
Akibat salah minum obat membuat Diana ketiduran hingga pagi.
Hangatnya sinar mentari menyentuh kulit Diana melalui celah gorden yg agak terbuka.
Diana menggeliat..
Perempuan itu menguap dan merenggangkan otot-otot tubuhnya.
Sudah pagi....guman Diana, masih berbaring di tempat tidurnya.
Tok..tok..tok..
Tiba-tiba terdengar ketukan di pintu kamar. Bergegas Diana bangun, memperbaiki bajunya dan mendekati pintu.
"Siapaaa.." tanya Diana sebelum membuka pintu.
"Saya bu..Sardi dan ibu Tina," jawab seorang laki-laki yang ternyata adalah pak Sardi dan ibu Tina.
"Ooh...iya..iya. Sebentar ya pak," seru Diana kemudian bergegas merapikan kamar sekenanya.
Diana membuka pintu kamar dan mempersilahkan Pak Sardi dan ibu Tina untuk masuk.
"Ayo pak, bu..silahkan masuk. Maaf, kamarnya berantakan,"
"Nyanda apa-apa Bu. Ibu siap-siap saja. Kita tunggu ibu dibawah," jawab ibu Tina
"Ooh..iya..iya..sekalian kita sarapan dulu ya pak..bu. Saya belum sarapan juga nich ," ajak Diana yang disambut anggukan pak Sardi dan bu Tina.
Keduanyapun pamit ke ruang makan. Sementara Diana bersiap-siap mandi dan berpakaian.
Setelan kemeja putih dan Blazer abu-abu dipadu high heels dan jilbab putih yang menutupi rambut indah Diana membuat perempuan itu tampil cantik dan elegan.
Sapuan make up tipis alami di kulit eksotik Diana menyempurnakan penampilan Diana pagi itu.
Setelah mematut diri di depan cermin beberapa saat dan yakin pernampilan pertamanya kali ini telah sempurna, Dianapun menyambar bucket bag abu-abu yang diletakkannya diatas meja.
Tanpa memeriksa isi tasnya, Diana buru-buru meninggalkan kamar menuju ruang makan yang terletak di lantai satu hotel.
Diana lupa, ponselnya tidak terbawa olehnya.
Sementara itu, Guntur yang semalaman menunggu telepon dari Diana marah besar dan menggerutu. Raut wajahnya terlihat memerah. Rahang kokoh laki-laki itu terlihat menegang.
Riana memperhatikan semua itu dengan perasaan puas. Seulas senyuman tersungging di bibir perempuan itu.
"BRENGSEK...dia sama skali nggak menghargai aku suaminya.!!!" geram suara Guntur.
Berulang kali Guntur mencoba menghubungi ponsel Diana tapi percuma, Diana tidak bisa dihubunginya.
"Hoaamm..." Lirih suara Riana mengejutkan Guntur.
Laki-laki itu bergegas mematikan ponselnya dan serta merta berbalik memandang Riana yang sudah terbangun.
" A'..?" panggil Riana begitu melihat suaminya yang hanya diam sembari memandangi dirinya.
__ADS_1
"Aa' nggak tidur?" tanya Riana, pura-pura tidak tau jika semalaman Guntur tidak tidur sama sekali.
"Nggak kok. Aku tidur dan bangun sebelum kamu terbangun Ri," jawab Guntur sembari mendekati Riana.
"Ooh..syukurlah," ujar Riana masih di tempat tidurnya.
"Kamu kenapa..kok kusut banget A'. Ada masalah !?" tanya Riana melihat rona diwajah suaminya.
"Nggak..nggak ada masalah apa-apa kok. Hanya sedikit sakit kepala aja...," elak Guntur. "Kita keluar yuk..hari ini kita sarapan diluar aja," ajak Guntur mengalihkan perhatian Riana istrinya.
Riana mengangguk..
Awal yang bagus...batin Riana senang.
"Sarapan dimana kita A'..?" tanya Riana
"Di taman aja, tempat favorite kita," jawab Guntur.
Riana mengangguk setuju. "Aku mandi dulu," ucap Riana disambut anggukan Guntur.
Bagi Riana perubahan sikap suaminya barusan adalah hadiah terindah untuknya pagi ini.
Bergegas Riana bangun dan menuju kamar mandi. Sementara Guntur memutuskan untuk menunggu Riana di depan rumah sambil mengeluarkan moge kesayangannya dari garasi.
