
Sepanjang perjalanan Diana dan Guntur tidak saling bicara. Sesekali Terdengar helaan napas Guntur Pramudya.
Laki-laki itu tidak menyangka malam ini mendapatkan kejutan dari Diana di usia pacaran mereka yang baru seumur jagung.
Walaupun kejutan itu menguntungkan dirinya, tapi Guntur merasa bahwa saat ini Diana tidak terlalu mencintainya.
Pacaran tanpa komitmen ? Harusnya kata-kata itu keluar dari mulutnya tapi kenapa justru sebaliknya ?
Aku menginginkan Diana tergila-gila padaku. Tapi justru saat ini, aku yang tergila-gila padanya.
Guntur menggeleng-gelengkan kepalanya mengusir risau yang mulai melanda hatinya.
Setelah beberapa menit perjalanan menuju cafe raminah, akhirnya Diana dan Guntur sampai juga. Diana mengusulkan kepada kekasihnya untuk mampir ke rumah Inah.
Guntur setuju dan kemudian membelokkan arah mogenya menuju rumah Inah. Setelah tiba di depan rumah Inah yang letaknya tak jauh dari cafe raminah, Guntur kemudian menurunkan seikat buah durian yang dibelinya tadi.
"Assalaamualaikum kak...kak Inah," Diana memberi salam dan memanggil-manggil nama kakaknya.
Inah yang sedang berada di dapur buru-buru menuju ruang tamu.
"Waalaikumsalaam, duuh Ana, kamu bikin kaget kakak aja," seru Inah sambil melototin Diana. Diana tertawa senang.
"Tuh, lihat di depan," Diana memonyongkan bibirnya ke arah depan rumah, memberi isyarat kepada Inah untuk keluar.
Sontak Inah berlari keluar.
Dan, ...taraaa. didapatinya seikat besar buah durian kesukaan Inah dan suaminya yang diletakkan Guntur di teras depan rumahnya. 10 buah durian ukuran besar dengan aroma yang menggoda membuat Inah tertawa senang.
"Eeeh, mas Guntur. Trimakasih ya. jadi ngerepotin," Inah tersenyum ke arah Guntur yang masih berdiri di samping mogenya disambut anggukan dan senyuman Guntur.
"Iya mbak Inah, ga papa. kebetulan tadi ada yang jual durian dengan kualitas bagus. saya jadi ingat mbak. Makanya saya beli setelah tau dari Diana kalau mbak suka banget buah durian," jawab Guntur sambil melangkah ke teras rumah Imah.
"Waduh, sampe lupa..silahkan masuk mas. Diana, ajak mas Guntur masuk," perintah Inah kepada adiknya disambut angukan Diana.
"Iya kak..Ayo masuk mas," Diana mengajak Guntur untuk masuk.
Sementara Inah menyuruh salah satu karyawan cafe untuk memasukkan durian yang dibeli Guntur ke dapur. Selanjutnya bisa ditebak. Inah asyik menikmati buah durian yang lembut, berdaging super tebal, terasa legit juga manis.
"Mas Gun, ayoo makan bareng. Si Diana juga suka tuch makan duren," teriak Imah dari arah dapur.
Guntur tertawa senang.
__ADS_1
Alhamdulillah, oleh-olehku disukai mbak Inah.
"Mas Gun nggak suka durian kak..katanya bau durennya aduhaii, bikin pusiing" teriak Diana menjawab ajakan kakaknya.
Gadis itu meringis ketika Guntur mencubit pinggangnya sambil melotot ke arah gadisnya. Diana tertawa.
"Nggak mbak Inah, aku nggak pernah bilang gitu ke Diana. ngasal dia mbak," Guntur mengoreksi ucapan Diana.
"Ouuwh, sayang sekali...Alhamdulillah dech kalau begitu" terdengar suara tawa Inah senang.
"Dassaaar, maniak duren. Jangan lupa sama suamii..tinggaliiin. Jangan dihabisiiin," Diana mengejek kakaknya disambut tawa khas Inah.
"Maaf mas, kakakku emang begitu orangnya. kalau di cafe sifatnya amat tegas, ramah dan berwibawa. tapi kalau sudah dirumah, bisa berubah 180 derajat, konyol dan semaunya," ujar Diana. Guntur tersenyum memahami maksud Diana.
"Iya sayang, makanya kakakkmu terlihat awet muda. Aku suka cara kamu dan mbak Inah menjalin hubungan kakak beradik. Terlihat akrab dan menyenangkan," jawab Guntur sembari berpindah tempat duduk, lebih dekat dengan Diana.
"Aku bikinin kopi ya mas, sebentar'" pamit Diana hendak berdiri menuju dapur.
Namun tiba-tiba muncul asisten rumah tangga Inah membawa nampang berisi secangkir kopi hitam, teh hangat dan satu piring penuh kue. Diana kembali duduk membantu si asisten rumah tangga Inah menata isi nampang diatas meja.
