TENTARAKU SUAMIKU

TENTARAKU SUAMIKU
Episode 64. Pertemuan yang Mengharukan


__ADS_3

Perjalanan Guntur dan Diana memakan waktu hampir 3 jam lamanya. Disepanjang perjalanan mereka selalu menyempatkan diri untuk singgah di beberapa spot yang bagus untuk beristirahat. Diana yang selama kuliah di kota "Bd" jarang keluar kota mulai menikmati perjalanannya.


Walau dihatinya masih terbersit keraguan dan rasa takut, namun Diana mencoba menikmati perjalanan mereka dengan berselfie ria di setiap spot-spot menarik yang mereka singgahi.


Setelah 3 jam berlalu, Diana dan Guntur akhirnya tiba di kampung halaman Guntur. Diam-diam Diana mengagumi suasana khas perkampungan yang masih kental dan begitu terasa. Bentuk rumah penduduk yang masih asri bahkan beberapa rumah seolah telah termakan usia, namun masih terjaga dan terawat dengan sangat baik.


Sawah-sawah dan kebun sayuran yang tertata dengan begitu rapi membentang disepanjang tepian jalanan yang mereka lalui menambah keasrian dan keindahan kampung halaman Guntur. Diana menarik nafas panjang sambil memejamkan matanya, menghirup udara sejuk disekitarnya seolah ingin mengisi penuh paru-parunya dengan seluruh udara sejuk dan bersih yang ada di kampung itu.


Matahari baru mulai menampakkan wajahnya, namun udara dingin dan sejuk begitu terasa.


Saat memasuki perkampungan, beberapa orang yang sedang beraktifitas di pagi itu menyapa Guntur dengan sopan dan takjub. Bisa dimaklumi karena tampilan Guntur yang berseragam loreng terlihat gagah dimata mereka. Guntur membalas sapaan mereka dengan percakapan ringan dan akrab.


"Emm...nak Guntur ya..!?" tanya seorang Bapak yang dari penampilannya seperti hendak ke sawah atau ke kebun. Matanya memperhatikan Guntur dari kaki hingga kepala dengan roman wajah pangling.


"Iya Pak..saya Guntur. Masaa Bapak lupa sama saya ?" ucap Guntur sambil tertawa.


"Waaaahh, iya..iya..kamu makin gagah aja nak, makanya Bapak jadi pangling," si Bapak terkekeh sambil menepuk pundak Guntur. Guntur tertawa dan menyalami si Bapak.


"Ini siapa nak..?, istrimu ya ?" tanya si Bapak sambil mengalihkan perhatiannya ke arah Diana yang berada di boncengan Guntur. Laki-laki itu tersenyum dan mengangguk kepada Diana.


Diana turun dari motor dan menyalami si bapak.


"Iya pak. Ini istriku..Diana..", ucap Guntur memperkenalkan Diana sambil memberi isyarat kepada Diana untuk tidak protes.


Walau agak terkejut, tapi Diana bisa menyesuaikan diri dengan situasi yang diciptakan Guntur. Gadis itu tersenyum dan mengangguk kearah si bapak tadi.


"Ooh..iya..iya," si bapak manggut-manggut.


"Ya udah pak..saya lanjutin perjalanan dulu. Udah ditunggu sama Mak dan Bapak di rumah," pamit Guntur sambil naik ke atas motornya diikuti Diana.


"Ooh..silahkan..silahkan. Bapak dan Makmu pasti seneng kamu pulang hari ini nak," sahut si bapak kemudian berlalu.

__ADS_1


Guntur dan Diana kembali melanjutkan perjalanannya menuju rumah Guntur. Melalui jalanan perkampungan berukuran lumayan lebar namun belum diaspal atau dibeton seperti daerah lain yang tadi mereka lalui.


Tiba didepan sebuah rumah tua yang sederhana dan berukuran lumayan besar dengan halaman yang cukup luas, Guntur membelokkan arah motornya.


Guntur sengaja tidak memberitahukan soal kedatangannya hari ini kepada kedua orang tuanya. Surprise katanya.


Rumah terlihat sepi. Namun pintu rumah terbuka pertanda yang punya rumah ada di dalam. Guntur turun dari motor diikuti Diana. Perlahan didekatinya rumah masa kecilnya itu.


"Kayaknya Bapakku belum ke kebun An. Itu..peralatannya masih ditaruh di depan rumah," bisik Guntur.


Ditariknya tangan Diana yang masih berdiri mematung, tidak tau harus berbuat apa.


