TENTARAKU SUAMIKU

TENTARAKU SUAMIKU
Episode 130. Syahrial menikah...


__ADS_3

Riana turun dari mobil dan bergegas masuk ke rumahnya setelah membayar ongkos mobil online yang dia sewa. Sementara Kiara tidur digendong tante Deni yang menyambut mereka.


BRAAAK..!!!


Terdengar suara pintu kamar yang didobrak Riana. kemudian beberapa detik kemudian...


BRAAAK..!!!


Terdengar lagi bunyi pintu yang ditendang Riana.


Riana memeriksa seluruh ruangan didalam rumahnya dengan tak sabar. Lemari, kamar mandi, kolong tempat tidur bahkan gudang belakang tak luput dari pemeriksaan Riana.


Namun tak ditemukannya tanda-tanda kehadiran perempuan lain didalam rumah itu. Dengan sedikit jengkel dan kecewa Riana kemudian pergi keluar rumah dan menemui tante Deni yang masih menunggu di pintu depan.


"Tidak ada siapa-siapa tan. Kemungkinan perempuan pelakor itu telah pergi sebelum aku datang," ucap Riana berapi-api.


Tante Deni mengusap lembut lengan Riana, mencoba meredam gejolak amarah yang dirasakan Riana.


"Kendalikan dirimu Ri'. Ingat penyakit hypertensi yang kamu derita. Jangan sampai amarahmu membuat penyakitmu kambuh lagi," ujar tante Deni mengingatkan Riana.


Riana berusaha mengatur ritme nafasnya dan mencoba meredakan amarahnya. "Aku tidak boleh sakit...tidak boleh!!" seru Riana pada dirinya sendiri.


Tante Deni yang melihat Riana sudah mulai lebih tenang dan berhasil mengontrol emosinya bernafas lega.


"Ayo..bawa Kiara ke kamarnya Ri'. Aku kerumahku dulu sebentar. Nanti aku balik lagi," pamit tante Deni.


"Iya tan..baiklah..jangan lama-lama ya tan. Riana bener-bener butuh kehadiran dan bantuan tante saat ini," pinta Riana sebelum tante Deni pulang ke rumahnya.


"Iya...iya. Jangan khawatir Ri," sahut tante Deni kemudian pergi meninggalkan Riana yang masih termangu didepan rumahnya sambil menggendong Kiara.


Tak lama kemudian tante Deni kembali dengan membawa nampang berisi segelas teh hangat dan beberapa potong kue yang dibuatnya tadi pagi.


"Minumlah Ri' biar perasaanmu lebih tenang. Kiara kasi ke tante biar tante tidurin Kiara di kamarnya," ujar tante Deni sambil meletakkan nampang diatas meja tamu di rumah Riana dan mengambil alih Kiara yang masih tertidur di gendongan Riana.


Riana mengambil teh yang dibawa tante Deni kemudian meminumnya sedikit demi sedikit.


Hangat dan wangi teh buatan tante Deni berhasil membuat Riana merasa lebih rileks. Walaupun masih ada sisa amarah dihatinya, namun kini tak sebesar saat baru tiba tadi.


"Gimana Ri, udah merasa lebih baikan?" tanya tante Deni sekembalinya dari kamar Kiara.


"Sudah tan..Riana makasih banget, tante selalu ada saat Riana butuh. Andai tak ada tante tadi, Riana tak tau apa yang bakal terjadi dengan Riana. Mungkin Riana akan pingsan lagi seperti kemarin atau mungkin lebih parah lagi," ucap Riana tulus sambil memegang tangan tante Deni.

__ADS_1


"Iya Ri'. Kamu sudah tante anggap keluarga sendiri. Jadi jangan sungkan. Apapun yang bisa tante bantu pasti tante bantu," ujar tante Deni melegakan Riana.


Kedua perempuan itu kemudian terlibat pembicaraan serius hingga beberapa jam kemudian.


#


#


Sementara itu Diana yang telah tiba di kota Bd langsung menuju asrama di kampusnya dengan mengendarai ojek langganannya.


Diana membuka pintu kamarnya. Perasaan kesepian tiba-tiba menyelimuti hati Diana. Tak ada jeng Sri yang menemaninya di kamar itu. Kini tinggal dirinya sendiri yang menempati kamar itu.


Suasana asrama terlihat sepi. Hanya ada segelintir Mahasiswa yang memilih bertahan di asrama dan tidak pergi kemana-mana. Kebanyakan dari mereka berasal dari wilayah timur Indonesia seperti Papua, Maluku dan Sulawesi.


Jarak yang jauh dan biaya transportasi yang relatif mahal menjadi bahan pertimbangan para Mahasiswa yang masih bertahan untuk tidak pulang berlibur ke daerahnya masing-masing.


Diana meletakkan tas bawaanya kedalam lemari pakaian berukuran kecil miliknya dikamar itu. Sesekali Diana memandang ke sekeliling ruangan kamarnya.


Kedua teman seangkatan Diana yang sebelumnya juga menempati kamar itu telah pindah ke kamar lainnya di lantai yang sama.


Saat libur panjang seperti ini, rata-rata Mahasiswa yang berasal dari wilayah barat Indonesia lebih memilih mengunjungi keluarga mereka termasuk kedua teman seangkatan Diana yang memilih berlibur ke kota kelahiran masing-masing.


