TENTARAKU SUAMIKU

TENTARAKU SUAMIKU
Episode 63. Lagi....


__ADS_3

"Kita ke rumah Orang Tuaku sekarang. Ganti bajumu. Aku mandi dulu," Guntur berdiri dan berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya.


Sementara Diana menunggu hingga Guntur masuk ke kamar mandi, barulah dia beringsut dari tempat tidur, membuka tas berisi pakaian yang dibelinya bersama Guntur dan memilih kulot hitam dan tunik hijau tosca untuk dipakainya hari ini.


Selang beberapa menit kemudian saat Diana sedang mematut dirinya didepan cermin, terlihat Guntur keluar dari kamar mandi. Dengan hanya memakai handuk yang dililitkan di pinggang hingga sebatas lututnya, laki-laki itu terlihat seksi.


Secara diam-diam Diana mencuri pandang melalui cermin ke arah Guntur yang sedang mengeringkan rambutnya dan mengagumi postur tubuh laki-laki itu. Berdada bidang dengan warna kulit yang tidak terlalu putih. Perut sixpac yang nyaris sempurna. kaki dan dada bersih tanpa bulu. tipe yang disukai Diana. Hmm..benarkah laki-laki ini yang bersamaku semalam ? batin Diana masih tak percaya. Matanya masih terpaku pada sosok Guntur melalui pantulan cermin. Tanpa disadari Diana, Guntur mengetahui dirinya sedang diperhatikan gadis itu. Aku kerjain akh...senyum nakal menghiasi bibir laki-laki itu.


Dengan sengaja Guntur berbalik kearah Diana dan membuat gerakan seolah akan membuka handuknya. Sontak Diana kaget dan dengan kikuk mengalihkan perhatiannya seakan sedang mencari sesuatu diatas meja rias di depannya.


"Ha..ha..ha..ha," Guntur tertawa geli melihat gadisnya gelagapan dan sukses membuat Diana uring-uringan.


Memerah wajah Diana membuat Guntur tak tahan untuk mendekati Diana. Dipeluknya gadis itu dari belakang. Kini keduanya saling bertatapan melalui cermin didepan mereka.


"Kamu cantik sayang...," Guntur menunduk, berbisik ditelinga Diana dan kembali mendaratkana ciuman bertubi-tubi di leher Diana membuat gadis itu kembali merasakan gairah yang mulai menyelimuti hasrat kewanitaannya. Sekuat tenaga Diana berusaha meredam gejolak yang tiba-tiba muncul. Tidak lagi..!!, batin Diana gundah.


"M..Mass...sudah..cukup mas," ujar Diana pelan sembari berusaha menghindari serangan Guntur. Namun suara Diana yang seolah mendesah malah membuat Guntur semakin menjadi.


Dengan sekali gerakan, Guntur memutar kursi yang diduduki Diana dan membopong tubuh Diana ke tempat tidur. Gadis itu kaget dan sontak berontak membuat handuk yang dipakai Guntur lepas dan menunjukkan "sesuatu"nya Guntur yang kembali menegang.


"Aaaakh..Maas..turunkan aku..!!," Diana berusaha turun dari gendongan Guntur. Namun Guntur lebih cekatan. Hanya dengan beberapa langkah kecil, laki-laki itu berhasil mencapai tempat tidur dan meletakkan Diana disana tanpa melepaskan tangannya.


"Berhenti mas...tolong..jangan lagi..," suara Diana melemah seiring serangan bertubi-tubi Guntur yang tak memberi kesempatan kepada Diana untuk protes.


Dan..ronde keduapun dimulai..


\=\=\=\=\=\=


Sementara itu, disalah satu kamar VVIP Rumah Sakit di kota "S", Riana terlihat gelisah. Beberapa kali Riana berusaha menghubungi suaminya. Namun hp Guntur tidak aktif. Seperti sengaja dimatikan Guntur agar Riana tidak mengetahui pasti keberadaan Guntur saat itu.

__ADS_1


Harusnya Aa' sudah tiba di rumah orang tuanya. Tapi kenapa saat aku telepon tadi, mereka bilang Aa' belum tiba. Kemana dia sebenarnya..?? batin Riana gusar.


Berbagai prasangka buruk mulai menyelimuti pikiran Riana. Jangan-jangan suamiku kembali seperti dulu lagi, menyimpan perempuan lain dibelakang aku. Dia kan baru aja kembali dari kota "T". Jika suamiku tidak memiliki seseorang yang lain, harusnya dia memilih bersamaku dan Kiara bukan malah memilih untuk pergi sendiri. Apalagi saat ini Bapak sedang sakit.!! batin Riana menerka. Instingnya sebagai seorang istri mulai bekerja.


Sekilas Riana menyesali keputusannya untuk menolak ikut dengan Guntur. Harusnya aku ikut dengannya. Tapi mau bagaimana lagi...sesal Riana menyadari kesalahannya.


