Takdir Cinta Queenza.

Takdir Cinta Queenza.
Cemburu


__ADS_3

Inder baru akan menikmati makan siangnya ketika Friska datang menghampirinya membuat mood nya buruk seketika.


"Hai Inder, lama tak jumpa" Ujar Friska dengan senyum manisnya.


Ia tak memperdulikannya."Di, gue mau makan! Lo tau kan, gue paling gak suka diganggu saat makan!" Ujarnya dengan suara meninggi pada asisten suruhan Rega yang menemaninya.


"I..iya mas." Ujar asistennya dengan takut, untuk pertama kalinya Inder meninggikan suaranya. "Maaf mbak, mas Indernya mau makan dulu. Silahkan mbak keluar." Ucap asisten Inder.


"Inder aku hanya ingin bicara denganmu! sebentar saja." Ujar Friska mencoba membujuk pria itu.


Inder menajamkan tatapannya pada sang asisten, membuat asistennya segera menyeret Friska menjauh.


"Kenapa dia masih saja gangguin gue?" Keluhnya, tak habis pikir dengan kelakuan wanita itu.


Ia berniat menelpon Za, sudah dari kemarin mereka tidak bertemu. Kesibukannya untuk menyelesaikan syuting sebelum hari pernikahan benar-benar menyita waktu, bahkan tak jarang ia harus pulang dinihari demi menabung pengambilan adegan agar setelah pernikahannya nanti ia bisa bersantai beberapa hari dan menikmati harinya bersama Za. Ia tersenyum membayangkan hari bahagia itu.


keningnya mengkerut saat panggilannya diabaikan, apa Za sedang sibuk? Tapi, bukankah semua keperluan pernikahannya sudah disiapkan oleh orang tua mereka?


Ia putuskan menikmati makanannya, mencoba berfikir fositif, mungkin saat ini kekasihnya sedang ada kesibukan lain, nyalon misalnya.


Baru beberapa saat selesai dengan makan nya, seorang crew menghampirinya"Mas Inder, bentar lagi giliran mas!" Ujar crew itu yang ia angguki.


Ia beranjak, melangkah mendekat kelokasi ketika sebuah pesan masuk di ponselnya.


Sebuah pesan berisi alamat yang dikirim dari nomor Friska


"Itu alamat apartemen kak Raja, dan kekasih yang kau cintai itu sedang berada disana!" Ujar Friska yang tiba-tiba muncul didekatnya.


"Kau pikir aku akan percaya?" Tanyanya sinis.


"Terserah padamu! Aku hanya kasihan kepadamu, kau sudah tertipu dengan wajah polosnya Za."


"Inder, dia tak sebaik yang kau pikir, bagaimana bisa seorang wanita yang akan menikah menemui lelaki lain diapartemen ?" Ucap Friska lagi.


"Lelaki lain itu adalah kakaknya!" Sanggahnya.


Friska tertawa kecil mengejeknya. "Kakak angkat! Harap kau ingat itu!" Cibirnya "Aku datang hanya untuk memberitahumu, aku ingin kau membuka matamu agar tau seperti apa gadis yang akan kau nikahi itu!" Ucap Friska lagi.


"Aku tidak akan termakan omonganmu!"


"Sudah kubilang, terserah! Tapi kau bisa membuktikannya sendiri." Tantang Friska sambil berlalu dari hadapannya.

__ADS_1


Inder melanjutkan langkahnya, menyelesaikan syuting yang hanya tinggal mengambil satu adegan lagi, ia memang aktor profesional meski pikirannya kalut ia bisa menyelesaikan syuting dengan baik.


"Di, Lo balik aja naik taksi, gue ada urusan!" Titahnya pada sang asisten.


"Lho bukannya masih ada satu lokasi lagi ya, mas?"


"Gue akan telpon Rega nanti, lo balik aja!"


"Iya mas!"


Inder melajukan mobilnya menuju alamat dari Friska, ia sudah mencoba untuk tak terpancing nyatanya rasa penasaran membuatnya kalah dan memilih untuk membuktikan ucapan wanita itu.


"Kuharap kau tak benar-benar disana, Za!" Gumamnya.


Ia berhenti di sebuah apartemen mewah, sedikit berdebat dengan satpam dan akhirnya bisa masuk dengan sedikit sogokan.


Dengan dada berdebar ia melangkah menuju lantai yang dituju, kata Friska satu lantai teratas adalah milik kakaknya.


Hingga...ia benar-benar sudah berada di depan pintu apartemen yang terbuka itu, melangkah masuk, melewati beberapa barang yang bergeletakan dilantai.


"Apa yang sudah terjadi? Berantakan banget?" Batinnya.


"Kakak, sadarlak kak. aku adikmu!" Suara Za membuatnya mempercepat langkah.


Dan matanya terbelalak, hatinya serasa disulut api begitu melihat adegan didepannya, lelaki itu menarik kepala Za mendekatkan wajah mereka, ia tak tinggal diam, sebelum wajah pria itu benar-benar menyentuh wajah Za ia menarik tubuh lelaki itu dan


Bugh.


Satu pukulan mendarat diwajah Raja, hingga pria itu jatuh tersungkur di lantai.


