
Queenza memandang keluar mobil dengan tatapan yang kosong, perasaannya sedang kacau saat ini. beberapa notifikasi pesan dari media sosialnya membuat penasaran.
Ia membuka satu persatu, keningnya mengerut saat melihat banyaknya hujatan yang di tujukan untuknya, "Tak cukupkah penderitaanku selama ini, Tuhan..." Keluhnya dalam hati.
Dua buah video yang dikirim oleh sebuah akun yang mencantumkan namanya, membuat matanya membulat.
Airmata yang sedari tadi ia tahan kini mengalir tanpa permisi, "Siapa yang begitu kejam memfitnahku seperti ini?" Tanyanya dalam hati.
Sekuat tenaga ia mencoba untuk tak terisak, tangannya tak berhenti menyeka airmata yang tak mau berhenti mengalir.
Ia Kecewa, Ia ingin marah, tapi pada siapa? Ia bahkan tak tau siapa permbuat dan Penyebar video itu, Haruskah ia marah pada kakaknya? Ataukah ia harus marah pada para penghujat itu?
Za mematikan ponselnya, ia sudah tidak tahan lagi mendengar semua orang menyudutkannya. "Kenapa? kenapa harus selalu aku yang di salahkan? Apa aku tak pantas bahagia?"
"Apa ini terjadi karena sikap kak Raja lagi?" Gumamnya menerka.
Za memutuskan untuk berhenti di sebuah cafe yang tak terlalu ramai, ia ingin mencoba menenangkan pikirannya, Za memasuki cafe dan duduk didekat jendela kaca berukuran besar di cafe itu.
Berulangkali ia menghela lalu menghembuskannya perlahan, sampai membuatnya merasa cukup tenang.
Ia memandang keluar jendela dengan tatapan kosong, hingga tak menyadari kehadiran seseorang didepannya.
"Hai Queenza, kita bertemu lagi!"
๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ
Friska, ia merasa sejak kehadiran Queenza hidupnya berubah seratus delapan puluh derajat, setiap saat ia dilanda keresahan juga ketakutan.
Kehadiran gadis itu ditengah-tengah keluarga pramudza bisa mengancam posisinya, lihat saja bahkan orangtua angkatnya menggelar pesta dan makan malam yang melibatkan seluruh keluarga dan kolega bisni untuk memperkenalkan gadis itu.
Ini tidak adil! Pikirnya. Dulu saat ia datang pada keluarga ini, tak ada penyambutan berarti, meski sang kakek mengakuinya didepan umum, juga menyematkan nama besarnya dibelakang namanya tapi ia sadar betul ia tak sepenuhnya diterima oleh keluarga ini.
Tak ada perayaan seperti yang dilakukan mereka pada Queenza sekarang, hanya sebuah pres conference yang dilakukan Andika saat itu sebagai bentuk pengakuan dan pengumuman untuk memperkenalkannya pada publik.
Dulu ia tak perduli! Baginya yang penting dia bisa hidup dengan nyaman dan segala keinginannya terpenuhi. Tapi... melihat bagaimana Maura dan Rendy memperlakukan Za sekarang, mulai ada ketakutan melandanya, ia takut tersingkir.
Dalam hatinya ia mulai memupuk kebencian pada gadis itu, ditambah lagi kedekatan gadis itu dengan pria yang ia dambakan membuat kebencian itu kian tumbuh subur dalam hatinya, ia ingin membalas semua rasa sakit yang ia terima karena kehadiran gadis itu, namun bagaimana caranya? Sedang kini tak ada seorangpun yang mau mendukungnya, ia sudah tak punya keluarga bahkan ibu kandungnya juga entah dimana.
__ADS_1
Keberuntungan mulai kembali berpihak padanya ketika Raisa kembali menghubunginya dan mengajaknya untuk bertemu.
disebuah kamar hotel mereka merencanakan pembalasan untuk Za yang sama- sama mereka anggap sebagai penghalang untuk mencapai keinginan mereka.
Ia melancarkan aksinya dikampus tempat Za menuntut ilmu, beberapa orang mereka bayar untuk menyebarkan kabar dan video yang langsung menjatuhkan nama gadis itu, ia juga menyuruh mereka merekam dan melakukan siaran langsung agar semua orang bisa melihat apa yang terjadi pada gadis itu.
Dan begitu melihat Za keluar dari kampus dengan berderai air mata, senyumnya mengembang sempurna.
"Rasakan itu, Za! Ini baru awalnya, kita lihat saja apa yang akan terjadi padamu selanjutnya!"
"Kau tenang saja adik ipar, kita buat gadis itu menyesal karena mengusik hidup kita." Sambut Raisa yang berada di sampingnya.
Mobil yang dikendarainya bergerak mengikuti laju taksi yang ditumpangi oleh Queenza. Mereka menunggu sejenak saat taksi berhenti dan Za keluar dengan mata sembabnya kemudian memasuki sebuah cafe yang tak terlalu ramai.
