TENTARAKU SUAMIKU

TENTARAKU SUAMIKU
Epiaode 82. Keputusan yang Berakibat Fatal


__ADS_3

"Aku kan sudah bilang berulang kali. Jangan namu pagi-pagi ke rumah tetangga..!!" Guntur menegur perilaku istrinya saat tiba di rumah mereka. Nada suaranya ditekan, khawatir terdengar oleh tetangga sebelah.


"A', aku hanya bentaran dirumah sebelah sebelum Aa' datangi. Tadinya aku nggak ada niat namu pagi-pagi, tapi aku disamperin bu Deni. ya nggak enaklah kalo aku nolak!" Riana menjawab protes suaminya.


"Kamu sudah tau aku nggak suka, tapi masih kamu lakukan. Semakin sering aku larang semakin sering pula kamu langgar laranganku Ri'.....!!" nada suara Guntur mulai meninggi. Dia tidak suka dibantah ketika bicara.


"Tapi A'...".


"RIANAAAA...!!" teriak Guntur tertahan dengan wajah merah karena marah.


Riana sontak terdiam. Wajahnya menegang. Ingin rasanya membalas ucapan suaminya, namun keinginan itu ditahan dengan sekuat tenaga oleh Riana.


Aku tau bagaimana akhirnya nanti jika aku membantah. Mending kali ini aku diam aja, biar rencana mudik ga dibatalin Aa' hanya karena pertengkaran kami batin Riana sambil menghela nafas panjang.


"Ya udah A'.., aku minta maaf. Lain kali aku akan ijin ke Aa' kalau pengen namu dirumah tetangga," ucap Riana datar.


Kata-kata Riana membuat Guntur menggelengkan kepalanya. Guntur tau, walaupun istrinya meminta maaf namun isi ucapannya selalu begitu, seolah terpaksa dan setengah hati.


Guntur tidak menggubris permintaan maaf Riana dan memilih masuk ke kamar mengganti seragamnya. Sebelum berlalu, Guntur kembali mengingatkan Riana tentang rencana perjalanan mereka hari ini.


"Satu jam lagi kita pergi ke rumah Bapak. Kamu siapin Kiara. Aku ke bengkel dulu ganti oli dan isi angin bentaran,"


Karena masih kesal, Riana tidak menjawab ucapan suaminya dan ngeloyor pergi begitu saja menjemput Kiara yang sedang main bersama Vita, putri semata wayang Deni yang seumuran dengan Kiara.


Guntur menggeleng-gelengkan kepalanya melihat perilaku Riana. Tanpa menunggu lama, Guntur kemudian memacu motornya menuju bengkel di depan asrama untuk mempersiapkan kuda besinya biar kuat saat menempuh perjalanan jauh nanti.


Tak butuh waktu lama, semua kekurangan pada motor Guntur diselesaikan dengan cepat oleh empunya bengkel.


"Makasih Bang. Berapa semua nich ?" tanya Guntur.


"Terserah Mas aja mau ngasi berapa," bang Jalil, si bos bengkel tertawa sambil membereskan peralatan bengkelnya.


"Waah..nggak enaklah bang. Ntar aku ngasinya kurang," jawab Guntur sambil mengeluarkan beberapa lembar uang lima puluh ribuan. "Cukup ga Bang?" tanya Guntur lagi dengan perasaan tidak enak hati.

__ADS_1


"Cukup..cukup Mas. Makasih ya..semoga perjalanannya menyenangkan dan selamat sampai tujuan," ucap bang Jalil tulus.


"Aamiin..makasih bang do'anya. Aku jalan dulu," Guntur menghidupkan mesin motornya dan tersenyum puas. Kedua laki-laki itu saling melambaikan tangan.


Sesampainya di rumah, terlihat Riana dan Kiara sudah rapi dan menunggu Guntur di depan rumah mereka.


"Sudah siap semua...Kiaraaa, kita ke rumah Kakek dan Nenek ya sayang," Guntur mencium pipi Kiara yang lembut dan wangi.


Tanpa bersuara Riana masuk ke rumah dan mengambil tas dan ransel yang sudah disiapkannya sejak kemarin.


Guntur yang menyadari sikap Riana yang terlihat masih kesal karena ditegur tadi menarik tangan istrinya dan berbisik dengan lembut.


"Maafkan aku kalau kata-kataku tadi terdengar kasar. Ayo Ri'...senyum dong, jangan cemberut aja biar perjalanan kita diberi keselamatan oleh Allah sampai ke tujuan hingga kembali nanti," Guntur mencoba merayu istrinya yang terlihat masih cemberut.


Mendengar ucapan suaminya, Rianapun akhirnya luluh juga. Seulas senyuman tersungging di sudut bibirnya.


