sakit tempat adik dari Tuannya dirawat, untuk mencari informasi tentang keadaan gadis itu.
"Rei kau lama sekali." Ujar Alika. sembari mendekat padanya dengan suara manja.
"Maaf, tadi aku menelpon saudara ku dulu." Ujarnya lembut.
"Ehem." Suara seorang lelaki yang berdehem membuatnya menyadari ada orang lain disana.
"Rei, perkenalkan ini managernya Ivander, atasan Za." Ucap Alika lagi.
"Reihan." Ucapnya.
"Rega." Ucap lelaki tadi.
"Kau mau ikut masuk?" Tanya Alika padanya.
Ia menggeleng, "Aku tunggu disini saja." Ucapnya.
"Baiklah, aku masuk dulu."
__ADS_1
Reihan mengangguk sebagai jawaban. Ia memandang punggung gadis yang kini menghilang di balik pintu.
"Kenapa aku merasa tak asing dengan wajahmu!"