"Brengsek!" Geramnya, seraya memberikan satu pukulan lagi pada wajah pria yang sedang mabuk itu. "Beraninya kau menyentuh calon istriku!" menghujami tubuh Raja dengan pukulan lagi dan lagi


"Hentikan Inder! Kau bisa membunuhnya!" Pekik Za membuatnya menatap gadis itu tajam.


"Dia bisa mati, kumahon!" Ucap gadis itu lagi, seraya mencekal tangannya.


"Ikut aku pulang!" Ucapnya seraya menarik kasar tangan gadis itu, menyeretnya untuk turun kelantai bawah mengabaikan tatapan orang-orang yang berada disana.


Ia hempaskan tubuh gadis itu untuk masuk kemobil, melajukan kendaraannya menjauh dari tempat itu.


🌺🌺🌺🌺

__ADS_1


Za bergeming ditempatnya, ia mencengkram kuat sabuk pengaman saat Inder melajukan mobil dengan sangat kencang.


Tak ada pembicaraan apapun diantara mereka, lelaki itu pokus kejalanan dengan mata yang masih berkilat menahan amarah.


"I..Inder, aku bisa jelaskan semuanya!" Ucapnya memecah keheningan.


"Jangan membahasnya!" Ujar lelaki itu dingin.


"Aku hanya tak ingin kau salah faham." Ucapnya keras kepala.


"Jika kau ada di posisiku, apa kau tidak akan salah paham?" Tanya Inder menatapnya tajam.


Za menunduk, ia tau ia salah. "Maaf!" Ucapnya lirih. "Tapi sungguh, aku hanya khawatir dengan kakakku, aku tak pernah menyangka ia akan senekat itu." Ucap Za.


"Aku sudah pernah bilang kalau dia menyukaimu sebagai wanita, Za! Tapi kau tak pernah mempercayaiku. Sekarang kau lihat sendiri, kan? Apa kau masih ingin bilang kalau dia menganggapmu sebagai adiknya?"


"Kenapa kau harus menemuinya tanpa sepengetahuanku? Aku ini calon suamimu, Za!" Ujar Inder, Untuk pertama kalinya Za melihat lelaki itu semarah ini.


"Jika aku memberi tahumu apa kau akan mengijinkanku? Tidak kan!" Ucapnya, iaemghela nafas sebelum melanjutkan kata-katanya, "Kau tidak mengerti bagaimana perasaanku, bagaimana syoknya aku saat kakakku sendiri menyatakan cinta padaku." Ucapnya membuat lelaki itu menghentikan laju kendaraannya, kemudian menatapnya.


"Di malam saat kau datang melamarku, siangnya dia menyatakan cintanya padaku, Kami berengkar karena dengan tegas aku menolaknya, dia kakakku bagaimana mungkin dia jatuh cinta padaku." Sambungnya, ia harus mengatakan ini atau kesalahfahaman ini akan terus berlanjut.


"Kenapa kau tidak memberi tahuku?" Tanya Inder datar.


"Karena aku takut kau akan marah, itu sebabnya aku ingin coba bicara dengan kakakku, aku yakin dia hanya takut kehilangan lagi, kupikir perpisahan kami dimasa kecil membuatnya trauma dan itu sebabnya dia takut kehilanganku, tapi ternyata..." Za tak bisa melanjutkan kata-katanya, terlalu menyakitkan ketika mengingat perlakuan sang kakak kepadanya. Ya Tuhan...kakaknya bahkan hampir saja menciumnya, kenapa ini harus terjadi padanya.


"Lalu kenapa kau kesana sendirian? Kenapa tak mengajak Alika bersamamu?"


"Aku tak sendirian, aku datang bersama kak Reihan! Aku menemui kak Reihan dikantor dan memintanya untuk mempertemukanku dengan kakak." Ucapnya.


"Reihan?"


"Iya, asisten kakakku. Kau pernah bertemu dia saat di vila dulu."


Inder menatapnya kali.ini pandangannya melembut, sepertinya kemarahan pria itu sudah mereda. Inder membelai lembut wajahnya, sebelah tangannya memggengam.tangan Za dan mengecupnya."Jangan pernah menemuinya lagi tanpaku! Aku takut kejadian tadi terulang dan aku tak bisa menyelamatkanmu." Ucapnya. Dan Za mengangguk.


Ia menatap sepasang mata meneduhkan itu, "Maafkan aku, aku tak bisa mengendalikan kecemburuanku, Aku sangat mencintaimu, Za."


"Maaf jika cemburuku membuatmu tak nyaman." Ucapnya.


Za mendekatkan wajahnya mengecup singkat bibir pria itu, membuat bibir pria itu melengkung sempurna. "Sudah berani, ya!".Ucap Inder seraya menarik tengkuk Za membuat gadis itu terbelalak. "Inder!" Pekiknya.

__ADS_1


Namun, pria itu tak menggubris lebih memilih menenggelamkan wajahnya, menyatukan bibir mereka, membuat gadis itu memejamkan matanya, mengikuti naluri menikmati setiap ******* dan pagutan dari kekasihnya membuatnya berinisiatif sedikit membuka mulutnya membiarkan lidah lelaki itu merangsek masuk menjelajahi setiap inci rongga mulutnya.


Dan entah mengapa ciuman kali ini terasa begitu nikmat dan menghanyutkan.


__ADS_2