Takdir Cinta Queenza.

Takdir Cinta Queenza.
Karena Aku Takut


__ADS_3

Pesta pernikahan baru saja usai, Queenza kembali kekamarnya dengan dibantu Alika dia membuka gaun dan membersihkan make upnya. "Udah beres!" Ucap Alika setelah membersihkan wajahnya. "Tinggal mandi aja."


"Makasih ya, Al!"


"Sama-sama, udah gih, mandi sana nanti masuk angin lho!"


Queenza mengangguk, ia meraih jubah mandinya.


"Aku juga balik ya, mau mandi takut masuk angin juga."


"Mandi disini, aja!" Ucap Za. "Kamu bisa pakai bajuku dulu!"


Alika terkekeh kecil. "Kita bukan lagi anak smp yang bisa tuker-tukeran baju, Za! Kau sudah menikah sekarang, Aku sudah tak bisa bebas keluar masuk kekamar ini." Ujar Alika.


"Iya kau benar!" Ucap Za seraya terkekeh kecil.


"Mandilah Za, kau kan harus bersiap untuk nanti malam!" Ucap Alika sambil menggerling.


Za mengerutkan dahinya tak mengerti. "Nanti malam? Memangnya ada acara apa nanti malam? Bukannya semua acaranya sudah selesai, ya?" Ucapnya.


"Uhhhh Za ku yang masih saja polos! Nanti malamkan malam pertamamu jadi pengantin? Tentunya kau pasti akan punya acara spesial bersama suamimu." Ucap Alika dengan menaik turunkan kedua alisnya.


"Acara spesial apa? Aku hanya akan tidur lebih awal, Ahhh aku lelah sekali." Ucap Queenza.


"Benarkah? Tapi kurasa Inder punya rencana lain." Ucap Alika. Alika mendekatkan bibirnya pada telinga Queenza membisikkan sesuatu. "Pastikan kau bilang padanya supaya melakukannya pelan-pelan, atau kau tidak akan bisa berjalan besok." Bisiknya membuat Za bergidik seketika.


"Apa maksudmu, huh? Kenapa kau jadi mesum begitu?" Sungut Za kesal.


Alika tergelak melihat reaksi Za. "Tapi yang kubaca di novel-novel seperti itu, Za."


"Ahhh kau membuatku takut, Al." Ucap Za.


"Jangan takut, dari yang kubaca sakitnya hanya saat pertama kali saja!" lanjut Alika.


"Alika hentikan, minggir aku mau mandi!" Ucap Za seraya masuk kedalam kamar mandi dan menutup pintunya.


"Dan katanya kau akan berjalan seperti pinguin esok pagi!" Goda Alika lagi setengah berteriak diiringi tawa.


"Diam Alika! Aku akan adukan pada orangtuamu kalau anaknya sudah berubah jadi mesum." Sungutnya kesal, terdengar gelak tawa Alika yang mulai menjauh.


Za membiarkan kepalanya diguyur air dari shower, kata-kata Alika terngiang kembali membuatnya menghela napas panjang.


"Huhhh! Apakah yang dikatakan Alika itu benar? Apa sesakit itu hingga tak bisa berjalan sesudah melakukan hal itu?"


"Huhh kenapa terdengar begitu menyeramkan!" Keluhnya.


🌺🌺🌺🌺🌺


Za sudah selesai dengan ritual mandinya, ia membuka gorden yang menutupi jendela kamarnya, Diluar sana Inder dan juga Rega masih asyik berbincang dengan Papi dan pamannya.


ia mengamati dari balik gorden, jantungnya berdebar kala melihat lelaki yang sudah menjadi suaminya itu beranjak dan berpamitan untuk masuk kerumah.


Za segera kembali kesisi ranjang, merebahkan tubuhnya dan menyelimutinya hingga ke ujung kepala.


Semua ucapan Alika tentang malam pertama masih jelas diingatannya, "Lebih baik aku pura-pura tidur, setidaknya itu akan menunda malam pertama kan? Oh Tuhan... ampuni aku, tapi aku benar-benar belum siap melakukannya." Ucap Za dalam hati.

