TENTARAKU SUAMIKU

TENTARAKU SUAMIKU
Episode 67. POV Guntur


__ADS_3

Setelah tiba di rumah Emak dan Bapak, Aku dan Diana memutuskan untuk nginap selama beberapa hari. Diana tidur sekamar dengan Anggi adikku dan aku sendiri tidur di ruang tamu.


Saat malam tiba, masih banyak tamu-tamu yang datang ke rumah Bapak terutama tetangga dan kerabat dekat. Anggi, Ria, Diana dan Mak sibuk melayani tamu yang datang hingga jam 10 malam.


Mak terlihat kecapean, seharian tak henti meladeni tamu yang datang. Setelah makan malam dan minum obat, Mak memutuskan untuk tidur duluan. Ria yang biasanya menemani Anggi tidur, malam itu memutuskan untuk pulang ke rumah Orangtuanya. Sementara Bapak dan Aku ngobrol di teras rumah sambil memainkan gitar tua kesayangan Bapakku.


"Gun, Diana sudah bersuami?" tanya Bapak membuka pembicaraan kami. Sejak awal saat kukumpulkan keberanian untuk mengajak Diana ke rumah Orangtuaku, Aku sudah mempersiapkan jawaban untuk segala pertanyaan yang mungkin bakal diarahkan kepadaku, dan dugaanku tidak salah. Bapak penasaran dan memutuskan untuk bicara langsung denganku.


"Belum pak. Diana belum bersuami," Jawabku jujur. Bapak memandangi wajahku dengan tatapan yang sulit kuduga artinya.


"Bapakmu ini laki-laki nak. Dan Bapak sangat paham, gimana sebenarnya hubunganmu dengan gadis itu,"


Aku mencerna arah pembicaraan Bapak dan berusaha memahami maksud Bapak, walaupun sesungguhnya jujur... Aku tau kemana arah ucapan Bapak barusan.


"Kamu serius dengannya nak?" tanya Bapak tanpa basa-basi.


Aku mengangguk dan kembali menunduk, seolah menghitung jumlah senar gitar yang ada di genggamanku.


"Kamu sudah melakukan hal itu dengannya?" tanya Bapak lagi. Aku terkejut dan spontan mendongak.


"Maksud Bapak?"


"Kamu tau maksud Bapakmu ini nak," Bapak kembali menegaskan pertanyaannya membuat Guntur salah tingkah. Guntur mengangguk membuat Bapak menarik nafasnya berat.


"Lantas, gimana dengan Riana dan Kiara!?"


"Diana tau pak, Gun sudah beristri dan memiliki Kiara. Awalnya Gun hanya sekedar main-main dengan dia, nggak serius. Tapi lambat laun gadis itu berhasil membuat Gun jatuh cinta Pak. Gun bingung, mau melepasnya atau tidak. tapi hati Gun nggak rela untuk melepasnya, walaupun artinya Gun mempertaruhkan kelangsungan rumah tangga Gun dengan Riana,".


"Sebagai laki-laki, Kamu harus tegas Nak. Harus berani mengambil sikap. Kasian Diana..dia gadis yang baik. Tak pantas kamu perlakukan dia seperti itu. Demikian juga dengan Riana Nak. Kamu nggak mungkin ninggalin dia. Apalagi kalian sudah memiliki Kiara," petuah Bapak panjang lebar.


Aku mainkan beberapa buah melodi di gitar Bapak saat kami sama-sama terdiam.

__ADS_1


"Lalu Gun harus bagaimana pak?" tanyaku akhirnya. Aku benar-benar ingin tau apa pendapat Bapak tentang hubunganku dengan Diana.


"Putuskan Diana Nak dan kembali pada Istri dan Anakmu!!" Tegas Bapak.


"Tapi Pak, gimana dengan perlakuanku terhadap Diana Pak. Aku nggak mungkin melepas tanggung jawabku padanya," Aku menolak permintaan Bapak.


"Kalau begitu, nikahi Diana. jadikan Diana Istri keduamu agar kalian terhindar dari perbuatan dosa," Bapak memberi ide yang sudah kuperkirakan.


"Nikahi Diana dengan catatan dia tidak boleh mengganggu hubunganmu dengan Istri pertamamu, Riana. Kamu tidak bisa menceraikan Riana walaupun kamu sudah menikahi Diana, sebab secara kedinasan, Riana sah tercatat sebagai Istrimu di Angkatan. Akan sulit bagimu untuk menceraikannya," Bapak meberiku pilihan yang tidak kuduga sama sekali.


Aku tertegung.


