
Dua hari Mak, Windi dan Anggi nginap di Asrama. Semenjak pertengkaran Riana dan Guntur, Riana jadi lebih pendiam. Jarang menemani Mak ngobrol. Selain enggan karena tidak ingin menunjukkan wajah memarnya yang masih berbekas, Riana juga merasa tak ingin bertemu muka dengan suaminya, Guntur.
Keesokan harinya saat Guntur menerima perintah Dan Yon untuk menemaninya ke MABES di Jakarta, Guntur terpaksa tidak dapat menemani Mak hari itu di rumah.
Sesaat sebelum berangkat, Guntur sengaja menemui Riana yang masih ngambek.
"Ri', ..Aku titip Mak, Windi dan Anggi. Tolong jangan buat masalah saat aku nggak ada di rumah," pinta Guntur sambil memeluk Riana, mencoba berdamai dengan Istrinya yang hanya diam tak merespon ucapan Guntur.
"Maafkan perlakuan kasarku kemarin. Dan terima kasih kamu nggak ngomong ke Mak soal pertengkaran kita," kali ini Guntur mencium pucuk rambut Riana, mencoba meluluhkan hati Istrinya.
Riana mendongak dan mendapati tatapan mata Suaminya yang masih menatap dirinya, meminta respons Riana.
Dan tanpa bersuara, Riana menganggukkan kepalanya.
"Terima kasih sayang..," ucap Guntur, sekali lagi mencium pucuk rambut Riana.
Riana mengantar Guntur hingga pintu depan. Sebelum pergi, Guntur berpamitan kepada Maknya kemudian menitip Kiara dan Riana kepada Mak selama dia bertugas.
"Ya udah Gun. Nanti Mak pulang ke kampung setelah lu balik ke sini," ucap Mak.
Guntur mengangguk kemudian mencium tangan Mak dan bergegas pergi.
Saat Riana akan berbalik dan masuk ke kamarnya, tiba-tiba.."Riana, tunggu. Mak mau ngomong," Mak menahan langkah Riana.
Langkah Riana terhenti oleh panggilan Mak. Tanpa membalikkan tubuhnya, Riana menjawab panggilan Mak. "Ada apa Mak?" tanya Riana.
"Duduklah Ri'..Mak mau nanyak. Kemarin kamu bertengkar dengan Guntur?" tanya Mak sambil meneliti wajah Riana. ,"Guntur mukulin kamu Ri'?" tanya mak kaget saat sekilas melihat bekas memar diwajah Riana.
"I...Iya Mak," jawab Riana pelan sambil mengangkat wajahnya.
"Astagaaa..apa kalian sering seperti ini!?" tanya Mak lagi, tak bisa menyembunyikan keterkejutannya.
Riana mengangguk.
__ADS_1
"Mak nggak nyangka, Guntur bisa bersikap sekasar itu ke kamu Ri'. Maaf Riana, saat masih terikat pernikahan dengan Rini, Guntur tak pernah seperti ini," Mak memandang Riana dengan tatapan iba. Dan Riana tak suka itu. Apalagi Mak sempat menyebut nama Rini, istri pertama suaminya.
"Mak...Riana bukan Rini. Tolong Mak jangan membandingkan Riana dengan mantan istri Aa'. Seperti inilah sikap putra Mak ke Riana Setiap kali kami bertengkar dan dia marah, pasti Riana ditampar seperti ini," ucap Riana datar sambil memegangi pipinya yang masih memerah.
"Kenapa Guntur bisa melakukan hal sekasar itu?" tanya Mak tak mengerti. Setahu Mak, Guntur tak pernah main fisik dengan seorang perempuan. Apalagi perempuan itu adalah istrinya, anggota keluarganya.
Pasti ada alasan lain, kenapa Guntur bisa bersikap sekasar itu kepada istrinya, batin Mak. Matanya masih menatap Riana dengan pandangan tak mengerti.
Seingat Mak, selama pernikahan Guntur dan Rini, perempuan yang dipilih Mak untuk Guntur, tak pernah sekalipun Guntur menampar Rini, walaupun Guntur sama sekali tidak bisa menerima Rini menjadi istrinya.
Rini, sosok gadis desa yang penurut dan tidak neko-neko. Walau kehadirannya tak diinginkan Guntur, namun perempuan lugu itu selalu berusaha mencoba memenangkan hati Guntur.
Saat hati Guntur terlanjur terpaut ke Riana, gadis kota yang lebih moderen dan mandiri, Rinipun akhirnya harus ngalah ditalak Guntur.
Aah...apa ini yang membuat anakku akhirnya keukeuh mempertahankan Diana dan ingin menikahinya? Batin Mak risau.
"Maafkan anak Mak ya Ri'..," ucap Mak tulus.
Riana hanya mengangguk kemudian pamit ingin ke kamar. Mak mengangguk....
