
Guntur menarik tangan istrinya ke kamar. Banyak hal yang ingin ditanyakan laki-laki itu. Demikian juga dengan Riana. Walau sudah mendengar alasan kepergian suaminya semalam hingga siang tadi, tapi tetap saja Riana tidak percaya.
Agar pembicaraan mereka tidak didengar Mak, Guntur sengaja menyuruh Anggi dan Windi menemani Mak dan Kiara jalan-jalan keliling Batalion dan main di taman.
"Duduk Ri'..aku mau bicara," perintahku kepada Riana istriku ketika rumah sudah sepi.
Riana duduk disudut ranjang dengan wajah merengut. Ada rona ketakutan diwajahnya, namun Guntur tidak perduli.
"Aku sudah berkali-kali melarangmu untuk tidak namu pagi-pagi di rumah sebelah, kenapa masih kamu lakukan?. Bukannya nemenin Mak, kamu malah namu berjam-jam di rumah orang. Sekaliii aja Ri, patuhi Suamimu..bisa nggak!!?" tanya Guntur kesal.
Riana tidak menjawab pertanyaan Guntur. Ditatapnya wajah Guntur dengan wajah datar tanpa ekspresi.
"Kamu tanya kenapa...A'...sebelum kamu tanya ke aku, kenapa Aku ke rumah sebelah justru saat Mak ada disini harusnya kamu terus terang dulu ke aku..jujur ke aku..sebenarnya semalam sampai tadi siang kamu kemana aja!??" jawab Riana nggak kalah ketus.
Guntur terkesima, kaget pertanyaannya malah dijawab Riana dengan pertanyaan juga.
"Bukankah aku sudah mengatakan alasan kepergianku ke kamu. Kenapa kamu nggak percaya ?" tanya Guntur lagi.
"BOHONG...Aku nggak percaya A'..Aku nggak percaya Aa' ada tugas keluar semalam," ucap Riana sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Lho..kenapa nggak percaya!"
"Aku sudah menanyakan ke Ibu Danyon langsung..katanya tidak ada penugasan keluar kota semalam," ucap Riana terus terang. "Jangan coba membohongiku Aa'..Kamu kemana sebenarnya...ketemu perempuan brengsek itu!!??" tanya Riana marah.
Guntur terkesiap. Tumben..biasanya Riana tidak suka ngurusin masalah kerjaan Guntur. Tapi kali ini Riana berani menyelidiki suaminya..langsung ke ibu Danyon.
Beberapa saat Guntur terdiam menerima omelan istrinya. Melihat Guntur diam, Riana seperti memperoleh suntikan keberanian.
"Kenapa diam A'..jawab pertanyaanku, benerkan kamu ketemuan sama si pelakor itu!!?" kali ini suara Riana meninggi.
"TIDAK...AKU TIDAK KETEMU DIA...!!" jawab Guntur dengan suara keras. "Kamu fikir, semua urusan kedinasan harus diketahui Istri. Tidak...tidak semua urusan kedinasan harus diketahui Istri prajurit, termasuk Istri pimpinan sekalipun. Kamu lancang sekali menanyakan keberadaanku ke ibu!!" Guntur berdiri dan menghampiri Istrinya.
Riana ikut berdiri. "Bagaimana aku nggak nanyak A'. ..dari semalam Aa' keluar tanpa pamit..ditelepon ga bisa-bisa. Gimana aku nggak sewot dan khawatir. Wajarlah aku nanyak ke Ibu," Riana membela diri.
__ADS_1
"Aku nggak suka kamu lebih percaya orang lain daripada Suamimu sendiri Ri'. Darimana kamu punya pikiran Aku ketemu Diana..??"
"Kalau nggak ada tugas, lalu kemana lagi kalau bukan ke pelakor itu!!"
"Astaga Ri'..ini nich..ini akibatnya kalau kamu keseringan ngerumpi di rumah tetangga. Otak jadi nggak waras,"
"Nggak waras katamu A'..Aa' tuch yang nggak waras. Sejak kembali dari kota T, Aa' banyak berubah, nggak mesra dan perhatian lagi ke aku kayak dulu," Riana memgungkapkan kekesalannya.
"Berubah bagaimana..perasaan nggak ada yang berubah dari aku,"
"Aa' nggak ngerasa..tapi aku iya..Aku ngerasa Aa sangat berubah. Dengar A', Aku nggak pernah percaya Diana itu hanya saudara angkat Aa'. Saudara angkat apaan...tiap Minggu berdua Aa' ke rumah Bapak mulu. Aku curiga, jangan-jangan Diana itu pelakor..selingkuhan Aa'.....!!"suara Riana meninggi.
Belum sempat Riana menyelesaikan kalimatnya, keburu dipotong Guntur.