"Silahkan mas, diminum kopinya," ucap Diana.
Hmm, Nikmaaat.
Dihirupnya dalam-dalam aroma kopi yang menyatu dengan uap hangat kopi hitamnya. Ada sensasi tersendiri yang dirasakan laki-laki itu dan membuatnya lebih enjoy.
"Oh iya, hampir lupa. aku SMS dulu si Anton, ngasi tau kalau kita ada disini," Guntur mengeluarkan hp dari saku celananya dan segera mengetik pesan singkat untuk Anton.
Setelah menerima jawaban SMSnya, Guntur kemudian menyimpan kembali hp di tempat semula. Tak lama berselang muncul Inah yang sudah berdandan rapi dari dalam kamarnya dan melangkah mendekati Diana dan Guntur. Inah terlihat cantik.
"Mau ke cafe kak?" tanya Diana melihat kakaknya sudah berdandan rapi, bersiap-siap hendak menyusul suaminya Rama ke cafe.
"Iya An, mau nemenin kakak iparmu. Biasalah, kalau malam minggu gini bos harus ikut turun tangan melayani tamu cafe?" jawab Inah tertawa kecil sambil duduk di depan Guntur dan adiknya.
Dipandanginya wajah Diana dan Rama secara bergantian. Kali ini terlihat serius.
"Kata Imah, kalian sudah jadian. Bener An ?" tanya Inah kemudian. Guntur duduk tegap dan memperbaiki posisi duduknya, bermaksud menjawab pertanyaan Inah.
"Benar mbak," jawab Guntur buru-buru mendahului Diana menjawab pertanyaan kakaknya.
Terlihat ada sedikit kekhawatiran diwajah laki-laki itu kalau Inah tidak menyetujui hubungannya dengan Diana.
__ADS_1
Walaupun yang dihadapinya adalah kakak Diana dan bukan orang tuanya, tapi tetap saja Guntur merasa perlu meminta ijin anggota keluarga Diana untuk memacari gadis itu.
"Hmm..ya udah, selamat dech kalau begitu. mudah-mudahan langgeng yaa. Yang akur. cuman satu pesan kakak, tolong jaga diri dan hati kalian masing-masing. Kalian paham maksud kakak?". Inah memberi wejangan singkatnya kepada Guntur dan Diana disertai tatapan mata yang menegaskan ucapannya.
Diana dan Guntur mengangguk berbarengan, memahami maksud Inah.
"Saya janji mbak, tidak akan mengecewakan mbak dan Diana," jawab Guntur sembari memandangi wajah Diana yang duduk diam disampingnya.
Syukurlah, Inah menyetujui hubungan mereka, batin Guntur lega.
"Kakak tinggal dulu ya, ke cafe dulu," pamit Imah akhirnya, meninggalkan Guntur dan Diana disambut anggukan keduanya.
Sepeninggal Inah, Diana dan Guntur duduk diam dalam pikirannya masing-masing.
Hmm, mengapa jadi kaku begini, batin Guntur sambil melirik kearah Diana.
Gadis itu terlihat memainkan gelas ditangannya, seakan mengusir gelisah. Perlahan Guntur mengambil gelas dari tangan Diana dan meletakkannya di atas meja.
Diana membiarkannya dan tak bersuara.
"Ana," panggil Guntur kemudian, tidak tahan dengan suasana kaku yang tercipta diantara mereka.
"Ya," jawab Diana singkat sambil menolehkan wajahnya ke arah Guntur.
Laki-laki itu menatap dalam bola mata kekasihnya yang terlihat gelisah. Digenggamnya tangan Diana yang terasa lembab karena keringat dingin.
"Kamu ga nyaman, kita berduaan disini?. Tenang aja sayang, aku nggak bakal berani berbuat macam-macam di rumah kakakmu," ujar Guntur akhirnya, menebak isi hati gadisnya.
Diana mengangguk pelan. Masih terbayang dibenak gadis itu insiden ciumannya dengan Guntur di warung ibu Sri waktu itu.
"Ya udah, kita nyusul kakakmu ke cafe ya. Lagian malam ini malam pertama kita jadian. Anton dan Imah sudah menunggu kita di cafe," ujar Guntur akhirnya.
Laki-laki itu ingin memberikan kesan pertama yang baik dimata Diana agar gadis itu tidak meragukannya lagi. Terlihat Diana mengangguk setuju.
Duh..akhirnyaa..batin Diana lega
Sebelum beranjak pergi, terlebih dahulu Diana membenahi meja tamu dan membawa sisa makanan dan minuman ke dapur dibantu asisten rumah tangga Inah. Diana kembali ke ruang tamu dan menyusul Guntur yang sudah menunggunya didepan pintu keluar.
Laki-laki itu mengulurkan tangannya kearah Diana. Digenggamnya erat tangan gadis itu. Sepasang kekasih itupun melangkah menuju cafe raminah yang malam itu terlihat semakin ramai.
__ADS_1