TENTARAKU SUAMIKU

TENTARAKU SUAMIKU
Episode 152. Anis Yang Kalut.


__ADS_3

Sementara itu di penginapan.


Anis terbangun dengan kepala yang masih sakit. Gadis itu memijit kepalanya perlahan.


“Dimana aku?,” tanya Anis heran mendapati dirinya di ruangan yang tidak dikenalinya.


“Apa yang terjadi denganku tadi!?,” tanya Anis kebingungan sambil berusaha mengingat kembali peristiwa yang terjadi hingga dirinya bisa berada di kamar ini.


Perlahan memori Anis mulai kembali. Dia mulai mengingat semuanya.


“Kiara__!?,” dengan perasaan was-was Anis mencari-cari Kiara.


Gadis itu meloncat dari tempat tidur dan mencari ke setiap sudut kamar.


“Mas Gun__Kiaraaa!!!,” Anis makin kalap ketika tidak menemukan siapapun dikamar itu.


“Mas Gun...apakah dia telah menculik Kiara?,” tebak Anis. Wajahnya tiba-tiba pucat pasi.


Gadis itu mulai menangis mendapati kenyataan kalau Guntur dan Kiara tidak ada lagi dikamar itu.


Tiba-tiba sudut mata Anis menangkap secarik kertas yang menempel di kaca tolet.


Dengan cepat Anis meraih kertas kecil itu dan membaca isinya.


Maafkan aku Nis. Kiara aku bawa. Tolong sampaikan ke Riana dan keluarganya !!


Anis terduduk lesu dengan tubuh gemetar dan wajah seputih kertas. Gadis itupun menangis.


“Bagaimana ini...ap..apa yang harus aku katakan ke Teh Riana, Aki dan Nini..?. Aku akan dimarahi mereka habis-habisan..aku bakal dibunuh mereka jika Kiara benar-benar diculik Ayahnya..huu..huu..!!,” Anis bingung harus berbuat apa. Tangisnya meledak tak tertahankan.


Dalam kebingungannya, tiba-tiba ponsel Anis berdering. Dengan tangan yang masih gemetar karena ketakutan, Anis meraih ponselnya dan melihat siapa yang menelepon dirinya.


Teh Riana..!!! Anis kalap melihat nama Riana tertulis dilayar ponselnya.


Bagaimana ini. Apa yang harus aku katakan !?. tanya Anis pada dirinya sendiri.


“Aku harus mencari alasan yang tepat untuk mengulur-ulur waktu. Semoga saja Teh Riana percaya dan Kiara benar-benar kembali kesini bersama Mas Gun,” harap Anis.


"Assalaamualaikum Nis..kamu dimana ?, kok jam segini belum pulang juga ? Udah sore lho. Kasian Kiara kalau kemalaman pulangnya. Ntar masuk angin lagi dia," tanya Riana bertubi-tubi begitu teleponnya direspon Anis.


"Wa'alaikumsalaam. Iya Teh..A..Anis dan Kia masih di Mall Teh. I..Ini Kiara ketiduran. Mungkin kelelahan. Makanya Anis dan Kiara blom pulang. Anis nunggu Kia bangun dulu Teh." jawab Anis sedikit terbata,-bata.


"Ooh...kalau begitu Teteh jemput kalian aja ya__."


"Eeh...ja..jangan Teh. Paling sedikit lagi Kiara udah bangun. Nanti dech kalau Kia udah bangun baru Anis pesen grab mobil buat pulang," potong Anis cepat.


"Ooh..ya udah. Tapi jangan lama-lama ya Nis," jawab Riana tak menaruh curiga sedikitpun.


"Iya Teh...nanti Anis kabarin ya. Assalaamualaikum ."

__ADS_1


"Wa'alaikumsalaam."


"Huuh__Syukurlah. Aku bisa mengulur waktu kali ini. Tapi bagaimana kalau Kiara nggak kembali karena sudah dibawa kabur Ayahnya. Yaa Allah__Maas Mas. Kenapa tega nempatin Anis dalam posisi ini !?." Anis terisak.


"Sebaiknya aku coba telp Mas Gun!!," putus Anis kemudian.


Anis memencet nomor hp Guntur diponselnya. Tangannya basah karena keringat dingin.


Tuut..tuut..tuut.. telepon tidak diangkat Guntur. Anis semakin kalap.


Maaas...ayo doong. Angkat teleponku !!!. Guman Anis mulai was-was.


Beberapa kali Anis mencoba menghubungi Guntur tapi tak berhasi. Anis tak mengetahui kalau ponsel Guntur di silence oleh Guntur karena Kiara sedang tertidur pulas di dalam mobil.


"Yaa Allah...bagaimana ini. Apakah sebaiknya aku kasi tau Teh Riana aja ya biar Teh Riana yang nelpon Mas Gun. Duuuh...bodohnya akuu!!." guman Anis kesal dengan dirinya sendiri.