Tak berapa lama, Guntur, Riana dan Kiara akhirnya berangkat menuju kampung halaman Guntur dengan mengendarai motor gede kesayangan Guntur.


Sementara itu di kampung, Bapak yang baru saja akan pergi ke kebun mendengar bunyi ponsel Mak.


"Ah...Bapak aja yang lihat. Mak nggak ngerti," ucap Mak yang tidak terbiasa menerima pesan WA. Biasanya Mak hanya mau menerima telepon masuk di ponselnya.


"Haduuh..Maak..Mak," Bapak tersenyum dan menggeleng-gelengkan kepalanya.


Bapak membuka ponsel Mak dan membaca pesan WA yang baru saja masuk. Pesan dari Diana.


"Assalaamualaikum Mak, Bapak...Minggu ini Diana nggak bisa berkunjung ke rumah Mak dan Bapak. Mas Guntur piket hari ini dan Diana lagi sibuk di kampus. Maaf ya Mak. In syaa Allah Minggu berikut Diana pasti mengunjungi Bapak dan Mak," bunyi pesan WA Diana.


Bapak tersenyum. Ternyata WA dari Diana ucap Bapak dalam hati.


"Iya..nggak apa-apa. Bapak dan Mak ngerti kesibukan Diana dan Guntur. Mak menunggu kunjungan Diana Minggu depan ya neng," jawab Bapak


"Iya Pak..terima kasih," Balas Diana kemudian.

__ADS_1


"Mak..itu pesan dari Diana. Katanya nggak bisa datang kali ini," Bapak memberitahu istrinya disambut anggukan Mak.


"Terus, kapan Diana mengunjungi kita lagi Pak?" tanya Mak sambil berdiri dan berjalan beriringan dengan Bapak menuju pintu depan.


"Katanya Minggu depan Mak..ya udah, Bapak ke kebun dulu ya," Bapak berpamitan.


Mak mencium punggung tangan Bapak kemudian menyerahkan peralatan berkebun kepada Bapak.


"Mak, berhubung Diana dan Guntur nggak datang hari ini, Mak masakin Bapak semur jengkol ya buat makan siang ntar," pinta Bapak sebelum berlalu.


"Iya Pak..ntar Mak masakin," jawab Mak kemudian menutup pintu setelah punggung Bapak tak terlihat lagi oleh Mak.


Sepeninggal Bapak, Mak bergegas ke kamar mengambil dompet dan kemudian pergi ke warung sayuran Mpo Sri yang jaraknya tidak jauh dari rumah Mak.


Hari ini Mak berencana memasak menu makan siang pesanan suaminya, semur jengkol, sayur asem, sambal teri dan ikan bandeng dikecapin.


Biasanya jika Diana dan Guntur akan datang berkunjung setiap weekend, Bapak dan Mak selalu menghindari menu kesukaan Bapak, semur jengkol, jengkol balado, lalap jengkol dan semua menu yang berbau jengkol dan pete.


Semua itu dilakukan Bapak dan Mak agar Diana merasa nyaman dan tidak terganggu dengan aroma menyengat dari jengkol dan pete yang mereka makan.


Namun berhubung kali ini Diana tidak berkunjung, makanya Bapak dan Mak bisa bebas menikmati makanan kesukaanya itu tanpa rasa khawatir.


Mereka sama sekali tidak mengetahui jika hari itu Guntur, Riana dan Kiara akan berkunjung ke rumah mereka.


Guntur yang sengaja tidak memberitahu Bapak dan Maknya tentang kedatangan mereka tidak menyadari jika Riana yang tidak menyukai aroma jengkol dan pete akan terganggu nanti akibat keputusannya itu.


Keputusan Guntur untuk memberi kejutan kepada kedua orangtuanya tanpa disadarinya akan membuat hubungan menantu dan mertua itu akan semakin renggang.


Tak butuh waktu lama, Mak telah menyelesaikan pekerjaannya memasak untuk Bapak sebelum waktu makan siang tiba.


"Alhamdulillah, semua sudah siap," ucap Mak dengan wajah sumringah. Sebelum sholat Duhur tiba, Bapak akan pulang dan makan di rumah bareng Mak dan Anggi.


Ditempat lain, perjalanan Guntur, Riana dan Kiara yang hanya membutuhkan waktu kurang dari 2 jam untuk tiba di kampung telah memasuki kota Bks, kota yang letaknya tak jauh dari kampung Guntur.

__ADS_1


Sebelum menuju kampung halamannya, Guntur memutuskan untuk singgah di mini market, membeli oleh-oleh untuk kedua orangtua dan keluarganya.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=


__ADS_2