Takdir Cinta Queenza.

Takdir Cinta Queenza.
BROCIN


__ADS_3

"Kau sedang apa disini, Queen?"


Queenza menoleh mendengar pertanyaan dari wanita paruh baya itu.


"Emhhh aku... hanya cari udara segar Mami." Jawabnya.


Mami Maura tersenyum, dielus rambut putrinya dengan sayang." Mami perhatikan dari tadi kau sangat gelisah, apa kau mengkhawatirkan Inder, hemz?" Tanya Mami Maura.


Za mendongak menatap Maminya, lalu mengangguk pelan. "Dia terlihat sangat marah saat pergi tadi, jadi aku sangat khawatir." Akunya.


"Maafkan kakakmu, ya, Nak! Dia tak berniat menghalangi hubungan kalian. Mungkin dia hanya ingin kau fokus pada kuliahmu dulu, ia ingin memastikan masa depanmu aman."


Za mengangguk, "Aku tau Mami, aku juga tidak marah pada kakak. Aku mengerti dia melakukannya untuk kebaikanku."


"Sudah mencoba menghubungi Inder?" Tanya Mami Maura lagi.


Za mengangguk. "Tapi tidak diangkat." Keluhnya.


"Jangan khawatir, bukankah Bunda Arini tadi bilang Inder memang seperti itu? Nanti saat emosinya sudah reda dia pasti menelponmu!" Ucap Mami Maura. "Sekarang istirahatlah, kau pasti sangat lelah."


Za mengangguk, ia memutuskan untuk menurut dan kembali kedalam rumah, meniti tangga untuk menuju kamarnya.


🌺🌺🌺🌺


Sementara Inder, ia sedang menikmati capucinno bersama Rega, berharap dengan begini bisa meredakan emosinya.

__ADS_1


ia menatap gelang yang sejatinya akan ia berikan pada gadis pujaannya, tapi urung karena keburu emosi mendengar ucapan Raja.


Padahal ia sudah sangat senang ketika sudah mendapat lampu hijau dari orangtua Za, meski ada sedikit kecewa melihat gadisnya datang dirangkul lelaki berkedok kakaknya itu.


Entah kenapa ia sangat mudah terpancing emosi jika dihadapkan dengan masalah Za, padahal selama ini dia bisa dengan tenang menghadapi masalah serumit apapun dalam hidupnya.


"Ponsel lo bunyi terus tuh!" Cetus Rega, membuyarkan lamunannya.


Diliriknya layar benda pintar itu, nama Za muncul disana.


"Dia pasti khawatir banget sama lo!" Imbuh Rega, "Angkat gih!" Titahnya, tapi Inder menggeleng.


"Gue masih kesel sama kakaknya, takutnya malah gak sengaja ngelampiasin ke dia, nanti aja gue telpon balik." Tolak Inder, ponsel itu ia silent agar tak menganggu orang lain.


Inder menyandarkan kepala di sandaran kursi cafe, tangannya memijat kening yang terasa berdenyut.


"Ahhh kenapa kisah cinta gue harus serumit ini!" Keluhnya.


Rega terkekeh. "Pertama kalinya seorang Ivander kamal Prasetya mengeluh tentang cinta!" Ejek Rega. Yang mendapat pelototan tajam dari Inder, tapi lelaki itu malah terkekeh.


"Jangan sampe kekesalan gue sama Raja, gue lampiaskan dengan nonjok muka lo!" Ancamnya kesal.


Rega terkekeh, "Santai Brocin, jangan cepat emosi nanti darah tinggi baru tau rasa." Sergah Rega yang justru membuatnya mengernyit.


"Brocin?" Ucapnya menatap Rega dengan sebelah alis yang terangkat.

__ADS_1


Rega tersenyum penuh arti. "Brocin! Bro Bucin! Hahaha" Ucapnya sambil tertawa keras memancing perhatian pengunjung lainnya.


"Sialan!" Umpatnya tak terima, seandainya saja ini bukan di tempat umum, sudah ia sumpal mulut pria playboy itu.


"Sory Bro, sory bercanda!" Ucap Rega ketika Inder menatapnya kesal. "Tapi bener kan lo itu Bucinnya si Za." Lanjutnya dengan tawa yang tertahan.


"Terus aja terus ledekin gue, kelak kalau lo ngerasain jatuh cinta gue doain kisah cinta lo lebih rumit dari yang gue alami!" Ucapnya serius.


Rega menggeleng tak setuju, "Kalau kelak gue beneran jatuh cinta gue gak bakal sebucin lo! Gue akan mencintai sewajarnya saja, kalau emang cuma bikin ribet lebih baik gue tinggalin terus cari deh cewek lain, gak usah dibikin susah!"


"Lo gak bisa ngatur maunya hati, Ga! Sekali lo jatuh cinta, yang ada diotak lo hanya gimana caranya dapatkan dia dan bikin dia bahagia!"


"Apalagi Za adalah cinta pertama gue, lo tau sendiri berapa tahun gue nyari dia, jadi gak mungkin gue nyerah sampai disini."


"Terserah....sekarang pesenin gue makanan! Gara-gara lo, gue gak jadi makan malam." Rutuk Rega.


Lo bisa pesan sendiri! Ngapain nyuruh gue." Tolak Inder, ia mengambil benda pipih yang sedari tadi ia abaikan. Meski terdengar sangat menyebalkan tapi ia akui guyonan sahabatnya itu mampu membuat moodnya lebih baik.


54 panggilan tak terjawab dari Za! Ia terbelalak sepertinya Rega benar, gadis itu pasti sangat menghawatirkannya.


Ahhh ia jadi merasa bersalah, ia lirik jam tangan mahalnya waktu sudah menunjukkan pukul 23.45.


Apa gadis masih bangun jam segini? Ia tekan nomor Za untuk memulai panggilan, setelah terabai beberapa saat panggilan itu mendapatkan jawaban.


"Maaf, Za sudah tidur!"

__ADS_1


__ADS_2