Takdir Cinta Queenza.

Takdir Cinta Queenza.
Rapuhlah Agar Aku Bisa Melindungimu


__ADS_3

Matahari masih bersembunyi, namun dering ponsel yang terus menyala memaksa Za untuk membuka matanya.


Ia memaksa matanya yang masih terasa lengket untuk terbuka, nama Inder muncul di layar benda pipih miliknya itu membuat Za menggeser malas layar untuk menjawab panggilan.


"Matahari bahkan belum muncul Inder, kau sudah menelponku pagi-pagi buta begini." Keluhnya. Ia baru bisa memejamkan mata menjelang pagi.


"Turunlah aku menunggumu di bawah!" Ucapnya tak menanggapi keluhan gadis itu.


Za membulatkan mata, ia segera melangkah cepat menuju balkon memgintip semua arah hingga netranya menemukan pria itu melambaikan tangan lengkap dengan senyum manisnya.


"Kau mau membawaku kemana sepagi ini." Tanyanya dengan mata terarah pada pria itu.


"Aku akan mengajakmu jalan-jalan." Ucap pria itu di sebrang telpon.


"Baiklah tunggu aku sebentar!" Ucapnya pasrah, Za menutup panggilan dan kembali kedalam kamarnya.


Ia segera mencuci muka lalu mengambil Sweater rajut untuk menutupi piyama tidurnya.


Ia turun perlahan menuruni anak tangga tanpa mengeluarkan suara, ia tak ingin membangunkan orang-orang yang masih tertidur pulas.


"Apa kau gila mau jalan-jalan kemana sepagi ini, hari bahkan masih gelap." Cibirnya kesal, tapi lelaki itu hanya tersenyum lalu menarik tangannya menuju sebuah motor.


Inder menuntun sebuah motor keluar dari gerbang vila, "Motor siapa itu?" Tanya Za.


"Tenanglah aku tidak mencuri motor ini, aku sudah meminta izin pada pemiliknya semalam." Ujar Inder.


Inder memasangkan helm di kepalanya. "Ayo naik! Kita jalan-jalan."

__ADS_1


Za naik kemotor itu, ia merasa canggung hingga berpegangan pada belakang jok motor.


"Aku ini bukan tukang ojek, Za. berpeganganlah padaku, atau kau akan jatuh." Ucapnya.


Za menghela nafasnya, tangan ia ulurkan tapi rasa canggung yang kembali menyerang membuatnya memutuskan berpegangan pada ujung jaket Inder.


Pria itu menghembus nafas kesal, diraihnya tangan gadis pujaannya menempatkan tepat di perutnya. "Seperti ini, baru namanya pegangan." Ucapnya sembari menarik tangan Za membuat gadis itu memeluknya.


"Modus!" Ucap Za, kesal tapi wajahnya merona juga.


Motor itu melaju kencang menyusuri jalanan yang di apit hamparan perkebunan teh di kanan dan kirinya.


Angin yang berhembus kencang terasa menusuk sampai ketulang, gadis itu mengeratkan pelukannya membuat bibir Inder melengkung sempurna.


Akhirnya mereka sampai di sebuah danau.


"Kenapa kau mengajakku kesini?" Ucapnya tak mengerti.


"Kejadian kemarin pasti membuatmu sedih dan juga marah, kan? Dan kau butuh berteriak untuk melampiaskan amarahmu, bukankah begitu?" Ucap Inder.


"Kau masih mengingatnya ternyata." Ucap Za tersenyum kecil, melangkah menuju bangku yang tersedia disana.


"Aku selalu ingat hal sekecil apapun tentangmu." Ucapnya, seraya ikut duduk.


"Terima kasih." Ucap Za.


Inder menoleh."Untuk apa?"

__ADS_1


"Untuk semuanya." Za tersenyum kecil, "Tak bisa kubayangkan apa yang akan terjadi kalau kemarin kau tidak datang." Lanjutnya dengan dada yang kembali sesak. Ia menghela nafasnya."Mungkin aku sudah diarak keliling desa."


Airmatanya kembali mengalir mengingat kejadian kemarin, Ternyata dia tidak sekuat itu, semua Kesalahfahaman yang terjadi nyatanya meninggalkan luka tak kasat mata di hatinya. Inder diam ia tau gadisnya tidak sedang baik-baik saja, namun ia tak tau harus berbuat apa untuk menghiburnya.


"Inder..." Panggilnya pelan.


"Hemmzz"


"Boleh pinjam punggungmu?"


Inder hanya memgangguk kemudian berbalik memunggungi gadis itu. Ia merasakan Za menyandarkan kepala di punggungnya disusul tangisan yang membuat hatinya ikut merasakan kepedihan gadis itu.


Cukup lama mereka berada di posisi yang sama, hingga tangisan itu mulai mereda menyisakan isakan kecil.


Inder berbalik setelah merasa gadis itu sudah lebih tenang.


"Jangan berbalik dulu Inder, aku tak ingin kau melihatku menangis." Protes Za, tapi lelaki itu tak perduli. Ia tetap berbalik menghadap kearah gadis itu dan menghapus sisa air mata yang masih membasahi wajah cantik Za.


"Kau jelek sekali kalau menangis begini." Kelakarnya, membuat Za menghadiahkan cubitaan di perutnya.


"Jahat banget sih." Ujar Za, seraya mencubitnya.


"Sakit, Za!" Pekiknya, namun bibirnya melengkung sempurna melihat gadis itu bisa sedikit tertawa.


Inder menarik gadis itu dalam pelukannya, tak ada penolakan Za justru terlihat nyaman menyandarkan kepala di dadanya.


"Sejak semalam aku meyakinkan diriku kalau aku tak harus sakit hati karena yang terjadi kemarin hanyalah sebuah kesalahpahaman. Nyatanya aku tak sekuat itu, hatiku tetap saja terluka setiap mengingat kata-kata mereka." Keluh Za.

__ADS_1


"Ternyata hatiku masih saja rapuh." Lanjutnya.


"Jangan terlalu kuat, Za! Rapuhlah agar aku bisa melindungimu."


__ADS_2