Takdir Cinta Queenza.

Takdir Cinta Queenza.
Bab 120


__ADS_3

Hari sudah kembali berganti, Raja sengaja menunda kepulangannya, beruntung tak ada yang perlu dikhawatirkan tentang pekerjaannya. Reihan bisa menghandle semuanya dengan sangat baik, asisten pribadinya itu memang selalu bisa diandalkan.


Pagi tadi Maya mengajaknya untuk ziarah kemakam ayahnya sekaligus meminta restu untuk pernikahan mereka. setelah itu mereka juga kemakam Ardi. "Kau bisa tenang sekarang!Aku yang akan menjaga dan melindungi Maya, melanjutkan tugasmu." Ucap Raja saat dimakam Ardi tadi, Maya menatapnya penuh arti, ia sedikit terenyuh mendengar perkataan Raja.


"Dan aku akan pastikan dia akan merasakan kebahagiaan yang sama seperti saat bersamamu." Sambungnya. Maya hanya diam tak berniat menimpali perkataan calon suaminya. "Doakan aku bisa bahagia, Di!" Gumamnya dalam hati.


Mereka memutuskan untuk keluar dari area pemakaman ketika matahari kian meninggi.


"Ini sudah masuk jam makan siang, bagaimana kalau kita makan siang dulu?" Ajak Raja.


Maya mengangguk menyetujui, Raja mencari restoran terdekat, tapi sepertinya tak ada restoran didaerah itu, hanya ada warung bakso, dan ayam bakar juga roda-roda penjual camilan dan minuman berjejer sepanjang jalan, membuat Raja mengerutkan keningnya.


Maya tersenyum melihat raut bingung calon suaminya. "Apa anda keberatan jika saya yang memilih tempat untuk kita makan?" Tanyanya.


"Tentu saja tidak!" Sahut Raja.


"Kalau begitu kita cari tempat untuk parkir dan turun, saya tau tempat makan yang enak!" Katanya membuat pria itu melambatkan kendaraannya mencari tempat parkir.


Mereka berdua turun dari mobil, Raja mengekor dibelakang Maya yang membawanya kesebuah kedai ayam bakar. "Kau yakin kita makan disini?" Tanyanya saat Maya mengajaknya masuk.


"Ini kampung, akan sangat sulit mencari restoran mewah seperti dikota. Mungkin tempatnya memang terlihat sederhana, tapi saya bisa jamin tempatnya bersih, makanannya juga enak." Jawab Maya.


Raja mengangguk ini pertama kalinya ia makan di tempat kaki lima seperti ini. Maya menuntunnya yang terlihat ragu untuk masuk. "Saya jamin anda ketagihan makan disini!" Ucapnya seraya mengajaknya duduk lesehan di tempat yang disediakan.


"Kau mau kemana?" Tanya Raja melihat gadis itu beranjak.


"Pesan makanan! Anda tunggu disini dulu." Sahut Maya sambil berlalu.


Maya memesan ayam bakar lengkap dengan sambal, lalapan dan nasi hangat. Ia segera kembali menghampiri Raja yang masih celingukan, terlihat risih memandangi sekitar.


"Apa Anda merasa tidak nyaman makan disini? Kita bisa pergi kalau anda mau!" Ucap Maya.


Raja menggeleng."Tidak apa-apa kita makan disini saja, aku hanya merasa gerah dan sesak karena tempatnya berdesakkan!" Katanya menjelaskan.


Maya tersenyum, ini pasti pertama kalinya untuk pria didepannya makan di tempat seperti ini, karena biasanya Raja pasti makan di restoran mewah dengan ruangan private. "Ini jam makan siang, jadi wajar jika sedang ramai-ramainya. Anda bisa membuka jaket anda jika merasa gerah!" Ucapnya memberi saran.


Raja menurut, ia membuka jaketnya. Dan kini ia hanya menggunakan kaos lengan pendek yang membuat otot-otot lengannya terlihat.


