TENTARAKU SUAMIKU

TENTARAKU SUAMIKU
Episode 105. Hampir Kepergok Syahrial.


__ADS_3

"Mak memang menyukai Diana Gun. Tapi Mak juga nggak mau lu nyakitin Riana,"


"Mak nggak usah khawatir soal itu. Diana nggak nuntut Gun cerain Riana. Yang Diana inginkan hanya menikah untuk menghindari kami dari dosa aja Mak," urai Guntur menjelaskan maksudnya dibalik rencana pernikahan sirinya dengan Diana.


"Tapi bagaimana kalau Riana tau Gun?. Elu bisa kehilangan Riana dan Kiara juga pekerjaan lu..karier lu," tanya Bapak diikuti anggukan Mak, menyetujui ucapan Bapak.


"Itu resiko yang harus Gun hadapi. Apalagi Kuliah Diana nggak lama lagi Mak. Tahun ini Diana bakal nyelesain kuliahnya dan pindah tugas diluar pulau jawa. Gun cuman punya waktu beberapa bulan kedepan bersama Diana. Setelah itu mungkin Gun akan kehilangan Diana untuk selamanya Mak. Gun nggak akan bisa ketemu Diana lagi," ucap Gun dengan suara pelan. Wajahnya tiba-tiba berubah murung.


Hal itu membuat Mak tidak tega dan terpaksa menyetujui keputusan Guntur untuk menikahi Diana. "Ya udah, terserah lu Gun," kata Mak akhirnya.


"Mak lu udah setuju Gun. Bapak sejak awal terserah apa kata lu. Cuman pesan Bapak, lu udah punya Riana. Kasi tau Diana untuk tidak mengganggu rumah tangga lu, apalagi meminta lu untuk menceraikan Riana,"


"Baik Pak. Gun janji akan membicarakan soal ini dengan Diana," jawab Guntur lega.


"Bapak juga minta lu bersikap adil kepada kedua Istri lu. Jangan sampai lu bersikap nggak adil kepada salah satunya,"


"Iya Pak, Gun janji," Guntur mengiyakan permintaan Bapak.


\=\=\=\=\=


Seminggupun berlalu dengan cepat. Tiba saat nya bagi Syahrial untuk mengakhiri masa pendidikannya. Besok pagi laki-laki itu akan diwisuda.


Dikamarnya, Diana berbaring dengan gelisah. Gadis itu tak berani keluar kamar, apalagi bertemu Syahrial. Diana tau, saat ini Syahrial sedang menunggu keputusannya.


Duh, bagaimana ini. Siapa yang harus aku pilih. Mas Syahrial atau Mas Gun. Disatu sisi, ada Mas Guntur yang mencintaiku dan aku cintai, namun status pernikahannya sangat tidak menguntungkan bagiku. Disisi lain ada Mas Syahrial, walaupun aku sendiri tidak yakin apa aku mencintainya dan begitu pula sebaliknya, tapi statusnya sebagai laki-laki single jelas menguntungkan aku. Apa yang harus aku pilih, suara hati atau logika ? batin Diana risau.


"An..Diana..," Tiba-tiba terdengar suara jeng Sri diluar kamarnya. Buru-buru Diana bangun dari tidurnya dan membuka pintu untuk Sri.


"Kenapa nggak keluar dek. Di aula rame banget. Mas Syahrial juga ada disana," Sri menjelaskan tanpa diminta.


"Nggak akh Mbak," jawab Diana dan kembali membaringkan tubuhnya di tempat tidur.


"Lho..tumben..kamu sakit ya dek!?" tanya Sri khawatir sambil mendekati Diana dan meraba kening gadis itu. Benar..suhu tubuh Diana terasa lebih hangat dari biasanya.


"Kamu demam Diana. Mbak kasi tau Mas Syahrial ya," ujar Sri sambil berbalik hendak pergi menemui Syahrial, namun langkahnya dicegah Diana.

__ADS_1


"J...jangan Mbak. Ja...jangan kasi tau Mas Syahrial," seru Diana latah.


"Kenapa!?" tanya Sri dengan tatapan tak mengerti.


"Nggak apa-apa Mbak. Mas Syahrial nggak usah diganggu. Ntar juga kalau minum obat Diana akan segera sembuh,"


'Ya udah kalau begitu," ucap Sri akhirnya. "Mbak ke salon dulu, mau lihat baju kebaya Mbak buat wisuda besok,"


"Iya Mbak,"


"Minum obat An, nanti Mbak bawain makanan,"


"Iya Mbak. Terima kasih," ucap Diana tulus.


"Oh iya..malam ini Mbak nginap diluar ya dek," ucap Sri dan kemudian pergi.


Setelah Sri pergi, Diana kembali berbaring. Dia merasa enggan untuk minum obat dan memutuskan untuk hanya minum teh hangat untuk menghangatkan tubuhnya.


