
"CUKUP MAS...!!, jangan membuat segalanya makin hancur karena nafsu sesaat kita. Batasanmu cukup sampai disini saja," ujar Diana mengatur napasnya yang memburu.
"Apakah saat melakukan ini, mas ingat anak dan istri mas!?" desis Diana menyindir dan....
BLASH....Sontak selera Guntur hilang seketika, menguap entah kemana. Gerakan tangannya terhenti. Tubuhnya bergerak mundur dan membebaskan Diana dari cengkramannya. Tertegung, ditatapnya wajah Diana.
Maaf mas, kamu harus disentil seperti ini. Kalau tidak..kita tidak akan bisa menahan hasrat kita mas. Dan kita akan kebablasan, Diana membatin. Walau dirinya merindukan sentuhan kekasihnya, tapi bayangan tentang masa depannya yang tak pasti dengan Guntur membuat logika Diana sontak bereaksi.
"Pulanglah mas, sudah malam. besok aku janji kita akan bertemu..oke !?.
"Baiklah kalau itu maumu, tapi berjanjilah untuk tidak akan menghindariku,"
"Ya....aku janji, pulanglah,"
Guntur memalingkan tubuhnya dan melangkah gontai meninggalkan Diana yang masih berdiri termangu.
\=\=\=\=\=\=
Pagi harinya, Diana beraktifitas seperti biasa. Namun wajah gadis itu tidak seperti biasanya, terlihat lebih murung. Mata pandanya menunjukkan Diana kurang tidur semalam.
__ADS_1
"An, bos manggil kamu," bisik Imah dari balik pintu.
"Iya..iya, aku kesana," sahut Diana bergegas.
Sesampainya di depan ruangan pimpinan, perlahan Diana mengetuk pintu.
"Masuk bu Diana," terdengar suara dari dalam memanggil namanya. Diana masuk.
"Silahkan duduk bu,"
"Terima kasih pak," jawab Diana sembari duduk.
"Ada beberapa tahapan seleksi yang nanti bu Diana lewati. Jadi setelah lolos seleksi berkas ibu akan ke kantor wilayah dulu untuk mengikuti seleksi tahap akhir. Jika ibu lolos semua tahapan seleksi, Ibu Diana akan kuliah selama beberapa tahun dikota B. Kalau ibu mau, besok sore ibu berangkat ke Makassar untuk mengikuti seleksi tahap awal, gimana bu Diana, anda tertarik?" Tanya pimpinan.
"Saya mau pak," Diana langsung setuju.
Mungkin ini cara terbaik yang dikasi Allah untukku pergi selamanya dari kehidupan mas Guntur, batin Diana sesaat.
"Oke..ibu bisa ke bagian TU ya untuk mengurus keberangkatan ibu besok dan keperluan lainnya,"
__ADS_1
Diana mengangguk sambil mengucapkan terima kasih dan pamit keluar. Sesampainya gadis itu diluar ruangan, terlihat Imah masih menunggunya penasaran.
"Bos ngomong apa An?" tanya Imah sambil mengikuti langkah sahabatnya.
"Aku ditawarin ikut pendidikan di kota B," jawab Diana singkat tanpa menghentikan langkahnya.
Diana berbalik, menatap sahabatnya. "Besok sore aku berangkat ke Makassar untuk ikut seleksi ujian tertulis.Tolong jangan bilang apapun ke mas Gun ya...please !" Diana memohon.
Imah menghela napas panjang dan mengangguk paham. Gadis itu ingin sekali mengabari Guntur tentang ini, tapi disisi lain Imah tak bisa menolak permintaan Diana.
"Mungkin ini cara yang tepat untuk aku menghindari mas Gun...," Diana menerawang, sudut netranya mengembun. Ada perih terbersit dihati gadis itu.
"An..apa nggak sebaiknya mas Gun dikasi tau, nanti dia marah lho kalau nggak kamu kasi tau. ini penting juga buat dia An," sela Imah, mencoba merubah keputusan Diana untuk tidak mengabari Guntur.
"Nggak Imah...jangan dikasi tau!"
"Kalau aku keceplosan gimana?"
"Ya...jangan sampai keceplosan laaah..,!"
__ADS_1
Imah tertawa melihat Diana yang tiba-tiba panik. "Lagian masmu juga nggak bakal bisa mengubah keputusan kamu kan untuk pergi besok ?. Jadi saranku kasi tau aja An, Setidaknya masmu bisa menyiapkan mentalnya untuk kehilangan kamu,"