TENTARAKU SUAMIKU

TENTARAKU SUAMIKU
Episode 59. Tak Bisa Nolak.


__ADS_3

Saat ekor mata Guntur menangkap sosok Diana di lantai dasar asrama mahasiswa, dirinya langsung tau kalau Diana ingin menghindarinya. Sontak Guntur meneriaki nama Diana dan memberi isyarat kepada Diana untuk naik. Gadis itu batal kabur dan melambaikan tangannya kearah Guntur yang masih berdiri di lantai 3 dan bergegas naik begitu melihat isyarat Guntur.


Beberapa menit sebelum kedatangan Diana, Guntur Pramudya sengaja datang ke asrama tempat tinggal Diana dengan berseragam loreng dan berjaket hitam yang biasa dipakainya. Tubuhnya yang atletis dan wajahnya yang tampan menarik perhatian penghuni asrama. Tak terkecuali Sri yang sudah kembali dari mini market.


"Mas siapa ya..?" tanya Sri begitu tiba di depan kamarnya dan mendapati Guntur sedang berdiri sambil celingukan mencari Diana.


"Ooh..kenalkan, saya Guntur Pramudya. Pacarnya Diana," jawab Guntur mantap sambil mengulurkan tangannya kearah Sri. Gadis itu terperanjat.


Ouuh..sudah kuduga, pacarnya Diana. Pantesaaan Diana nggak bisa lepasin dia. modelnya kayak beginiii...batin Sri dengan pandangan menyelidik dan sedikit terpesona. Bertubuh tinggi dan atletis dengan sepasang mata yang sipit tapi tajam dan kulit putih cenderung kecoklatan membuat laki-laki didepannya ini benar-benar mempesona. Apalagi saat menatapnya, senyum Guntur tak lepas dari bibirnya yang seksi.


Sriiiiii...sadaaaaar...Sri tersentak dan sontak mencubit tangannya sendiri.


Buru-buru Sri menjabat tangan Guntur. "Sri..teman sekamar dan kakak kelasnya Diana," sahut Sri memperkenalkan diri.


Postur tubuh dan penampilan Guntur benar-benar berbanding terbalik dengan Diana yang memiliki tubuh mungil, bola mata yang besar dengan bulu mata lentik dan alis tebalnya serta kulit kecoklatan khas gadis-gadis wilayah timur Indonesia. Pasti..keunikan milik Diana yang membuat laki-laki ini tak mau melepas Diana..tebak Sri dalam hati.


Mas Arie bakal marah besar kalau tau aku lagi terpesona pada laki-laki lain...hi..hi..hi .Sri cekikikan membayangkan wajah pacarnya kalau lagi cemburu.


"Ooh..Mbak Sri..mmm... Diananya ada nggak?" tanya Guntur lagi.


"Tadi waktu saya tinggal ke mini market, Diana ada di kamar. Mungkin lagi sholat pak," jawab Sri.


"Jangan panggil saya Pak dong Mbak Sri..Saya jadi ngerasa tua banget. Panggil aja Mas Gun.,"gurau Guntur ramah sambil tersenyum. Sri tertawa dan meralat panggilannya.


"Ouuwhh..maaf..maaf pak, ..eh Mas Gun. silahkan duduk Mas. Sedikit lagi Diana pasti udah balik," Sri mempersilahkan Guntur untuk duduk.


"Iya Mbak. terima kasih. Biar saya berdiri aja. Tadi kelamaan duduk di atas motor," ucap Guntur sambil kembali mengarahkan pandangannya ke sekeliling asrama. Sementara Sri langsung masuk ke kamarnya dan membuat secangkir kopi untuk Guntur.


Beberapa detik kemudian..


"Mas, ini kopinya. Monggo..diminum," Sri menawari Guntur kopi yang dibawanya sambil meletakkan nampang berisi secangkir kopi untuk Guntur, 2 gelas coklat hangat untuknya dan Diana dan sepiring gorengan yang tadi sempat dibeli Sri di depan kampus.


"Waah...maaf Mbak, jadi ngrepotin nich," Guntur duduk dan meraih kopi yang baru saja dibawa Sri. Aroma wangi kopi hitam buatan Sri dan gorengan hangat yang menggugah selera. Sangat cocok dengan suasana sore yang mulai terasa dingin.


Sambil berdiri dan menikmati kopi hangat ditangannya, Guntur mengarahkan pandangannya mengelilingi gedung asrama dan matanya terpaku pada sosok seorang gadis yang muncul dari arah belakang asrama. Itu Diana...Guntur mengenali sosok gadisnya dan spontan berteriak.

__ADS_1


"DIANA..!!." Teriak Guntur refleks.


Diana yang menyadari kehadiran Guntur dan ingin bersembunyi terpaksa menghentikan langkahnya, berbalik dan melambai ke arah Guntur. Dengan isyarat tangannya Guntur menyuruh Diana untuk naik.


Tak lama berselang, Diana muncul dari tangga disamping kamar. Begitu matanya beradu pandang dengan mata Guntur, gadis itu sontak memegangi jantungnya yang mulai berdegup kencang.


Getaran ini ...apakah ini rindu ??. Dia masih seperti dulu. Kenapa semakin lama Mas Gun semakin mempesonaku. Bagaimana caraku menghindarinya kalau wajahnya seperti dipahat dalam hatiku..batin Diana gugup.


