
Hanya beberapa hari setelah mengunjungi rumah mertuanya, Guntur akhirnya memboyong Istri dan Putrinya kembali ke rumah mereka di asrama. Walaupun kondisi kesehatan Bapak Riana belum pulih benar, namun selesainya masa cuti Guntur membuat dirinya tidak bisa berlama-lama di rumah Mertuanya.
Hari demi haripun berlalu. Guntur Pramudya, seorang Prajurit TNI AD dan Riana yang merupakan Istri seorang Prajurit kembali menjalani rutinitas kedinasan dan kehidupan rumah tangga mereka seperti biasanya.
Tak ada yang berubah, Setiap akhir pekan, jika tidak ada tugas yang tidak bisa ditinggalkan, Guntur selalu menyempatkan diri untuk pulang ke rumah orang tuanya. Tentu saja tanpa diikuti Riana dan Kiara yang lebih memilih tetap tinggal di asrama atau mengunjungi kedua orangtua Riana di kota S.
Walaupun kadang Riana merasa curiga dengan seringnya Guntur menemui orangtuanya di kampung, namun dirinya tidak memiliki bukti yang kuat untuk menuduh suaminya telah berselingkuh dibelakangnya.
Setiap kali menemui kedua orangtuanya, Guntur selalu mengajak Diana kekasihnya. Keengganan Riana menemui kedua Mertuanya dijadikan Guntur sebagai senjata untuk bisa mematahkan kecurigaan Riana.
Namun insting Riana sebagai seorang Istri tidak serta merta hilang begitu saja. Riana masih menyimpan satu niat untuk menyelidiki Diana dengan bermodalkan nomor Hp Diana yang didapatnya dari Hp Suaminya saat di rumah orang tuanya beberapa waktu yang lalu.
Aku hanya membutuhkan waktu yang tepat untuk membongkar kebohongan Aa' dan melabrak pelakor itu batin Riana.
Disela-sela kesibukan Riana, dirinya sering mencoba mencari bukti baru perselingkuhan Guntur. Namun Suaminya itu terlalu pandai menyimpang rahasianya hingga Riana tak bisa menemukan bukti apapun.
Hingga suatu saat, Riana mencoba berdamai dengan dirinya sendiri dan bermaksud ikut Guntur Suaminya menemui kedua Mertuanya di kampung. Guntur terkejut mendengar keinginan Istrinya.
"Kamu yakin Ri' mau ikut aku pekan besok ke kampung?" tanya Guntur kepada Riana saat itu.
"Iya...kenapa A', kok kayak orang kaget begitu!?" selidik Riana dengan mimik wajah heran.
"Nggak..aku cuman heran aja. Tumben kamu mau kuajak menemui orangtuaku. Biasanya kamu pasti nolak setiap kali kuajak," ujar Guntur mencoba membuat Riana mengurungkan niatnya itu.
"Iya. Itu dulu A'. Sekarang aku mau mencoba memperbaiki hubunganku dengan Mak dan Bapak. Lagi pula Kiara belum pernah ketemu Kakek dan Neneknya kan A'?. Jadi nggak ada salahnya dong kalau kali ini kita ajak Kiara menemui keluarga Aa'..." dalih Riana.
"Ya udah kalau begitu. Hari Sabtu kita ke rumah Orangtuaku," Guntur akhirnya mengiyakan keinginan Riana istrinya.
Riana tersenyum senang.
Keinginannya untuk mulai menyelidiki Suaminya akan dimula Sabtu besok. Semoga semua berjalan lancar sesuai rencanaku dan Ibu , batin Riana mantap.
\=\=\=\=\=
__ADS_1
Di kampus Diana, terlihat ramai oleh persiapan para Mahasiswa tingkat pertama dan kedua yang sedang melaksanakan latihan dalam rangka acara wisuda Mahasiswa tingkat akhir yang akan dilaksanakan beberapa Minggu ke depan.
Salah satu Mahasiswa yang akan diwisuda adalah Syahrial.
Diana terlihat diantara para junior yang sedang berlatih. Ada raut kesedihan diwajah Diana. Membayangkan setelah lulus dan diwisuda nanti, Syahrial akan meninggalkan asrama dan...meninggalkan dirinya.
"An, Kak Syahrial manggil kamu tuch. Katanya dia nunggu kamu di kantin 15 menit lagi," Dewi, teman sebangku Diana saat latihan menyampaikan pesan Syahrial.
"Oh, iya...thanks ya," ucap Diana sambil bergegas menuju kantin kampus.
Tumben Mas Syahrial minta ketemuan ?, apa yang mau dia omongin ya..? Batin Diana bertanya-tanya.