__ADS_1


Suara pintu yang terbuka disusul derap lankah yang kian mendekat membuat detak jantungnya seolah berlomba, Za baru bisa bernapas lega setelah mendengar suara pintu kamar mandi yang dibuka kemudian ditutup lagi.


Za melongokkan kepala, memastikan pria itu benar-benar memasuki toilet. "Maafkan aku Inder, tapi aku benar-benar takut, dan tak siap." Gumamnya merasa bersalah.


Suara handle pintu yang bergerak membuatnya kembali menyelimuti diri, Za memejamkan matanya berharap Inder percaya kalau ia sudah terlelap. Konyol memang, tapi ia benar-benar merasa gugup sekaligus takut.


Ranjang yang bergerak membuatnya makin mengeratkan selimut, "Bagaimana bisa kau tertidur dengan rambut yang masih basah begini, Za?" Ujar pria itu yang tertangkap telinganya.


Za merasakan Inder menggosok rambutnya lembut dan hati-hati dengan handuk membuatnya makin merasa bersalah, ia buka matanya, membuat lelaki itu sedikit kaget. "Apa aku membangunkanmu?" Tanya pria itu.


Za bangun dan langsung memeluk Inder. "Maaf!" Ucapnya.


"Hei! Ada apa Za?" Tanya lelaki itu heran.


Za melepas pelukannya, menatap pria yang kini sudah jadi suaminya. "Apa kau akan marah kalau kubilang aku hanya pura-pura tidur?" Tanyanya gugup.


Kening Inder berkerut. "Jadi kau belum tidur?"


Za menggeleng, membuat pria itu kembali bertanya. "Lalu kenapa kau pura-pura tertidur?"


Mata Za membulat sempurna, "Oh tuhan apa yang harus kukatakan? Haruskah kukatakan kalau aku sengaja menghindari malam pertama?" Tanya Za dalam hati.


"Za?" Panggil Inder ketika melihat istrinya malah melamun. "Ada apa, hemz?"


Inder mendudukkan dirinya disisi ranjang tepat didepan sang isteri. Inder mengangkat dagu isterinya yang nampak gelisah. "Kenapa kau harus pura-pura tertidur?" Tanyanya lembut.


"Karena aku takut!" Jawab Za.


"Takut? Takut kenapa?"


Inder mengangguk pasti. "Aku tidak akan marah, katakan apa yang kau takutkan?" Tanyanya penasaran.


"Aku... aku takut kau akan meminta hak mu malam ini, aku... aku belum siap untuk melakukannya." Ucap Za terbata.


Kening Inder sedikit berkerut mencoba mencerna ucapan Za. Sesaat kemudian ia tergelak ketika memahami maksud dari ucapan istrinya. "Astaga ... Za! Kau membuatku khawatir saja." Ucapnya sambil tertawa.


"Kenapa kau malah tertawa?" Tanya Za, heran.


"Maafkan aku! kemarilah!" Ucapnya sembaei menarik lembut tangan istrinya membawanya dalam pelukan.


"Jadi kau takut aku memaksamu untuk meminta hakku, dan itu sebabnya kau pura-pura tidur?" Ucapnya yang diangguki oleh Za.


"Alika bilang rasanya sangat sakit saat pertama kali melakukannya, jadi... aku merasa sedikit takut!" Ucapnya polos.


Inder tersenyum, sepolos inilah isterinya. "Darimana Alika tau? Apa Alika pernah...?"


"Tidak!" Seru Za, memotong perkataan Inder.


"Dia mengetahuinya dari novel-novel yang pernah dia baca."


"Terus Alika bilang apalagi?" Ucapnya sbari menahan senyum.


"Katanya setelah melakukannya aku tidak akan bisa berjalan." Ucap Za lagi membuat Inder terkikik geli.


Inder sedikit menjauhkan tubuhnya agar bisa melihat wajah istrinya.

