
Sehari setelah Guntur bertengkar hebat dengan Istrinya, dalam keadaan marah Riana melaporkan perbuatan Suaminya kepada Dan-Yon.
Dengan membawa serta Kiara, Riana kemudian pulang ke rumah orangtuanya.
Walaupun Guntur berkali-kali minta maaf dan berjanji untuk memperbaiki hubungan pernikahan mereka, namun Riana tidak perduli.
Kenyataan kalau Guntur suaminya telah menikahi Diana tanpa sepengetahuannya membuat Riana sangat terluka dan marah besar.
Mengetahui tindakan Riana, Guntur memutuskan untuk desersi. Namun dilubuk hati terdalamnya, laki-laki itu masih berharap maaf Riana. Dengan begitu dirinya tidak perlu desersi.
Aku nggak nyalahin Riana kalau akhirnya dia melaporkan aku ke Dan-Yon. Dia sedang marah. Biar aku menunggu beberapa hari kedepan. Kali aja Riana memutuskan untuk berdamai dan membatalkan laporannya, batin Guntur sembari memacu laju mogenya menuju kampung halamannya sambil berharap Riana masih mau merubah keputusannya.
"Sebaiknya lu segera pulang Gun. Bapak tunggu. Biar kita bicarain gimana sebaiknya tindakan lu menghadapi masalah ini ,"
Begitu kata Bapak tadi ketika Guntur meneleponnya.
Perjalanan menuju kampung normalnya dapat ditempuh hingga 3 jam lamanya. Namun laki-laki itu memacu mogenya seperti orang kesetanan. Hanya kurang dari 2 jam Guntur sudah tiba dirumah orangtuanya.
Dia disambut Bapak yang bersikap tenang. Sementara Mak lebih memilih diam. Terlihat ketiga kakak Guntur juga ada dirumah Bapak dan Mak.
Wajah mereka terlihat tegang.
"Dari awal gue udah kaga setuju elu nikahin si Diana. Sekarang terbukti kan. tu wadon hanya bawa masalah dalam rumah tangga elu sama si Riana!!." sungut Lilik, kakak tertua Guntur begitu Guntur tiba.
Tanpa menunggu Guntur duduk, Lilik langsung menyalahkan adiknya itu.
Dari ketiga kakak beradik itu memang hanya Lilik yang menentang keras pernikahan kedua Guntur. Ketidak setujuan Lilik juga didukung oleh Hana, istri Yudi.
Lusi dan Yudi hanya terdiam sambil memandangi Bapak yang sejak tadi diam saja. Sementara Mak terisak, sesekali menatap wajah Bapak.
"Bapak ..!?," Panggil Mak pelan.
Bapak menoleh dan memandangi wajah istrinya, kemudian beralih ke Guntur dan ketiga kakaknya.
"Semua sudah terjadi. kaga perlu disesalin lagi. Ini resiko, tinggal kita pikirin gimana seharusnya adik lu si Gun bersikap dan bertindak?." suara berat Bapak memecah keheningan.
"Kita Pak !? ___si tolol ini aja kali!!!." terdengar lagi sungutan Lilik.
"Bodoh elu Gun. Hanya karena nafsu lu nikahin si Diana. Sekarang lu tanggung sendiri akibatnya. Karier lu ancur juga rumah tangga elu dengan Riana..Ambyaaar__!!!." Lilik masih mengumpat ketika ucapannya dipotong Bapak
"LILIK..!!!," Terdengar suara keras Bapak menegur puteri tertuanya yang membuat seisi rumah terdiam.
__ADS_1
Lilik menunduk dan berhenti bicara. Namun sudut matanya tajam mengarah ke Guntur adiknya yang hanya diam saja.
"Lalu, apa rencana lu selanjutnya Gun ?." tanya Bapak sembari memandangi wajah putranya, meminta jawaban.
"Gun akan menemui Riana besok atau lusa Pak."
"Untuk apa ?"
Untuk meminta Riana membatalkan tuntutannya dan menarik kembali laporannya Pak."
"Apa lu yakin, Riana akan setuju setelah perlakuan elu terhadap istri lu kemarin?."
"Demi Kiara Pak. Gun yakin, Riana akan setuju__." belum sempat Guntur menyelesaikan ucapannya, terdengar suara tawa Lilik.
"Yakin sekali lu Guun...Gun...!!," suara Lilik terdengar mengejek.
"LILIIIK..Bapak bilang DIAAM.. Biarkan adik lu bicara!!!."
Lilik bersungut, namun tak berani membantah perintah Bapak.
"Kalau Riana dan Mertua lu tidak setuju. Apa yang akan lu lakuin?,"
"Haaahh..," Guntur menghela napasnya."Terpaksa Gun harus desersi Pak dan ikut Diana ke Ktg. Nggak ada pilihan lain!."
Bapak memandangi wajah istrinya dengan tatapan yang hanya dimengerti oleh kedua orangtua itu.
"GILAAA elu Gun. Ngapain lu desersi hanya demi perempuan perusak seperti si Diana itu..!!!," Lilik mengomeli adiknya. Tidak setuju dengan keputusan Guntur.
