TENTARAKU SUAMIKU

TENTARAKU SUAMIKU
Episode 135. Bertemu Pacar Lama


__ADS_3

Di ruang keberangkatan domestik Bandara Internasional Soekarno Hatta, Diana terlihat duduk sendiri menunggu pesawat yang akan membawanya ke bandara Sam Ratulangi Mo.


Setelah check-in Diana memutuskan untuk mematikan ponselnya. Namun hati kecil perempuan itu seolah berontak.


Aku nggak boleh begini. *Biar bagaimanapun juga, Mas Gun adalah suamiku. Dia berhak tau dan wajib kuberitahu*, batin Diana bimbang.


Diana mempermainkan ponsel ditangannya. Jari-jemari perempuan itu tak henti mengetuk-ketuk layar ponselnya. Seper sekian detik kemudian Dianapun akhirnya menghidupkan ponselnya.


Mas..Aku sudah di bandara. Satu jam lagi aku berangkat menuju Mo...bunyi pesan WA Diana untuk suaminya, Guntur Pramudya.


Ceklis dua...


Diana menunggu dengan tak sabar jawaban pesannya. Namun status pesannya tak berubah, masih ceklis dua, pertanda pesannya belum dibaca oleh Guntur.


Mungkin dia terlalu sibuk mengurus Riana hingga tak sempat membaca pesanku. Aaah...sudahlah, mungkin sebaiknya aku pergi tanpa suamiku, batin Diana pasrah.


Dengan sekuat tenaga Diana berusaha menahan perasaanya. Matanya terasa panas. Sebagian dari dirinya seolah tertinggal di kota ini.


Dan...


Ketika terdengar pengumuman agar para penumpang segera naik ke pesawat, jebol sudah pertahanan perempuan itu. Diana benar-benar menangis. Secepatnya perempuan itu menghapus air matanya.


Semua barang bawaan Diana dimasukkan ke bagasi. Hanya sebuah tas jinjing dan laptop yang dibawa Diana bersamanya ke pesawat.


Perlahan Diana melangkahkan kakinya menuju pesawat yang akan membawanya meninggalkan ibu kota.


Masih berharap kalau Guntur akan nyusul dirinya, Dianapun memperlambat langkah kakinya. Hingga semua penumpang telah naik ke pesawat, perempuan itu masih melangkah pelan sambil sesekali menengok kebelakang, berharap ada Guntur disana.


Ah...dia nggak bakal datang. Ternyata Riana lebih penting baginya daripada aku hingga untuk membaca pesankupun dia ga sempat, batin Diana kecewa.


Tiba-tiba terdengar langkah cepat dan tergesa-gesa seseorang dibelakang Diana. Sontak perempuan itu membalikkan badannya. Terlihat oleh Diana seorang laki-laki yang berlari cepat kearahnya. Diana sempat mengira itu Guntur.


Namun sekali lagi Diana harus menelan kekecewaannya. Ternyata itu penumpang yang terlambat datang ke bandara.


Ah..sudahlah...dia nggak akan datang...batin Diana dan kemudian mempercepat langkah kakinya menuju pesawat.


Setelah Diana masuk, seorang pramugari cantik yang semenjak tadi berdiri di deoan pintu pesawat menyambut Diana dengan senyum hangatnya, mempersilahkan Diana untuk masuk dan segera menutup pintu pesawat.


Perjalanan Diana menuju kota Mo Propinsi Sulawesi Utara memakan waktu 3 jam 41 menit. Sebelum tiba di bandara Sam Ratulangi Manado, terlebih dahulu pesawat yang ditumpangi Diana dan penumpang lainnya transit di bandar udara Internasional Sultan Hasanuddin Makassar.


Tiba di Makassar, waktu transit cukup lama sehingga Diana memutuskan untuk keluar bandara dan menikmati coto Makassar, makanan khas kota daeng itu.


Tiba-tiba seseorang menepuk pundak Diana. Kaget, Dianapun berbalik dan mendapati seorang laki-laki gagah berseragam loreng berdiri di belakangnya sambil tertawa.

__ADS_1


"Yus...?," Diana kaget bukan kepalang. "Kamu Yusril kan !?," Diana menunjuk kearah laki-laki itu sambil menebak penasaran.


Laki-laki yang dipanggil Yusril itu tertawa lepas. Terlihat deretan giginya yang putih bersih dibalik senyum dan tawa lepasnya.


"Iyaaa..aku Yusril. Masa kamu lupa An dengan pacarmu yang ganteng ini..!?" canda Yusril membuat bola mata Diana membelalak. Tawa laki-laki itu masih berderai.


"Sembarangan..," potong Diana cepat.


"Lha..emang iyakan..kita emang ga pernah putus," ujar Yusril enteng.


Diana terlihat gemas. Wajahnya bersemu merah. Refleks dipukulnya keras lengan Yusril. Laki-laki itu tidak mengelak, malah tertawa dan menangkap tangan Diana, menggenggamnya erat dan membawa tangan mungil itu kedadanya.


Diana tertegung..sontak menarik tangannya dari genggaman kuat Yusril.


Yusril, teman sekelas Diana semasa SMA dulu. Laki-laki dari masa lalu Diana yang sempat menjadi pacar Diana beberapa bulan lamanya.


