TENTARAKU SUAMIKU

TENTARAKU SUAMIKU
Episode 102. Dalam Bioskop...


__ADS_3

Diana mematut dirinya didepan cermin. Dengan polesan bedak tipis dan lipstik merah muda dibibirnya, Diana terlihat cantik. Saat itu Diana mengenakan setelan baju long dress berwarna krem dibalut jaket jeans biru muda. Pasmina berwarna senada menutupi kepala gadis itu.


Setelah merasa cukup, Diana kemudian menyambar tas kecil diatas meja belajarnya. Matanya melirik kearah ponselnya yang masih di cas diatas meja. Dengan ragu-ragu diangkatnya ponsel miliknya itu. Sebaiknya ponsel ini aku tinggal aja. Setelah kembali nanti barulah Mas Gun aku hubungi, putus Diana kemudian.


Diana meletakkan kembali ponselnya yang belum terisi penuh daya batrenya. Gadis itu melangkah keluar dan mengenakan kaos kaki dan sepatu sneaker krem kesayangannya.


Setelah mengunci pintu kamar, Diana buru-buru melangkah cepat menuruni tangga menuju lantai satu asrama. Cuaca terlihat cerah, namun hawa dingin kota Bd mulai menusuk pori-pori kulit Diana.


Saat tiba di lantai satu asrama, terlihat Syahrial sedang menunggunya di tangga pintu depan ditemani salah satu kawan seangkatannya.


Begitu melihat Diana, kawan Syahrial tersebut kemudian menyapa Diana dan pamit hendak ke cafe di dekat asrama tempat mereka tinggal.


Untuk sesaat Syahrial menatap Diana dengan tatapan kagum. Laki-laki itu terpesona menatap Diana.


"Kamu cantik An," puji Syahrial disertai senyuman diwajahnya.


"Gombal," balas Diana. Tentu saja dengan senyum malu-malu diwajah cantiknya.


Syahrial selalu suka menatap wajah malu-malu didepannya. Berbeda dengan gadis-gadis kebanyakan, Diana lebih suka tampil apa adanya. Kadang menonjolkan sisi feminimnya dan kadang tampil tomboy dengan wajah tanpa riasan sama sekali.


"Ayok akh Mas..bengong aja," ujar Diana mengejutkan Syahrial yang sedang menikmati pesona didepannya. Tanpa membuang waktu Syahrial menarik tangan diana, menyatukan jari jemari mereka dan membawa gadis itu menuju motornya yang sejak tadi sudah diparkir di depan asrama.


Diana mengikuti langkah Syahrial tanpa berusaha melepaskan genggaman tangan Syahrial. Ada hangat yang menjalari tubuhnya saat tangan Syahrial erat menggenggam jemarinya.


Diatas motor yang kemudian melaju perlahan membelah kota Bd yang semakin ramai, Syahrial masih tak melepaskan tangan Diana. Tangan kiri Syahrial memegang stir motor dan tangan kanannya memegang erat jemari Diana yang melingkar manis dipinggangnya.


Semoga besok, Diana mau ikut aku ke kota Cn. Aku bener-bener ingin melamar gadis ini untuk menjadi Istriku. batin Syahrial berharap.


Sementara Diana masih sibuk dengan pikirannya sendiri. Walaupun saat ini dirinya sedang bersama Syahrial dan diperlakukan bak seorang putri, tapi pikiran Diana justru sedang memikirkan Guntur.


Gadis itu tidak dapat membuang begitu saja bayangan Guntur dari hatinya. Bagaimana caranya aku melepaskan bayangan laki-laki itu dari benakku yaa Allah. Aku benar-benar bingung dengan perasaanku sendiri. Harusnya aku bisa memanfaatkan ketertarikan Syahrial kepadaku untuk melepaskan Mas Guntur. Tapi sungguh, aku benar-benar nggak bisa. Tolong, bantu aku yaa Allah, balikkan perasaanku untuk tidak lagi mencintai Mas Gun, Doa Diana dalam hatinya.


Sekuat tenaga Diana berusaha menikmati malamnya bersama Syahrial. Tiba-tiba saja Diana memeluk erat pinggang Syahrial membuat laki-laki itu terperangah.

__ADS_1


"Ada apa Ana?" tanya Syahrial sambil memelankan laju motornya.


"Oh..ng..nggak Mas, Maaf..aku..aku Hanya merasa sedikit kedinginan aja" jawab Diana gugup dan refleks hendak menarik tangannya dari pingang Syahrial namun urung karena Syahrial justru mengencangkan genggaman tangannya.


Syahrial memutuskan untuk menghentikan motornya ditepi salah satu taman kota. Beberapa pasangan muda-mudi terlihat ikut menikmati malam ini bersama pasangan masing-masing. Temaran lampu taman membuat suasana semakin terasa romantis.


"Duduk yuk..filmnya masih satu jam lagi," ajak Syahrial. Ditariknya Diana untuk duduk disalah satu kursi taman yang masih kosong.


"Aku tau ada yang kamu pikirkan An, jujur aja pada Mas..ada apa?" tanya Syahrial, kali ini sambil menatap lekat wajah Diana.


"Jangan pandangin aku seperti itu Mas," ucap Diana merasa risih.


"Hmm..tapi Mas suka mandangin kamu kayak begini,"


"Euum..aku hanya ngrasa risih aja Mas, dipandangin kayak begitu," ujar Diana sambil membalikkan wajahnya.


