TENTARAKU SUAMIKU

TENTARAKU SUAMIKU
Episode 71. POV Guntur


__ADS_3

Hari mulai beranjak sore ketika Aku, Istriku Riana dan putriku Kiara melewati alun-alun kota.


Keramaian malam Minggu di alun-alun kota menarik perhatian Kiara yang lantas meminta kepadaku dan Bundanya untuk main di wahana khusus anak balita yang bertebaran di sepanjang area alun-alun kota.


Ada kuda-kudaan, mobil-mobilan, wahana mandi bola dan lain-lain.


Riana dan aku membiarkan Kiara untuk mencoba semua jenis permainan yang disukainya.


Sementara Riana mengawasi dan menemani Kiara main, Aku sengaja memesan segelas kopi hitam di salah satu lapak yang ada di tempat itu.


"Ri' mau minum apa?" tanyaku kepada Riana Istriku.


"Juice jeruk hangat aja A'," sahut Riana sambil matanya tetap lekat mengawasi gerak gerik Kiara yang luar biasa aktif.


Aku kemudian memesan lagi segelas jeruk hangat untuk Riana dan sekotak susu siap minum untuk Kiara. Tak lupa satu botol air mineral juga kubeli untuk Kiara.


Sambil menikmati kopi hitam yang kupesan, aku menempati salah satu tikar lesehan yang sengaja digelar abang penjual kopi di atas trotoar.


Biarlah malam ini Aku fokus untuk Riana dan Kiara dulu. Soal Diana, mudah-mudahan gadis ku itu mau dibujuk Bapak untuk tetap tinggal sampai Aku balik lagi ke kampung..batinku berharap.


Hp sengaja tidak kuaktifin. Pikirku, jika Hpku aktif, pasti Diana bakal menghubungi Aku dan menanyakan keberadaanku saat ini.


Aku tidak ingin perhatianku terpecah dan akan berakibat renggangnya hubunganku dengan salah satu diantara mereka berdua.


Egois memang. Tapi mau bagaimana lagi. Aku nggak ingin kehilangan keduanya. Lebih tepatnya, aku nggak mau kehilangan ketiganya, Istriku, kekasihku dan Putriku.


Setelah jam mulai menuju pukul 22.00 WIB, kulihat Kiara mulai kelelahan. Namun kepuasan terpancar jelas diwajah cantik putri semata wayangku.


Kamipun memutuskan untuk pulang.


"Ayo A', kita pulang," ajak istriku sembari menggendong Kiara yang mulai tertidur dibahu Riana. Kamipun meninggalkan alun-alun kota yang semakin malam semakin ramai.


Sesampainya di rumah, Ibu Mertuaku menyambut kami.


"Bapakmu sudah pulang dari RS Ri'..," ucap Ibu sambil mencium ubun-ubun Kiara yang masih tertidur dipelukan Riana.

__ADS_1


"Oh..syukurlah kalau begitu," ucapku hampir berbarengan dengan Riana.


Setelah menidurkan putriku di kamarnya, Aku dan Riana bergegas menuju kamar Bapak dan Ibu Mertuaku. Terlihat Bapak sedang diperiksa dr Aan. Mbak Tiwi dan suaminya juga terlihat berada di kamar Bapak.


Selang infus dan oksigen masih terpasang di tubuh Bapak. Aku membantu dr Aan mempersiapkan segala kebutuhan Bapak malam itu.


Setelah selesai dengan urusan Bapak Mertuaku, Aku dan suami Mbak Tiwi memutuskan untuk duduk di ruang keluarga.


"Kalian makan dulu, biar Ibu yang nemenin Bapak," ucap Ibu.


"Tadi di jalan kami sudah makan Ibu," sahut Riana yang kemudian mengambil tempat duduk disampingku.


"Ya udah kalau begitu. Tiwi, ajak suamimu makan dulu," ujar Ibu kepada Mbak Tiwi.


"Baik Bu...ayo Mas..kita makan" Mbak Tiwi menarik tangan suaminya.


Setelah Mbak Tiwi dan suaminya berlalu, Riana mengajak aku untuk ngobrol di kamarnya. Riana memang memiliki kamar pribadi berukuran besar dirumah itu. Walaupun sudah menikah denganku, kamar itu tidak pernah ditempati anggota keluarga yang lain.


"Kita ngobrol disini aja Ri'. Nggak enak sama Ibu" tolakku halus. Riana terlihat agak kecewa. Namun kuyakinkan Riana untuk tetap ngobrol di ruang keluarga menemani Ibu.


"Ri' kalau kamu mau tidur..duluan aja. Aku mau jagain Bapak, kali aja Bapak tiba-tiba butuh sesuatu. Nanti aku tidur di pavilliun saja," ucapku setelah Ibu berlalu dari hadapan Kami.


