
Suara azan Subuh membelah langit kota pertanda pagi mulai menjelang.
Matahari belum menampakkan sinarnya ketika Diana terbangun dari tidurnya. Gadis itu merentangkan kedua tangannya, dengan sekali hentak, ditariknya kearah yang berlawanan, mencoba mengurai rasa kaku dan sakit dikedua bahu dan lengannya, dan...
Kraaaak....!!
Terdengar bunyi otot bahu gadis itu. Diana menghela napas lega.
Hmm..kelamaan tidur aku, batin diana.
Diana turun dari peraduannya dan bermaksud hendak berwudhu untuk menunaikan sholat Subuh.Tiba-tiba gadis itu memegang dadanya dengan sebelah telapak tangannya.
Kenapa dada ini terasa sakit..!? batin Diana meringis.
Tiba-tiba berkelebat bayangan Guntur Pramudya, laki-laki yang telah menoreh luka dihatinya, yang dengan sengaja telah tega membohonginya dan menghianati cinta tulusnya.
Kembali hatinya meringis, sakit...!!. Tapi kali ini tidak ada lagi air mata di netra gadis itu. Semua telah selesai. Seluruh air mata Diana untuk pembohong itu telah habis dicurahkan Diana dikamar ini semalam.
Yang tertinggal kini hanyalah dendam. Ya, torehan luka yang diberi laki-laki itu telah melahirkan perasaan dendam yang membara dihati Diana.
Nina benar, mereka harus dibalas...!!!.
Si laler ijo itu harus merasakan akibat berani mempermainkan aku...!!!, desis batin Diana geram.
Memerah wajah gadis itu, teringat ucapan Nina kepadanya kemaren. Darahnya mendidih. Jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya.
Sungguh, Diana sebenarnya adalah gadis baik yang berhati lembut dan pemaaf. Sebelum ini Diana lebih rela memafkan orang lain yang berbuat salah kepadanya ketimbang menambah daftar musuh dalam hidupnya.
Tapi kali ini beda. Ini masalah hati..!!!. Seperti juga si Tomi brengsek, Diana tidak akan memaafkan perbuatan Guntur.
Aku harus menemui Nani, Nina dan Imah. Mereka harus membantuku membalas perbuatan laki-laki itu. batin Diana akhirnya.
Pagi itu Diana berencana untuk tidak ngantor. Selain karena otaknya yang hari ini tidak bisa diajak serius ngerjain pekerjaan kantoran, gadis itu juga tidak sudi melihat wajah si pembohong, Guntur Pramudya..!!!.
Setelah mandi, berwudhu dan melaksanakan sholat Subuh, Diana terlihat lebih tenang dan dapat meredakan emosinya. Segera diteleponnya Imah, sahabat sekaligus rekan kerja Diana untuk mengabarkan kalau hari ini dirinya izin tidak masuk kantor.
Imah yang sudah mengetahui peristiwa kemaren dari Anton dan si kembar Nani Nina mengiyakan permintaan sahabatnya. Dia paham, sahabatnya butuh waktu untuk sendiri.
__ADS_1
Segera Diana mengganti baju yang dipakainya dan bergegas meninggalkan rumah kontrakannya. Dirinya benar-benar tidak ingin bertemu Guntur hari ini.
Sebelum laki-laki itu datang, aku harus buru-buru pergi, Diana membatin.
Setelah mengunci pintu, gadis itu buru-buru melangkahkan kakinya menuju rumah Nani Nina yang masih sekompleks dengan rumah kontrakan Diana.
Diana melalui jalur tikus yang tidak pernah dilalui Guntur. Hal ini dilakukannya untuk menghindari pertemuan dengan laki-laki itu, kalau-kalau dia bermaksud menemui Diana dirumahnya pagi ini.
Selang beberepa menit kemudian Diana tiba dirumah si kembar Nani Nina. Setibanya Diana dirumah kedua sahabatnya itu, terlihat Nani Nina sedang sarapan pagi.
Diana langsung nyelonong masuk setelah mengucap salam terlebih dulu. Ditempatinya salah satu kursi yang masih kosong. Nina Nani memandangi gadis itu dengan tatapan iba.
"Ayook..sarapan dulu An", tawar Nina lembut seraya mengambil mangkuk dan segera menuangkan bubur Manado untuk sarapan sahabatnya.
Diana mengangguk.
Diteguknya segelas kecil air putih hangat yang disodorkan Nani kepadanya. Setelah mengatur napasnya dan bisa menenangkan diri, Diana kemudian memandang kedua sahabatnya.