Setelah mandi dan berpakaian, Riana kemudian menyusul Guntur. Raut wajah perempuan itu terlihat ceria.
"Ayo A'. Aku sudah siap," ujar Riana dengan senyum merekah.
Mengenakan jeans biru muda ketat dipadu T-shirt putih, Riana terlihat seksi. Rambut Riana yang panjang sebahu dibiarkan tergerai.
"Kamu cantik Ri'!," seru Guntur jujur.
"Trimakasih..," jawab Riana tersipu.
Kejutan kedua pagi ini...batin Riana bersorak. Riana hampir lupa, kapan terakhir kali suaminya memuji dirinya..
Hati Riana berbunga-bunga.
"Ayo..kita jalan. Keburu siang A'. Aku sudah lapar banget," ucap Riana memecah kekakuan yang tiba-tiba hadir diantara mereka.
Guntur mengangguk dan menyalakan mesin mogenya.
"Ayo ..," ajak Guntur.
Riana mengangguk dan naik ke boncengan suaminya. Tanpa ragu Riana memeluk erat pinggang Guntur.
Merekapun berlalu menuju tempat yang akan mereka tuju. Taman kota...
Untuk sejenak Guntur melupakan amarahnya kepada Diana istri keduanya. Kali ini Guntur memutuskan untuk memberikan waktunya hanya untuk Riana.
Setelah Riana jatuh sakit kemarin, Guntur memutuskan untuk menitipkan Kiara, putri semata wayang mereka di rumah orang tua Riana. kakek dan neneknya Kiara.
Dengan begitu dirinya dan Riana bisa memiliki waktu luang untuk memperbaiki hubungan mereka.
__ADS_1
"A...," bisik Riana tiba-tiba ditelinga Guntur.
"Hmm...,"
"Trimakasih..,"
"Untuk apa..?"
"Untuk semua yang Aa' lakukan hari ini untukku," bisik Riana.
Sudut mata Riana mencoba melihat reaksi Guntur suaminya.
Laki-laki itu untuk sesaat merasakan sesuatu yang entah sudah berapa lama hilang dari hatinya.
Ya...perasaan yang dulu hanya untuk Riana namun saat ini telah terbagi untuk dua perempuan dalam hidupnya. Riana dan Diana.
Kembali Guntur teringat Diana.
Guntur menerawang..Diana... sedang apa dia sekarang !? batin Guntur bertanya pada dirinya sendiri.
"A'...!?" tiba-tiba Riana bersuara membuat Guntur terkejut dan tersadar dari lamunannya.
"I..iya Ri. Sama-sama... memang sudah menjadi kewajiban aku sebagai suamimu kan ?" jawab Guntur agak terbata-bata.
Laki-laki itu kemudian terdiam lagi. Pikirannya melayang.
"Aa' lagi mikirin apa..kenapa diam?" tanya Riana melihat perubahan sikap suaminya itu.
"Nggak apa-ap Ri'. Aku hanya lagi kangen anak kita aja," jawab Guntur berbohong, mencoba mengalihkan perhatian Riana.
"Oooh..,"
"Kita sudah sampai..ayo, kita kesana. Aku parkir dulu ya," ujar Guntur sambil menunjuk salah satu sudut taman yang sering mereka gunakan untuk bersantai.
Riana turun dari boncengan Guntur. Setelah memarkir mogenya, Guntur mendekati Riana dan menggenggam tangan istrinya itu.
Perlahan Guntur menarik tangan Riana menuju salah satu kursi taman yang masih kosong.
"Kamu tunggu disini. Aku pesan makanan dulu," ucap Guntur.
Riana mengangguk dan duduk di kursi taman yang menghadap ke arah jalanan tempat para pelaku UMKM menjajakan dagangannya.
Dengan begitu Riana bebas melihat kearah suaminya yang saat itu sedang memesan nasi goreng sea food kesukaan Riana.
Hari ini untuk kedua kalinya semenjak keluar dari RS, suaminya mengajak dirinya untuk makan di tempat itu.
Apapun alasan Guntur, Riana menganggap ini sebagai berkah yang patut disyukurinya.
Riana tersenyum sumringah saat melihat sosok yang dicintainya itu melangkah tegap kearahnya...begitu tampan dan mempesona.
Aku harus mengalahkan si pelakor itu...tekad Riana dalam hati. Beruntung perempuan itu sudah pergi jauh dari kota ini, dan semoga dia juga pergi jauh dari kehidupan Aa' dan aku...
\=\=\=\=\=\=\=
__ADS_1