Apakah Diana mau kujadikan Istri keduaku!? tanyaku dalam hati. Terus terang, usulan Bapak sudah menjadi rencanaku dengan Diana saat kami berdua kebablasan kemarin. Dan begitu mendapatkan dukungan Bapak, atau tepatnya wejangan Bapak, Aku memutuskan untuk melanjutkan niatku menikahi Diana. Tentu saja tanpa sepengetahuan Riana Istriku.


Malam itu setelah pembicaraanku dengan Bapak, aku nggak bisa tidur semalaman memikirkan perkataan Bapak dan rencana apa yang harus kulakukan selanjutnya. Tiba-tiba Aku teringat hpku yang sejak sore tadi aku isi dayanya.


Saking sibuk melayani tamu yang datang, Aku sampai lupa ngabarin Riana kalau aku sudah tiba di kampung, dan tentu saja tanpa keterangan tambahan "bersama Diana" .


Segera kuambil hpku yang sejak sore tadi aku isi dayanya diatas lemari ruang tamu. Dan begitu aku menekan tombol ON, sederet panggilan tak terjawab dan pesan WA Riana memenuhi layar hpku.


Tanpa menunggu lama, Segera kutelepon Istriku. Riana langsung menjawab Panggilan teleponku


"Aku sudah tiba di rumah sejak siang tadi Ri'. Maaf, hpku low batrenya 🙏,"


Lama aku menunggu suara Riana. Bisa kutebak, Istriku sedang marah besar atau dia saat ini sedang berada dikamar perawatan Mertuaku.


"Kamu kesana dengan siapa A'.? jawab dengan jujur !!" tanya Riana langsung.


"Aku sendiri," Aku mencoba berbohong.


"BOHONG...Aa' bohong. Aku tau Aa' membawa seorang perempuan ke rumah Bapak!"

__ADS_1


"Kamu tau darimana, jangan asal nebak," Aku berusaha menyembunyikan kebohonganku barusan. Bisa gawat kalau sampai Riana tau Aku membawa Diana bersamaku.


"POKOKNYA AKU TAUUUU...!!!" suara Riana meninggi. Selanjutnya terdengar suara tangisan tertahan Istriku.


Jujur, dalam lubuk hatiku yang paling dalam, aku merasa sangat bersalah terhadap Riana. Namun aku tidak bisa membohongi perasaanku sendiri terhadap Diana. Aku mencintai gadis itu dan bertekad ingin menikahinya.


Aku menunggu dengan sabar hingga Riana berhenti menangis. Terdengar sisa isakan Riana.


"Ri, Aku kesini cuman sendiri. Kamu harus percaya pada Suamimu sendiri,"


Riana belum merespon pengakuanku. Sekali lagi aku harus berbohong agar Riana tidak mengetahui hubunganku dengan Diana dan keberadaan Diana saat ini yang sedang bersamaku di rumah Orangtuaku.


"Kamu bohong A'. Kamu nggak sayang aku dan Kiara," suara Riana melemah. Tangisnya masih terdengar satu-satu.


"Aku sayang kalian berdua Ri'!!. Makanya, percaya padaku. Nggak ada perempuan lain selain kamu dan anak kita," Aku kembali berbohong untuk untuk yang kesekian kalinya untuk menenangkan Istriku Riana.


"Tapi A' Ada yang bilang ke aku kalau kamu datang dengan seorang perempuan. Dan aku percaya informasi ini. Nggak mungkin salah!".


"Kenapa Kamu lebih percaya kepada orang lain ketimbang kepada Suamimu sendiri !?" nada suaraku sengaja kutinggikan. Riana terdiam.


"Makanya Ri, kalau aku ajak ke rumah Orangtuaku, Kamu ikut. Jangan nolak. Biar kamu nggak mikir yang macam-macam tentang Suamimu sendiri!!"


"Kalau begitu, malam ini juga Aku dan Kiara akan nyusul Aa' kesitu!" Riana memutuskan sesuatu yang tidak kuduga-duga. Aku terkejut.


"KAMU GILA RI' ini sudah malam, Nggak baik membawa Kiara malam-malam begini. SUDAH...!!!, besok aja, aku kesitu jemput kamu dan Kiara," tegasku dengan nada marah. Padahal secara tidak langsung, Aku sedang menghindari pertemuan Riana Istriku dan Diana kekasihku.


"Ya udah..besok aja. Tapi Awas !!! kalau Aa' tidak datang besok untuk menjemput kami, Aku akan nekat membawa Kiara malam-malam kesitu," ketus Riana tak perduli.


"KERAS KEPALA...!!" jawabku mulai jengkel. Tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa. Akhirnya kuiyakan permintaan Istriku.


\=\=\=\=\=\=

__ADS_1


__ADS_2