TENTARAKU SUAMIKU

TENTARAKU SUAMIKU
Episode 42. Phobia Diana


__ADS_3

Sri oleng, tak lagi kuat memapah tubuh Diana. Tba-tiba seseorang menahan tubuh mereka dari belakang, mencegah kedua gadis itu jatuh. Sri kaget, Diana tak bereaksi.


"Mas ?!..."seru Sri menyadari siapa yang ada dibelakang mereka.


"Ssst...jeng naik aja ke kamar, biar Diana aku gendong," ujar Syahrial sambil mengambil alih tubuh Diana yang sudah tak sadar dari pegangan Sri.


Bergegas Sri naik ke kamarnya diikuti Syahrial yang sudah menggendong tubuh Diana. Sesampainya didepan kamar, buru-buru Sri membuka pintu kamar dan membiarkan Syahrial masuk sambil menggendong Diana. Perlahan Syahrial membaringkan tubuh Diana ke atas tempat tidur, menyelimutinya dan berdiri menatap gadis itu.


"Duduk mas, aku ambil minyak kayu putih dulu," ucap Sri mempersilahkan Syahrial untuk duduk. Laki-laki itu mengangguk dan duduk disalah satu kursi dikamar itu sementara Sri mencari minyak kayu putih.


"Aduh mas...!! aku lupa, tadi minyak kayu putih punyaku aku taruh di kotak P3K panitia. Gimana ya mas...??" pekik Sri.


"Aku ambil dulu ya, ga lama kog. Titip Diana mas," ujar Sri tiba-tiba sambil berlalu setelah melihat Syahrial menganggukkan kepalanya tanda setuju.


Kini tinggal mereka berdua dikamar itu. Syahrial dan Diana. Hening..Diana belum juga sadar dari pingsannya. Syahrial memperhatikan sekelilingnya terutama di meja belajar Diana. Bersih, tak terlihat satupun foto Diana yang terpampang disana.


Diperhatikannya lagi Diana yang masih belum sadar. Syahrial memutuskan untuk membuka pintu kamar. Selain untuk membiarkan udara segar masuk ke ruang kamar, juga dirinya merasa risih hanya berdua dengan Diana di kamar itu.

__ADS_1


Sri belum juga datang ketika tiba-tiba Diana menggerakkan tubuhnya. Gadis itu mulai siuman.


"mmmh..," guman Diana pelan. Tangannya memijit kepalanya yang agak sakit.


Syahrial yang melihat itu segera mendekati Diana. Terlihat Diana agak kaget menyadari kehadiran Syahrial dan menyadari hanya mereka berdua di kamar itu.


"Kak....?!"


"Sri lagi ke aula ngambil minyak kayu putih, bentar juga udah balik," Syahrial memberi penjelasan tanpa ditanya. Diana mengangguk mengiyakan. Ada perasaan risih hanya berdua dengan laki-laki itu.


Sejenak sepi menyelimuti, hanya terdengar tawa beberapa mahasiswa yang masih begadang di ruang tv. Syahrial menatap Diana dari tempat duduknya.


"Bukan hanya gelap kak. Saya juga phobia ketinggian", jawab Diana pelan.


"Pantass, tadi kamu sebelum pingsan sempat teriak-teriak. Kayak orang kesurupan gitu," ujar Syahrial. hmm, rapuh juga gadis ini, guman Syahrial dalam hati.


Duuuh, malu dech aku, ketahuan punya phobia, batin Diana menggerutu. Gadis itu mengalihkan pandangannya, meghindari tatapan mata Syahrial.

__ADS_1


"Sebaiknya besok kamu ga usah ikut OSPEK dulu. Istirahat aja sampai kamu benar-benar merasa enakan...,"


"Eehh, nggak kak. Besok saya pasti udah sehat kok. Ga enak sama kawan-kawan yang lain kak kalau saya nggak ikut," Diana memotong ucapan Syahrial. Gadis itu merasa tiba-tiba menjadi gadis yang lemah dihadapan Syahrial.


"Ya udah, kita lihat besok. Kalau kamu masih belum sehat benar, nanti saya kasi rekomendasi ke panitia biar kamu bisa istirahat dulu beberapa hari," sahut Syahrial disambut anggukan Diana.


Hening kembali menyelimuti suasana kamar itu. Syahrial dan Diana sama-sama diam, larut dalam pikiran masing-masing. Untunglah tak berselang lama terdengar langkah kaki seseorang menaiki tangga. Sri kembali dengan menenteng minyak kayu putih dan sebungkus roti untuk Diana.


Syahrial menghela nafas lega.


"Maaf mas, aku lama ya ?"


"Nggak jeng, itu Diana udah siuman," jawab Syahrial. "Aku balik ke aula dulu. Malam ini kamu istirahat aja, temani Diana," perintah Syahrial.


"Iya mas, siap," sahut Sri tersenyum sambil mendekati Diana dan menggosokkan minyak kayu putih di tengkuk dan kaki gadis itu.


"Makasih kak Ril, udah ditemani," ucap Diana melepas kepergian Syahrial. Laki-laki itu mengangguk dan melangkah pergi

__ADS_1


Malam semakin larut dan suasana asrama semakin sepi. Beberapa mahasiswa yang tadinya bersantai didepan tv juga telah kembali ke kamar masing-masing. Buru-buru Syahrial mempercepat langkah kakinya menuju aula.


__ADS_2