TENTARAKU SUAMIKU

TENTARAKU SUAMIKU
Episode 54. Kunjungan Tak Terduga.


__ADS_3

Gadget ditangan Guntur berdering. Panggilan masuk dari istrinya Riana. Segera Guntur mengangkat telepon dari istrinya.


"Assalaamualaikum Aa, maaf aku baru bisa nelp Aa. Bapak masuk rumah sakit kemarin. Penyakitnya kambuh, makanya aku dan Kiara nggak bisa ikut menjemput Aa," Terdengar suara Riana merasa bersalah.


"Waalaikumsalaam. Kenapa kamu nggak ngabarin aku. Kirim WA kek biar aku nggak khawatir dan mengira yang bukan-bukan," kesal suara Guntur menegur istrinya.


"Ia a' ..aku minta maaf. Karena terlalu kalap aku nggak kepikiran untuk nelpon atau wa ke aa,"


"Ya udah kalau begitu. Kiara mana..? aku alihkan ke video call ya," ucap Guntur memahami alasan istrinya.


"Aku di RS a' nemenin bapak. Kiara aku titipin ke ibu dan mbak Tiwi di rumah,"


"Ooh, ya udah kalau begitu. Bapak gimana kondisinya?"


"Masih di ruang ICU,"


"Aku langsung ke situ,"


"Iya a'. Assalaamualaikum,"


"Waalaikumsalaam...," Guntur menutup pembicaraan mereka.


Setelah meminta izin komandan untuk langsung ke kota "S" dengan tujuan mengunjungi mertua yang sedang sakit, Guntur kemudian diizinkan untuk cuti beberapa hari.


Guntur memisahkan diri dari rombongan pasukan dan melanjutkan perjalanannga menuju kota "S" dengan menggunakan bis antar kota. Dalam perjalanan, Guntur teringat Diana dan janjinya untuk mengunjungi gadis itu. Diraihnya Gadget miliknya dan menulis pesan WA untuk Diana.


"An..aku ke kota "S" dulu. Mertuaku sakit. Setelah dari sana aku langsung nemuin kamu," tulis Guntur.


\=\=\=\=\=\=\=\=


Sementara itu Sabtu pagi yang cerah, Diana dan Syahrial asyik menyusuri jalanan kota "Bd" yang dingin dan sejuk udaranya. Disepanjang jalan yang ditumbuhi pohon-pohon tua berukuran besar membuat para pejalan kaki tidak kepanasan walau hari sudah mulai beranjak siang.


Sambil menikmati keramaian orang-orang yang sedang berolah raga maupun sekedar bersantai, Syahrial kemudian memesan dua mangkuk bubur ayam dari abang-abang penjual makanan yang berjejer disepanjang tepian jalan.


Tak berselang lama, dua mangkuk bubur hangat diantar si abang ke tempat duduk lesehan Diana dan Syahrial. tak lupa sepiring kerupuk dan sate hati ampela plus sate telur puyuh turut dihidangkan si abang bubur ayam.


"Mas, mau minum apa, biar aku pesenin," tanya Diana.

__ADS_1


"Air mineral saja An," jawab Syahrial.


"Oke..," Diana bergegas menuju salah satu penjaja minuman bersepeda yang berjejer di depan trotoar tempat Diana dan Syahrial duduk lesehan.


"Bang, air mineral satu dan juice jeruk hangat satu ya," pesan Diana disambut anggukan dan senyuman si abang.


Setelah kembali ketempat duduknya semula, Diana kemudian menunjukkan pesan WA yang baru saja diterimanya dari Guntur barusan. Syahrial mengernyitkan dahinya.


"Kamu jawab nggak WA nya ?" tanya Syahrial


"Nggak..nggak aku jawab," Diana menggeleng.


"Baguslah kalau begitu. Ya udah, tuch minumannya udah datang. Ayo..makan dulu. keburu dingin bubur ayamnya," Syahrial mengambil air mineral yang dibawa abang penjual minuman dan meneguknya pelan kemudian mulai menyantap bubur ayam miliknya yang masih hangat.


Diana juga tak mau ketinggalan menikmati semangkuk bubur ayam yang terlihat lezat dan begitu menggoda. Segelas juice jeruk hangat kesukaan Diana juga telah tersaji di depan Diana.


Tepat jam 10.00 Diana dan Syahrial memutuskan untuk balik ke asrama. Seperti biasa Syahrial selalu menggandeng tangan Diana selama dalam perjalanan pulang ke asrama.


Sesampainya didepan pintu asrama, Diana dan Syahrial tiba-tiba disambut Sri yang berjalan tergopoh-gopoh kearah mereka.


