
Beberapa pesan WA yang kukirim ke Diana segera kuhapus begitu mendengar ketukan dan suara Ibu Mertuaku di depan pintu kamar.
Kubuka pintu kamar dan kudapati Mak yang sedang menggendong Kiara. Handuk milik Kiara terlihat dipegang Mak.
"Iya Mak. Tapi biar Riana aja yang mandiin Kiara. Mak istirahat aja," jawabku sambil mengambil Kiara putriku dari gendongan Mak.
"Ya udah kalau begitu. Eumm...Ada apa Riana...Kamu nggak apa-apa kan!?" tanya Mak sambil meneliti wajahku.
"Nggak apa-apa Mak. Riana nggak apa-apa," jawabku buru-buru sambil memberikan sebuah senyuman kecil untuk Mak dan buru-buru memalingkan wajahku.
Aku enggan menunjukkan perasaanku kepada Mak, karena aku memang tidak terlalu akrab dengan Mak Mertuaku.
"Syukurlah kalau begitu. Oh iya, tadi suamimu minta ponselnya diantar ke depan. Emang ponsel Guntur ketinggalan di kamar kalian?" tanya Mak sambil melongok ke dalam kamar.
"I..Iya Mak. Tadi Aa' udah nelpon ke Riana dan minta Windi dan Anggi nganterin ponselnya ke pos depan," jawabku yang kemudian segera berbalik dan mengambil ponsel Aa' yang kuletakkan diatas meja rias.
"Ini Mak, ponsel Aa'..sini biar Kiara Riana yang mandiin..ayooo sayaang...kita mandi yuuukk," ucapku sambil memberikan ponsel milik Aa' kepada Mak dan membawa Kiara ke kamar mandi.
"Windiiiii....Anggiiii...tolong anterin ponsel Abang lu ke pos depan. Abang lu nungguin!" teriak Mak sambil meninggalkan kamarku.
Secepatnya Windi dan Anggi mengambil ponsel Aa' dari tangan Mak dan pergi berdua ke pos depan.
Selesai memandikan, memakaikan baju dan mendandani Kiara, Riana kemudian menyerahkan kembali Kiara ke gendongan Mak.
"Siniiii sayaang..duuh, cucu uwa' udah cantiiik...wangiii lagi," puji Mak sambil mencium Kiara.
Aku tersenyum sejenak. Sebenarnya dibandingkan Rini dan Diana, aku masih termasuk yang paling beruntung. Aku hidup dengan Suamiku di Batalion, Pernikahanku tercatat syah secara Negara, Militer maupun secara Agama. Aku punya seorang putri yang cantik..Apa yang harus aku khawatirkan ? pikirku tiba-tiba. Aku seperti menemukan senjata untuk mempertahankan biduk rumah tanggaku. Senyumku tiba-tiba mengembang.
"Mak, Windi dan Anggi sudah nganterin ponsel Aa'?" tanyaku memastikan ponsel Aa' sudah diantar mereka.
__ADS_1
"Iya...sudah," jawab Mak. "Kamu sholat Magrib duluan Ri'. Mak main sama Kiara. Ntar gantian kita sholatnya,".
"Iya Mak...Riana sholat dulu,"
Akupun melaksanakan kewajibanku sebagai hamba Allah, sholat Magrib. Kemudian gantian aku ngurusin Kiara dan Mak sholat Magrib.
POV Mak
"Riii...Kiara mau dimandiin nggak?" tanyaku saat kulihat pintu kamar Menantuku masih tertutup rapat. Terus terang melihat wajah Riana saat kembali dari warung bakso depan tadi, aku merasa ada yang berubah dari Riana.
Memang, dibandingkan Rini dan Diana, aku kurang sreg dengan Menantuku yang satu ini. Namun perempuan ini adalah pilihan anakku dan yang telah memberi aku dan suamiku seorang cucu perempuan yang cantik dan cerdas.
Mau tidak mau aku harus belajar berdamai dengannya. Itu kata suamiku..Bapaknya Guntur....berdamai. Beberapa kali sikap Riana yang tidak mengenakan saat berkunjung ke kampung kami sempat membuat aku dan anak-anakku tersinggung.
Namun suamiku selalu mengingatkan kami untuk mengerti posisi dan kondisi Riana saat bersama kami. Aah..andai saja Riana seperti Rini atau Diana, pasti aku akan sangat bahagia.
