
"Sudah puas kau mempermalukannya?!"
Za mendongak begitu mendengar suara yang sangat ia kenali, wajah familiar itu membuatnya sedikit lega.
"Bawa aku pergi dari sini, Inder! Kumohon." Pintanya, membuat pria yang tengah diselimuti amarah itu mengalihkan pandang pada wajahnya, mata mereka saling bertemu.
Dengan lembut, tangan kokoh pria itu menghapus airmata yang mengalir dipipinya.
"Bawa aku pergi, kumohon!" Pintanya sekali lagi.
Mata teduh milik pria itu menatapnya nanar, kemudian mengangguk serta meraih tubuhnya dalam pelukan.
Inder mulai menuntun langkahnya keluar dari tempat itu, namun sesaat kemudian ia menghentikan langkah, menatap tajam pada kedua wanita yang sudah mempermalukan dirinya.
"Aku akan buat perhitungan dengan kalian berdua! Dan untuk kalian semua yang berada disini, hapus semua yang kalian rekam atau akan menuntut kalian semua secara hukum!" Ancam Inder sebelum benar-benar meninggalkan tempat itu.
đşđşđşđş
Friska mematung menatap kepergian Inder bersama gadis yang paling ia benci itu. Sekali lagi ia harus kalah dari Queenza, gadis yang ia anggap kampungan.
"Apa yang lebih dari gadis kampung itu? Kenapa semua orang selalu membelanya." Geramnya.
"Bukankah pria tadi itu, Ivander? Artis terkenal itu?"
"Ita betul, apa hubungan gadis itu dengan Ivander, ya?"
"Ya ampunn apa kita salah sangka? Bagaimana kalau dia benar-benar melaporkan kita kepolisi?"
"Sudah mending kita hapus saja daripada berurusan dengan polisi."
Para pengunjung yang mulai saling berbisik itu terdengar di telinganya, sepertinya kali ini ia juga gagal, kedatangan Inder selalu saja berhasil menyelamatkan gadis itu.
"Apa yang akan kita lakukan setelah ini, fris?" Tanya Raisa, ia menoleh. "Apapun yang penting kita harus menghancurkan wanita itu!" Geramnya.
đşđşđşđşđş
Inder melajukan mobilnya menjauh dari tempat itu, ia bahkan sengaja membawa Za menjauh dari keramaian.
__ADS_1
Beruntung Rega berhasil melacak lokasi terakhir ponsel Za sebelum dimatikan,membuatnya memerintahkan anakbuahnya menyebar bahkan ia meminta bantuan anak buah pada sang ayah untuk mencari Za.
Dan keberuntungan berpihak padanya, salah satu anak buahnya melihat Za saat memasuki cafe tersebut, namun ia terlambat kedua wanita itu sudah berhasil mempermalukan gadisnya.
Inder terus fokus melajukan kendaraannya meski sesekali ekor matanya melirik gadis disampingnya, hatinya mencelos melihat seberapa kacau gadisnya sekarang.
Sebuah taman bunga menjadi tujuannya, sengaja ia bawa Za kesana, untuk menenangkan gadisnya itu.
Mobil yang dikendarainya sudah berhenti beberapa menit yang lalu, tapi keduanya masih bergeming.
"Kita turun, Yuk! Siapa tau setelah melihat hamparan bunga didalam bisa membuat perasaanmu lebih baik." Bujuknya.
Za hanya mengangguk sebagai persetujuan, membuatnya keluar dari mobil kemudian mengintari mobil untuk membukakan pintu lainnya.
Gadis itu menatap pakaiannya yang basah, kemudian kembali duduk. "Penampilanku sangat buruk saat ini Inder, aku hanya akan membuatmu malu." Ucap Za pelan.
Inder tersenyum, jaket yang semula hanya di pakai menutupi tubuh gadis itu ia pakaikan, resleting jaket ia naikkan hingga menutupi pakaian basah Za dengan sempurna.
Tangannya terulur menyisir rambut gadis itu menggunakan jarinya. "Sebenarnya aku tak terlalu perduli seburuk apapun penampilanmu, karena bagiku kau selalu sempurna." Ujarnya dengan tersenyum.
Bibir Za sedikit terangkat, "Apa kau sesang menggombaliku?" Tanyanya pelan.
Inder berinisiatif menarik lembut tangan gadis itu, mennuntunnya masuk kedalam taman dimana didalamnya terhampar berbagai jenis bunga yang sangat indah.
Za menatap kagum pada hamparan bunga beraneka warna itu, Inder mengajaknya duduk Untuk menikmati pemandangan taman bunga itu.
Inder tak berkata apapun, pria itu hanya memandangi gadisnya yang kembali murung.
Tak ada keluhan, ataupun isakan namun airmata yang tak jua mengering membuat siapapun bisa melihat seberapa pedih hatinya saat ini.
Inder merengkuh tubuh gadis itu dalam pelukannya, ia tahu gadisnya sedang memendam kesedihan. seorang diri.
"Menangislah, Za! Menangislah jika itu bisa mengurangi kesedihanmu, jangan terus memendamnya sendiri. Ada aku disini bagilah kesedihanmu bersamaku!" Bisiknya ditelinga gadis itu. Dan kata-katanya benar-benar berhasil membuat gadis itu mulai terisak.
Isakan yang kemudian berubah menjadi tangisan yang menyayat hati, Inder memeluk Za lebih erat tak ada lagi kata yang keluar dari bibirnya, ia ingin gadis itu meluapkan semua perasaannya.
__ADS_1
Hingga setelah beberapa saat, tangisan itu mulai reda berubah menjadi isakan kecil sampai mereda sepenuhnya.
Za terlihat lebih tenang membuatnya meregangkan pelukannya hingga bisa menatap wajah gadis itu. "Kau selalu jelek kalau menangis seperti ini!" Cibirnya membuat Za tersenyum.
"Dan kau selalu terlihat cantik jika tersenyum seperti itu." Ucapnya lagi.
"Berhenti menggodaku Inder!" Keluhnya dengan suara yang masih serak.
"Heii, siapa yang menggodamu, aku mengatakan yang sebenarnya." Ucapnya sambil terkekeh.
Gadis itu tersenyum, lalu sedetik kemudian ia menatap Inder dalam. "Inder apa kau belum berubah pikiran?"
Inder mengerutkan kening tak mengerti. "Berubah pikiran, tentang apa?" Tanyanya.
"Apa kau masih mencintaiku? Apa kau masih ingin menikah denganku?" Tanya gadis itu.
Inder menangkup wajah Za, lalu cup.
Ia mengecup bibir ranum itu cukup lama, hingga ia bisa merasakan pipi gadis itu kembali basah, membuatnya melepas tautan bibirnya.
"Apa aku masih harus menjawabnya?" Tanyanya menatap sendu gadis yang kembali berurai airmata itu.
"Kalau begitu, nikahi aku!" Ucap gadis itu lirih.
"Nikahi aku secepatnya!"
Inder membawa gadis itu dalam pelukannya, dipeluknya gadis itu erat.
"Malam ini juga, aku akan membawa orangtuaku untuk melamarmu!"
ku kasih bonus satu bab lagi, semoga suka ya, makasih untuk semua dukungannya.
__ADS_1
Lov u all