Waktu sudah menunjukkan pukul 17.00 WIB. Anis semakin gelisah. Sesekali memandangi pesan WAnya ke Guntur. Masih ceklis dua.


"Aduuh Maas..baca dong pesan WAku. Pleaseee!!."


Tiba-tiba ...


Tuuut...tuuut ...tuut, ponsel Anis berbunyi lagi. Kali ini dari orang yang ditunggu-tunggunya..


Telepon dari Guntur !!


Secepat kilat Anis merespon telepon Guntur.


"Mas baru dari kebun binatang dengan Kiara Nis. Kiaranya lagi tidur. Makanya ponsel Mas silence biar nggak mengganggu tidur Kiara," jawab Guntur. Laki-laki itu tidak langsung bilang ke Anis kalau dia berencana membawa Kiara bersamanya.


"Ooh..syukurlah kalau begitu. Lalu jam berapa Mas dan Kiara balik lagi ke penginapan ?. Anis dan Kiara sudah harus pulang Mas." Anis menarik nafas lega.


"Sedikit lagi Nis,"


"Oke Mas..Anis tunggu ya. Jangan lama-lama. Nanti Anis kena marah Aki, Nini dan Teh Riana,."


"Iya Nis. Jangan khawatir. Kalau Teh Riana nanyak bilang saja Kiara ada sama Mas."


"Maksud Mas?__kok !?," Anis bertanya, tak mengerti.


"Iya Nis. Bilang saja seperti yang Mas bilang barusan. Anis nggak bakal disalahin orang rumah," Guntur memberi saran membuat Anis mulai menyadari, ada sesuatu yang nggak beres.


"Mas...Mas berencana menculik Kiara !?," tanya Anis hati-hati.


"Menculik__??. Ha..ha..ha..apa maksud kamu Nis. Mas Ayahnya Kiara. Masaa, Mas nyulik anak sendiri !?," tanya Guntur sambil tertawa.


"Nggak..maksud Anis bukan begitu Mas" Anis kelabakan.


"Lha..barusan Anis ngomong apa hayo..!?

__ADS_1


"Mas, tolong jangan bawa Kiara Mas. Anis bisa dimarahin habis-habisan karena ini. Anis udah bantu Mas, tolong Mas juga bantu Anis," pinta Anis. Gadis itu mulai menangis.


"Anis nggak bakal terkena masalah. Nanti Mas telp Teh Riana, ngasi tau kalau Kiara Mas bawa."


"Ja..Jangan Mas. Kasihani Anis Mas. Tetap aja Anis yang bakal disalahin karena Anis yang bawa Kiara keluar menemui Mas," Anis makin kalap.


Apapun alasannya, dirinya adalah tertuduh kali ini karena membawa Kiara dan menyerahkannya kepada Guntur. Anis berbohong dan itu kesalahan terbesar Anis yang paling fatal.


"Mas__Anis mohon, kembaliin Kiara Mas," gadis itu menangis sesenggukan. Dirinya tau percuma berdebat dengan Guntur. Anis nggak akan menang.


"Maafkan Mas Nis. Mas harus melibatkan Anis kali ini. Tapi Anis nggak perlu cemas. Mas akan telp Teh Riana dan keluarganya untuk tidak menyalahkan Anis. Kiara juga milik Mas. Bukan Teh Riana aja yang berhak atas Kiara. Mas juga. Mas Ayahnya Kiara Nis. Wajar kalau Kiara Mas bawa."


"Tapi kasihan Kia Mas..Kia masih keciil..masih butuh Mamahnya. Harusnya Mas ngerti dan tidak mempersulit keadaan. Dalam hal ini Anis juga salah karena mudah percaya begitu saja. Itu karena Anis yakin, Mas nggak akan macem-macem. Makanya Anis bersedia bantu Mas ketemu Kia," gadis itu masih mencoba merubah keputusan Guntur.


"Kamu benar Nis. Sangat benar..tapi Kiara putri Mas satu-satunya. Mas hanya ingin Kiara tidak terkena pengaruh buruk Mamah dan Nininya. Itu saja Nis. Kalau Kiara bersama Mas, Riana nggak perlu memikirkan lagi kebutuhan-kebutuhan Kiara. Semua jadi tanggung jawab Mas. Tolong Anis ngerti maksud Mas!."


"Tapi Kiara masih kecil Mas...dan anak dibawah umur harus ikut Ibunya. Mas tau itu kan!?."


"Iya...Mas tau. Sudahlah Nis. Kamu nggak usah khawatirkan Kiara. Kiara ada ditangan Ayahnya, bukan orang lain." ujar Guntur langsung menutup pembicaraannya dengan Anis.


"MAS__MAS...Aduuh__gimana iniii yaa Allah," Anis kalap. Gadis itu menutupi wajahnya dengan kedua belah tangannya dan menangis.


___________


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2