
Inder berusaha untuk menghubungi nomor yang baru dipakai Za, tapi sialnya batrei ponselnya habis yang membuatnya kesal hingga membanting ponsel itu dengan keras.
"Apa yang kau lakukan Inder?" Pekik Rega.
"Ada apa ini?" Tanya Ivana yang baru saja datang hendak mengajak sarapan. "Ponselmu kenapa Inder?" Tanyanya lagi.
"Yang barusan telpon itu, Za. Dia salah faham sama gue, Ga! Gue harus jelaskan semuanya sama dia, tapi sialnya batre ponselnya malah habis." Ucapnya menjawab pertanyaan semua orang.
Rega dan Ivana menatap ponsel yang hancur itu dengan penuh iba. "Tapi Inder kalau batreinya habis harusnya lo chargers, bukannya dibanting begitu." Celetuk Ivana tanpa mengalihkan pandangannya dari ponsel yang terserak di lantai "Sampai hancur begitu." Cibirnya. yang justru membuat Rega tertawa tertahan.
"Kalau sudah hancur tinggal beli lagi, jangan kayak orang susah." Ucap Inder, dengan muka yang memerah, "Gue pinjam ponsel lo, Ga!" Sambungnya.
Rega menggeleng, membuat Inder membesarkan matanya. "Lo gak mau pinjemin ponsel lo?"
"Bukan begitu, tapi gue masih sayang sama hp gue." Ucap Rega, kini giliran Ivana yang tertawa keras.
"Sudah cepat, Bunda menunggu kalian untuk sarapan." Ucap Ivana sembari berlalu keluar kamar.
"Pinjem ponsel lo, Ga!" Pinta Inder lagi.
"Ok, tapi janji ya, kalo batre ponselnya habis di charger jangan di banting." Ucap Rega, membuatnya mendapat timpukan bantal dari Inder.
"Kalo ponsel lo, rusak gue ganti dengan yang lebih bagus dari ini." Cibirnya kesal.
Inder mencari kontak Queenza di ponsel Rega kemudian menghubunginya.
Tak lama terdengar jawaban dari sebrang telpon.
"Za, ini aku Inder. Kumohon jangan tutup telponnya."
đşđşđşđş
Za baru akan beranjak dari tempat tidurnya untuk sarapan, setelah bicara dengan Inder tadi ia meminta Alika meninggalkannya di kamar.
Namun sebelum keluar Alika mengancam tak akan sarapan sebelum dia keluar kamar untuk sarapan, jadilah ia terpaksa beranjak untuk memani Alika meski perutnya tak terasa lapar sedikitpun.
__ADS_1
Ponsel yang berdering membuatnya mengurungkan niat. "Mas Rega." Ucapnya pelan. Ia tau pasti Rega ingin berusaha untuk meluruskan masalahnya dengan Inder.
"Za!" Panggil Alika yang baru datang. "Kenapa? Siapa yang telpon?" Tanyanya, melihat Za malah memandangi ponselnya yang sedang berdering.
"Mas Rega." Ucapnya.
"Angkat aja, mungkin dia ingin menjelaskan alasan Inder padamu." Ucap Alika.
"Kenapa harus mas Rega yang menjelaskan, bukankah seharusnya dia menelponku balik dan menjelaskan semua padaku, bukannya malah nyuruh mas Rega." Keluhnya.
"Angkat saja, mungkin dia takut kau tak mau mengangkat telponnya jadi dia menyuruh managernya."
Akhirnya Za menjawab telpon itu dengan malas, "Iya mas, ada apa?"
"Za, ini aku Inder. Kumohon jangan tutup telponnya."
"Inder?" Katanya. "Kenapa kau memakai nomor mas Rega?" Tanyanya heran.
"Emhhh itu, ponselku... ahh sudahlah tak perlu membahas hal tak penting seperti itu." Ucap Inder. "Za." Lanjut Inder
"Kau marah padaku?"
"Tidak! Mungkin aku hanya... sedikit kecewa." Ucapnya jujur.
"Maaf."
"Untuk?"
"Karena tak mengangkat telpon darimu?"
"Hanya itu?"
"Karena mengabaikan semua pesanmu."
"Ada lagi?"
__ADS_1
"Maaf karena aku terlalu pengecut." Ucap Inder dengan suara yang terdengar tercekat. Queenza Sengaja diam, ia menunggu kata-kata Inder selanjutnya.
"Aku... terlalu takut kehilanganmu! Aku memang pengecut Za, aku takut kalau kau menghubungiku hanya untuk mengajukan resign."
"Za kau marah? Kenapa kau diam?"
"Za??"
"Inder kenapa kau bisa berpikir seperti itu? Kau tau bagaimana khawatirnya aku saat Mendengar dari Alika kalau kau masuk rumahsakit? Aku langsung menelponmu karna ingin tau keadaanmu, tapi kau membuat ku kecewa." Keluhnya.
"Maaf, sungguh aku melakukan itu karena takut kehilanganmu, kumohon maafkan aku." Ucap Inder.
"Takut kehilanganku? Inder kau tau, kata-katamu bisa membuatku berpikir kalau kau menyukaiku." Canda Za, sembari tertawa.
"Aku memang menyukaimu, Za! Bahkan lebih dari itu, aku sudah jatuh cinta padamu." Ucap Inder lagi, membuatnya menghentikan tawanya. Jantung Za terasa melompat dari tempatnya, ia mematung mendengar pernyataan cinta dari Atasan sekaligus sahabatnya itu.
Hening... tak ada jawaban dari gadis itu, membuat pria di sebrang telpon sana terus memanggilnya. "Za kau masih disana?"
Za menatap sepupu yang ada di depannya, yang juga tengah menatapnya penuh tanya.
"Apa yang Inder katakan?" Tanya Alika tanpa suara.
"Za??"
Za berdehem untuk mengusir kegugupan yang melandanya. "Bicaramu sangat tidak lucu Inder!"
"Apa kau pikir aku ini pelawak? Kenapa setiap apa yang keluar dari mulutku selalu kau anggap gurauan?"
"Inder, bukan begitu maksudku."
"Dengarkan aku baik-baik, kali ini aku benar-benar serius." Ucap pria itu lagi. Za masih setia mendengarkan dengan jantung yang berdebar.
"Za..."
"Ya, aku mendengarkan."
__ADS_1
"Aku mencintaimu!"