Diana beranjak dari tempat tidurnya kemudian membuat segelas minuman cokelat panas kesukaannya. Dibukanya pintu kamar lebar-lebar untuk memberi ruang bagi udara yang bersih dan segar untuk masuk memenuhi kamarnya.


Diana menghela napas panjang. Ada sebersit kerinduan dirasakan Diana untuk Syahrial, laki-laki yang sempat mengisi hatinya dan menemani hari-harinya di asrama maupun di kampus.


"Hmm..gimana kabar Mas Syahrial saat ini. Apakah dia sudah bertemu tunangannya?" guman Diana dalam hati.


Kabar terakhir yang didengar Diana dari management kampus kalau Syahrial akhirnya ditempatkan di kantor pusat. Itu artinya Syahrial tidak perlu memutuskan pertunangannya dengan Prita karena daerah tempat Syahrial bertugas sekarang letaknya tidak jauh dari kota kelahiran Prita dan Syahrial.


Diana tersenyum. Untunglah aku nggak ikut Mas Syahrial ke kota Cn. Andai kemarin aku memutuskan untuk ikut Mas Syahrial maka sudah pasti aku akan membuat Mas Syahrial kebingungan untuk menentukan pilihannya. A**ku juga mungkin akan kecewa karena Mas Syahrial akhirnya tidak bisa memilihku, batin Diana


Diana membuka ponselnya. Dicarinya nomor Syahrial. Ketemu...


Diana mencoba menghubungi Syahrial melalui telepon WA. Namun urung. Diana merasa tidak ada lagi yang perlu dibicarakan dengan Syahrial.


Akhirnya Diana membuang keinginannya untuk menelpon Syahrial dan mulai minum coklat panas buatannya.


Tiba-tiba....


Tuuut...tuuut...tuuut...

__ADS_1


Bunyi ponsel Diana. Kening Diana berkerut. Dipandanginya layar ponselnya. Telpon dari jeng Sri ?. Diana bergegas meletakkan minumannya kemudian menerima telepon Wa jeng Sri.


"Assalaamualaikum Mbak," sapa Diana terlebih dulu.


"Wa'alaikumsalaam..deek, apa kabar sayang. Kamu dimana sich, kmaren Mbak cari-cari di asrama nggak ketemu?" suara Sri terdengar ditelinga Diana membuat perempuan itu tertawa terkekeh-kekeh.


"Aku ke Bks Mbak. Ke rumah saudara. Mbak apa kabar. Aku di asrama nich Mbak..sepiiiii banget nggak ada Mbak," jawab Diana manja.


Ditahannya sesuatu yang membuncah didadanya. Sudut mata Diana mulai berair. Diana berusaha keras menahan perasaannya agar tidak menangis.


"Kemarin Mbak sengaja ke asrama mau ketemu kamu dek. Mau ngasi undangan pernikahan Mas Syahrial," jawab Sri hati-hati.


Diana tertegung. Mas Syahrial menikah....!? batin Diana kaget. Secepat ini ..!?


"Dek...!?" suara Sri mengagetkan Diana.


"Eeh..i..iya Mbak," jawab Diana gugup.


"Ada Apa..??" tanya Sri khawatir


"Nggak apa-apa Mbak. Nggak ada apa-apa," jawab Diana pelan.


"Kamu mau hadir nggak di pernikahan Masmu?" tanya Sri membuat Diana tercekat.


"Euum..gimana ya Mbak. Menurut Mbak Sri perlu nggak aku hadir?" tanya Diana ragu-ragu.


"Kalau menurut Mbak sich, kamu datang aja. Dek..kamu harus bisa nerima Masmu menikah dengan Prita. Jangan kebawa perasaan. Saat kamu memilih nggak ikut Mas Syahrial ke Cn, sesungguhnya itu isyarat yang Allah tunjukkan kalau kamu dan Syahrial emang nggak berjodoh," ucap Sri lembut.


"Aku senang Mbak..aku senang dan ikut bahagia kalau akhirnya mereka jadi menikah. Tapi Mbak, walaupun sesaat aku pernah begitu dekat dengan Mas Syahrial. Hubungan kami istimewa bagiku Mbak. Mungkin aku nggak bakal tahan saat melihat Mas Syahrial berdiri disamping perempuan pilihannya, dan akupun nggak mau seperti itu nantinya, terlihat rapuh didepan Mas Syahrial Mbak!!" seru Diana .


Air mata Diana meleleh. Perempuan itu akhirnya terisak. Sri yang mendengar itu memilih diam dan membiarkan Diana melepas beban perasaan dan emosinya.


Setelah beberapa saat akhirnya Diana berhasil mengendalikan dirinya.


"Titip salamku aja Mbak buat Mas Syahrial dan Prita, semoga pernikahan mereka bahagia dan langgeng. Sampaikan juga permintaan maafku karena aku nggak bisa ikut hadir disaat bahagia mereka," putus Diana akhirnya.


"Baiklah dek. Mbak juga nggak bisa maksa kamu untuk ikut hadir di pernikahan Mas Syahrial. Ya udah..kamu baik-baik ya disitu. Tapi ingat..kalau kamu berubah pikiran kabarin aja Mbak. Nanti Mbak jemput. Kita pergi bareng ke sana..oke!?"


"Iya Mbak..pasti. Wassalaamualaikum," ucap Diana.


"Wa'alaikumsalaam dek," jawab Sri sambil menutup teleponnya.

__ADS_1


\=\=\=\=\=\=\=\=


__ADS_2