
Raja dan Inder langsung menuju lokasi yang ditunjukan oleh alat yang mereka gunakan, mereka masuk kepemukiman padat penduduk hingga seorang pengawal melapor bahwa mereka menemukan motor yang dipakai Maya.
"Sepertinya Maya sengaja menepikan motornya agak jauh agar tak ketahuan oleh para penculik itu!" Analisa Rega yang disetujui semua orang.
"Jadi apa sebaiknya mobil kita juga berhenti disini?" Tanya Raja.
"Sebaiknya begitu! Titik yang ditunjukan gps tak jauh dari sini, jadi sebaiknya kita jalan kaki saja!"
Semua orang mulai bergerak, memutuskan berjalan kaki dan mengikuti arah GPS.
"Tunggu!" Seru Inder.
"Ada apa, Inder?"
"Titik nya bergerak mendekat, itu berarti mereka ada di sekitar sini!" Ucapnya membuat semua orang mulai mengedarkan pandangan kesemua arah. Dan alangkah terkejutnya mereka melihat dua gadis itu keluar dari gerbang di depan mereka, dan berlari dengan beberapa pria mengejar di belakang mereka.
"Astaga!" Seru Inder saat melihat istrinya berlari dengan begitu kencang. Ia segera berlari mendekat pada wanita itu meraih tangannya.
"Lepas...lepaskan aku! Lepaskan aku!" Raung Za, seraya terus meronta mencoba melepaskan diri darinya. "Za! Sadarlah ini aku, Sayang!" Bentaknya membuat wanita itu menatapnya.
"Inder!" Rapal Za, yang langsung menghambur kepelukannya menumpahkan semua tangisnya. "Syukurlah kau baik-baik saja, Sayang!" Ucapnya lega.
Sementara Raja juga melakukan yang sama ia meraih tangan calon istrinya, memeluknya erat! Hembusan napas lega terdengar ditelinga Maya. "Syukurlah kalian selamat!"
"Jangan coba melakukan hal berbahaya seperti ini lagi, May! Aku tidak akan bisa memaafkan diriku kalau terjadi sesuatu yang buruk terjadi padamu!" Ucapnya sungguh-sungguh.
Ada rasa membuncah yang menyeruak dihati Maya saat Raja mengatakan hal itu, apalagi lelaki itu kembali memeluknya dengan erat.
Suara gaduh dibelakang mereka membuat mereka waspada. "Ahhhhh Sssssshh!" Za menggaduh sekaligus mendesis bersamaan.
"Ada apa sayang!" Tanya Inder panik.
"Perutku, perutku sakit, Inder!"
"Astagaa! Za perutmu sakit lagi!" Maya juga ikut panik.
"Tahan sebentar, ya sayang! Kita kerumah sakit sekarang!" Ucap Inder seraya membopong istrinya.
"May ikut dengan mereka!" Titah Raja.
__ADS_1
"Lalu kau!"
"Aku akan bantu Reihan dan Rega!" Ucap Raja.
"Tapi..."
Raja bisa melihat kekhawatiran diwajah calon istrinya itu.
Cup. sebuah kecupan singkat mendarat dikening Maya. "Aku akan baik-baik saja! Sebentar lagi anak buah Papi juga akan datang, jadi kau tak perlu khawatir!" Ucapnya.
"Pergilah bersama Queen dan Inder! Aku akan merasa tenang kalau kau sudah aman bersama mereka" Ucap Raja lagi, kali ini Maya menurut ia mulai melangkah mundur.
"Kau harus hati-hati." Ucap Maya yang diangguki oleh Raja, sebelum akhirnya gadis itu berlari menyusul Inder menuju mobil mereka.
đşđşđşđşđş
Sementara itu Rega dan Reihan mulai kewalahan, tak disangka anak buah Mike ternyata lebih banyak dari dugaan mereka.
Beruntung bantuan cepat datang, hingga anak buah Mike satu persatu mulai bisa ditumbangkan oleh anak buah pilihan yang dikirim oleh Papi Rendy.
