TENTARAKU SUAMIKU

TENTARAKU SUAMIKU
Episode 87. Sikap Protektif Berlebihan Riana kepada Kiara.


__ADS_3

Begitu mendengar suara Guntur, Hana sontak berhenti bicara. Sementara Yudi yang sedang menggendong putra bungsunya memelototi istrinya.


"Sono..ada yang belanja. Lu layanin. Nyerocos aja dari tadi. Ga mandang si Gun lu Ana..!!" Yudi ngomelin Hana istrinya yang langsung ngeloyor pergi ke warung.


"Sory Gun..Riana. Mpo Ipar lu itu emang gitu. Ceplas-ceplos..kalo udah ngomong kayak kereta api...Tapi aslinya Mpo lu itu baik. Cuman mulutnya aja yang ga bisa direm kalau lagi ngomong," Yudi memberi penjelasan dan meminta maaf atas sikap istrinya barusan.


"Ga papa Bang..Gun paham. Maaf, tadi Gun suaranya juga agak keras. Soalnya kalo nggak gitu mpo Hana ga mau berhenti ngomong. Takutnya Riana jadi kepengaruh dan mikir yang macem-macem," Guntur juga meminta maaf kepada Yudi abangnya.


Benar kata Guntur, kejadian barusan sangat mempengaruhi Riana. Rasa khawatir meliputi hati Riana, takut apa yang diomongin Hana bisa saja terjadi.


"Ya Udah ..ayoo, duduk dulu. Gun..Riana..," Kata Yudi mempersilahkan Guntur dan Riana untuk duduk.


"Iya Bang..makasih. Ngomong-ngomong Mpo Lusi ada ga ya?" tanya Guntur sambil melihat kearah rumah sebelah. Rumah kediaman Lusi kakaknya.


"Ada..ntar lu singgah dech ke Mpo lu," Yudi memberi saran kepada adiknya.


"Iya Bang..," jawab Guntur mengiyakan.


Guntur dan Riana kemudian duduk. Sementara Kiara diajak main oleh salah satu putri Lusi yang langsung mampir begitu melihat mamangnya di rumah Yudi.


"Windi, temenin Kiara main. Didepan aja, jangan jauh-jauh," kata Yudi kepada Windi.


"Iya Abah, Windi ajak ke rumah ya nemuin Mak?" kata Windi meminta ijin Guntue.


"Iya...sana main," jawab Guntur sambil memberi beberapa lembar uang sepuluh ribuan kepada Windi. "Buat jajan,"


Tak lama kemudian Hana keluar dengan membawa 2 gelas kopi dan 2 gelas teh manis hangat.


"Silahkan Gun kopinya..Riana,.... tehnya diminun," Hana meletakkan teh dan kopi yang dibawanya ke atas meja sembari mempersilahkan Guntur dan Riana untuk minum.


Riana hanya mengangguk dan melihat kearah gelas teh manis yang disajikan Hana tanpa menyentuhnya sama sekali.


"Mpo..Riana ga minum teh. Biar air putih aja. Itu udah dibawa Riana," Guntur memberitahu kakak iparnya. Khawatir Riana akan membuat Hana tersinggung karena sikap Riana yang kemana-mana selalu membawa air mineral dan ditaruh di meja pertanda Riana menolak disuguhi air minum atau teh.

__ADS_1


"Ooh..ya udah. Biar nanti tehnya diminum si Windi aja," Hana mengiyakan.


Alhamdulillah. Mpo Hana nggak tersinggung batin Guntur lega.


"Aku minum ya Mpo..Bang,"


"Iya..silahkan,"


Guntur menuangkan kopinya yang masih panas ke tatakan piring kecil yang menjadi alas gelas. Kemudian ditiupinya biar cepat dingin dan sekali sruput, sepiring tatakan kopi habis diminum Guntur.


Hal serupa juga dilakuin Yudi.


"Hmm..nikmatnya kopi buatan Mpo Hana..aku jarang ngopi kayak gini di asrama," Guntur memuji kopi buatan Hana.


"Emang Bini lu nggak pernah nyeduhin kopi buat elu Gun?" tanya Hana sambil melirik kearah Hana. Yang dipandangin pura-pura nggak dengar.


"Dibikinin sich Mpo. Tapi kan beda Mpo kopinya sama kopi disini. Jadi rasa dan aromanya juga pasti beda, buatan tangan sendiri dan khas banget aromanya,"


Riana..kenapa dari tadi diam aja. Apa ada sesuatu yang kamu pikirin?" tanya Yudi melihat Riana yang hanya diam saja.