Rini, gadis cantik yang kujodohkan dengan Guntur saat anakku masih seorang prajurit muda. Ikatan Dinas membuat Guntur tak dapat menikahi Rini secara Negara maupun Militer. Akhirnya aku dan suamiku menikahkan mereka secara siri sambil menunggu ikatan dinas Guntur selesai dan mereka bisa menikah secara resmi.
Namun sayang, disaat yang sama anakku justru jatuh cinta kepada Riana, kemudian menikahinya walau ditentang habis olehku dan suamiku. Pada akhirnya Rini memilih untuk mengalah karena tak ingin dimadu dan menerima saat dirinya ditalak Guntur.
Dan sekarang, saat Guntur dan pasukannya menyelesaikan tugas pengamanan di kota T, kembali anakku mengenalkan kepadaku seorang gadis muda berwajah eksotik yang khas dengan perilaku yang langsung menyentuh hatiku saat pertama kali bertemu dengannya. Ya..Diana, nama gadis itu yang memiliki kemiripan sifat dengan Rini, mantan Menantuku.
"Haaaahh...Diana gadis yang sangat berbeda Mak. Saat berada disisinya, Guntur bisa lupa waktu. Berbeda dengan Riana, Diana adalah gadis yang penurut dan lebih memilih diam dan ngalah saat kami bertengkar," ucap Guntur saat kutanyakan kepadanya mengapa sikap Guntur berbeda terhadap Riana dan Diana.
"Apa itu juga alasan lu ingin menikahinya?" tanyaku lagi.
"Iya Mak..tapi bukan itu saja alasan Gun ingin menikahi Diana. Banyaaak sekali alasan Gun untuk menikahinya Mak..banyak sekali," jawab Guntur sambil membayangkan wajah Diana.
Sebagai orangtua, aku selalu menginginkan yang terbaik untuk putra kesayanganku. Siapapun yang dipilihnya untuk menjadi pendamping hidupnya.
__ADS_1
Saat melihat lebam diwajah Riana siang tadi, aku sangat terkejut, karena aku yakin putraku tidak akan setega itu kepada seorang perempuan, apalagi orang itu adalah istrinya, ibu dari anaknya.
Pasti ada sesuatu yang membuat putraku setega itu, tebakku penasaran.
Pertengkaran Guntur dan Riana tadi pagi tidak sempat kusaksikan karena Guntur memintaku menemani Kiara, Riana dan Windi jalan-jalan di taman asrama. Itulah sebabnya aku tidak tau alasan Guntur berbuat kasar kepada Riana.
Namun melihat lebam diwajah Riana, aku yakin apa yang mereka pertengkarkan pastilah masalah yang sangat sensitif.
Setelah menunaikan sholat Magrib, aku bermaksud menuju dapur dan hendak mempersiapkan makam malam kami. Beberapa jenis sayuran yang kubawa kemarin dan kusimpan di dalam lemari pendingin masih banyak dan belum diolah Riana.
"Riii..Mak masak bening bayem ya untuk makan malam kita," usulku saat aku selesai melaksanakan sholat Magrib bergantian dengan Menantuku.
"Biar Riana aja Mak. Mak temenin Kiara aja..," Riana menolak dan hendak menuju dapur. Namun kucegah langkah Riana dan menyuruhnya untuk menyerahkan urusan dapur kepadaku.
"Udah, Mak aja...,"
Tanpa menunggu jawaban Riana, aku langsung menuju dapur. Beberapa ikat bayam dan jagung manis yang kubawa dari kampung segera kuambil dari lemari pendingin. Tak lupa sekilo ikan bandeng yang tersimpan di freezer juga aku olah untuk makan malam kami.
Kurang dari beberapa menit, beberapa menu makan malam telah selesai aku buat. Bening bayam, bandeng dikecapin dan sambal bajak telah selesai kubuat. Setelah urusan dapur beres akupun kembali ke ruang tengah dan bergabung bersama Windi, Anggi dan Kiara.
"Mak nggak bawa pete dan jengkol ya?" tanya Riana ketika melihat aku keluar dari dapur.
"Lha..kan kamu nggak suka pete dan jengkol Ri' makanya nggak Mak bawa,"
"Ouuuh...gitu ya. Kok Mak tau Riana nggak suka pete dan jengkol?" tanya Riana pelan seperti berbisik, namun terdengar jelas ditelingaku. Aku tersenyum.
Bagaimana aku nggak tau..kedua benda itu adalah penyebab perubahan sikapmu dan kemarahan suamimu kemarin...
\=\=\=\=\=\=
__ADS_1