Takdir Cinta Queenza.

Takdir Cinta Queenza.
Meminta Restu.


__ADS_3

Raja dan Reihan sudah melaporkan pejabat desa itu kepolisi, mereka bersedia menjadi saksi atas tindak asusila yang dilakukan kepala desa tersebut, Pun dengan orang-orang yang terlibat didalam rencana itu.


Dengan bantuan koneksi sang Papi, Raja juga menjerat pria tua bangka itu dengan pasal penggelapan dan juga penyuapan, hebatnya semua bukti kejahatan pria itu sudah bisa dia dapatkan dari orang kepercayaan papinya yang memang telah melakukan penyelidikan sejak ia mengalami kejadian malam itu.


Raja benar-benar merasa beruntung mempunyai Papi seperti seorang Rendy Pramudza, Papinya itu tetap membantunya meski tanpa sepengetahuan dirinya, benar-benar, the best pather in the world!


"Pastikan mereka mendekam lama dipenjara! jangan sampai ada satupun dari mereka yang bisa bebas bersyarat!" Ujarnya pada pengacara yang ditunjuk untuk menangani kasus tersebut.


"Saya pastikan tidak akan ada keringanan hukuman untuk mereka, Tuan! Kita akan jerat mereka dengan pasal berlapis." Ujar sang pengacara.


"Bagus! Kuharap mereka membusuk dibalik jeruji besi!" Geramnya, entah kenapa ia begitu marah saat melihat kejadian kemarin, terlebih melihat gadis itu sampai menggigil ketakutan.


Siang tadi ia juga menyelesaikan hutang piutang keluarga Maya, Ia membayar lebih dari yang harus dibayarkan, Anggap saja kompensasi untuk ketiga istri tua bangka itu karena ia sudah memenjarakan suami mereka.


Ibu dan adik Maya juga sudah kembali kerumah, sebenarnya kemarin mereka pergi kedesa sebelah untuk mengungsi karena ketakutan diteror terus oleh si penghutang. Adik dari Ayah Maya juga ikut membujuk sang Ibu untuk menelpon Maya dan menyuruhnya pulang, tapi tak di lakukan karena mereka tau ada rencana jahat dibalik bujukan adik iparnya itu. Dan ternyata kecurigaannya terbukti.


Raja menatap lega, Wajah Maya yang kini tengah terlelap ditempat tidurnya, Ibu Maya yang menyadari kehadirannya segera berdiri dan menghampirinya.


"Saya sangat berterima kasih, karena Tuan sudah menyelamatkan putri saya dan juga membantu kami." Ujar Ibu Maya.


"Saya tidak tahu bagaimana nasib Maya jika anda tak datang menyelamatkannya! Mungkin, pria itu akan merenggut kesuciannya! Terima kasih, Tuan." Sambungnya dengan wajah yang kini menunduk.


Entah kenapa ucapan Ibu Maya justru serasa menamparnya, apa jadinya jika wanita paruh baya itu tahu kalau dirinya sudah merenggut kesucian putrinya? Apakah ia akan memaafkannya?


"Bagaimana keadaannya sekarang, Nyonya?" Tanyanya sembari tak melepas pandangan dari wajah gadis yang tengah terlelap itu.


"Dia sudah lebih tenang sekarang, mungkin esok ia sudah bisa pulih. Dan tolong jangan memanggil Nyonya, panggil Ibu saja." Ucap wanita paruh baya itu.


"Baiklah, Bu." Ucapnya. "Kalau begitu jangan panggil saya Tuan, panggil saja saya Raja."

__ADS_1


"Baik, Nak Raja. Sekali lagi terima kasih atas semua bantuannya, semoga Tuhan membalas semua kebaikanmu." Ucap Ibu Maya tulus.


"Kalau begitu saya permisi dulu, Bu." Ucap Raja.


"Kau mau kemana, Nak? Tinggalah untuk makan malam bersama."