Raja juga ikut membantu, ia menghalau Mike dan Friska yang akan menuju mobilnya untuk melarikan diri. "Mau kemana kalian? Kalian pikir kalian bisa kabur?" Geramnya.
"Ini tidak akan terjadi jika kau tidak terus menghasutku untuk menculik Za!" Geram Mike. Lelaki itu menatap tajam Raja. "Mundur dan biarkan aku pergi! Atau peluru ini akan menembus kepala adikmu!"
Raja tersenyum miring."Kau pikir wanita itu berarti untukku? Kau bisa membunuhnya jika kau mau!" Cibir Raja membuat lelaki itu semakin gelap mata. "Tapi itu berarti hukumanmu akan jauh lebih berat." Ucap Raja lagi.
"Kakak!" Pekik Friska. "Kumohon selamatkan aku, kakak. Tolong aku!" Ucapnya menghiba.
Raja tak menghiraukan Friska ia terus melangkah mendekat pada lelaki itu,
Bruk... Dor!
Mike menghempaskan tubuh Friska pada Raja dan menembak kaki wanita itu hingga menjerit kesakitan. Lelaki itu kemudian berlari menjauh berniat untuk kabur.
"Tuan!" pekik Reihan yang baru datang menghampirinya.
"Urus dia! Aku akan mengejar lelaki itu!" Sergah Raja seraya beranjak mengejar Mike.
"Kenapa dia?" Tanya Rega yang baru tiba.
__ADS_1
"Kau urus dia! Aku harus membantu Tuanku!" Ucap Reihan.
"Tolong aku, Ga! Awww tolong bawa aku kerumah sakit!" Pinta Friska.
Rega menelpon salah satu anak buahnya untuk mengurus Friska. "Kau disini saja, nanti akan ada yang menjemputmu!" Ucap Rega sambil berlalu meninggalkan Friska.
đşđşđşđşđşđş
Raja terus mengejar Mike, sebuah tendangan ia layangkan membuat pria itu tersungkur ketanah. Mike mencoba untuk bangkit, tapi pukulan demi pukulan dari Raja membuatnya tak berkutik.
"Kau menculik adikku, Hah? Berani sekali kau bermain-main dengan keluarga Pamudza!"
Bugh... bugh...
Pukulan demi pukulan ia daratkan di wajah pria itu hingga wajah tampan itu kini babak belur.
"Tuan! Hentikan Anda bisa membunuhnya!" Sergah Reihan.
"Biarkan aku membunuhnya, Rei! Orang yang sudah berusaha menyakiti adikku pantas untuk mati!"
"Jangan kotori tangan Anda, Tuan! Serahkan semuanya pada hukum!" Bujuk Rei. "Ingat! Nona Maya sedang menunggu Anda!" Ucap Reihan lagi.
Raja menghentikan aksinya, ia hempas kasar tubuh lelaki yang sudah tak berdaya itu. "Serahkan dia kepolisi, cari bukti di tkp dan pastikan dia dihukum seberat-beratnya!" Titahnya yang segera diangguki oleh Reihan.
Tanpa mereka sadari, Mike berusaha meraih pistol yang sempat terlepas digenggamannya, dan...
Dorrr! Dorrr
Dua buah peluru menembus punggung Raja membuatnya ambruk ketanah.
"Tuan!" Pekik Reihan. Reihan melayangkan tatapan tajam pada pria itu dan
Bugh... ia memukuli pria itu hingga tak sadarkan diri.
"Tuan!" Panggilnya. "Bertahanlah, Tuan!"
Rega yang baru datang dengan dua polisi bersamanya terkejut mendapati Raja sudah tergeletak dengan darah merembes di tubuhnya. "Kenapa bisa begini, Rei!" Tanyanya.
"Akan kujelaskan nanti, sekarang kita bawa dia kerumah sakit terdekat!" Ujarnya.
__ADS_1
"Bertahanlah, Tuan!" Batin Reihan.