"Aku ingin membalas dia...!!. tolong kalian bantu aku," bisik diana, takut suaranya kedengaran oleh orang tua si kembar.
"Iyaaa..nanti kami bantu. Tapi kamu makan dulu An, jangan sampai kamu sakit," Nina mengambi sesendok bubur Manado dan mencoba menyuapi Diana.
"Biarkan aku istirahat disini hari ini ya...Aku tidak ingin bertemu si pembohong itu," Diana memohon.
"Iyaaa...boleh dong sayang, santai aja. sekarang habiskan sarapanmu dulu. Setelah itu kita ngobrol di taman belakang. oke...!?" ujar Nina disambut anggukan Diana.
Setelah menyelesaikan sarapannya, ketiga sahabat itu pergi menuju taman dibelakang rumah Nani Nina. Sebuah lahan kosong cukup luas yang disulap Nani Nina menjadi taman kecil yang sejuk dan nyaman.
"Sekarang, apa rencanamu selanjutnya An," tanya Nani setelah mereka menempati bangku panjang di salah satu sudut taman.
Diana menggeleng berkali-kali.
"Belum ada Ni, aku belum punya rencana apapun untuk membalas dia," sahut Diana bingung.
"Aku ingin memberinya pelajaran, tapi aku belum tau gimana caranya. Aku bingung. Aku takut Ni..., jika bertemu dengannya lagi, hatiku akan luluh," Diana mengeluh. Netra gadis itu mulai berair.
Buru-buru Nina memeluk sahabatnya itu. Sementara tangan Nani mengusap punggung Diana, mencoba menenangkan gadis itu.
__ADS_1
"Sudahlah..tenangkan dirimu dulu Ana sayang. Setelah beberapa hari kau akan bisa mengatasi masalahmu. Aku yakin itu. Kamu gadis kuat. Jangan lari dari masalah. Hadapi An, agar kamu bisa melanjutkan hidupmu dengan lebih tenang," Nina menasehati sahabatnya.
Dibandingkan Nani yang cenderung pendiam dan lebih serius, Nina adalah sosok seorang sahabat yang ceria dan mudah memaafkan.
"Tapi laki-laki itu harus dikasi pelajaran Ninaaa...!!" geram suara Nani tidak setuju.
"Aku tauuu...,tapi untuk apa dek, percuma...!! gak akan ngaruh untuk orang seperti laki-laki itu," jawab Nina mencoba meyakinkan kembarannya.
"TERSERAH...!!!, tapi aku lebih suka kalau laki-laki brengsek itu dikasi pelajaran agar dia nggak nganggap remeh gadis-gadis seperti kita ini," sahut Nani tak suka.
Diana memperhatikan perdebatan kedua sahabatnya tanpa bermaksud melerai mereka. Betul juga apa kata Nina, tapi Nani juga tidak salah.
AAAARRGH...!!!.
Diana berteriak bingung.
Apa yang harus kulakukan Allah. Saran siapa yang harus kuikuti...!!? batin Diana galau.
Ditatapnya Nani dan Nina yang memandang Diana dengan tatapan iba.
"Terserah kamu An, saran siapa yang mau kamu pakai," seolah bisa membaca suara hati Diana, Nina kembali memberi saran.
Diana terdiam. Gadis itu mempertimbangkan usulan kedua sahabatnya. Namun dirinya belum bisa memutuskan, saran siapa yang akan dipakainya.
Sementara itu Nani dan Nina membiarkan Diana untuk berpikir sejenak. Biar bagaimanapun keputusan tetap ada ditangan Diana. Biarkan Diana memilih mana yang terbaik untuk dirinya sendiri.
Hening..., ketiga sahabat itu tenggelam dalam pikiran masing-masing. Waktupun berlalu seiring mentari yang mulai menampakkan sinarnya.
"Tunggu sebentar An, aku buatkan cemilan dulu untuk kita bersantai disini yaa. Atau kamu ingin istirahat di kamar?. Ayooo, mari kuantar ke kamar," tanya Nina sembari mengulurkan tangannya kearah Diana.
Diana menggeleng. Seulas senyum kecil terukir di sudut bibirnya yang terlihat pucat.
"Tidak..disini aja," tolak Diana pelan.
Ninapun berlalu diikuti Nani saudara kembarnya. Sekarang tinggal Diana sendiri, mencoba berpikir jernih.
Nina benar, aku harus bisa menyelesaikan masalahku dengan tenang. Itu lebih baik. Setidaknya untuk diriku sendiri, batin Diana akhirnya.
__ADS_1
\=\=\=\=\=\=\=\=