Syahrial tertawa kecil kemudian meraih dagu Diana dan memalingkang wajah Diana kearahnya. Perlahan Syahrial mendekatkan wajahnya lebih dekat kewajah Diana. Gadis itu tertegung. Bibirnya sedikit terbuka membuat Syahrial tak tahan untuk mengecupnya. dan....cup, satu kecupan kecil menyentuh bibir gadis itu.


Temaran lampu taman dan posisi tempat mereka duduk yang agak jauh berada di ujung taman membuat apa yang diperbuat Syahrial luput dari perhatian mereka.


"Nggak ada yang memperhatikan kita sayang. Mereka terlalu sibuk dengan pasangan masing-masing hingga ga ada waktu untuk melihat kearah kita," ucap Syahrial menjawab kekhawatiran Diana sambil sekali lagi melayangkan sebuah ciuman dipipi Diana.


"Maaass..!!," protes Diana sekali lagi.


"Maaf...Mas khilaf," ucap Syahrial sambil tertawa senang. Diana melotot kearahnya. Tapi Syahrial tak perduli. Sebuah cubitan mendarat di pinggang Syahrial membuat laki-laki itu tertawa geli.


"Sekali lagi mas lakukan itu, aku pulang!" rengek Diana.


"Eeeh..jangaaan . Kan kita belum nonton sayang. Maaf yah. Habis kamunya, bikin Mas gregetan," kelit Syahrial sambil berdiri dan menarik tangan Diana.


"Ayo..kita nonton. Filmnya udah mau diputar," ucap Syahrial sambil menunjuk ke arah bioskop yang berada diseberang jalan sana.


Diana manut dan ikut berdiri, kemudian berdua mereka menaiki motor Syahrial menuju parkiran. Sambil bergandengan tangan, Syahrial dan Diana menuju ruang bioskop.

__ADS_1


"Sebentar..Mas beli cemilan dulu," pamit Syahrial, kemudian berjalan menuju salah satu gerai yang menjual cemilan dan minuman dingin. Beberapa bungkus keripik singkong, brondong jagung, cokelat dan minuman dingin dibeli Syahrial.


Diana tersenyum senang.


"Ayo..," ajak Syahrial sambil menggandeng Diana menuju ruang bioskop.


Setelah menemukan tempat duduk mereka, kemudian Syahrial memberi jalan kepada Diana untuk duduk dibagian paling ujung deretan kursi bioskop yang mereka duduki.. Dengan begitu, tidak ada lagi pengunjung bioskop yang akan duduk disamping Diana selain Syahrial.


Selang beberapa detik kemudian, lampu ruang bioskop dimatikan dan filmpun diputar. Sebuah film barat romantis dengan latar belakang percintaan antara seorang gadis cantik kalangan atas dengan seorang pemuda tampan yang miskin.


Sambil menonton film, Diana mengambil sebatang coklat yang dibeli Syahrial tadi, membuka bungkusnya kemudian mulai menikmatinya sedikit demi sedikit. Sementara Syahrial memilih membuka salah satu minuman dingin yang dibelinya tadi.


"Mau...?" tanya Syahrial sambil menyodorkan sekaleng minuman dingin untuk Diana.


"Nanti aja mas. Masih ada ini nich..!" tolak Diana sambil menunjuk sebatang coklat ditangannya yang telah tersisa hanya sebagian saja.


Cerita filmnya mulai menampilkan adegan dewasa setengah vulgar membuat Diana jengah. Gadis itu memalingkan wajahnya dan berpura-pura mencari sesuatu dibawah kursinya.


Syahrial yang melihat hal itu tersenyum sembari matanya sesekali menatap ke layar dan Diana secara bergantian. Syahrial tau, Diana sedang mengalihkan perhatiannya dari layar bioskop karena malu kepadanya.


Cerita berlanjut dengan adegan yang menguras air mata. Si gadis dan sang pemuda dipisahkan secara paksa oleh keluarga si gadis kaya.


Namun kemudian keduanya bertemu kembali secara sembunyi-sembunyi dan pertemuan itu berlanjut dengan adegan ciuman penuh perasaan dan berdurasi lumayan lama oleh kedua pemeran utama film itu.


Untuk sesaat Diana sempat menikmati adegan itu, terbawa perasaan bahkan menitikkan air mata. Namun kemudian karena adegan ciuman yang cukup lama dan tanpa sensor membuat Diana kembali merasa jengah dan sontak memalingkan wajahnya kearah Syahrial.


Disaat yang sama, Syahrial juga melakukan hal yang sama. Karena jarak diantara mereka membuat keduanya saling bertatapan sangat dekat.


Diana tertegung dan bermaksud hendak memalingkan wajahnya, namun terlambat. Syahrial dengan cepat meraih wajah Diana, memegangi tengkuk gadis itu kemudian menyatukan bibirnya ke bibir Diana. Diana terpana. Sejurus kemudian Syahrial yang merasa tidak memperoleh penolakan Diana akhirnya mulai ******* bibir gadis itu dengan lembut dan dalam. Diana tertegung. Perasaannya bergejolak dan tanpa sadar membalas ciuman Syahrial.


Diiringi adegan yang sama dan soundtrack film yang melow, Syahrial dan Diana larut dalam ciuman panjang mereka.


\=\=\=\=\=\=\=\=

__ADS_1


__ADS_2