
Raja terbangun saat matahari sudah merangkak naik, untuk pertama kalinya ia bangun kesiangan.
Setelah mandi dia turun untuk sarapan, ia melihat sekeliling, adiknya tak ada disana itu berarti sang adik masih berada di kamarnya. Raja melanjutkan langkah.
"Selamat pagi." Ucapnya menyapa Rega yang berada di meja makan. "Bi, tolong siapkan sarapan untuk saya bawa keatas, ya." Lanjutnya.
"Pagi, pak Raja." Ucap Rega ramah.
"Pagi" Balasnya. "Oh, ya. dari kemarin kita belum saling mengenalkan diri, ya." Ucapnya kemudian.
"Saya Rega, Pak. Managernya Inder."
"Saya Raja, kamu tentu tahu siapa saya."
Rega mengangguk, "Tentu, siapa yang tidak mengenal seorang Raja Pramudza." Ujarnya.
Raja tersenyum, "Jangan terlalu berlebihan, oh ya sepertinya semua orang masih betah dikamarnya, jadi sebaiknya tak perlu menunggu orang lain untuk sarapan." Ucapnya kemudian berlalu membawa sarapan yang dimintanya tadi.
Baru saja kakinya menjejak tangga kedua, Alika terlihat menuruni anak tangga.
"Apa Queen sudah bangun?" Tanyanya.
"Semalam aku tidak tidur bersamanya, kak. Tapi tadi aku sempat kekamarnya tapi kamarnya kosong! Kupikir dia sudah turun untuk sarapan." Jawab Alika yang membuatnya panik seketika.
Ia kembali menuju meja makan dan menaruh nampan berisi sarapan itu. "Kemana dia?" Gumamnya.
"Mungkin dia sedang jalan-jalan di sekitar Villa, aku akan mencarinya." Jawab Alika.
Tapi Raja melarangnya." Tak perlu, kau sarapanlah aku akan menyuruh anak buahku untuk mencarinya." Ucap Raja yang langsung pergi keluar Villa.
"Ada apa ini?" Tanya Raisa yang baru saja datang bersama Friska.
Alika mendelik sebal pada kedua perempuan itu, "Aku akan ikut mencari, Za." Ucapnya kemudian pergi menyusul Raja.
"Rasanya aku ingin mencongkel matanya itu, berani sekali dia mendelik pada kita." Gerutu Friska.
"Sudahlah, jangan buat masalah lagi Friska. Raja sudah sangat marah padaku dan aku tak ingin dia lebih marah lagi." Ucap Raisa membuat Friska makin kesal.
Friska menghentakkan kakinya dan berjalan menuju meja makan, "Kemana Inder? Apa dia belum bangun?" Tanyanya entah pada siapa.
"Hei aku bertanya padamu?" Geramnya pada Rega yang malah acuh.
Rega tak menjawab dan memilih pergi keluar, rasanya perutnya mendadak kenyang.
"Dasar Manager sialan." Umpatnya melihat pria itu pergi tanpa berkata apapun.
__ADS_1
"Sudahlah Friska! Sepertinya semua orang begitu marah pada kita, dan itu semua salahmu." Ucap Raisa.
"Kau menyalahkanku?"
"Lalu haruskah aku menyalahkan diriku sendiri? Ya. Memang harusnya aku menyalahkan diriku! kenapa aku bisa terhasut olehmu." Ucap Raisa lagi lalu beranjak pergi meninggalkan gadis itu.
Friska menjadi begitu kesal. "Ada apa dengan semua orang."
đşđşđşđş
Sementara itu, Za dan Inder menikmati pemandangan indah dari danau yang ada di depannya. Za menyandarkan kepalanya dengan nyaman di bahu lelaki itu.
"Sepertinya kau sangat menyukai danau ini." Ucap Inder, Za mengangguk.
"Aku punya banyak kenangan indah disini."
"Dengan kakakmu?" tanya Inder dengan nada tak suka. Za mengangguk, ia berdiri dan melangkah lebih dekat kedanau itu.
"Iya, dan juga dengan Mami, dan Papi." Ucap Za, "Dulu kami sering menghabiskan waktu liburan disini." Sambungnya dengan wajah yang berubah sendu.
"Kalau begitu, ayo buat kenangan yang lebih indah disini!" Ujar Inder seraya menarik tangan gadis itu. "Agar kelak kalau kau kembali kedanau ini bukan hanya mereka yang kau ingat tapi juga aku."
Za menurut pasrah, ia tak berhenti menatap pria yang sedang menariknya kesisi lain danau.
Kedua alisnya berkerut menyatu saat Inder berhenti di dekat sebuah sampan.
"Kita mau kemana Inder?".