__ADS_1


Cup. Pria itu mengecup bibir istrinya sekilas.


"Aku tidak akan memaksamu melakukan itu sekarang." Ucapnya. "Aku akan menunggumu sampai kau benar-benar siap." Sambungnya.


"Terima kasih!" Ucap Za seraya memeluk suaminya itu.


"Sekarang tidurlah, kau pasti lelah setelah melakukan aktivitas seharian."


Inder mengelus lembut rambut isterinya, Rasa lelah yang mendera membuat Za begitu cepat tertidur, ia baringkan tubuh isterinya dengan hati-hati lalu memandanginya sejenak dan mengecup keningnya. "Tidurlah yang nyenyak, Sayang." Ucapnya lirih, sebelum kemudian ikut merebah dan menyusul kealam mimpi.


🌺🌺🌺🌺🌺


Sementara itu esok paginya di perusahaan Pramudza group.


Raja duduk dikursi kebesarannya, didepannya setumpuk dokumen sudah menanti untuk ditandatangani. Raja membuka dokumen itu satu persatu, membaca dan mempelajarinya kemudian menandatanganinya.


Beberapa hari ini waktunya dihabiskan dengan membuka lembar-lembar kertas itu, ia tenggelam dengan segudang pekerjaan yang sempat beberapa hari ditinggalkan.


No! Bukan tenggelam tapi menenggelamkan diri lebih tepatnya! Lelaki itu hanya beranjak untuk makan dan mandi saja selebihnya waktunya dihabiskan di kursi besar itu.


Tidur? Ia bahkan tak pernah benar-benar bisa tertidur, meski begitu ia sudah tak menyentuh alkohol lagi, ia tak mau menghancurkan diri dengan minuman memabukkan itu.


Sebuah notifikasi pesan membuatnya menoleh sejenak, nama pengirim berlabelkan sang Papi membuatnya mengalihkan perhatian dari tumpukan berkas pada benda pipih yang sudah cukup lama terabai.


Sebuah File video kiriman Papinya, ia tau benar apa isi video itu. "Anda tak perlu membukanya jika memang tak ingin."Saran Sang Asisten yang selalu setia menemaninya.


Ia letakkan kembali benda pipihnya, video itu akan ia lihat nanti, setelah ia bisa menyiapkan hati.


"Rei!" panggilnya pada sang asisten.


"Ya,Tuan!"


"Apa kau sudah dapat informasi tentang wanita itu?" Tanyanya.


"Namanya Maya, Tuan. Dia pekerja paruh waktu di club itu!"


"Tapi, kau bilang pemilik club tidak mengenalnya!" Tanya Raja lagi penasaran.


"Awalnya, pemilik club memang tidak mau mengakui, Tuan. Tapi setelah ada beberapa saksi yang mengaku sering melihat gadis itu disana, dan bukti cctv beberapa hari sebelumnya, kami berhasil membuatnya mengaku." Ujar Reihan menjelaskan.


"Kau sudah bertemu gadis itu?"


Reihan menggeleng, "Sayangnya belum, Tuan. Gadis itu menghilang setelah kejadian malam itu, dia juga resign dari club itu tanpa pemberitahuan apapun."


Raja menghela napasnya panjang. "Lalu tempat tinggalnya? Apa pemilik club itu memberi alamat gadis itu?" Cecar Raja.


"Iya, dan kami sudah mendatanginya, tapi gadis itu sudah meninggalkan tempat kos-kosannya dari tiga hari yang lalu!" Ucap Reihan.


"Kenapa dia terkesan seperti sengaja menghindariku?" Ucap Raja lirih


"Saya akan berusaha lebih keras lagi untuk mencari gadis itu, Tuan!"


Raja mengangguk. "Kuharap kau segera menemukan wanita itu."


"Akan saya usahakan secepat mungkin mememukannya!"

__ADS_1


Raja menyandarkan tubuhnya di kursi, ia lelah sangat lelah. Saat ia berusaha mempertanggung jawabkan perbuatannya, mengapa terasa begitu sulit?


__ADS_2