
Diana membolak balikkan tubuhnya dengan gelisah. Perempuan itu merasa seperti terkurung didalam sangkar emas yang dibuat oleh suaminya sendiri.
Untuk membuang jenuh, Diana mencoba menikmati salah satu sinetron yang ditayangkan oleh R**I TV.
Malam ini adalah malam keduanya tanpa sang suami yang tidak bisa menemaninya karena harus menemani Riana, istri pertamanya.
Aku tidak bisa terus-terusan seperti ini. Hidupku sangat tidak nyaman. Harusnya pernikahan ini membuatku bahagia bukan semakin terpuruk dan tertekan seperti ini, batin Diana mulai menyadari kebodohannya menikahi lelaki yang telah beristri.
Tuuut...tuuut..tuuut..
Tiba-tiba ponsel Diana berbunyi. Telepon masuk dari Guntur. Diana hanya menoleh sekilas kemudian kembali menyimak sebuah acara sinetron yang ditontonnya sejak tadi.
Tuuut...tuutt....tuuuut.
Kembali ponsel Diana berdering. Bukan hanya sekali, bahkan berkali-kali membuat Diana mendengus kesal.
"Huh..paling juga dia cuman meminta ijin tidak dapat menemuiku lagi malam ini. Sebeel," gerutu Diana jengkel.
Tiba-tiba sebuah pesan masuk ke aplikasi WA Diana.
An..angkat teleponku. Aku sudah pusing dengan ulah Riana. Jangan kamu tambah lagi dengan tidak mengangkat telepon dariku , tulis Guntur.
Diana memandangi pesan WA Guntur dan membacanya berkali-kali. Sebenarnya disudut hatinya yang paling dalam, Diana tak tega mengacuhkan suaminya itu.
Namun mood perempuan itu sedang berada di titik jenuh sehingga membuat Diana yang tak pernah sekalipun mengabaikan Guntur akhirnya melakukan hal yang tidak pernah dilakukan sebelumnya.
An..tolong angkat teleponku. Kamu masih di penginapan kan? tanya Guntur lagi.
Haaaah.....
Diana menghela napas panjang. Dengan malas akhirnya perempuan itu memutuskan untuk menjawab pesan WA suaminya.
"Masih...," jawab Diana singkat.
"Ooh, syukurlah kalau begitu. Mas sudah khawatir aja kalau kamu sudah balik ke Bd,"
"Nggak. Aku di kamar aja. Nggak kemana-mana," jawab Diana datar.
Bahkan kebiasaanya menyebut Guntur dengan panggilan Mas juga tak dilakukan Diana
"Kamu marah sayang?" tanya Guntur, kali ini disertai caption khawatir.
"Nggak..," jawab Diana singkat.
"Kok jawabnya gitu?"
"Emang aku harus jawab apa?"
"Nggak biasanya kamu seperti ini An,"
"Ya...dan seharusnya sejak dulu aku seperti ini, tidak memperdulikan perasaanmu Mas,"
__ADS_1
"Kamu nyesal ??" tanya Guntur membuat Diana tiba-tiba merasa sangat gugup.
"Nyesal kenapa?" tanya Diana pura-pula tak mengerti.
"Nyesal karena telah mengenal dan menikah denganku,"
Kali ini Diana terperangkap dalam situasi yang tidak diduganya sama sekali.
"Aku nggak tau Mas..," jawab Diana
"Jawab Mas dengan jujur An..kamu nyesal?" tanya Guntur lagi...
"Yaaa..Aku nyesal. Aku nyesal telah mengenal Mas...Aku nyesal berani mencintai Mas dan Aku nyesal telah nekat menikah dengan Mas...PUAASSS ?" teriak Diana dengan nada tinggi.
Kini Diana tak dapat lagi membendung kata hatinya, bahkan air mata Diana deras mengalir membasahi pipi perempuan itu.
"An...!!??" tercekat suara Guntur di Voice Note yang dikirimnya ke Diana.
Diana tak memperdulikan VN suaminya. Dibantingnya ponsel yang masih terus berbunyi diatas kasur , kemudian membanting tubuhnya disana. Air mata Diana membasahi bantal yang dipakai Diana untuk menutupi wajahnya.
"Aku harus pergi dari sini..sekarang juga. Aku nggak bisa terus-terusan seperti ini. Bisa hancur hidup dan karierku gara-gara pernikahan ini," tekad Diana, berguman pada dirinya sendiri.
Segera perempuan itu membenahi seluruh barang-barang miliknya dan meletakkannya ke dalam hand bag berukuran sedang yang dibawanya saat ke rumah kedua orangtua suaminya kemarin.
Agar hatinya tidak goyah oleh rayuan suaminya, Diana kemudian mematikan ponselnya. Namun sebelum itu Diana menyempatkan waktunya untuk mengirim sebuah pesan singkat kepada Guntur kalau dirinya telah check out dari penginapan tempatnya nginap.