"Kita akan menyusuri danau dengan sampan ini, pasti sangat menyenangkan!" Ucap Inder bersemangat.
Za menggeleng. "Tidak mau, danau ini dalam dan aku tak bisa berenang. Bagaimana kalau sampannya terbalik dan kita jatuh ke danau? Aku tidak mau! Itu terlalu berbahaya Inder." Ucapnya sambil bergidik ngeri.
Inder melanjutkan langkahnya, ia naik ke sampan yang ada di danau itu. "Kemarilah, Za." Ucapnya mengulurkan tangannya pada gadis itu. "Percaya padaku!" Sambungnya.
Za menghela nafasnya, mau tak mau ia menurut pasrah pada lelaki itu. Dengan hati-hati kakinya mulai memijak sampan, ia merasa takut saat sampan itu sedikit bergoyang. "Inder... aku takut!" pekiknya.
"Ada aku, duduklah! Aku tak akan membiarkanmu jatuh." Ucap Inder yang mampu membuatnya sedikit tenang.
Inder mulai mendayung membuat sampan bergerak perlahan, Za yang awalnya merasa ketakutan mulai menikmati perjalanan ini. Tangannya ia biarkan menyentuh air membuatnya merasakan ketenangan.
Melihat gadisnya sudah bisa menikmati perjalanan Inder membawa sampan ketengah danau, membuat gadis itu terkagum-kagum melihat pemandangan alam yang tak pernah ia lihat sebelumnya.
"Dilihat dari dekat seperti ini, ternyata jauh lebih indah." Ucap Za, matanya tak lepas dari rimbunnya pepohonan sekitar danau.
"Sudah kubilang, ini akan menyenangkan." Balas Inder, senyumnya mengembang sempurna melihat gadis itu menikmati pemandangan.
__ADS_1
"Ya. Kau benar! Ini sangat menyenangkan."
Inder membawa sampan itu kembali mendekati sisi danau. Senyum tak lepas dari bibir lelaki itu, matanya tak lepas dari wajah cantik Za yang kini dihadapannya.
"Za." Ucapnya lembut.
"Ya."
"Kau masih ingat ucapanku waktu di telpon?" Tanya Inder, mimiknya mulai serius.
Za mengangguk.
"Apa kau sudah punya jawabannya?" Todongnya.
Za menatapnya, ia seperti ingin bicara namun ragu.
"Apapun jawabanmu tak akan mengubah pertemanan kita, Za." Ucap Inder lagi. "Aku hanya ingin kau tau perasaanku padamu, dan akupun ingin tau seperti apa perasaanmu padaku." lanjutnya.
"Apa kau yakin dengan perasaanmu Inder? Aku takut kalau kau salah menafsirkan rasamu padaku." Ucap Za.
"Kau meragukanku?"
Za menggeleng, tak ada alasan baginya meragukan Inder, "Bukan begitu? Hanya saja...".Apapun yang ingin diucapkannya tercekat saat lelaki itu menggenggam tangannya lembut.
"Tataplah aku, Za. Dan lihatlah apa kau melihat kebohongan atau keraguan disana? Aku mencintaimu, Za. Sudah lama aku ingin mengatakan ini tapi aku terlalu pengecut, aku terlalu takut kau akan menolakku kemudian menjauh dariku."
"Tapi sekarang, yang penting aku sudah menyatakan perasaanku, dan tak masalah kau menerimaku atau menolakku! Tapi ku minta apapun keputusanmu nanti tolong jangan menjauh dariku." Ucap Inder menyatakan semua perasaannya yang selama ini ia simpan.
Za menghela nafas panjang, lelaki di depannya ini selalu membuatnya merasa aman dan nyaman. Tapi Cinta? Apa ia mencintai pria ini? Ia pun tak tau!.
"Inder, aku belum yakin dengan perasaanku, berikan aku waktu untuk memastikannya." Ucap Za.
"Mau aku bantu untuk memastikan perasaanmu padaku?"
"Hah?"
Za mematung, ia bagai terhipnotis ketika pria itu mendekatkan wajahnya. Ada debaran asing di hatinya yang membuat jantungnya berdetak lebih cepat.
Perlahan wajah keduanya semakin memangkas jarak, hingga beban di sampan yang mulai tak seimbang membuat sampan itu bergoyang dan....
Byurrrrr......
Sampan yang mereka naiki terbalik membuat keduanya tercebur ke air danau yang dingin, beruntung mereka sudah sampai di sisi danau yang jauh lebih dangkal.
Inder segera berdiri dan membantu Za untuk berdiri juga. "Maaf." Ucapnya, sembari tertawa. "Bajumu jadi basah semua."
__ADS_1
Za tak menjawab ia justru menunduk, Canggung rasanya setelah apa yang hampir saja mereka lakukan.