Dadanya berdebar. Bagaimana tidak, beberapa hari lagi Syahrial akan meninggalkan kampus ini dan bertugas di salah satu anak perusahaan yang tersebar di berbagai Daerah di Indonesia.
Entah Syahrial bakal ditempatkan di cabang perusahaan yang mana. Tapi yang Diana tau pasti, setelah lulus nanti, Syahrial akan menikahi kekasihnya Prita dan memboyong Istrinya itu ke tempat tugasnya yang baru.
Akhh..aku kok merasa bakal kehilangan banget ya, Diana mengusap sesuatu yang tiba-tiba mengaliri netranya.
"Kenapa kamu nangis An?" tiba-tiba terdengar sebuah suara yang sangat dikenal Diana. Suara Syahrial.
"An..ada yang mau aku bicarakan dengan kamu," Syahrial menuntun Diana untuk duduk ditempat favorite mereka.
"Tapi aku masih latihan untuk ngisi acara Dies Natalis besok Mas," Diana coba mengelak.
"Latihannya udah selesai An. Besok baru dilanjut lagi," Syahrial meyakinkan Diana.
Diana terdiam.
"Mbak...," Syahrial melambaikan tangannya kearah salah satu petugas kantin.
"Mau pesan apa Mas ?" tanya si Mbak begitu dirinya telah berdiri didepan meja Syahrial dan Diana.
"Aku pesan kopi hitam satu dan teh hangat satu untuk Mbak ini. Jangan lupa gorengannya ya," Syahrial menyebut satu persatu menu pesanannya tanpa meminta persetujuan Diana.
__ADS_1
Setelah mencatat pesanan Syahrial, si Mbak itupun berlalu meninggalkan Syahrial dan Diana yang kembali terdiam dalam pikiran masing-masing.
"An...setelah wisuda besok, aku akan ngambil cuti barang seminggu sebelum berangkat ke Daerah tempat tugasku yang baru," Syahrial menyentuh tangan Diana.
Diana mendongak. Walau berusaha menyembunyikan raut kesedihan di wajahnya, namun Syahrial terlanjur melihat rona wajah Diana.
"Aku ingin saat libur semester besok, kamu ikut aku cuti ke kotaku," Syahrial mengatakan maksudnya.
Diana kaget.
"Maksud Mas..?" tanya Diana heran.
"Beberapa Minggu terakhir, aku merasa ragu-ragu dengan hatiku sendiri," ucap Syahrial memulai pembicaraan mereka.
"Kenapa?" tanya Diana singkat.
"Aku mulai ragu dengan niatku untuk menikahi Prita setelah aku lulus nanti," Syahrial meremas rambutnya.
Diana terdiam. Walau dalam hatinya Diana merasa senang mendengar penuturan Syahrial, namun gadis itu berusaha menutupi perasaannya dengan menyeruput teh hangat yang dibawa Mbak petugas kantin barusan.
"Kenapa begitu. Bukankah Mas mencintai Prita?" tanya Diana nggak yakin.
"Prita gadis yang baik An, itu aku akui. Tapi gadis itu masih sangat muda. Aku nggak yakin kalau dia bakal mau ikut denganku saat penempatan di Daerah nanti,"
Diana terdiam. Memang benar apa kata Syahrial. Jika saat penempatan nanti dan Syahrial mendapat tugas ke wilayah diluar pulau Jawa, maka dapat dipastikan kalau Prita tidak akan bisa ikut.
Bagaimana tidak. Prita yang merupakan anak tunggal dalam keluarganya akan sulit untuk memilih antara mengikuti suaminya atau orangtuanya.
"Mas bisa meminta pihak Management di Kantor Pusat agar Mas bisa ditempatkan di kota tempat tinggal Mas Syahrial," Diana memberi ide.
"Entahlah An..Iya kalau Perusahaan setuju. Kalau tidak ?. Masalahnya sejak awal kita kuliah disini, kita sudah menandatangani perjanjian untuk bersedia ditempatkan dimana saja,"
"Eumm..benar juga Mas. Tapi apa hubungannya dengan maksud Mas untuk ngajak aku ke Kota Mas saat liburan semester besok?" tanya Diana tak mengerti.
__ADS_1
"An...Aku tau, cintaku padamu tidak sebesar cintanya Guntur ke kamu. Tapi An, Guntur sudah memiliki Riana dan Kiara. Apa kamu tidak ingin memiliki kehidupanmu sendiri tanpa harus berbagi dengan Riana?" tanya Syahrial sambil memandangi Riana tepat di mata gadis itu.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=