
Hanya 2 hari, Mak, Anggi dan Windi nginap di rumah Guntur dan Riana. Keesokan harinya Mak memutuskan untuk pulang karena tak ingin meninggalkan Bapak sendirian terlalu lama. Begitu kata Mak ketika Guntur meminta Mak untuk tinggal beberapa hari lagi.
"Mak pamit Gun, ..Riana. Kalian baik-baik berumah tangga. Jangan keseringan bertengkar,"
"Mak, nginap lagi beberapa hari disini,"
"Nggak Gun..In syaa Allah, lain kali Mak pasti bakal kesini lagi,"
"Kalau begitu Mak tunggu sebentar. Biar Gun antar. Gun ngambil mobil dulu," ujar Guntur yang akhirnya memutuskan untuk mengantar Mak, Windi dan Anggi ke kampung.
"Aku dan Kiara ikut A'..!? tanya Riana begitu mendengar kalau suaminya akan mengantar keluarganya ke kampung.
"Nggak usah Ri. Paling Aa' langsung pulang. Nggak nginap. Kasian Mak kalau naik bis. Harus turun naik kendaraan beberapa kali untuk sampai di rumah," jawab Guntur membuat Riana terdiam.
"Ya udah," jawab Riana pelan.
Guntur kemudian keluar sebentar untuk meminjam mobil milik salah satu teman seletting Guntur. Setelah mengisi bensin dan memeriksa kesiapan mobil, kemudian Guntur menjemput Mak, Windi dan Anggi di rumahnya.
Riana tak mencurigai maksud Guntur sebenarnya. Guntur sengaja mengantar keluarganya ke kamoung sekaligus ingin membucarakan dengan Bapak soal rencananya menikahi Diana.
Akibat Diana tidak memberi kabar sama sekali saat bilang akan nonton bareng Syahrial, Guntur merasa tak bisa menunggu lebih lama lagi. Apalagi beberapa hari kedepan, Syahrial akan diwisuda dan berniat menikahi Diana juga.
Aku tidak bisa membiarkan Diana berhubungan lebih lama lagi dengan laki-laki itu. Mereka semakin hari semakin dekat saja. Ini tidak bisa dibiarkan. Aku harus bicara dengan Bapak agar mempercepat pernikahanku dengan Diana, batin Guntur.
"Gun...," Tegur Mak melihat putranya hanya diam saja selama perjalanan mereka.
"Iya Mak," sahut Guntur.
"Ada apa?" tanya Mak lagi..
"Apanya Mak?"
"Dari tadi Mak lihat lu diam saja sejak keluar dari rumah. Ada apa...ada yang lu pikirin?"
"Nggak ada apa-apa Mak,"
"Bener ?"
"Iya Mak, beneer. Nggak ada apa-apa,"
"Ya udah kalau begitu. Soalnya Mak tau bener, gimana lu Gun,"
"Hmm..," hanya itu jawaban Guntur. Laki-laki itu menghela napas panjang. Dia ingin berkata jujur kepada Mak, tapi ada Windi dan Anggi bersama mereka.
__ADS_1
Guntur tidak ingin apa yang direncanakannya didengar Anggi dan dan Windi. Dia khawatir, rencananya bakal diketahui Riana melalui Windi atau Anggi. Bisa saja kedua anak itu kelepasan dan ngomong terus terang ke Riana.
Tidak..sebaiknya nggak aku omongin didepan kedua anak ini. Biar nanti di rumah saja, putus Guntur kemudian sambil memasuki salah satu Rest Area untuk beristirahat sejenak.
Setelah beberapa jam melalui perjalanan yang cukup melelahkan, akhirnya mereka tiba dirumah disambut Bapak.
"Kalian sudah pulang Mak, kirain masih mau nginep lagi beberapa hari," Bapak membantu Mak turun dari mobil.
"Nggaklah Pak, mana mungkin Mak betah ninggalin Bapak sendiri lebih lama lagi," jawab Mak tersenyum malu.
Guntur, Anggi dan Windi yang melihat hal itu hanya tertawa.
"Cie..cieee..Maaak..so sweet dech," Anggi menggoda Maknya.
Mak tak memperdulikan candaan Anggi dan langsung masuk ke rumah diikuti Windi dan Anggi.
"Bikinin Mak teh dan kopi buat Abang dan Baba lu Nggi," ucap Mak sembari menyenderkan tubuhnya diatas bale bambu yang ada di depan rumah mereka. Semilir angin membuat Mak memejamkan matanya.