"Mpok lupa kalau Diana juga istriku !?," tanya Guntur sambil menatap Lilik dengan mimik tak suka.
Lilik melengos, "HUH..Istri ..yaaa...Istri siri!." ejek Lilik dibarengi senyum tak suka disudut bibirnya.
"Mpok Lilik bisa diam kaga ??," Guntur menegur kakaknya. "Ini hidup Gun Mpok. Kalau Riana kaga nerima Gun dan menarik kembali laporannya, apa Gun harus ngemis-ngemis minta dikasihani gitu!?,"
"Bila perlu...kenapa tidak!?." Lilik keukeuh dengan pendapatnya.
Guntur melengos kesal. Bapak hanya diam mendengar pertengkaran kedua anaknya tanpa ingin menengahi.
Orangtua itu memang sedikit kecewa mendapati kenyataan kalau Guntur, anak yang dibangga-banggakannya itu akhirnya harus melepas seragam Tentaranya karena dua perempuan yang dinikahinya.
Namun Bapak tidak bisa berbuat apa-apa. Keselamatan Guntur adalah hal terpenting bagi Bapak. Bapak tau benar hukuman yang bakal diterima Guntur bila tertangkap.
__ADS_1
"Ingat lu Gun. Bapak keluar uang banyak demi jadiin elu seorang Tentara. Dan sekarang, lu tega ngecewain Bapak yang begitu Bangga dengan status elu putranya yang seorang anggota TNI AD !?. Apa kata orang-orang nanti kalau tau lu desersi hanya karena wadon!?"
Guntur terdiam. Batin laki-laki itu membenarkan ucapan Mpoknya. Namun semua sudah terjadi.
Sikap Bapak yang tidak sepenuhnya menyalahkan Guntur membuat dirinya lebih percaya diri untuk memutuskan desersi.
"Saat ini Bapak kaga bisa banyak bantu lu Gun. Sekarang semua tergantung elu. Sore ini juga lu ke sono ke rumah Mertua lu. Selesain masalah lu berdua. Jangan kebawa emosi," pesan Bapak.
"Iya Pak__,"
"Ingaaat..jangan sampai elu lepasin si Riana. Pertahankan rumah tangga elu. Kaga usah pikirin si Diana. Dia sudah pergi jauh. Biarin aja..!," seru Lilik mengingatkan adiknya.
"Lihat gimana nanti Mpo," jawab Guntur.
Pertemuan siang itu selesai. Mak masih ngobrol bareng Lilik, Hana dan Lusi. Ketiga perempuan itu kemudian menyiapkan makan siang.
Semua makan tanpa suara.
Selesai makan siang, Guntur membaringkan tubuhnya di atas dipan depan rumah. Laki-laki itu tak bisa tidur. Hatinya gelisah. Pikirannya kacau.
Riana dan Diana memang berbeda. Namun ada Kiara yang membuat dirinya harus berfikir seribu kali sebelum.memutuskan untuk cerai dari Riana dan desersi.
Riana tidak akan membiarkan Guntur mengambil hak asuh Kiara. Apalagi usia Kiara yang masih balita membuat kemungkinan Guntur membawa Kiara bersamanya akan semakin sulit.
"Atau aku culik aja ya si Kiara !?. Aku yakin, Diana bisa menjadi Ibu sambung yang baik bagi Kiara." guman Guntur.
Tak disadarinya kalau Yudi Abangnya sedang berdiri dibelakang Guntur dan memperhatikan tingkah adiknya.
"Jangan nekaat. Biarkan saja si Kiara bersama Maknya. Diusia sekarang elu kaga bisa ngambil si Kiara dari Maknya. Apalagi ngambilnya secara paksa," ucap Yudi mengingatkan Guntur sambil duduk disamping adiknya itu.
"Tapi..Gun kaga bisa hidup tanpa Kiara Bang. Abang tau sendiri gimana sifat Riana. Kalau Gun ngebiarin Kiara sama Maknya, lama-lama anak itu bakal benci banget ama Gun dan ngelupain Ayahnya karena hasutan Mak dan Neneknya !!," seru Guntur.
Tangan laki-laki itu meremas rambutnya kemudian mengepalkan kedua tangannya dengan gelisah.
"Ya..elu harus tetap menjaga hubungan baik dengan Riana agar Kiara tetap ada dalam pengawasan lu Gun," saran Yudi.
"Abang bener. Sekarang sebaiknya Gun mikirin gimana sebaiknya langkah Gun selanjutnya. Sebentar sore Gun langsung ke rumah Riana bang. Kita lihat gimana keputusan Riana dan keluarganya nanti," putus Guntur mantap.
"Makasih bang saran dan nasehatnya," ucap Guntur lega.
"Sama-sama. Gue pulang dulu. Ntar kalo kelamaan disini kasian bini gue..bisa kepengaruh sama Mpok kite__ hehehe," ucap Yudi tertawa. "Lu hati-hati di jalan. Dan ingat pesan Bapak tadi. Jangan kebawa emosi..oke !?."
__ADS_1
"Oke Bang. Makasih," Guntur berdiri, menjabat tangan Abangnya itu kemudian mengantar Yudi dan istrinya Hana ke halaman depan rumah.