Namun tiba-tiba sebuah ketukan dipintu kamar membuat Diana mengurungkan niatnya untuk membuat segelas teh hangat yang diinginkannya.


Buru-buru Diana menuju pintu kamar dan membukanya "Mbak Sr......i!?" suara Diana terputus begitu dilihatnya sosok yang kini berdiri didepan pintu kamarnya.


Gadis itu terkejut bukan main. Guntur..laki-laki itu berdiri didepan pintu kamar Diana dengan wajah tanpa ekspresi.


Tanpa menunggu jawaban Diana, Guntur mendorong tubuh Diana untuk masuk ke kamarnya kemudian mengunci pintu kamar itu.


"Mas...ngapain Mas kesini!!?" tanya Diana setengah berbisik, khawatir suaranya terdengar oleh seseorang diluar kamarnya. Tapi pertanyaannya tak digubris Guntur yang langsung memeluk gadis itu. Tiba-tiba Guntur tertegung dan melepaskan pelukannya.


"Kamu sakit sayang..badanmu lebih panas dari biasanya," Guntur meraba kening Diana kemudian,... tiba-tiba Guntur membuka bajunya. Melihat hal itu, Diana terkejut setengah mati. Pikirannya menerka-nerka apa yang akan dilakukan Guntur terhadap dirinya. Wajahnya pias seketika.


"Mas..ap..apa yang Mas lakukan!?" seru Diana kaget dan bergerak mundur.


"Ssst..diam. cepat, ganti bajumu dengan kaos yang lebih tipis," perintah Guntur.


"Bu..buat Apa Mas?" tanya Diana heran.

__ADS_1


"Lakukan saja apa yang Mas suruh, atau Mas yang akan mengganti bajumu?" tantang Guntur membuat Diana buru-buru mengambil salah satu kaos lengan pendek yang dimilikinya kemudian secepatnya ke belakang untuk mengganti bajunya.


Setelah selesai, Diana kembali dan mendapati Guntur yang masih bertelanjang dada sedang menunggunya.


"Sini..!"seru Guntur yang langsung menarik tubuh Diana kedalam pelukannya.


Diana kaget, namun tidak bisa berbuat apa-apa. Karena ukuran tubuh Diana yang mungil membuat Guntur kesulitan menempelkan tubuh telanjangnya ke tubuh Diana. Tanpa meminta persetujuan Diana, Guntur mengangkat tubuh Diana dan mendudukkannya diatas meja belajar yang lebih tinggi kemudian memeluk tubuh Diana.


"Apa ini Mas ?" tanya Diana tak mengerti.


"Menyalurkan panas tubuhmu ke tubuh Mas," jawab Guntur tanpa basa-basi. Tangannya mengangkat sedikit bagian bawah baju Diana agar kulit perutnya bersentuhan langsung dengan kulit tubuh Diana.


Diana tertegung. Aroma dan kekar tubuh Guntur mengusik insting kewanitaan Diana. Jika sudah sedekat ini, Diana tak mampu lagi berkata apa-apa.


Namun Diana merasa ada yang aneh. Kali ini, Guntur tak melakukan apapun yang biasa dilakukannya pada saat berduaan dengan dirinya. Padahal Guntur sangat memiliki kesempatan itu.


Tiba-tiba terdengar ketukan di pintu kamar disertai salam seseorang.


Suara itu...Mas Syahrial...ya, itu suara Mas Syahrial. Diana terkejut dan refleks hampir saja menjawab salam Syahrial, namun urung karena mulut Diana buru-buru dibekap Guntur dengan tangannya. Wajah gadis itu pias seketika.


Guntur meletakkan jari telunjuknya dibibirnya..Ssst..bisiknya pelan memberi isyarat agar Diana tidak bersuara.


"Assalaamualaikum..dek?" ucap Syahrial sambil mengetuk pintu kamar berkali-kali. Beberapa menitpun berlalu.


"Ana...Diana, kata Jeng Sri, kamu sakit..An?"


Tak ada suara dari dalam kamar Diana.


Ah..Mungkin Diana sudah tidur. Ya sudah, nanti aja aku datang lagi, batin Syahrial dan akhirnya memutuskan untuk pergi.


Terdengar suara langkah Syahrial meninggalkan kamar Diana dan kemudian menuruni tangga asrama.


Setelah yakin Syahrial sudah bebar-benar pergi, Gunturpun melepaskan tangannya dari mulut Diana. Gadis itu menarik nafas lega. Namun jelas terasa oleh Guntur kalau Diana begitu gugup hingga jari-jemarinya yang semula hangat berubah sedingin es.


Guntur memandangi wajah Diana dengan tatapan iba sekaligus cemburu. "Kamu gugup An?" tanya guntur membuat Diana terkesima. Gadis itu menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


__ADS_2