"Haiiii...sayang..," Guntur segera mendekati Diana dan tanpa canggung menarik tubuh Diana kedalam pelukannya.


"Sweety...aku rindu banget," bisik Guntur ditelinga Diana membuat gadis itu merinding. Laki-laki itu tak memperdulikan pandangan seisi asrama.


Perlahan dikecupnya kening Diana. Mata gadis itu tanpa sadar terpejam, menikmati sentuhan lembut Guntur setelah hampir 6 bulan lamanya mereka tidak bertemu.


Untuk seper sekian detik, Diana tak mampu berkata-kata. Lidahnya kelu dan kedua telapak tangannya terasa semakin dingin. Guntur meraih jemari Diana dan meremasnya dengan mesra sampai .....


"Ehmm....," sebuah suara mengagetkan keduanya. Sontak Diana melepaskan pelukan Guntur. Wajahnya bersemu merah.


Uuh...Mbak Sri..duuh..malunya aku, Diana tersipu.


"Iya Mbak...maaf, ta..tadiii....!!" Diana gagap.


"Ga papa An..aku mengerti," sahut Sri sambil tersenyum menggoda Diana dan mengibaskan tangannya.


Sepeninggal Sri, Diana masuk ke kamar dan meletakkan mukenahnya di atas tempat tidur. Kemudian buru-buru gadis itu hendak keluar. Namun langkah kakinya tertahan didepan pintu kamar. Guntur berdiri menghalangi jalan dengan nampang berisi minuman dan gorengan yang tadi dibawa Sri untuknya.


Guntur masuk dan meletakkan nampang diatas meja. Laki-laki itu membiarkan pintu kamar terbuka lebar. Ditatapnya Diana yang masih berdiri dan terdiam. Perlahan didekatinya Diana. Dipandanginya wajah gadis itu dengan sorot mata yang sulit untuk diartikan.


Perlahan tubuh Diana didorongnya kearah dinding kamar dan mengunci tubuh Diana dengan tubuhnya. Saat bibir Guntur mengarah kearah bibir Diana, gadis itu tersadar dan sontak mendorong tubuh Guntur.


"Masss...sadar mas, kita dimana sekarang..!!" Diana menurunkan tubuhnya dari himpitan tubuh kekar Guntur. Gadis itu berhasil meloloskan diri dari kuncian Guntur.


"Kalau begitu..ayo kita keluar sayang. Aku sudah tak sabar....," ajak Guntur menggoda Diana. Ucapannya menggantung. Matanya sedikit memerah membuat Diana bergidik. Gadis itu mencoba menghindari Guntur, tapi terlambat..sekali lagi Guntur berhasil mengunci Diana.


Namun disaat yang sama terdengar nada dering di gadget Diana. Diana melirik kearah ponselnya. Panggilan masuk dari Syahrial..Selamaaaat..selamaaat..batin Diana lega.

__ADS_1


Sontak nada dering ponsel Diana sukses membuat Guntur melepaskan tubuh Diana.


"Siapa....!?" tanya Guntur mencoba meraih ponsel Diana. Ada nada tak suka dalam suaranya yang berat.


"Emm..temanku Mas," jawab Diana sambil menjauhi Guntur.


Guntur memicingkan matanya. "Bohong..!!" matanya kini tertuju ke mata Diana yang berusaha menghindari tatapannya.


"Beneran Mas...!" seru Diana. Disaat yang sama Diana lengah dan...ponselnya berhasil direbut Guntur. Untung Diana sudah menolak panggilan Syahrial.


"MAS RIIL..hmm. Siapa dia An..pacar kamu !!?" tanya Guntur terdengar tak suka. Laki-laki itu hendak menelpon balik Syahrial, namun...tiba-tiba ponsel Diana baterainya low dan...mati.


Haaahh...Syukurlah, Diana menyapu keringat dingin yang tiba-tiba membasahi wajah piasnya.


"Kita pergi sekarang..!" Guntur menarik kursi belajar Diana dan duduk disana.


"Kemana mas..?" Diana terkejut.


"Kerumah orang tuaku..kamu lupa..!?" tanya Guntur mengingatkan Diana.


"Iyaa Mas, aku ingat. Tapi buat apa..?"tanya Diana ..lagi.


"Aku sudah janji membawamu bertemu mereka. Jadi kita pergi malam ini," tegas Guntur.


"Tapi Mas...!!!


"Nggak ada tapi-tapi. Ayoo, bawa baju yang kamu butuhkan ..atau, biar saja, nggak usah bawa apa-apa. Nanti aku beli aja," Guntur hendak menarik tangan Diana dan mengajaknya pergi.


"Eehh..tunggu mas. Nggak usah beli. Sebentar..!" Diana hendak melangkah kearah lemari pakaiannya. tapi...keburu tangannya ditarik Guntur.


"Sudah kubilang, nggak usah bawa apa-apa. Ayo..!!" Guntur merangkul pundak Diana dan membawanya keluar kamar. Gadis itu hanya sempat meraih tas ransel kecil dan ponsel miliknya.


Kedua sejoli itu kemudian melangkah pergi meninggalkan asrama diikuti tatapan marah seseorang di lantai 2 asrama.


\=\=\=\=\=

__ADS_1


__ADS_2