"Iya Mak," sahut Anggi sambil mengajak Windi ikut dengannya ke dapur.
Sementara itu diluar, ..
"Ada yang mau Gun bicarakan dengan Bapak, soal Diana,"
"Gun ingin segera menikahi Diana Pak," jawab Guntur blak-blakan membuat Bapak menghentikan langkah kakinya sejenak.
"Kenapa lu tiba-tiba ngomongin masalah ini. Apa terjadi sesuatu dengan Diana ?" tanya Bapak pelan sambil meneruskan langkah kakinya diikuti Guntur.
"Iya Pak. Hari Minggu besok ada yang mau ngelamar Diana," jawab Guntur yang membuat Bapak benar-benar menghentikan langkahnya dan duduk di kursi ruang tamu diikuti Guntur.
"Kita omongin nanti malam aja," jawab Bapak sambil mengarahkan pandangannya ke dapur. Terlihat Anggi dan Windi sedang menuju kearah mereka membawa tiga gelas minuman hangat.
"Gun nggak bisa nginap Pak. Harus segera pulang ke asrama,"
"Kalau begitu selesai makan siang aja,"
"Ya udah Pak, selesai makan siang aja," sahut Guntur setuju.
Setelah makan siang dan sholat Dhuhur, Bapak mengajak Mak dan Guntur untuk duduk bertiga di ruang tamu. Sementara Anggi disuruh main dirumah Windi.
"Ada apa ini Pak?" tanya Mak sambil melihat kearah suani dan putranya.
"Ini Mak, anak lu ingin menikahi Diana Minggu besok," jawab Bapak membuat Mak terkejut.
__ADS_1
"Apa..!?" seru Mak sambil mengalihkan pandangannya kearah Guntur.
"Iya Mak. Gun ingin melamar Diana,"
"Itu sebabnya saat istri Lu pengen ikut kesini tadi nggak lu ijinin?" tanya Mak memastikan dugaannya.
"Iya Mak," jawab Guntur membuat Mak menghela napas panjang dan menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Terus bagaimana dengan Riana?" tanya Mak lagi.
"Riana nggak perlu tau Mak. Gun dan Diana nikah siri aja dulu. Yang penting Gun syah menjadi suami Diana," jawab Guntur.
"Diana sendiri gimana, apa dia setuju?" tanya Mak lagi dengan nada penasaran.
"Diana mau Mak. Cuman masalahnya hari Minggu besok, Diana akan dilamar orang," jawab Guntur Membuat Mak tersentak.
"Kok bisa Gun?"
"Iya Mak,"
"Lah..bagus kalau begitu. Berarti lu nggak perlu khawatir lagi dan nggak perlu menikahi Diana. Kasian Diana dan Riana kalau lu tetep keukeuh menikahi Diana,"
"Gun nggak bisa Mak. Gun nggak bisa kehilangan Diana. Gun nggak rela Diana nikah dengan laki-laki lain,"
"Kenapa nggak bisa Gun. Lu harus bisa ngorbanin perasaan lu demi orang-orang yang lu cintai,"
"Tapi Mak. Diana..Diana sudah Gun gauli Mak. Dan Gun nggak mau jadi laki-laki yang nggak bertanggung jawab. Gun bukan tipe laki-laki seperti itu," tegas Guntur lagi.
"Lalu..kalau ada 100 gadis yang lu gauli, lu bakal nikahin semuanya !?" tanya Mak, kali ini dengan nada tinggi.
Guntur terdiam. Tidak ingin menjawab pertanyaan Mak kali ini.
"Itulah kesalahan terbesar lu Gun, menggali lubang untuk diri sendiri. Lu nggak mikirin apa akibatnya nanti," ujar Mak menyesali perbuatan putranya.
Bapak yang sejak tadi hanya diam mendengar perdebatan Istri dan putranya akhirnya angkat bicara.
"Bapak nggak bisa ngelarang lu untuk menikahi Diana kalau itu memang udah keputusan lu dan sudah lu pikirkan baik-baik resikonya bagi rumah tangga lu dengan Riana dan pekerjaan lu," jawab Bapak membuat Mak terbelalak.
"Pak..!" tegur Mak...
"Apa Mak nggak suka punya menantu Diana?" tanya Bapak membuat Mak terdiam.
Jujur, sejak pertama kali bertemu dan mengenal Diana, Mak sudah menyukai gadis itu.
__ADS_1
\=\=\=\=\=\=\=\=