
"Bunda tak pernah mengajarimu menghalalkan segala cara untuk mencari uang! Bunda tak pernah mengajarimu untuk menjadi seorang simpanan!" Hardik Resha, yang tak lain adalah Ibu kandung Za. Rasa kecewa dan kasihan pada wanita yang membawanya kemari membuat emosinya meledak.
Hingga ia merasa harus memberi sang putri pelajaran sebagai peringatan.
"Heii, berani sekali kamu menyakiti Queen ku!" Ucap Raja seraya merangkul Queenza. Matanya yg memerah menatap Resha tajam
Queenza memegangi bekas tamparan sang Bunda yang terasa perih di pipinya.
"Bu...Bunda salah faham, tolong dengar penjelasanku dulu." Ucap Za, ia mencoba menjelaskan.
"Bunda kecewa padamu, Za!" Ucap Resha lagi.
"Tolong dengarkan Za dulu, Bun." Pintanya sembari mencoba meraih tangan Bundanya, tapi segera ditepis oleh Resha.
"Bunda... Tolong dengarkan Za dulu, Bun!" Ulangnya sekali lagi kini dengan deraian air mata.
Resha masih bergeming, rasa kecewa pada putrinya begitu besar hingga air mata yang mengalir dipipi putrinya tak mampu meleburkan amarahnya.
"Jangan menangis, Queen. Biar aku yang menjelaskan semuanya, ok!" Ucap sang pria yang masih bisa didengarnya.
Lelaki itu bahkan mengelus pipi putrinya yang kini memerah akibat tamparan darinya, Ia mendengus kesal lalu menarik tangan sang putri dengan kasar.
"Ikut Bunda pulang!" Ucapnya seraya menarik tangan Za kasar membuat gadis yang tak siap itu terhuyung dan hampir terjatuh.
Gep, Raja menangkap tubuh Za, lalu menghempas tangannya kasar.
"Berhenti menyakiti Queen ku!" Bentaknya, seraya merengkuh tubuh Za dalam dekapannya. "Jangan harap kali ini kau bisa memisahkannya dariku, aku tak akan membiarkanmu membawanya selangkahpun dari tempat ini!" Ucap Raja membuat Resha mengernyit bingung.
"Queen kau masuklah kedalam, biar kakak yang urus Ibumu ini." Ucap Raja lagi.
Za menggeleng, "Aku mau disini, aku harus jelaskan semuanya sama Bunda, Kak." Ucapnya.
__ADS_1
"Masuk Queen!" Bentaknya.
Sekali lagi gadis itu menggeleng. "Biarkan aku yang menjelaskannya pada Bunda, Kak." Ucapnya keras kepala.
Ditengah perdebatan mereka, sebuah mobil sport berhenti, Alika keluar dari mobil itu. Ia segera berlari kecil menghampiri mereka dan matanya membesar begitu melihat Bibinya berada disana.
"Bibi?" Ucapnya, membuat Resha kini menatapnya. Namun pandangan Alika segera beralih pada sepupunya yang kini menangis tersedu. "Kau kenapa, Za?" Ucapnya sembari mendekat pada sepupunya yang langsung menghambur kepelukannya.
"Tanyakan itu pada bibimu, Al! Bagaimana bisa dia menuduh putrinya jadi simpanan kakaknya sendiri!" Ucap Raja, membuat Resha semakin bingung.
"Kakak...?" Gumamnya. Ia menatap lelaki itu. "Apa maksudmu dengan kakak? Za adalah putriku satu-satunya dia tidak memiliki Kakak!"
"Dia memilikinya tapi kau memisahkannya dari kakak dan orang tuanya!" Ucap lelaki muda itu, membuatnya tercengang "Apa kau ingat, dua belas tahun lalu, kau memisahkan seorang gadis kecil dari keluarga yang menyayanginya, Kau Ingat Nyonya Resha?" Ucap Raja.
Resha menatap pemuda didepannya, kini ia tahu siapa lelaki yang bersama dengan putrinya, "Dia itu putriku, Putri kandungku!" Geramnya.