"Assalaamualaikum, Mak..kok Mak duduk sendiri aja. Yang lain mana..Riana mana?" tanya Guntur sembari memeriksa kamar dan ruang lainnya.
"Duduk Gun, Riana dan anak-anak sedang makan bakso di warung depan asrama," jawab Mak sambill menepuk kursi kosong di sampingnya, menyuruh Guntur untuk duduk.
"Kenapa Mak nggak ikut?" tanya Guntur.
"Mak sengaja nungguin lu. Ada yang mau Mak tanyain," jawab Mak sambil menatap putranya.
"Ada apa Mak?" tanya Guntur sambil menatap balik wajah Mak penuh tanda tanya.
"Kemarin lu bertengkar dengan Riana ya?" tanya Mak dengan tatapan meminta jawaban Guntur.
Guntur menghela nafas panjang. jadi Mak sudah tau soal pertengkaranku dengan Riana?. Apa Mak juga tau kalau kemaren aku sempat nampar Riana? Batin Guntur gusar.
__ADS_1
"Mak tau Gun, lu bertengkar dengan Riana dan nampar dia," ucap Mak menjawab suara batin Guntur. "Kenapa lu lakukan itu Gun. Mak dan Bapak nggak pernah ngajarin lu untuk berbuat kasar kepada seorang perempuan, seberat apapun kesalahan yang dibuat perempuan itu,"ucap Mak panjang lebar menyesali sikap putra kebanggannya itu.
Guntur menundukkan wajahnya.
Guntur duduk disamping Mak. "Mak nggak tau Riana itu seperti apa orangnya. Dia bukanlah tipe perempuan yang akan diam saja saat kami bertengkar. Mungkin karena Riana adalah putri seorang petinggi daerah yang terbiasa dimanja sehingga Riana bersikap begitu,"
"Tapi bukan begitu cara mendidik istrimu. Riana itu pilihanmu sendiri. Mak heran, kenapa ke Riana kamu justru bersikap berlebihan seperti itu,"
"Gun nggak suka dibantah Mak. Saat Gun bicara, Gun pengen Riana tidak membantah ucapan Gun. Tapi Riana nggak pernah ngerti. Dia selalu berlebihan saat menjawab Gun. Riana tau kalau saat dia membantah Gun akan memicu kemarahan Gun. Tapi tetap saja dia seperti itu Mak,"
"Pantas saja lu berani berbuat kasar kepada Istrimu Gun. Tapi itu bukanlah alasan bagi lu untuk nyakitin istrimu," Mak masih membela Riana.
"Sebenarnya bukan hanya itu Mak, pemicu utama sikap Gun kepada Riana. Gun nggak suka Mak diabaikan Riana. Gun nggak suka.Riana tidak menghormati Mak juga keluarga besar kita. Mentang-mentang dia anak pejabat dan Gun anak petani biasa, lalu Riana bisa berbuat semau gue,"
"Tapi sekali lagi, Riana itu pilihan hati lu Gun. Harusnya lu lebih bisa mengenali istri lu dan lebih paham sifatnya sejak awal pernikahan kalian," ujar Mak tak mengerti.
"Itulah kesalahan Gun Mak, tidak mengenal Riana lebih dalam sebelum memutuskan untuk menikahinya. Gun terlalu mengikuti hawa nafsu Gun hanya karena ingin terlepas dari Rini,"
"Sudahlah Gun, nasi sudah menjadi bubur. Tugas lu sekarang sebagai seorang suami adalah mendidik istrimu dengan cara yang lebih baik. Tidak kasar apalagi main tangan," tegas Mak mengingatkan Guntur.
"Iya Mak..," jawab Guntur mengiyakan nasehat Mak.
"Lalu Gun, mak pengen nanyak..Apakah kelebihan yang dimiliki Diana sehingga kamu begitu mencintai gadis itu?" tanya Mak dengan suara pelan dan hati-hati.
"Haaaahh...Diana gadis yang sangat berbeda Mak. Saat berada disisinya, Guntur bisa lupa waktu. Berbeda dengan Riana, Diana adalah gadis yang penurut dan lebih memilih diam dan ngalah saat kami bertengkar," Guntur menerawang. Bayangan Diana tiba-tiba hadir dipelupuk mata Guntur membuat laki-laki itu meradang.
"Apa itu juga alasan lu ingin menikahinya?" tanya Mak lagi disambut anggukan kepala Guntur.
"Iya Mak..tapi bukan itu saja alasan Gun ingin menikahi Diana. Banyaaak sekali alasan Gun untuk menikahinya Mak..banyak sekali," ucap Gun dengan pandangan menerawang.
Mak menghela napas panjang mendengar pengakuan Guntur.
Tanpa sepengetahuan kedua orang itu, ada seseorang yang menguping pembicaraan mereka diluar rumah dengan wajah tegang...
__ADS_1
\=\=\=\=\=