"Apa kau pikir kau bisa bersembunyi disini, Za? Kau pikir kau bisa menenangkan diri disini? Tidak! Aku akan membuatmu merasakan ketidak nyamanan seperti yang kurasakan beberapa bulan ini karenamu!" Gumamnya.
"Apa kita akan menungggunya disini, Friska?" Tanya Raisa.
"Aku punya rencana bagus, Kak."
Ia keluar menghampiri beberapa orang yang lewat didepan mobilnya, menyuruh mereka memasuki cafe itu dan merekam apapun yang akan terjadi di cafe itu nantinya.
"Ayo, kita turun Kak. Kita akan bersenang-senang!" Ajaknya pada Raisa.
Ia berjalan terlebih dahulu dengan Raisa yang mengekor dibelakangnya, Cafe yang mulanya berisi beberapa orang pengunjung kini mulai ramai dengan kehadiran orang- orang yang ia bayar tadi, dan ia memberikan kode untuk mulai merekam.
Ia melihat gadis itu menatap luar cafe, sepertinya gadis itu tak menyadari keberadaannya. Ia memberi kode pada Raisa untuk mengikutinya menuju meja gadis itu.
"Hai, Queenza! Kita bertemu lagi!!" Sapanya membuat gadis itu menoleh padanya, kemudian pada Raisa dengan kening berkerut.
"Kalian, sedang apa disini?" Tanya gadis itu heran. Cafe ini terletak cukup jauh dari ibukota tentunya gadis itu takkan berpikir ini sebuah kebetulan.
Namun belum sempat ia menjawab Raisa sudah mengambil minuman dari meja disebelah gadis itu dan menumpahkannya tepat dikepala Queenza, membuat gadis itu berdiri terbelalak kaget, dan menatap Raisa.
"Apa yang kau lakukan!" Pekiknya kaget.
"Itu pantas untuk pelakor sepertimu!" Bentak Raisa, berhasil memancing perhatian para pengunjung.
__ADS_1
"Gara-gara kau Raja meninggalkanku, dia bahkan memulangkan paksa aku kenegaraku.
Padahal dulu dia sangat mencintaiku, dia selalu memaafkan sebesar apapun kesalahanku, tapi... gara-gara kau dia memutuskan hubungan dan mencampakkanku!" Cerca Raisa.
Friska tersenyum manis, semua ini lebih sempurna dari rencananya. Senyumnya kian mengembang ketika hampir semua pengunjung mulai memusatkan perhatian pada meja tempat mereka berada.
Ia melangkah mendekati Raisa, mengusap punggungnya pelan berpura-pura menenangkan. Sedang Za gadis itu terlihat masih syok dengan apa yang dialaminya.
"Kak Raisa, bukankah sudah kubilang kalau kau salah faham." Ucap gadis itu terbata. "Aku dan Kak Raja..."
"Saudara angkat! Iya, kan!" Ucapnya memotong pembelaan Za. "Jadi kalaupun kalian saling jatuh cinta itu sah-sah saja!"
"Tapi Za, apa kau tidak memikirkan perasaan kak Raisa? Mereka sudah berhubungan selama lebih dari lima tahun, kenapa kau tega merebut kekasihnya?!" Ucapnya.
"Friska kau tau kalau aku..."
"Dan tak hanya puas dengan kakakku, kau juga juga mendekati lelaki yang kusukai, apa maumu sebenarnya Za?!" Hardiknya , ia benar-benar tak membiarkan gadis itu membela diri.
Bisik-bisik dari para pengunjung membuatnya semakin gencar menyerang Za, ia mulai menatap satu persatu wajah-wajah penasaran itu.
"Ibu-ibu, kakak-kakak semua, tolong perhatikan wajah gadis ini baik-baik, jangan sampai kalian mengalami apa yang kakakku alami!"
"Kakakku yang malang ini, harus menelan pil pahit dan gagal menikah karena calon suaminya lebih memilih pelakor ini!" Ujarnya sembari menunjuk wajah Za.
Ia tersenyum sinis saat melihat gadis itu menggeleng dengan tatapan memohon. Dan senyumnya makin lebar melihat para pengunjung mulai merekam dan memotret aksinya.
"Ayo, rekam dan potret saja dia, dan ingatlah wajahnya baik-baik, jangan sampai kalian jadi korban berikutnya." Ujarnya menggebu-gebu.
"Rasakan itu, Za. setelah ini kupastikan semua orang akan menghujatmu, hingga Inder juga akan Ilfiil dan meninggalkanmu!" Gumamnya dalam hati.
Ia tak bicara lagi, hanya tersenyum puas melihat gadis itu tertunduk, dan menghindari puluhan ponsel yang menyorotnya sebagai objek.
Namun senyumnya memudar begitu melihat seseorang melampirkan jaket pada bahu gadis itu, dan menatap tajam pada dirinya.
"Sudah puas kau mempermalukannya?!"
Emhhhh tebak-tebakkan yok, siapa nih kira-kira yang datang nyelametin Za?
__ADS_1
Makasih untuk semua dukungan kalian selama ini, semoga karya recehanku gak membuat kalian bosan๐ Boleh dong minta like dan komennya, Happy reading n tankyu๐
Lov U All