"DIAAAM...kita sedang ngbahas perlakuan kamu ke Mak hari ini..bukan soal Diana," teriak Guntur marah.
"Kalau Aa' nggak pergi ke pelakor itu, nggak mungkin aku ninggalin Mak di rumah dan lebih suka ke rumah tetangga....,"
"Sudah kubilang berulang kali Riana..AKU NGGAK KE DIANA...paham kamu!!?" Guntur
TERSERAH...TERSERAH KAMU..MAU PERCAYA ATAU ENGGAK!!" teriak Guntur dengan napas memburu.
Kini mereka berdua berdiri saling berhadapan.
"Tapi satu hal yang harus kamu ingat Riana...jangaan...pernaaah.... nyakitin...Mak aku...paham!!" suara Guntur bergetar menahan amarahnya.
"PERDULI SETAN....!!" Riana berteriak dan.....
PLAAAK......
Sebuah tamparan mendarat di pipi Riana. Riana memegang pipinya yang terasa panas dan perih.
"KAMU.....!!!" wajah Riana mengeras. Tatapannya nanar mengarah ke wajah suaminya. "Kamu keterlaluan A'...Kamu berani nampar aku demi perempuan itu!!"
__ADS_1
"Demi perempuan itu kamu bilang...ini bukan soal perempuan manapun Riana. Ini soal Mak..orang tua aku..Mertua kamu..!!" tegas Guntur lagi.
Air mata Riana mengalir. Pipinya terasa perih, namun lebih perih hatinya menerima perlakuan Guntur.
Riana berbalik dan berjalan cepat keluar kamar. Tak diperdulikannya teriakan Guntur yang menyuruhnya berhenti. Riana berjalan menuju kamar Kiara. Diambilnya beberapa potong baju Kiara dan keperluan Kiara lainnya, kemudian ditaruhnya dalam handbag di kamar Kiara.
"Mau kemana kamu...!!" tiba-tiba Guntur sudah berdiri dipintu kamar Kiara.
"Pulang...ke rumah orang tuaku..kemana lagi,"
"Jangan coba-coba keluar dari rumah ini barang selangkahpun...kalau tidak..!!"
"Kalau tidak..Apaaa..Apaa A'..kamu mau mukulin aku lagi?"
"Selangkah aja kamu keluar dari pintu itu Riana, selamanya jangan pernah kembali lagi ke rumah ini!!" tegas Guntur..Riana terkesima dan terdiam.
Disaat itu tiba-tiba Mak, Windi, Anggi dan Kiara nongol di depan pintu rumah. "Assalaamualaikuuum," ucap windi dan Anggi berbarengan.
Riana yang sudah berdiri di depan pintu keluar dengan handbag di tangannya langsung masuk kembali ke kamar dan meletakkan handbagnya di kamar Kiara.
Mak nggak boleh tau pertengkaranku dengan Aa'..Apa kata Aa' tadi ?..kalau aku keluar dari rumah ini.... hari ini ....berarti aku tidak diperkenankan Aa untuk kembali lagi ??.
Riana memegangi pipinya yang sedikit memar akibat tamparan suaminya tadi. Diambilnya obat kompres yang disimpan dalam kotak P3K dan salep penghilang memar kemudian Riana mengompres dan mengoleskan salep ke wajahnya.
Aa' keterlaluan..Kapan dia berhenti menyakitiku. Biasanya setelah bertengkar seperti ini dan aku pulang ke rumah orangtuaku, pasti Aa' bakal nyusul aku dan ngajak aku balik. Kali ini kenapa dia ngancam aku seperti itu. Kalau seperti ini nggak mungkin aku pulang batin Riana risau.
Riana tidak ingin keluar menemui ibu Mertuanya dalam kondisi seperti itu. Akhirnya Riana memutuskan untuk tidur, menghindari Mak dan kemungkinan berbagai pertanyaan yang bakal dilayangkan Mak saat melihat kondisi Riana nanti.
Samar-samar Riana mendengar Mertuanya bertanya kepada Guntur suaminya. "Riana kenapa Gun?" tanya Mak sambil memandangi pintu kamar tempat Riana masuk tadi.
"Nggak apa-apa Mak," jawab Guntur pelan.
"Kalian bertengkar lagi ??" tanya Mak sambil memandangi wajah putranya dengan pandangan menyelidik.
__ADS_1
"Nggak Mak, kami hanya...hanya..eum, hanya saling adu mulut aja, Riana ngantuk tadi makanya dia masuk ke kamar. Pengen tidur katanya," jawab Guntur sekenanya saja.
Mak menganggukkan kepalanya. Instingnya sebagai seorang ibu berkata lain. Mereka pasti baru habis bertengkar hebat, batin Mak yakin.