"Putri yang kau buang sesaat setelah kau lahirkan, dan baru kau cari setelah dokter memvonismu tak akan pernah bisa punya anak lagi, kuingatkan jika kau lupa!" Ujar Raja dengan sengit.
"Dan sekarang kau menuduhnya menjadi simpanan, Dimana nuranimu sebagai seorang Ibu, Nyonya?" Sambungnya.
Za mendekat pada Bundanya, sekali lagi ia mencoba meraih tangan wanita yang telah melahirkannya itu, kali ini Resha membiarkan Za menggenggamnya.
"Maafkan aku, Bunda!" Ucapnya, ia tau Bundanya pasti tetap kecewa padanya, karena ia sudah mengingkari janjinya pada sang Bunda.
"Kau sudah berjanji tak akan mencari dan menemui mereka, Za! Kau mengingkari janjimu pada Bunda!" Ucap Resha kecewa.
Za mengangguk, "Maafkan aku, Bunda." Ucapnya menyesal.
"Sekarang kau sudah membuktikan bahwa kehadiran Bunda tak lebih penting dari mereka!" Ucap Resha, penuh emosi.
"Tidak begitu, Bunda. Kalian semua penting bagiku!" Ucap Za, menunduk.
__ADS_1
Resha menggeleng."Kenyataannya, kau lebih memilih mereka, dan mungkin memang sudah takdir Bunda untuk hidup sendirian!" Ucapnya Seraya melepas tangan gadis itu, dan berbalik hendak menjauh.
Za mematung, ia menatap sang kakak "Maafkan aku, karena kali inipun aku harus pergi darimu." Ucapnya, lalu mengejar sang Bunda yang sudah mulai menjauh.
"Aku akan ikut kemanapun Bunda pergi!" Ucap Za, sambil menggandeng tangan sang Bunda.
Raja mematung mendengar ucapan Za, ia menggeleng" Aku tak akan bisa kehilanganmu lagi, Queen." Gumamnya. "Tutup gerbang nya!" Teriaknya pada pengawal, membuat mereka segera menekan tombol otomatis untuk menutup gerbang sebelum Resha dan Queenza keluar dari sana.
Queenza berbalik menatap wajah kakaknya dengan sendu. "Tolong biarkan aku dan Bunda pergi, Kak." Ucapnya.
Alih-alih mengabulkan permintaannya, Raja justru berjalan mendekat dan menariknya kembali menuju Rumah.
"Kakak!!" Pekik Za.
"Sudah kubilang, takkan kubiarkan satu orangpun memisahkan kita lagi, sekalipun itu Ibu kandungmu sendiri!" Bentak Raja, tanpa menghentikan langkahnya.
Sementara orang-orang yang berada disana hanya bisa memandang apa yang dilakukan Raja tanpa bisa melakukan apapun.
đşđşđşđşđş
Sementara itu di mobil Raisa menggeram kesal di tempatnya, "Sebegitu berartinyakah dia bagimu, Ja!" Keluh Raisa yang masih memperhatikan dari mobilnya. "Kau sudah merekam semuanya, Damian?" Tanyanya pada lelaki dibelakang kemudi.
Lelaki itu mengangguk "Apa kau masih ingin melanjutkan ini, Sa? Bukankah kau bisa lihat sendiri, kekasihmu itu sangat menyayangi gadis itu, bahkan aku ragu dia menyayanginya sebagai adik, kurasa dia sudah jatuh cinta pada gadis itu." Ucap lelaki itu.
"Jangan bicara sembarangan, Damian! Mana mungkin dia jatuh cinta pada adiknya sendiri!" Sanggahnya.
"Kenapa tidak mungkin? Toh gadis itu bukan adik kandungnya kan, apalagi dia cantik dan juga masih muda."
Raisa menggeleng. "Tidak akan kubiarkan gadis itu merebut Raja ku!"
"Kita kembali ke hotel Damian! kita lakukan rencana B!"
__ADS_1
Lelaki itu menghela nafas berat. "Kenapa kau harus memaksa lelaki yang bahkan sudah mencampakanmu, Sa?"
"Karena dia milikku, dan aku mencintainya!"