Tiba-tiba seorang gadis kecil keluar dari rumah itu. Usianya mungkin sekitar 7 atau 8 tahun. Begitu melihat Guntur dan Diana yang berdiri di depan rumah, sontak gadis kecil itu berteriak keras sambil berlari masuk ke dalam rumah.


"BABAAAAA...MAAAAK. ABANG PULAAAANG..!!" teriak gadis kecil itu membuat seluruh penghuni rumah kaget dan berhamburan keluar rumah.


Guntur tertawa ngakak melihat tingkah gadis kecil yang rupanya adalah Anggi, adik bungsu Guntur yang membuat geger seisi rumah.


"Anakku..ka..kamu pulang nak..!??" ucap perempuan tua yang berdiri dengan mata berkaca-kaca dan pandangan tak percaya.


"Iya Mak...Gun pulang," jawab Guntur dengan mata berbinar, haru dan bahagia. Ada bening menggelayut di sudut netra laki-laki itu.


"Yaaa Allah...Naaaak....Mak kangeeen....!!" pecah tangis emaknya Guntur yang hendak melangkah mendekati anaknya.


Namun dengan cepat Guntur mendahului, mendekati emaknya dan memeluk perempuan tua itu sembari mencium tangan dan wajah emak. Laki-laki gagah itu akhirnya tak tahan dan menangis dalam pelukan perempuan yang telah melahirkan dan membesarkannya.


Suasana haru menyelimuti semua orang yang ada di rumah itu. Bapak, perempuan muda yang rupanya adalah adik sepupu Guntur serta beberapa orang yang datang setelah mendengar teriakan Anggi tadi tak pelak ikut meneteskan air mata. Dianapun ikut larut dalam suasana yang tercipta didepan matanya.


Guntur membiarkan dirinya dipelukan Ibundanya hingga perempuan tua itu puas memeluk putranya dan akhirnya menyadari ada seseorang yang lain yang berdiri di belakang Guntur.


"Itu dia nak ?? ...yang kemaren kamu ceritakan ke Mak..??" bisiknya ditelinga Guntur yang disambut anggukan kepala Guntur.

__ADS_1


"Iya Mak..itu Diana..yang Gun ceritain kemaren," jawab Guntur sambil melepas pelukannya. Diana tersenyum, mendekati mereka dan mencium tangan emak. Sementara Guntur beralih mendekati Bapaknya dan memeluk laki-laki tangguh itu yang terlihat berusaha menahan tangisnya.


"Kamu datang juga akhirnya nak. Apa kabar..? Makmu sampai sakit mikirin kamu," ucap bapak sambil menepuk pundak putra kebanggaannya.


"Iya pak. Begitu tiba dari kota "T", Gun langsung kesini Pak. Tapi maaf, Riana dan Kiara nggak bisa ikut. Kakeknya Kiara sakit keras, makanya Diana Gun ajak kesini Pak," ujar Guntur sambil menuntun Bapak mendekati Diana.


Diana mencium punggung tangan Bapak. "Apa kabarmu nak...?" tanya Bapak.


"Alhamdulillah..saya sehat Pak, Bapak apa kabar ?" tanya Diana sopan.


"Alhamdulillah nak, Bapak dan Mak sehat. Terima kasih sudah mau menjadi keluarga angkat anak saya selama dia bertugas di kota "T" ya nak,"


"Iya Pak. sama-sama," jawab Diana.


"Ria...Anggi...sini. Kalian nggak kangen abang kalian ?" tanya Guntur sambil membuka lebar kedua tangannya. Ria dan Anggi mendekat dan memeluk abang kesayangan mereka.


"Ayoo..kita masuk. Kasian yang baru datang pasti capek," ujar Bapak sambil mengajak semua orang yang ada disitu untuk masuk ke dalam rumah.


Diana masuk sambil menggandeng emak dan Anggi yang terus-terusan memandangi Diana sambil tertawa lucu. Sementara Ria mengikuti dari belakang.


"Teh Diana cantik ya teh..?" bisik Anggi ke Ria yang terlihat manyun sambil tertawa cekikikan.


"Iiih..cantikan teh Riana tau..!" jawab Ria ketus.


"Cantikan teh Diana...!"


"Teh Riana...!"


terjadi perdebatan kecil diantara keduanya.


"Hush..jangan berisik. sana...buatkan kopi untuk semua dan teh hangat untuk teh Diana..!!" perintah emak kepada Anggi dan Ria yang disambut anggukan kepala kedua gadis itu. Bergegas keduanya berlari kearah dapur dan mempersiapkan apa yang diperintah emak.

__ADS_1


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


__ADS_2