TENTARAKU SUAMIKU

TENTARAKU SUAMIKU
Episide 65. Memperkenalkan Diri


__ADS_3

Guntur, Emak, Bapak dan beberapa tetangga yang datang menempati kursi tamu sederhana di ruang tamu. Sementara yang lain duduk lesehan di tikar yang sengaja digelar tuan rumah. Anggi dan Ria masih sibuk membuat kopi di dapur.


"Mak..ini ada oleh-oleh dari kota T, tempat dinas Mas Gun. Ada sendal, kain tenun dll..ini ada juga buat Bapak dan Anggi," ucap Diana sambil menyodorkan oleh-oleh yang dibawanya.


"Waahh..terima kasih ya nak. Emak senaang banget," berbinar mata Emak menerima oleh-oleh yang dibawa Diana dan putra kesayangannya. Kain tenun khas, sendal cantik, baju kebaya moderen dengan bahan kain tenun dan beberapa buah jilbab dan gamis yang khusus dibeli Diana untuk Emak.


"Oh iya..ini ada jeruk dan klengkeng Mak," Guntur menambahkan sembari mengambil dua tas kresek penuh jeruk dan klengkeng yang dibawanya.


"ANGGIIII..TOLONG BAWA PIRING 6 BUAH KESINI..!" teriak Emak.


"IYAAA MAAK.," terdengar suara Anggi dari dapur. Tak lama berselang Anggi dan Ria keluar membawa nampang berisi beberapa gelas kopi hitam dan dua gelas teh hangat. Tak lupa 6 buah piring yang diminta Emak juga dibawa Anggi.


"Nggi..Ria..coba ke rumah teh Jani. Beli gorengan dan roti beberapa buah. Ini duitnya..ingaat, jangan pakai lama," ucap Emak sambil merogoh sakunya hendak mengambil uang.


"Ini aja mak..kembaliannya untuk kalian berdua," Guntur mendahului dan menyerahkan uang lembaran 100 ribu kepada Anggi. Kedua bocah itu tertawa kegirangan.


"Makasih bang..asyiiikk..bisa ngebakso nich ntar siang...he..he.he..," celoteh Anggi sambil menarik tangan Ria keluar. Guntur dan yang lain hanya tertawa melihat tingkah Anggi yang periang.


Sepeninggal Anggi dan Ria, Diana mengambil 4 buah piring dan meletakkan buah jeruk dan klengkeng diatas piring. Sisa buah yang masih ada sesuai instruksi Guntur diletakkan Diana diatas lemari hias besar di ruang tamu.


Setelah meletakkan 2 piring buah diatas meja dan 2 piring lagi di tikar lesehan, Diana kembali duduk ditempatnya semula.


"Ayook..diminum nak Diana. mumpung masih hangat tehnya," tawar Bapak sambil mempersilahkan yang lainnya juga.


"Iya pak..terima kasih," Diana mengambil segelas teh hangat didepannya dan meminumnya.


"Ini keluarga angkat Gun waktu dines di kota "T". Namanya Diana. Dia sekarang lagi kuliah di kota "Bd"...," Bapak memperkenalkan Diana kepada tetangga yang ikut hadir di ruangan itu.


"Ooooo...," terdengar sahutan serentak dari mulut mereka.


"Istrimu mana Gun..?" tanya salah seorang ibu sambil melirik ke arah Diana.

__ADS_1


"Ohh...Istri dan anakku lagi di rumah orang tuanya. Bapak mertuaku sakit, jadi mereka ga bisa ikut kesini," Guntur memberi alasan.


Si ibu hanya manggut-manggut. Sesekali sudut matanya melirik aneh kearah Diana. Yang dilirik pura-pura nggak tau.


Diana maklum jika ada sebagian orang diruangan itu yang tidak menyukai dirinya termasuk Ria sepupu Guntur yang nyata-nyata memperlihatkan rasa ketidak sukanya pada Diana. Namun Diana berusaha mamahami situasinya saat ini dan memilih mengikuti arus seperti yang dipesan Guntur saat mereka menuju rumah Emak dan Bapak tadi.


Tak lama berselang Anggi dan Ria datang membawa setas kresek besar penuh gorengan aneka rupa dan beberapa buah roti. Setelah mengisi piring-piring yang kosong dengan gorengan yang dibawa mereka, Anggi dan Ria kemudian duduk disamping Emak dan Diana.


Diana mengambil beberapa buah jeruk dan mengupasnya kemudian diserahkan kepada Emak. "Ini Mak, jeruknya," Diana meletakkan buah jeruk yang sudah dikupas ke tangan Emak.


"Makasih nak Diana...hmmm, jeruknya manis..," ucap Emak sambil mengunyah beberapa potong jeruk manis yang diberikan Diana. Sekilas kemudian ada raut sedih diwajah Emak.


"Riana nggak pernah seperti ini ke Emak neng..kamu baik orangnya. Sayang...Gun sudah punya istri dan anak," terdengar nada sesal di suara Emak.