Untuk mengusir kegelisahan hatinya, Riana memutuskan untuk menghubungi Anton, sahabat Guntur.


Tuuut..tuuut..Riana menghubungi telepon WA Anton. Tak berselang lama, terdengar telepon WA Riana diterima Anton.


"Assalaamualaikum om..,"


"Waalaikumsalaam..apa kabar Mbak Riana?"


"Alhamdulillah, sehat om,"


Alhamdulillah, Kiara sehat om. Om apa kabar ? udah nyampe rumah ya ?".


"Iya Mbak..Alhamdulillah..Aku udah nyampe asrama. Gimana mbak, udah ketemu mas mu ?"


Riana menghela napas. "Udah om. Kemarin Aa' ke sini nengokin aku dan Kiara dan ngajak kami menemui orangtuanya. Tapi aku nggak bisa ikut om. Bapakku sedang sakit dan aku tidak bisa meninggalkan Bapak," jawab Riana.


"Harusnya mbak ikut mas Guntur kemarin...!" seru Anton membuat Riana mengernyitkan dahinya.


"Maksud om ?. Memangnya kenapa om. Apakah Aa menyembunyikan sesuatu yang tidak aku ketahui..!?" tebak Riana. Kali ini tangan perempuan itu mulai berkeringat dingin. Kegelisahan jelas terdengar dari nada suaranya.


"Nggak..bukan begitu mbak. Tapi kami baru saja kembali dari bertugas selama hampir setahun lamanya. Wajar jika mas Gun meminta dirinya mbak utamain. Harusnya mbak memprioritaskan permintaan suami mbak," tutur Anton.


Riana terdiam. Ucapan Anton menohok perasaannya membuat Riana semakin yakin tentang adanya "seseorang" yang lain yang mengisi hati suaminya. Diana merasa gegabah telah menolak permintaan suaminya. Tentu saja penolakan Riana membuka ruang lain bagi Guntur.

__ADS_1


"Om..jujur sama aku. Aa' punya perempuan lain kan !?" Riana masih mencoba mengorek informasi dari Anton.


Terdengar helaan nafas Anton. "Maaf mbak Riana. Aku tutup dulu teleponnya ya. Anakku minta diajak jalan-jalan keluar," Anton mengalihkan pembicaraan mereka. Terdengar suara Nina, putri semata wayang Anton yang merengek minta digendong ayahnya.


"Om...jawab dulu pertanyaanku," ujar Riana sedikit memaksa.


"Maaf mbak. Aku jalan dulu. Sebaiknya mbak tanyakan langsung ke suami mbak. Wassalaamua'laikum,"


"Wa'alaikumsalaam," jawab Riana menutup pembicaraan mereka.


Riana memandangi gadgetnya dan berinisiatif untuk mengirim pesan WA ke hp suaminya. "Aa' udah nyampe mana..? Kenapa hpnya nggak diaktifin?. Kalau Aa' baca WA ini, segera telepon aku..!!" Riana mengetik pesan di WA nya. Masih ceklist satu. Berarti hp Guntur masih belum aktif.


Riana semakin gelisah. Akhirnya dia memutuskan untuk pergi keluar RS untuk menenangkan diri di salah satu taman yang berada di RS itu.


\=\=\=\=\=\=\=


Guntur dan Riana terlihat bersiap-siap untuk cek out meninggalkan hotel. Mereka berencana untuk melanjutkan perjalanan menuju kampung halaman Guntur. Wajah Guntur terlihat sumringah, berjalan sembari menggenggam erat tangan Diana. Ada kepuasan yang terlihat jelas diwajah laki-laki itu.


Sementara Diana hanya diam dan mengikuti langkah kaki Guntur. Hatinya ragu namun dirinya tidak bisa menolak ajakan Guntur untuk menemui orangtua dan keluarganya.


Bagaimana tanggapan dan sikap mereka nanti ketika melihat, yang datang bukan istri dan anak mas Gun, tapi aku...perempuan asing yang belum pernah mereka kenal dan temui sebelumnya batin Diana gelisah.


Guntur menangkap kegelisahan yang dirasakan Diana. Laki-laki itu menarik tubuh Diana lebih dekat kearahnya dan merangkul pundak Diana.


"Jangan khawatir. Tidak akan terjadi apa-apa nanti. Percaya padaku An," Guntur meyakinkan Diana. "Aku sudah ngomong kalau kamu yang ikut aku menemui mereka. dan mereka tidak keberatan, jadi nggak usah takut," ujar Guntur lagi.


Dan kali ini ucapan Guntur berhasil melukiskan sebaris senyuman dibibir Diana. Merekapun melanjutkan perjalanan menuju kampung halaman Guntur.


\=\=\=\=\=

__ADS_1


__ADS_2