"Mas, Prita datang tuch. Dia ada di kamar mas," bisik Sri mengagetkan Syahrial.


Diana diam saja mendengar percakapan Sri dan Syahrial. Tak pelak ada desiran cemburu dan kecewa melanda hati Diana.


"Gih..temuin Prita, Diana serahkan saja ke aku mas," Sri memberi ide. Syahrial mengangguk dan menghampiri Diana.


"Aku temui Prita dulu . Kamu sama jeng Sri ya" ucap Syahrial hati-hati, khawatir menyakiti Diana.


Diana mengangguk tanpa ekspresi. "Ya udah..sana temui tunanganmu..!!" Diana mendorong tubuh Syahrial membelakangi dirinya.


Syahrial paham kalau Diana mungkin saja marah. Tapi Syahrial sendiri bingung, tumben Prita ke asrama. Padahal gadis itu selalu ogah kalau diajak Syahrial main ke asrama.


"Jangan marah cantik...aku nggak lama kok. Mungkin Prita cuma sekedar mampir aja," Syahrial mencubit ujung hidung bangir Diana dan mencoba menenangkan gadis itu.


Diana tidak bereaksi dan langsung menarik tangan Sri menjauhi Syahrial. Sri tersenyum dan mengikuti langkah Diana menuju kantin kampus. ,"Ayo mbak..kita nongki-nongki aja dulu di kantin. Aku malas balik ke asrama," ajak Diana.


Sri tertawa ngakak dan memberi isyarat kearah Syahrial untuk menemui Prita. Syahrial paham dan segera kembali ke asrama diikuti pandangan sinis Diana.

__ADS_1


Saat menuju asrama menemui Prita, Syahrial bertemu dengan teman-teman sekamarnya Zein dan Bagus. Kedua laki-laki itu baru saja turun dari asrama hendak ke kota mencari beberapa buku. Saat berpapasan dengan Syahrial, mereka memberitahukan kalau Prita menunggunya di kamar. Kebetulan Zein dan Bagus mau ke toko buku, jadinya Prita ditinggal sendiri dan dipersilahkan untuk menunggu Syahrial di kamar.


"Pot..itu, calon istrimu nunggu di kamar," Zein berucap sembari menepuk pundak Syahrial.


"Iya..thanks pot. Tadi Sri udah ngasi tau aku," timpal Syahrial.


Zein celingukan mencari seseorang. Syahrial paham dan memberitahu keberadaan Diana kepadanya. "Sepupumu lagi di kantin nemenin jeng Sri," ucap Syahrial tanpa ditanya.


"Ouh..oke..oke. Baguslah," ujar Zein lega.


Zein adalah sepupu dekat Diana. Walaupun Zein berteman baik bahkan sekamar dengan Syahrial, namun Zein tak pernah membahas hubungan Diana dan Syahrial. Bagi Zein, hubungan Diana dan Syahrial adalah urusan pribadi mereka.


"Aku keatas dulu Gus..Zein..," Syahrial pamit pergi.


"Oke pot," sahut Zein dan bagus berbarengan.


Syahrial mempercepat langkahnya menuju lantai dua asrama. Apapun tujuan Prita datang ke asrama pagi ini jelas akan mengacaukan rencana Diana dan dirinya terhadap Guntur.


Saat sampai di lantai dua asrama, mata Syahrial terhenti pada sosok Prita yang sedang duduk sendiri di depan kamarnya. Syahrial memperlambat langkahnya dan mencoba mengatur nafas.


"Dek...kapan datang?" tanya Syahrial begitu sampai di depan Prita.


"Sudah sejam yang lalu mas..maaf, nggak ngabarin," jawab Prita sambil berdiri menyambut Syahrial.


"Mas darimana..?" tanya Prita sambil bergeser dan memberi ruang untuk Syahrial duduk.


"Aku joging tadi..nyari bubur ayam di luar," jawab Syahrial.


"Sendiri..!?" selidik Prita.


"Nggak...tadi sama temen," jawab Syahrial enteng.


"Kenapa sich dek..?, kamu curiga aku jalan sama cewek lain..?" tanya Syahrial tepat menerka sikap Prita.


Prita Diam. Ada bening disudut netra gadis itu. "Mas nggak pulang hari ini. Tentu saja aku khawatir..!!," seru Prita mulai menangis.


Syahrial tertegung. Astagaaa, ada apa dengan Prita. Gadis yang kukenal tangguh koq jadi berbeda hari ini batin Syahrial risau sekaligus merasa bersalah.

__ADS_1


\=\=\=\=\=\=


__ADS_2