"Ahhh, tak perlu repot-repot, Bu." Tolaknya halus.


"Tak repot, izinkan ibu melakukannya sebagai ucapan terima kasih." Ucap Ibu Maya, penuh harap.


"Baiklah, Bu."


🌺🌺🌺🌺🌺


Maya mengerjap, entah berapa lama ia tertidur tadi. Ia memandang jendela kamarnya sepertinya hari sudah beranjak petang. Aahhh... ia ingat sekarang, tadi saat ibu dan adiknya datang, entah kenapa ia jadi begitu emosional, ia menumpahkan semua perasaannya pada sang ibu lewat tangisnya hingga ia lelah dan ketiduran.


Rasa nyeri ditangannya membuatnya kembali meringis, bayangan buruk itu kembali berkelebat di kepalanya. Airmatanya kembali meleleh mengingat semua kejadian buruk yang dialaminya. Bahkan, jika saja pria itu tidak datang, tubuhnya sudah pasti akan ternoda untuk kedua kalinya.


"Kau sudah bangun, Nak?" Ucapan sang ibu membawa kembali kesadarannya.


Ia menoleh melihat wajah ibunya yang tersenyum sumringah. "Ibu..." Panggilnya pelan.


"Sebaiknya kau bergegas mandi, kita makan sama-sama!" Ucap Ibunya yang segera ia angguki.


Setelah membersihkan diri, ia bergegas menuju ruang makan untuk menghampiri ibunya.


Deg... matanya membulat ketika melihat tak hanya Ibu dan sang adik yang berada disana, tapi juga dua orang pria yang tak asing baginya. Dan salah satunya si perenggut kesuciannya.


"Mengapa berdiri di sana, Nak? Kemarilah kita makan malam bersama Nak Raja." Ajak sang Ibu.

__ADS_1


Ia menurut, mendekat menghampiri mereka.


"Ayo, Nak. Jangan sungkan-sungkan!" Ujar Ibunya lagi.


Ia hanya diam, tak perduli, menyimak percakapan sang Ibu dengan kedua pria itu, sembari berpura-pura menikmati makanan yang mendadak terasa hambar.


"Nak Raja, kenal dengan Maya dimana?"


Ia berhenti mengunyah makanan sesaat, ikut menunggu jawaban.


"Emhhh, ditempat Maya bekerja, Bu!" Jawab pria itu.


Maya menghembus napas lega, untunglah pria itu tidak bilang didiskotik atau bar, bisa kena serangan jantung Ibunya, kalau tau ia pernah kerja di Bar.


"Ooohhh, di butik!" Ujar sang Ibu memastikan, yang diangguki oleh pria itu.


Entah kenapa Maya merasa kecewa, sepertinya pria itu benar-benar tak mengingatnya. Tapi jika lelaki itu tak mengingatnya, untuk apa lelaki itu mengikutinya sampai kemari?


"Ibu sangat bersyukur, Maya dikelilingi orang-orang baik seperti Nak Raja!" Ucap Ibunya.


Maya tertegun, "Andai Ibu tau, lelaki didepanmu sudah merenggut kehormatan anakmu, apakah ibu masih akan bersyukur?" Keluh Maya dalam hatinya.


"Entah dengan apa, Ibu akan membalas semua kebaikan Nak Raja!" Ujar Ibunya lagi.


Ia masih setia menunduk, menahan diri untuk tak berkomentar apapun.


"Jika diperkenankan, saya ingin meminta sesuatu dari Ibu!" Ujar suara berat milik lelaki itu, membuatnya mendongakkan kepala menanti lanjutan ucapannya.


"Tentu, Nak. Katakanlah, Ibu akan berikan apapun selama Ibu bisa!" Jawab Ibunya dengan antusias.

__ADS_1


"Saya ingin meminta Restu anda, untuk meminang Maya menjadi pendamping hidup saya!"


__ADS_2