
Riana sedang menyiapkan sarapan pagi untuk Kiara ketika gadget ditangannya berbunyi.
"Aku udah di jalan, OTW kesitu," Wa dari Guntur
Riana menenten hpnya sambil menyuapi Kiara dengan bubur ayam buatannya. Kiara terlihat lahap menikmati bubur yang disuapin Riana ke mulutnya.
"Iya A'...Aku lagi nyuapin Kiara," Riana membalas Wa Guntur.
"Kamu siapin pakaianmu dan Kiara, biar kita bisa langsung ke rumah Mak dan Bapak hari ini juga,"
Riana tampak ragu-ragu menjawab Wa Guntur. Jujur, sebenarnya Riana enggan untuk ke rumah mertuanya. Apalagi harus membawa Kiara.
Semalam karena amarahnya setelah mendengar cerita Ria tentang perempuan yang bersama Guntur, tanpa pikir panjang Riana nekat memutuskan untuk membawa Kiara ke kampung halaman suaminya malam itu juga walaupun akhirnya keputusannya ditolak mentah-mentah oleh Guntur.
Riana pikir, jika benar Guntur membawa perempuan lain yang berstatus selingkuhannya, maka dia tidak akan berani mengiyakan keputusan Riana dan membiarkan Riana bertemu Diana.
Namun kenyataannya, Guntur malah berani mengajak Riana dan Kiara untuk menemui kedua orangtuanya.
Riana mulai ragu dengan keyakinannya sendiri.
Sebaiknya Aku Wa si Ria, nanyain soal perempuan itu. Apakah dia masih disana atau sudah pulang. batin Riana kemudian.
Setelah menyuapi Kiara dengan sisa bubur ayam yang masih tersisa, Riana kemudian mencari nomor Wa Ria dan menulis sesuatu disana.
"Ria, perempuan itu masih disana atau sudah pulang?" Wa Riana
Tak lama kemudian....
"Iya teh, masih ada orangnya. Tadi aku lihat lagi siap-siap ke air terjun diantar Anggi," jawab Wa Ria.
"Tapi semalam Ayahnya Kiara bilang nggak ada perempuan lain yang ikut dengannya,"
"Bohong Teh, ada kok..!, mana berani Ria bohong ke Teteh," jawab Ria pasti.
"Apa mungkin Ayahnya Kiara nggak bohong kali ini Ria, kalau perempuan itu memang benar hanya saudara angkatnya aja?"
"Kalau benar begitu, ngapain Abang merahasiakan keberadaan Teh Diana disini ke Teteh ?. Berarti ada sesuatu kan!?" tanya Ria
"Teteh juga berpikir begitu. Akhh..nggak taulah...Teteh jadi bingung, Abangmu itu emang paling bisa mengelak. Nanti Teteh tanyain dech kalo Ayahnya Kiara sudah nyampe," ucapn Riana kemudian.
Guntur adalah sosok laki-laki yang berani berspekulasi dengan situasi. Dan keberaniannya itu yang membuat Riana sering kecolongan dan akhirnya percaya saja kalau sang suami tidak memiliki hubungan istimewa dengan perempuan lain.
__ADS_1
Seperti kali ini, Guntur dengan yakin berani memutuskan untuk menjemput Diana dan Kiara. Padahal Diana masih ada dirumah Orangtuanya. Guntur yakin, Riana akan menolak diajak menemui kedua Orang tua Guntur.
Tak berselang lama, Guntur tiba di kota "S" dan langsung menemui Riana di rumah mertuanya.
"Assalaamualaikum," ucap Guntur begitu tiba dan melihat Riana dan Kiara di teras depan rumah.
"Wa'alaikumsalaam....Kiaraa, itu Ayah datang," Riana menyambut suaminya sambil menuntun Kiara yang terlihat tertawa dan berlari menemui ayahnya.
"Uupppss...Putri kesayangan Ayah makin gede aja..," Guntur memeluk Kiara dan menggendongnya. Merekapun tertawa bersama.
Riana segera mendekati Guntur dan mencium punggung tangan suaminya. Guntur memeluk istrinya dan mengecup kening Riana.
"Bentar....Aku buatin kopi ya A'," ucap Riana sembari berlalu meninggalkan Kiara dan Guntur yang sedang asyik bercanda.
"Eeeh, Nak Gun..baru nyampe ?". tanya Ibu mertua Guntur yang tiba-tiba muncul begitu mendengar suara Guntur dan tawa Kiara.
"Ohh..iya Bu, baru aja nyampe," Guntur menggendong Kiara dan mendekati Ibu Mertuanya. Duciumnya punggung tangan Mertuanya.
"Gimana kabar Orang Tuamu Gun,"
"Alhamdulillah sehat Bu. Cuman Mak saya aja yang kondisinya lagi kurang sehat. Ibu dan Bapak dapat salam dari Orangtua Saya. Kata Bapak maaf belum bisa nengokin Bapak Mertua di RS"
"Oh..iya..iya. Wa'alaikumsalaam. ngga apa-apa Gun. Semoga Makmu lekas sembuh,"
"Ini kopinya A'," Riana muncul dari dalam rumah dengan membawa secangkir kopi, 2 cangkir teh hangat dan beberapa potong kue bolu pisang.