Glek ...Maya menelan ludahnya tak pernah menyangka pria itu akan terlihat lebih tampan saat memakai pakaian santai seperti ini. Maya mengalihkan perhatiannya sebelum calon suaminya itu menyadarinya.


Tak lama pesanan mereka datang, Maya mengambilkan Ayam dan nasi lalu menghidangkannya pada Raja, kemudian mengambil untuk dirinya sendiri.


"Cobalah, Anda pasti ketagihan!" Ucapnya.

__ADS_1


Raja mengambil sendok dan mulai menyuapkan makanan itu kemulutnya, Maya tak berbohong, rasa Ayam bakar ini memang terasa lezat dilidahnya.


"Bagaimana? Enak kan?" Tanya Maya.


Raja mengangguk, "Iya! Aku tidak menyangka ternyata rasanya sangat enak." Ucapnya. "Sepertinya kau benar, aku benar-benar akan ketagihan makan disini!"


"Aku tidak bohong, kan! Biar lebih nikmat makannya pake tangan aja, Pak! Seperti ini!" Titah Maya sembari mencontohkan.


Meski ragu, tapi lagi-lagi Raja menurut, ia menyimpan sendok dan mulai menyuapkan makanan dengan tangannya. "Kau benar!".Seru nya.


Maya tersenyum, "Anda suka pedas, Pak? Bagaimana kalau anda mencoba sambalnya? Anda tau sambal disini terkenal paling pedas, lho!" Ucap Maya bersemangat.


"Boleh!" Sahut Raja.


Maya tertawa saat melihat Raja kepedasan, ia menyodorkan air minum pada calon suaminya itu. "Kalau anda tidak kuat pedas kenapa masih ingin mencobanya." Cibirnya, sembari memberikan segelas lagi air untuk Raja, bibirnya terlipat menahan tawa.


"Kupikir tidak terlalu pedas!" Ucap Raja, terkekeh. "Tak apalah bibirku terasa terbakar, setidaknya aku bisa melihatmu tertawa seperti ini, May! Dan kau terlihat sangat cantik saat tertawa." Lanjutnya dalam hati.


Mereka melanjutkan makan, Raja harus mengakui makanan yang baru saja masuk kemulutnya memang enak, ia tak pernah menyangka warung sederhana seperti ini bisa menyajikan makanan yang cocok dilidahnya.


"Mbak!" Seru Raja bermaksud memanggil pelayan atau pemilik warung.


"Bapak mau ngapain?" Tanya Maya.


Maya terkekeh. "Kita bayarnya didepan, Pak!"


"Oh..." Ucapnya seraya ikut beranjak mengikuti Maya menuju pemilik warung untuk membayar.


"Berapa semuanya, Bu?" Tanya Maya.


"85ribu, Neng!" Ucap Si Ibu.


"Pakai ini saja Bu!" Ucap Raja menyodorkan kartu debit miliknya. Ibu pemilik warung mengerutkan keningnya, sedang Maya sekali lagi ia menahan tawanya.


"Disini bayarnya harus pakai uang tunai, Pak!" Ucapnya.


"Uang tunai?" Tanyanya yang diangguki oleh Maya, ia mengernyit bingung, selama ini ia tak pernah menyimpan uang tunai didompetnya, hanya ada beberapa kartu dan blackcard miliknya. Selama ini Reihanlah yang mengurus semua keperluannya, lalu bagaimana ia akan membayar semua makanan ini sekarang?


"Ini Bu!" Ucap Maya memberikan uang seratus ribu pada pemilik warung. "Ambil saja kembaliannya!" Sambungnya.


"Terima kasih, Neng!" Ucap si Ibu.