Sesuai cita-citanya, setelah lulus SMA Yusril melanjutkan pendidikannya ke AKMIL AU di Jogjakarta dan menjadi pilot pesawat tempur. Sementara Diana memutuskan untuk tetap tinggal dikota kelahirannya dan mencoba peruntungannya di dunia kerja sebelum akhirnya melanjutkan pendidikannya di kota Bd dengan biaya dari perusahaan tempatnya bekerja.


Setelah menyelesaikan pendidikannya, tanpa mengabari Diana, Yusril kemudian memutuskan untuk menikahi seorang gadis dari kota daeng Makassar dan akhirnya bertugas serta menetap di kota asal kelahiran istrinya itu.


Diana yang mendengar kabar pernikahan Yusril dari teman-temannya tak bisa berbuat apa-apa. Semenjak itu, tanpa kata-kata putus merekapun berpisah.


Diana kembali duduk ditempatnya semula dan menikmati sisa cotonya. Sementara Yusril menarik sebuah kursi didepan Diana dan duduk di sana.


Setelah memesan seporsi coto dan air mineral untuk dirinya, Yusril kembali memusatkan perhatiannya kearah Diana.


"Apa kabarmu An?" tanya Yusril membuka pembicaraan diantara mereka sembari mencomot beberapa buah ketupat untuk dimakannya bersama cotonya yang masih tersaji hangat.


"Alhamdulillah baik Yus. Kamu apa kabar?," tanya Diana mengulang pertanyaan Yusril.


"Aku baik. eum..dengar-dengar dari beberapa teman katanya kamu sudah kerja dan meneruskan kuliahmu di kota Bd. Bener An ?"


"Iya, bener..kuliahku baru saja selesai dan sekarang aku dalam perjalanan ke kota Ktg, tempat tugasku yang baru Yus,".


"Oh, syukurlah kalau begitu. Terus...kamu sudah menikah?" tanya Yusril hati-hati sambil melirik kearah jemari Diana, mencoba mencari benda bulat berwarna kuning disana, Namun tidak ditemukannya.


"Sudah..aku sudah menikah. Dengan seorang anggota TNI juga Yus," jawab Diana cepat, sontak membuat yusril menghentikan suapannya sesaat.


Kemudian laki-laki itu mengedarkan pandangannya ke sekeliling mereka, mencari seseorang yang dimaksud Diana.


"Dia nggak ikut," ujar Diana menjawab tanya diwajah Yusril.


"Nggak ikut..!?" tanya Yusril heran. Keningnya berkerut.

__ADS_1


"Iya...,"


"Kenapa ?"


"Masih ngurus kepindahannya," jawab Diana berbohong.


"Kan bisa ngambil cuti dulu, nganterin kamu," sergah Yusril.


"Aku yang nggak mau. Ah sudahlah. Ga usah dibahas. Nanti juga dia akan nyusul aku kok," jawab Diana sewot dengan nada sedikit terdengar tak suka.


"Oh..maaf, ..maaf !!" seru Yusril merasa tidak enak.


Diana mengangguk pelan kemudian menyelesaikan makannya. Gadis itu melihat jam di ponsel miliknya. Setengah jam lebih waktu sudah dihabiskan Diana di tempat itu.


Bergegas Diana berdiri hendak membayar makanan dan minumannya, namun dicegah Yusril. Pergelangan tangan gadis itu dipegang Yusril, mencegah Diana untuk berdiri.


"Duduk aja, biar aku yang bayar," ucap Yusril sambil menyelesaikan makannya.


Tanpa bersuara Diana duduk kembali ditempatnya semula.


Setelah menyelesaikan makannya dan membayar makanan dan minuman mereka di meja kasir, Yusril kemudian melangkah mendekati Diana.


"Pesawatmu akan berangkat sejam lagi. Ayo aku antar!" ujar Yusril sambil keluar dari rumah makan tempat mereka makan barusan diikuti Diana.


Diana hanya mengangguk dan mengikuti Yusril dari belakang Tubuh mungil gadis itu berusaha mengimbagi langkah-langkah panjang Yusril.


Diana terlihat ngos-ngosan.


Saat akan melewati zebra cross, tiba-tiba sebuah motor berkecepatan tinggi hampir saja menyerempet tubuh Diana.


Beruntung, dengan sigap Yusril menarik tubuh Diana menghindari tabrakan membuat Diana refleks jatuh ke pelukan Yusril.


Diana kaget setengah mati.


Tanpa melepaskan pelukannya, Yusril memapah tubuh Diana yang terlihat lemas karena kaget ke seberang jalan.


Sementara si pengendara motor yang hampir saja menabrak Diana terlihat ketakutan, tergopoh-gopoh turun dari motor dan mendekati Yusril dan Diana serta meminta maaf dengan wajah pucat pasi.


Yusril yang terlihat emosi hendak menghajar orang itu, namun dicegah Diana dengan isyarat mengelengkan kepalanya perlahan kearah Yusril.


"Pergi kamu..lain kali kalau ketemu saya, kamu masih ugal-ugalan...saya hajar kamu!!!" ancam Yusril kemudian membiarkan si pengemudi motor itu untuk pergi.


Tanpa disadari keduanya, mereka masih berada dalam posisi yang sangat dekat. Yusril yang merangkul Diana dari arah samping tak melepaskan pegangannya.

__ADS_1


Sementara Diana, karena masih shock, tidak menyadari kalau tangannya masih memegang erat lengan kokoh Yusril.


\=\=\=\=\=\=


__ADS_2