
Diana tak perlu menunggu lama. Beberapa menit berselang Syahrial telah muncul dihadapannya. Rupanya laki-laki itu tidak ingin Diana menunggunya terlalu lama. Wangi parfum yang khas menyentuh indera penciuman Diana. Gadis itu tersenyum. Hmm, wangi khas yang menonjolkan sisi maskulin Syahrial.
"Ayo An, kita jalan," ajak Syahrial membuyarkan lamunan Diana.
Setelah membayar makanan dan minuman yang dipesan Diana, seperti biasa, Syahrial meraih jari-jemari Diana dan menyatukannya diantara jari-jemarinya. Diana berdiri dan mengikuti langkah Syahrial menuju parkiran motor.
Berdua mereka melaju menuju salah satu cafe favorite anak muda di ditengah kota "Bd". Syahrial masih memegang erat tangan Diana yang dilingkarkan di pinggannya. Diana manut. Gadis itu membiarkan Syahrial memperlakukan dirinya seperti yang dia mau.
Setibanya di cafe yang dituju, Syahrial segera memarkir motornya, kemudian melingkarkan tangannya ke pinggang Diana dan menuntun gadis itu menuju salah satu meja yang terletak di luar cafe. Beberapa muda-mudi terlihat memilih tempat yang sama, di ruang terbuka bersama pasangan masing-masing.
Setelah memesan beberapa menu kesukaan mereka dan sambil menunggu pesanan mereka diantar oleh waiters, Syahrial mengambil kesempatan untuk menanyakan kepada Diana tentang maksud ucapan Diana tadi pagi di ruang makan asrama.
"An, apa yang ingin kamu sampaikan ke mas ?" Syahrial langsung pada inti ucapan Diana tadi pagi.
Diana menghela napasnya pelan. Beberapa kalimat yang telah ia susun rapi sejak keluar dari asrama tadi seolah enggang keluar dari mulut Diana. Gadis itu merasa risih untuk mengungkapkan maksudnya.
"Cerita An, aku akan mendengarmu," Syahrial kembali meyakinkan gadis itu untuk bicara.
Setelah mengatur napas dan debaran jantungnya yang tiba-tiba berdetak kencang, Diana kemudian memberanikan diri untuk bicara. Gadia itu mulai percaya diri.
__ADS_1
Tidak mudah bagi Diana untuk mengungkapkan keinginannya karena sebagai seorang perempuan, pantang bagi Diana untuk meminta duluan, Walaupun yang diminta hanya kesediaan Syahrial untuk menjadi pacar sesaatnya selama mereka masih berstatus mahasiswa di kampus tempat mereka menuntut ilmu. Namun tetap saja Diana merasa tak pantas.
"Hei..kenapa diam..?" Syahrial menyentuh tangan Diana membuat gadis itu tersadar dari lamunannya. Diana gugup. Telapak tangannya berkeringat. Padahal udara malam di kota "Bd" lumayan dingin malam ini.
"Baiklah kalau kamu belum mau bicara. Biar aku yang duluan nyampein maksud aku," Syahrial memutuskan untuk bicara lebih dulu.
"Aku ingin kamu jadi pacarku," ujar Syahrial. Sontak Diana mendongakkan kepalanya, tak menyangka maksud Syahrial persis seperti yang dia mau.
"Prita.....??" tanya Diana sedikit ragu.
"Dia urusanku...," tegas Syahrial.
"Aku tau, justru itu aku memintamu untuk jadi pacarku selama kita masih kuliah. Itu juga kan yang ingin kamu minta ke aku..!?" Syahrial menatap Diana tepat dimata gadis itu. Ada keraguan ditemukannya di manik mata Diana.
"Gimana kalau prita tau..?" tanya Diana, memastikan situasinya.
"Itu urusanku, kamu nggak perlu mikirin hal itu," sahut Syahrial meyakinkan Diana.
Untuk sesaat Diana terdiam, Syahrial juga diam. Dibiarkannya Diana untuk berpikir. Diana butuh beberapa detik untuk menyetujui keputusan Syahrial.
__ADS_1
"Baiklah kalau begitu. Mulai malam ini kita resmi pacaran. Dan saat wisuda nanti hubungan kita akan berakhir dengan sendirinya, Gimana mas ?, setuju..!?" Diana meminta persetujuan Syahrial.
"Tergantung .....," sahut Syahrial, tak menghabiskan kalimatnya.
"Tergantung apa mas?" Diana penasaran.
"Yaaa..tergantung nanti. Kalau aku ternyata benar-benar jatuh cinta kepada kamu dan serius ingin memiliki kamu, otomatis rencana ini berubah,"
"Lalu Prita gimana, mas nggak mikirin perasaan Prita..?. Kalian sudah bertunangan lho mas..!!"
"Segala kemungkinan bisa aja terjadi Ana. mungkin Prita bukan jodoh aku, tapi kamu. Siapa yang bisa menebak perjalanan takdir kita ?, nggak ada An. Cuma Allah,"
"Kamu benar mas, tapi tetap saja aku nggak mau jadi perusak hubungan kamu dengan Prita," tegas Diana. Gadis itu tidak ingin mengulangi kesalahannya untuk yang kedua kalinya.
"Kamu tenang saja. Aku bukan mas Gunturmu yang berstatus suami orang. Aku masih bisa memilih, siapa yang pantas menjadi pendamping hidupku,"
"Baiklah mas, terserah kamu," jawab Diana akhirnya.
\=\=\=\=\=\=\=
__ADS_1