
Huff....akhirnya. Diana menghela nafas lega. Pembicaraannya dengan Guntur, walaupun hasilnya menggantung tidak membuat Diana berkecil hati.
Biarlah mas Gun berpikir seperti itu. Kalau dibantah bisa nggak selesai-selesai urusanku dengannya, batin Diana sedikit lega.
Besok hari pertama Diana mengikuti kegiatan OSPEK atau pengenalan lingkungan kampus. Diana menempati kamar 301 asrama putri yang terletak di lantai 3. Sekamar dengannya, Hana gadis cantik dari Padang dan Saras mojang Priangan yang jelita. Oh iya, satu lagi mbak Sri, kakak tingkat Diana yang merupakan satu-satunya wanita di kelas management informatika.
Keesokan harinya Diana sedang mempersiapkan seragam kuliahnya ketika pintu kamar diketuk seseorang dari luar.
"Assalaamualaikum, Sri..mbak Sri ?" terdengar suara seorang laki-laki memanggil nama mbak Sri.
Di kamar hanya ada Diana. Bergegas Diana berdiri dan melangkah menuju pintu.
"Waalaikumsalaam," jawab Diana sambil membuka sedikit pintu kamarnya.
Gadis itu melongok keluar.
Terlihat seorang laki-laki berdiri dihadapan Diana sambil berkacak pinggang. Tubuhnya tak terlalu kurus, tapi juga tidak gemuk. Postur tubuhnya tinggi, berkulit putih bersih dan memiliki sepasang rahang yang terlihat kokoh dan menonjol.
"Hai...," laki-laki itu menyapa Diana, ramah.
__ADS_1
Diana tersenyum. Dilihat dari seragam yang dipakainya, jelas kalau laki-laki itu adalah kakak tingkat Diana, teman sekelasnya mbak Sri.
"Mbak Srinya nggak ada kak," jawab Diana singkat.
"Ouuhh..ya udah. ntar kalau dia datang, suruh ke kamar saya di lantai 2 ya," ujar laki-laki itu sambil berbalik hendak pergi.
"Iya kak. Nanti pesannya saya sampaikan ke mbak Sri. tapi, dengan kakak siapa ..?" tanya Diana sedikit gugup.
"Riil..namaku Syahrial. Namamu Diana kan ?" tebaknya tepat.
"Iya," Diana mengangguk.
Mata Diana masih mengikuti sosok Syahrial sampai laki-laki itu menghilang dari pandangan matanya. Sekilas terlihat menuruni tangga menuju lantai 2 asrama. Diana mengerutkan keningnya, mencoba mencari lagi, tapi tak ditemuinya sosok yang dicarinya. Akhirnya Diana memutuskan untuk masuk kembali ke kamarnya.
Tanpa disadari Diana, sepasang mata elang Syahrial tengah mengawasinya dari lantai 2 asrama. Senyum tipisnya mengembang. Dengan santai melangkah menuju kamarnya setelah melihat Diana tidak lagi berdiri diluar kamarnya.
Tak berselang lama, terdengar pintu kamar Diana dibuka seseorang dari luar. Sontak Diana menoleh dan mendapati Sri tengah berdiri didepan pintu sambil tersenyum ke arahnya.
"Assalaamualaikum dek,"
__ADS_1
"Wa'alaikumsalaam..eeh, kak Sri," sahut Diana sembari berdiri.
"Kak Sri, tadi ada yang nyari, laki-laki. namanya..hmm..siapa tadi ya..Ri..Ri..?" ucap Diana, sedikit lupa.
"Riil..?" tanya Sri menebak.
"Iya..bener. kak Riil. Katanya kakak disuruh nemuin dia di lantai 2. Tapi nggak dikasi tau di kamar nomor berapa," jawab Diana.
"Ooh, ya udah. Makasih ya," ucap Sri sambil melangkah menuju tempat tidurnya.
Diana kembali melanjutkan kegiatannya, membereskan lemari pakaian berukuran kecil yang menyatu dengan meja belajarnya.
"Dek, aku turun dulu ya. Ntar kalau mau sarapan, samperin aku di kamar 205. Kita barengan ke ruang makan," pamit Sri sambil merapikan seragam yang dipakainya.
"Iya kak, siap," jawab Diana.
Sri melangkah keluar meninggalkan Diana. Segera gadis itu meraih baju seragam yang tergantung dilemari dan memakanya. Masih tersisa beberapa menit sebelum waktu sarapan pagi. Di asrama memang berlaku aturan-aturan yang wajib dilaksanakan oleh seluruh mahasiswa penghuni asrama termasuk waktu sarapan pagi yang dibatasi hanya sampai jam 08.30 pagi.
Setelah yakin dirinya telah rapi, segera Diana melangkah keluar menuju lantai 2 asrama. Hana dan Saras sejak pagi tadi sudah ke ruang makan.
__ADS_1
\=\=\=\=\=\=\=\=