"Makasih..," jawa Guntur. "Kiara main lagi ya..Ayah ngopi dulu," ucap Guntur sambil menurunkan Kiara dari gendongannya dan mencium pipi montok Kiara.
Kini Riana, Guntur dan Ibu Riana duduk sambil memperhatikan Kiara yang sedang bermain bersama boneka-boneka kesayangannya.
"Ibu, boleh ya Bu, Saya ngajak Riana dan Kiara ke rumah Orangtua saya di kampung?" tanya Guntur membuka pembicaraan mereka sekaligus meminta izin mertuanya.
"Boleh aja Nak..silahkan kalau Riananya mau," jawab Ibu Riana sabil menatap kearah putrinya.
"Tapi Bapak masih sakit A'. Apa tidak sebaiknya Aa' nginap disini dulu barang beberapa hari. Nanti kalau Bapak udah pulang dari RS baru kita ke kampung atau langsung balik ke Asrama," ujar Riana, terlihat agak keberatan.
Guntur berpikir sejenak mendengar permintaan istrinya. Bagaimana Aku bisa nginap disini kalau Diana masih ada di rumah Orangtuaku?.
"Gimana A' . Kita nginap dulu ya barang beberapa hari !?" tanya Riana lagi meminta persetujuan suaminya.
"Tapi kita nggak bisa lama-lama disini Ri'. Aku masih harus kembali ke rumah Mak dan Bapak. Makku masih sakit. Lagian cutiku nggak lama," jawab Guntur.
__ADS_1
"Iyaa..setelah beberapa hari disini, kita langsung ke kampung dan nginap beberapa hari disana baru balik ke asrama ya A'...!?" Riana memberi ide lagi.
Riana yakin, didepan Ibunya, Guntur tidak akan menolak permintaannya.
Ibu Riana memperhatikan perdebatan putri dan menantunya tanpa bermaksud hendak menyela.
Riana memang memiliki sifat agak keras kepala. Mungkin karena Riana adalah kesayangan Bapaknya sehingga Riana cenderung memiliki sifat yang berbeda dengan kakaknya.
Hidup dalam gelimang harta dan kedudukan Bapaknya yang seorang Camat membuat Riana menjadi pribadi yang keras hati dan sedikit egois.
Terkadang sifat Riana terbawa dalam rumah tangganya membuat Riana dan Guntur kerap kali bertengkar hebat. Dan ujung-ujungnya Guntur yang tidak suka dibantah terkadang akhirnya melayangkan tamparan di wajah istrinya.
Selanjutnya sudah dapat dipastikan, Riana marah dan pulang ke rumah orang tuanya dengan membawa serta Kiara.
Seperti saat ini, Riana keukeuh minta Guntur untuk nginap. Padahal lewat telepon semalam, Riana sudah menyanggupi permintaan suaminya untuk ikut ke kampung hari ini.
Namun karena Riana meminta didepan Ibunya, Guntur tidak dapat berbuat apa-apa selain mengiyakan permintaan Riana.
"Ya udah. Kita nginap. Tapi nggak lama. Kita harus segera ke rumah Orangtuaku dan menyelesaikan cuti saya," Guntur akhirnya mengalah.
Riana tersenyum senang.
Biar aja perempuan itu menunggu disana. Rasain..!!!. Aku nggak akan ngbiarin Suamiku balik lagi ke kampung..!!! Batin Riana puas.
Guntur menyeruput sisa kopi di meja, kemudian berdiri dan mengajak Kiara jalan-jalan.
"Saya ajak Kiara main di taman dulu Bu," Pamit Guntur sambil menggendong Kiara dan mengambil kunci motor.
"Iya Nak..silahkan," sahut Ibu setuju.
Riana berdiri dan membereskan meja tamu. "Aku nggak ikut ya A'. Mau bantuin Ibu masak dulu," ucap Riana.
"Ya udah..aku jalan ya..dadah Mamah..dadah Nini...Kiara jalan-jalan dulu yaa.." Guntur menuntun Kiara untuk pamitan ke Riana dan Ibunya.
"Dadaaaah...," Kiara tertawa dan melambaikan tangannya yang dibalas Riana dan Ibunya.
"Dadah Kiaraaaa...," ujar Riana dan Nini berbarengan.
Aku harus menelepon Bapak dan Mak. Biar mereka nahan Diana untuk nginap barang beberapa hari disana sambil nunggu Aku balik. Gimanapun caranya aku harus balik menjemput Diana dan mengantarnya balik ke asramanya di kota "Bd".
Guntur memacu perlahan motornya dan membawa Kiara serta di boncengan bagian depan motor sambil memikirkan alasan apa yang nanti akan disampaikannya kepada Diana.
__ADS_1
\=\=\=\=\=\=