"Sama-sama!" Sahut Maya. Maya Menarik tangannya yang masih tak bergerak, untuk meninggalkan tempat. "Ayo, Pak!" Ajak Maya

__ADS_1


Mereka kembali kemobil mereka, Raja memberikan uang sepuluh ribu untuk membayar parkir, beruntung ada uang didashboard mobilnya jadi ia tak harus malu kedua kalinya.


"Harusnya aku yang membayar makanan itu!" Keluh Raja, saat mereka sudah berada dalam mobil. Sepertinya ia masih merasa tak terima ditraktir oleh Maya.


"Gak apalah, pak! Sekali-kali bayarin CEO." Sindir Maya, sembari terkikik melihat ekspresi wajah Raja.


"Kau mengejekku, ya?!" Seru Raja. Maya tertawa kecil, "Saya tidak mengejek anda, Pak! Hanya merasa lucu saja, seorang CEO tak membawa uang selembar pun didalam dompetnya." Cibirnya, sambil melipat bibirnya menahan untuk tertawa.


"Kau benar-benar, ya!" Ucap Raja Nada bicaranya sedikit kesal tapi senyum kecil terbit dibibirnya. "Selama ini Reihan yang mengurus semua keperluanku jadi aku memang tak pernah membawa uang tunai didompetku, tidak disangka aku akan mengalami hal memalukan seperti ini." Ucap Raja. "Sekali lagi kau sudah menyelamatkanku!" Ucapnya.


Maya menghentikan tawanya, keningnya mengernyit tak mengerti. "Sekali lagi? Memangnya kapan saya menyelamatkan anda?"


Raja menghela napasnya. "Malam itu!" Ucapnya. "Entah apa yang terjadi jika bukan kau yang mengantarku saat itu." Lanjut Raja.


Maya menatap wajah Raja, ia masih tak mengerti maksud perkataan lelaki itu..


"Malam saat kejadian itu, mantan kekasihku mencampur minumanku dengan obat perangsang, ia berusaha menjebakku agar mau menikahinya. Tapi ternyata tuhan mengirimmu untuk menyelamatkan aku dari wanita seperti dia, meski akhirnya itu menjadi malam paling mengerikan bagimu!" Ucap Raja wajahnya kini berubah sendu.


Maya diam, kini ia mengerti kenapa saat itu Raja terlihat menahan sakit, dan kini ia bisa memahami kondisi Raja saat itu.


"Aku benar-benar menyesal tak bisa menahan diriku saat itu." Sambung Raja penuh penyesalan. "Aku harap kau bisa memaafkanku!"


"Semuanya sudah berlalu, Pak. Seperti yang pernah kukatakan saya sudah memaafkan anda, karena jika saya belum memaafkan anda saya tidak mungkin menerima anda." Ucap Maya.


Raja tersenyum. "Kuharap hubungan kita bisa berjalan dengan baik, meski kita sama-sama tau belum ada cinta diantara kita, tapi aku akan berusaha memberikan yang terbaik sebagai suamimu." Ujar Raja sungguh-sungguh.


Maya tersenyum ia mengangguki ucapan Raja, dalam hatinya ia juga berjanji akan menjadi istri yang baik.


Mobil melaju menuju halaman rumah Maya, keduanya mengernyit saat melihat beberapa mobil sudah terparkir di halaman dan sekitar rumah Maya.


"Kenapa banyak sekali mobil?" Tanya Maya.


Mereka berdua keluar dari mobil.


Baru saja keluar Raja sudah disambut oleh sang adik yang langsung menghambur kepelukannya.


"Queen? Kau disini?" Tanyanya heran.


Za tersenyum lebar." Kenapa kakak tidak bilang kalau Kakak menyukai Maya? Tau begitu aku akan membiarkan kalian berduaan dipesta pernikahanku kemarin." Ujar Za sumringah.


Sedangkan Maya kini mematung melihat keakraban mereka. "


Queen? Jadi yang Queen yang terus disebut-sebut Raja adalah Nona Queenza?"

__ADS_1


__ADS_2