
Raja naik ke lantai atas bermaksud mengajak Za untuk makan siang. Langkah kakinya terhenti mendengar pembicaraan sang adik dengan Alika.
Ada rasa tak suka mendengar Za terus menyebut nama pria lain, terlebih adiknya terus memuji pria itu. Bahkan wajah Za tampak merona saat Alika tak henti menggodanya.
"Apa Queen menyukai pria itu? Dan ada apa denganku? Bukankah harusnya aku senang melihat dia sebahagia itu? Tak perduli siapapun yang menjadi alasan kebahagiaannya. Tapi...kenapa aku justru merasa kesal saat mendapati kalau yang jadi alasan kebahagiaannya bukanlah diriku tapi pria lain." Batin Raja.
Raja memutuskan untuk kembali turun dan menemui Reihan yang berada di belakang villa.
"Tuan." Ucap Reihan, ia mengangguk sopan begitu melihat Raja datang.
"Apa rumah yang ku minta sudah kau siapkan?" Tanya Raja.
Reihan mengangguk, "Sudah, Tuan. Nona sudah bisa menempatinya."
"Bagus! sore nanti kita kembali kekota, pastikan semuanya aman."
"Baik, Tuan." Ucap Reihan.
Raja berniat kembali kekamarnya namun baru saja ia berbalik Raisa sudah berada didepannya.
"Kita harus bicara, Ja!" Ucapnya.
"Rei bukankah aku bilang mereka harus pergi sebelum hari terang." Ucap Raja pada Reihan.
Glek. Rei menelan ludahnya. "Nona Raisa menolak, Tuan."
"Karena kita harus bicara!" potong Raisa cepat sebelum Reihan melanjutkan perkataannya. Matanya menatap sendu Raja, berharap kali ini kekasihnya itu bisa luluh seperti biasanya.
Raja memberi isyarat dengan tangannya agar Reihan pergi dari sana. Reihan yang mengerti segera melangkah menjauh dari tempat itu.
"Tak ada yang perlu dibicarakan lagi." Ucap Raja, dingin.
"Ada, bahkan banyak yang harus kita bicarakan." Ucap Raisa.
"Tentang apa?" Tanya Raja, datar.
__ADS_1
"Hubungan kita!" Jawab Raisa cepat.
Raja tersenyum sinis. "Hubungan kita?" Ulangnya. "Raisa, hubungan apa yang ingin kau bicarakan?" Cibirnya. "Kau yang memutuskan untuk tidak ikut bersamaku! Jadi kuanggap hubungan kita selesai saat itu juga."
Raisa menggeleng kuat. "Tidak! Kau tak bisa melakukan ini padaku!" Ucap Raisa dengan airmata yang berlinang.
"Kau tak bisa memutuskan hubungan kita, Ja." Ucapnya lagi. Tangannya meraih lengan pria itu. "Kumohon berikan aku satu kesempatan lagi! Aku akan melakukan apapun, jika kau ingin kita menikah aku juga sudah siap, aku bahkan siap menikah denganmu sekarang juga." Ucap Raisa, menghiba.
"Semuanya sudah terlambat, Sa!" Ucap Raja sembari melepas tangan Raisa. "Perasaanku padamu sudah tak seperti dulu lagi." Lanjutnya kemudian berlalu dan kembali masuk kedalam Vila.
Tubuh Raisa ambruk, ia terduduk di lantai sembari menangis. Dia sudah terlambat, kini ia hanya bisa menyesali semuanya.
semantara Raja terus melangkah, kemudian berhenti sejenak di depan Reihan. "Antarkan dia kembali kehotelnya, lalu pesankan tiket pesawat agar dia bisa kembali ke Negaranya. Pastikan, kali ini kau melakukannya dengan benar!" Ucapnya, lalu masuk kedalam Vila.
đşđşđşđş
Za dan Alika baru akan turun untuk makan siang, dari tadi Alika mengeluh kalau perutnya sudah keroncongan. Dering ponsel Alika menghentikan langkah mereka.
Kening Alika berkerut melihat nama Inder muncul sebagai penelpon. "Mengapa Inder menelponku?" Ucapnya, membuat Za yang berada di sampingnya menoleh.
"Angkat saja, mungkin ada yang penting." Ucap Za.
"Apa kau sedang bersama Za? Aku menelponnya tapi tidak diangkat." Ucap Inder.
"Oh... iya aku sedang bersamanya, kami baru mau turun untuk makan, sepertinya dia meninggalkan ponselnya." Jawab Alika sambil tertawa lalu menoleh kearah Za yang menatapnya penuh tanya.
"Bisa aku bicara dengannya sebentar?"
"Tentu." Ucap Alika, ia lalu memberikan ponselnya pada Za. "Inder ingin bicara denganmu." Ucap Alika, dengan senyum yang lebar. "Masih mau bilang kalau tidak terjadi sesuatu diantara kalian." Sambungnya menggoda.
Za tak menanggapinya, ia mengambil ponsel lalu menempelkannya di telinga.
"Ya Inder?"
"Kenapa telponku tidak diangkat?"
__ADS_1
"Ponselku tertinggal di kamar, ada apa?"
"Tidak apa-apa, aku hanya ingin pamit, aku harus kembali ke Ibukota sekarang, dan sebenarnya aku ingin bertemu denganmu dulu. Bisakah kau menemuiku sebentar?" Tanya Inder.
Za menatap Alika sebentar, "Baiklah aku turun sekarang." Ucapnya. Telepon itu ia tutup bersama helaan nafas panjang.
"Kenapa?" Tanya Alika heran.
"Inder menungguku di bawah, dia ingin pamit untuk pulang." Ucapnya.
"Kalau begitu, Ayo pergi dan temui dia." Ucap Alika, menggandeng tangan Za untuk segera turun.
"Heii kenapa jadi kau yang bersemangat?" Cibirnya, namun mengikuti langkah Alika.
langkah mereka kembali terhenti saat berpapasan dengan Raja, "Kalian mau kemana?" Tanyanya.
"Emmmh, kedepan sebentar." Ucap Za, sedikit gugup.
"Nanti saja kedepannya, kita makan.siang dulu!" Ucap Raja sembari menarik Za.
Tapi gadis itu menolak. "Sebentar saja, Kak. nanti aku kembali untuk makan siang." Ucapnya, kemudian berlari kecil menuju halaman Vila.
đşđşđşđş
"Kau akan pergi sekarang juga, ya." Tanya Za begitu sudah di hadapan Inder.
"Iya besok aku ada pekerjaan, dan Bunda juga terus menelponku sedari tadi." Jawab Inder, ia tersenyum jahil."Kenapa? Apa kau ingin aku tetap tinggal?" Tanyanya dengan senyum yang menggoda. "Aku akan tetap disini bila kau menginginkannya!" Ucapnya, membuat gadis itu merona.
Za menggeleng, "Tidak, pergilah! hati-hati di jalan." Ucapnya.
"Ahhh kau membuatku kecewa, padahal aku sangat berharap kau menyuruhku untuk tinggal." Ucap Inder.
"Berhenti bercanda, Inder! Dan pergilah kasian mas Rega sudah menunggumu."
"Baiklah, aku pergi." Ucap Inder, ia berbalik menuju mobil tempat Rega menunggunya. Ia kembali menatap gadis itu sesaat sebelum masuk kedalam mobilnya.
__ADS_1
"Aku akan selalu menunggu jawabanmu." Ucapnya sambil tersenyum, kemudian masuk kedalam mobil.
Za melambaikan tangan pada mobil yang perlahan menjauh, kemudian menghilang di balik pintu gerbang yang perlahan tertutup.