Setelah dirasa semua persiapannya telah sempurna, Diana kemudian menuju lobi penginapan, selanjutnya menyerahkan kunci kamarnya kepada petugas resepsionis.
Diana memesan Grab Car melalui aplikasi Grab untuk angkutannya menuju stasiun KA yang akan membawanya ke kota Jogjakarta.
Selang beberapa menit kemudian Diana telah duduk manis diatas KA bisnis jurusan Jogjakarta yang nyaman dan dingin.
Perempuan itu tidak ingin diganggu oleh siapapun termasuk oleh Guntur suaminya. Untuk itu Diana sengaja mematikan ponselnya dan meletakkannnya di dalam tas ransel kecil di pundaknya.
#
#
Sementara itu, Guntur yang kelabakan saat menerima pesan WA Diana barusan terlihat gelisah. Sementara Riana yang saat itu sedang sakit karena tekanan darahnya yang tiba-tiba naik hanya memandangi tingkah suaminya tanpa bicara.
"Ri, Aa' keluar sebentar ya. Nggak lama," ucap Guntur meminta izin istrinya untuk keluar.
"Kemana A'?" tanya Riana
"Ke toko depan. Ada yang mau Aa' beli," jawab Guntur sambil menyambar kunci motor yang diletakkannya diatas buffet.
"Iya A'. Jangan lupa beliin apel buat aku," pinta Riana.
Guntur mengangguk dan segera berlalu.
Selepas kepergian Guntur, Riana segera menelepon seseorang yang dikenalnya untuk memberitahukan kalau suaminya telah keluar mengendarai motornya.
__ADS_1
Riana menitipkan Kiara putrinya di rumah tante Deni yang rumahnya bersebelahan dengan rumah Riana di asrama. Kemudian perempuan itu menyambar tas miliknya diatas meja dan segera keluar.
Sambil mengunci pintu rumahnya, Riana kembali menelepon orang yang baru saja dihubunginya tadi.
"Gimana?" tanya Riana sedikit berbisik.
"Beres Bu. Saya sedang membuntuti Bapak,"
"Bagus...Dia curiga nggak kalau kamu buntuti?" tanya Riana memastikan semua berjalan sesuai rencananya.
"Siap..Bapak tidak curiga sama sekali. Saya tutup dulu teleponnya ya Bu. Benar perkiraan Ibu. Bapak berhenti di salah satu penginapan yang cukup mewah dekat alun-alun kota. Namanya Penginapan Teratai," ucap laki-laki itu memberi informasi.
"Buntuti terus, jangan sampai lepas dari pantauan kalian," perintah Riana kemudian berjalan cepat menuju gerbang Batalion.
Setelah mengetahui lokasi pasti, Riana kemudian menghubungi beberapa orang ibu-ibu PERSIT yang sedang menunggu informasi dari Riana.
"Gimana Bu. Udah ketemu lokasinya?" tanya Bu Bambang yang terdengar sangat berambisi untuk menggerebek suami Riana dengan perempuan selingkuhannya.
"Udah Bu. Mereka saat ini sedang berada di Penginapan Teratai di depan alun-alun kota," Riana memberi informasi kepada teman-temannya itu.
"Oke, kita meluncur ya..ketemu aja disana," ucap Bu Bambang
"Oke," tutup Riana kemudian celingukan mencari ojek yang akan mengantarnya ke penginapan teratai.
Tak menunggu lama, ojek langganan Riana tiba di tempat Riana berdiri.
"Ayo Bu. Penginapan Teratai ya?" tanya kang ojek sebelum memacu motornya.
"Iya, Penginapan Teratai, dekat alun-alun kota," jawab Riana.
"Ibu sudah tau nomor kamar yang mereka pakai?" tanya kang ojek lagi.
"Sudah, tadi sudah diinfoin ke saya. Kamar nomor 89," ucap Riana.
"Oke Bu. Kita berangkat sekarang ya," tanpa menunggu jawaban Riana, kang ojek tersebut lantas memacu motornya menuju alamat yang dituju Riana.
Selama diperjalanan menuju penginapan, Riana lebih banyak diam. Perempuan itu teringat ucapan tante Deni saat Riana menitipkan Kiara tadi.
"Kamu yakin Ri, ingin menangkap basah suamimu dengan perempuan itu?" tanya tante Deni dengan wajah serius.
"Entahlah Tan, Riana juga nggak yakin. Tapi Riana nggak tahan lagi Tan. Masalah ini harus segera Riana selesaikan," jawab Riana tegas.
"Kamu juga sudah siap dengan resikonya dan segala kemungkinan yang akan kamu hadapi Ri'..!?"
"Iya Tan, Riana siap,"
"Berarti kamu juga sudah siap kehilangan Suamimu!?" tanya tante Deni, berhasil membuat Riana tercekat.
Perempuan itu terdiam.
\=\=\=\=\=\=\=
__ADS_1