"Nggak A'. Kita punya kamar sendiri disini, ngapain harus tidur di pavilliun !?," ujar Riana sedikit memprotes keputusanku.


Rumah keluarga besar Istriku Riana memang tergolong besar dan cukup mewah. Rumah pribadi berukuran besar yang dibeli Bapak sejak menjabat sebagai Lurah hingga Camat selama beberapa tahun lamanya memiliki beberapa ruangan khusus dan taman yang terletak di bagian depan dan belakang rumah.


Pavilliun khusus untuk tamu yang nginap berada di bagian belakang dan samping rumah utama dengan taman yang cukup luas yang ditata secara apik dan menonjolkan sisi budaya kota "S".


Setiap kali berkunjung atau menjemput Istri dan anakku, Aku lebih suka menghabiskan waktu di pavilliun daripada di rumah utama.


"A'...Ayooo..kita istirahat dikamarku," Riana mengejutkanku.


"Baiklah..ayo..," Aku memutuskan untuk mengikuti kemauan Riana. Dari pada ribut..!?? kasian Bapak yang lagi sakit, pikirku kemudian dan melangkah mengikuti Istriku ke kamarnya.


Riana sengaja menidurkan Kiara sekamar dengan putri Mbak Tiwi di kamar khusus untuk anak-anak. Riana tidak khawatir bakalan terganggu karena ada pengasuh yang khusus digaji untuk menjaga anak-anak dirumah itu.

__ADS_1


"Aa' mau mandi nggak? " tanya Riana sambil meraih handuk bersih dan piyama tidur untuk suaminya yang terlipat rapi didalam lemari pakaian.


"Kamu duluan Ri'. Aku mandinya nanti aja.,"


"Baiklah A'. Aku mandi duluan ya..," ucap Riana sambil membuka pakaianku didepanku hingga hanya tersisa benda segitiga yang menutupi bagian terpenting istriku.


Kedua bukit kembar milik Riana masih terlihat indah dan menantang sempurna, meskipun Riana sudah melahirkan Kiara, putri Kami. Jujur, Riana memang cantik dan seksi. Namun entah kenapa Aku masih saja tertarik dengan wanita lain.


Aku masih menikmati keindahan yang tersaji didepanku tanpa menyadari kalau Riana sedang memperhatikan tingkahku dengan ekor matanya.


Merasa mendapat peluang, Riana tiba-tiba melangkah mendekatiku. Kali ini istriku benar-benar melepaskan semua atribut yang menempel di tubuhnya. Tubuh indahnya kini benar-benar terpampang jelas didepan mataku. Aku menelan salivaku....tegang....


Sebagai laki-laki normal, jelas pemandangan indah ini langsung membangkitkan insting kelelakianku. Tapi aku masih jual mahal, tak berdiri dari tempatku duduk.


Riana terlihat gemas dan tak sabar. Diberinya sedikit sensasi kepadaku yang berlagak tak tertarik dengan menutupi bagian indah tubuhnya dengan handuk berukuran kecil yang hanya menutupi bagian dada hingga bagian atas pahanya yang putih.


Melihat itu, aku menjadi tak sabar. Kutarik Riana untuk duduk dipangkuanku. Dan mulailah aku menjelajahi seluruh bagian tubuh istriku dengan bibir dan tanganku.


Tak lupa kutarik hingga lepas sepotong handuk yang menghalangi tubuh indah isttiku. Kini tak ada lagi apapun yang menghalangi aksiku.


Riana membalas setiap aksiku dengan aksi yang tak kalah liar. Dibukanya kaos oblong yang masih kukenakan. Kini aku setengah telanjang meladeni hasrat istriku. Kamipun saling berpagutan, betukar saliva dan bermain lidah hingga aku tak sabar dan membopong tubuh istriku ke kamar mandi.


Riana dengan sigap melepas jeans dan underwear yang masih kupakai. Kini kami berdua benar-benar tanpa sehelai benangpun.


Dibawah guyuran air shower yang hangat, kamipun bercinta. Riana benar-benar meluapkan semua hasrat yang dipendamnya selama hampir satu tahun lamanya sejak kami berpisah dulu.


Setelah puas bermain dibawah guyuran shower dengan berbagai posisi yang kami inginkan, Aku akhirnya memutuskan untuk melanjutkan "kegiatan" kami diatas tempat tidur istriku.


Kubopong tubuh istriku ke tempat tidur, meletakkan tubuh Riana disana dan tanpa jeda melanjutkan hubungan intim kami.


"Aa'...aakkhhh..," Riana mendesah ketika kami mulai merangkak ke titik puncak tertinggi. Dan.....entah darimana datangnya..tiba-tiba wajah Diana berkelebat didepanku.


"Ann...sayaangg..Akkhh,' tepat disaat seluruh hasratku dan Riana tertunai, disaat itu pula nama kecil Diana terucap dari bibirku.


\=\=\=\=\=

__ADS_1


__ADS_2