"Sudahlah Mak...udah takdir Gun beristrikan Riana. Nggak perlu disesali yang sudah-sudah. Ingat penyakitmu Mak..!" sergah Bapak sambil mengusap sayang punggung Istrinya.


"Oh iya..Anggi, Ria...itu ada klengkeng di tas diatas lemari..untuk kalian berdua," Guntur mencoba merubah suasana yang mulai menyentuh area pribadinya.


"Sana..bagi separuh buat ponakan. Jangan lupa singgah di rumah Abang dan Tetehmu. Bilang..ada tamu jauh baru datang," Bapak menambahkan.


"Asyiiikkkk..Teteh tau aja Anggi suka makan klengkeng" Anggi berlari kecil kearah lemari dan mengambil setas penuh buah klengkeng yang terlihat menggiurkan.


"Jangan lupa...bagi tetehmu. Jangan dimakan sendiri," timpal Guntur disambut cibiran dibibir mungil Anggi. Guntur dan yang lainnya tertawa melihat tingkah Anggi yang polos dan lucu.


Hening sesaat setelah kepergian Anggi dan Ria. Emak masih asyik dengan buah jeruk yang dikupas Diana. Bapak mengelus kumisnya dan membuat gerakan seolah sedang mempelintir salah satu ujung kumisnya yang lumayan tebal, tetamu yang lain menikmati sajian tuan rumah dan Guntur mencoba mencari topik yang enak untuk dibicarakan.


Tiba-tiba terdengar ucapan salam di depan pintu masuk. Seorang lelaki dan perempuan paruh baya masuk dan langsung mendekati Guntur. Dari gestur wajahnya bisa dipastikan mereka adalah kakak-kakaknya Guntur.


Melihat kehadiran kedua kakaknya, spontan Guntur berdiri dan menyambut mereka demgan wajah sumringah.


"Kapan datang Gun...?" tanya si laki-laki sembari memeluk Guntur.

__ADS_1


"Baru aja Bang. Bang Yudi apa kabar ?? tanya Guntur sambil balas memeluk Abangnya.


"Alhamdulillah kami semua sehat," jawab laki-laki yang bernama Yudi itu."Istri dan anakmu nggak ikut?" tanya Yudi sambil clingak clinguk mencari sosok Riana dan Kiara diantara tamu yang ada diruangan itu.


"Mereka nggak ikut Bang. Mertuaku sakit jadi Istri dan anakku untuk sementara tinggal dulu di rumah mertuaku. Nanti setelah balik dari sini rencananya bakal Gun jemput balik ke asrama Bang," Guntur memberi alasan.


"Selalu begitu alasan Istrimu. Kapan dia mau ngalah dan nyempetin dirinya untuk nemuin kita, nengokin mertuanya yang lagi sakit...!? ucap Yudi sedikit bernada tak suka.


Guntur terlihat diam saja mendengar protes Kakaknya.


"Itu siapa Gun, ?"tanya Yudi ketika matanya menangkap sosok Diana yang terlihat akrab disamping emaknya.


"Ooh..itu Diana Bang, keluarga angkat Gun waktu berdinas di kota "T". Sekarang lagi kuliah di kota "Bd".."Guntur memperkenalkan Diana kepada kedua kakaknya sambil memeluk kakak perempuannya yang terlihat lembut dan keibuan.


"Apa kabar Adikku..Kamu makin gagah aja," senyum bahagia menghiasi wajah Lusi, kakak Guntur.


"Gun baik Teh..Teteh apa kabar?"


"Seperti yang kamu lihat..Kita semua sehat-sehat aja. Syukurlah kamu sudah pulang. Cuman emak yang sering sakit-sakitan karena mikirin kamu dek, kangen katanya," Lusi memberitahukan kondisi emaknya.


"Hai..saya Lusi, Kakaknya Guntur. Yang itu Abangnya Guntur. Yudi namanya," Lusi memperkenalkan dirinya dan Yudi sambil menjabat tangan Diana diikuti Yudi.


Diana tersenyum dan menyambut uluran tangan Lusi, kemudian keduanya cipika cipiki.


"Saya Diana Teh," Diana balas memperkenalkan dirinya dengan canggung.


"Ayo duduk. Nggak usah canggung. Anggap aja kami ini saudaramu..keluargamu..!"seru Lusi disambut anggukan kepala yang lain.


"Iya teh..terima kasih saya sudah diterima disini," ujar Diana. Kelembutan dan keakraban yang ditunjukkan Lusi membuat Diana merasa sangat lega.


Suasana pagi itu semakin riuh dengan kehadiran sanak famili Guntur yang sengaja datang untuk sekedar menyambut dan bertegur sapa dengan Guntur.

__ADS_1


Guntur dan Diana memutuskan untuk nginap selama beberapa hari dirumah Bapak dan Emak. Diana tidur bareng Anggi dan Guntur memilih tidur diruang tengah diatas gelaran kasur kapuk yang empuk dan hangat.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=


__ADS_2