"Kamu masih mikirin ucapan Mpo Hana tadi?" tanya Yudi lagi.


"Eumm..nggak..eh..iya bang. Dikit..," jawab Riana sekenanya.


"Omongan Mpo lu jangan dimasukin ke hati Ri'. Dia asal ngomong aja,"


"Eh..iya Bang, nggak apa-apa. Bagus juga Mpo Hana ngingetin Riana. Jadi Riana bisa lebih waspada, jangan sampai apa yang diramalkan Mpo Hana kejadian," ujar Riana sambil melirik ke arah suaminya.


Guntur hanya nyengir menerima tatapan Riana.


"Kan Bang..aku bilang apa..?, Riana pasti baper gegara ucapan Mpo Hana tadi,"


Yudi dan Guntur tertawa. Namun dalam hati Guntur mulai merasa was-was dengan sikap Riana barusan. Dia tau betul siapa Riana. Sekali penasaran, Riana akan mengejar terus informasi tentang Diana. Dan Riana nggak akan berhenti sampai dia mendapatkan jawabannya.

__ADS_1


"Kiara mana ya..kok lama banget ya A'?" tanya Riana sambil melongok ke rumah Lusi.


"Lu berdua samperin aja si Kiara di rumah Lusi. Sekalian namu. Mpo lu udah nunggu lu bertiga dari tadi," jawab Yudi tanpa diminta.


"Ya udah Bang, kami pamit dulu," Guntur berdiri diikuti Riana. Setelah menyalami Yudi dan Hana, Guntur dan Riana kemudian pergi menuju rumah Lusi.


Di rumah Lusi, terlihat Windi, Ria dan Anggi sedang menemani Kiara main. Sementara Lusi dan suaminya duduk di teras sambil melihat siapa tau ada yang belanja di warung.


"Assalaamualaikum, Mpo..Bang," sapa Guntur begitu memasuki teras rumah Lusi.


"Wa'alaikumsalaam. Eeh, kalian..ayo masuk," ucap Lusi.


Suami Lusi yang sedang melayani pembeli yang berbelanja di warung melambaikan tangannya ke arah Guntur dan Riana.


"Duduk Gun..Riana. Mpo bikinin minuman dulu ya," Lusi hendak berdiri namun dicegah Guntur.,


"Eeh..ga usah Mpo. Tadi udah sama Bang Yudi. Ntar malah ga keminun Mpo," ucap Guntur. "Duduk aja Mpo, nggak usah repot-repot,"


"Ya udah kalau begitu. Oh iya. tadi saat Kiara lihat anak-anak jajan, Kiara juga pengen makan jajanan jualan Mpo. Jadi Mpo bagi so...," belum selesai ucapan Lusi, tiba-tiba disela Riana dengan wajah keberatan.


"Mpo kasi makan apa Kiara!?" tanya Riana tiba-tiba. "Kiara nggak boleh dikasi makan sembarangan Mpo, apalagi produk yang nggak jelas halal haramnya. Higienis atau enggaknya!!" ucap Riana mengabaikan raut keterkejutan di wajah Lusi.


Bukan cuma.Lusi yang kaget dengan nada suara dan ucapan Riana, Guntur juga melongo begitu mendengar ucapan Riana.


"Ri...apa-apaan kamu ini. Ngomong asal aja!!," bisik Guntur ditelinga Riana.


"Lha, aku benar kan A'. Emang Kiana nggak pernah aku kasi makan sembarangan. Apalagi makanan yang nggak jelas asal usulnya," Riana ngotot membela diri dan membenarkan ucapannya.


"Tapi bukan begitu caranya. Hormati niat baik Kakak aku. Lagian Kiara kelihatan baik-baik saja tuch. Kamu jangan berlebihan kayak gitu. Bikin aku merasa nggak enak aja sama Mpo Lusi dan Suaminya," Guntur yang menyadari volume suaranya yang mulai meninggi berusaha menekan nada suaranya agar tidak kedengaran Mpo Lusi dan suaminya.


"Udah..nggak papa Gun. Lagian Mpo juga salah, nggak nanyak-nanyak dulu ke Riana sebelum ngasi sesuatu ke Kiara,"


"Aduuh..beneran Mpo, tolong maafkan Istriku," ucap Guntur merasa semakin nggak enak hati. .

__ADS_1


\=\=\=\=\=\=\=\=\=


__ADS_2