
Aku tiba beberapa menit lebih cepat dari rencanaku semula. Dengan kecepatan maksimal mogeku, tak butuh waktu lama untuk sampai di Batalion.
Jam telah menunjukan pukul 13.30 WIB. Segera aku menuju rumah. Perasaanku tidak enak karena aku tau betul bagaimana hubungan istriku Riana dengan Mak. Apalagi saat ini Riana sedang gondok-gondoknya ke aku gara-gara pertengkaran kami kemarin di depan kedua orangtuaku.
"Assalaamualaikum, Maak..Rianaa..?" kuucap salam sambil memanggil nama Istriku dan Mak.
"Wa'alaikumsalaam..," jawab seseorang dari dalam rumah. Ternyata Windi dan Anggi. Mereka menyambutku dengan sumringah.
"Mak mana?" tanyaku segera
"Mak di dapur, lagi nungguin Abang," jawab Anggi pelan.
"Kalian sudah makan siang," tanyaku melihat wajah lesu adik dan keponakanku.
"Belum Bang. Kata Mak mau nunggu Abang dulu, biar makan bareng," jawab Anggi.
Suara aneh diperut Anggi menyentuh telingaku. Astagaa, jam segini..Mak, Anggi dan Windi belum juga makan siang. Kemana Riana..? Batinku bertanya-tanya.
"Yuk, kita ke dapur nemuin Mak," Aku menarik tangan adik dan keponakanku ke dapur.
"Riana mana Mak?" tanyaku begitu bertemu Mak. Kupeluk dan kuciumi Mak dengan perasaan senang. Kasian Mak, jauh-jauh kesini ingin nemuin Anak, Menantu dan cucu, malah ditinggal kayak begini.
"Tadi Istrimu pamitan ke Mak, mau ke rumah tetangga sebelah katanya," jawab Mak dengan wajah lesu.
"Kenapa Mak nggak makan, ini udah telat banget Mak," ucapku sambil menuntun Mak kemeja makan.
Kuperhatikan wajah Mak yang hanya tersenyum, mungkin tak ingin aku khawatir. Tanpa menunggu lama, akupun membuka lemari makanan dan...lho..ini kayak bukan masakan istriku batinku heran. Pasti Riana pesen makanan siap saji di aplikasi tebakku dalam hati.
"Anggi..panggil tetehmu pulang, ajak Kiara. Bilang Abang udah pulang!" seruku, menyuruh adikku Anggi untuk memanggil Riana.
"Iya Bang.." Anggipun pergi ke rumah tetangga sebelah sambil menggendong Kiara.
__ADS_1
Sambil menunggu Riana dan Anggi, aku menyiapkan makan siang kami. Seluruh lauk yang ada di lemari aku keluarkan dan kutaruh diatas meja. Tidak lupa nasi hangat yang masih utuh di rice cooker juga kutaruh diatas meja. Aku tak perduli, mungkin salah satu lauk itu sengaja disimpan Riana untuk dirinya. Pokoknya semua aku keluarin.
Tak lama menunggu, Riana, Anggi dan Kiarapun muncul dari pintu depan. Karena tidak ingin ribut didepan Mak, aku memutuskan untuk mendiamkan sikap Riana kali ini.
Begitu melihatku yang sedang sibuk melayani Mak makan siang, Riana tak berkata apapun. Dia tau kalau aku sedang marah besar.
"Maaf Ri, Mak makan duluan..tadi Mak mau ke rumah sebelah manggil kamu, tapi Mak nggak enak hati makanya Mak mutusin untuk nunggu kamu pulang aja," Mak memberi penjelasan. Mungkin tak ingin menantu dan putranya salah kira.
"Iya Mak..Riana juga minta maaf, tadi kelamaan disebelah," ucap Riana pelan. Ekor matanya melirik kearahku. Namun tak ku gubris.
"Makan Riana," ajak Mak.
Riana mengangguk. Matanya kini tertuju ke atas meja makan. Rendang yang tadi dibelinya dan disimpan di lemari makan untuk dirinya kini tersaji indah di atas meja, tepat dihadapan Mak.
Aku memang sengaja mengeluarkan seluruh isi lemari makan sebagai aksi protesku atas perlakuan Riana kepada Mak.
Masih tersisa 3 potong rendang diatas meja. Riana yang memang sangat menyukai rendang hendak mengambilnya, namun kupegang tangannya yang hendak menyentuh piring sambil menggelengkan kepalaku.
"Biarin aja Gun..buat makan malam," ujar Mak yang ternyata mendengar bisikanku ke Riana tadi.
"Ga usah Mak, dimakan aja. Windi dan Anggi juga belum makan. Untuk ntar malam nanti Gun beli lagi," jawabku dan kemudian melanjutkan makan siangku.
"Ayo Anggi...Windi, makan bareng Abang. Pake lauk rendang daging itu ya..," Aku menyuruh Windi dan Anggi untuk ikut makan.
Kamipun makan siang tanpa suara. Hanya terdengan bunyi piring dan sendok yang saling beradu serta suara Kiara yang sesekali minta disuapi Mamahnya.
\=\=\=\=\=
POV Riana
Rasa kesal dan marahku kepada Aa' karena peristiwa pertengkaran kami kemarin di rumah Mertuaku, semalam saat Aa' pergi tanpa pamit hingga hari ini masih belum hilang. Hal itu membuat aku malas melakukan apapun termasuk masak untuk hari ini.
__ADS_1
Saat Mertuaku ngabarin bakal ke asrama, Aku mulai was-was. Pikiranku kacau antara enggan dan pasrah.
Enggan karena hubunganku dengan Ibu Mertuaku yang sedang tidak baik-baik saja. Pasrah karena Mak, Anggi dan Windi sudah menuju rumah. Nggak mungkin aku suruh mereka balik dengan alasan Aa' nggak di rumah.
Terus terang aku masih belum tau bagaimana cara bersikap didepan Mertuaku. Apalagi tidak ada Aa' yang bisa menjadi penengah diantara kami, Menantu dan Mertua.
Sejak awal Mak memang tidak menyukaiku karena pernikahanku dengan Aa' yang tanpa restu kedua orang tua Aa'. Apalagi saat menikahiku, Aa berstatus suami Rini yang dinikahi Aa' secara siri
Karena malas ngapa-ngapain akhirnya kuputuskan untuk memesan makanan siap saji di aplikasi online. Sengaja kupesan rendang kesukaanku dan kusimpan disudut lemari makan.
Untuk mengulur waktu dan menghindari berhadapan lama dengan Ibu Mertuaku, aku sengaja berlama-lama di rumah tante Deni, tetangga sebelah rumahku sampai aku lupa kalau waktu makan siang telah lewat beberapa jam yang lalu.
"Teh, Abang udah datang dan nyuruh Teteh pulang," ucap Anggi yang tiba-tiba sudah berdiri di ruang tamu rumah om Deni sambil menggendong Kiara.
Astagaaaa..jam berapa ini. Aku sampai lupa kalau Mertuaku ada di rumah.. Riana kaget dan tersadar sudah terlalu lama dirumah tetangganya..
"Ooh..iya Nggi, ayo..Tan...aku pulang dulu ya," Aku berpamitan ke tuan rumah.
"Iya Ri'..,"
"Ayo nggi," aku menarik tangan Anggi dan kuambil Kiara dari gendongannya. Ini caraku menghindari kemarahan suamiku.
Saat masuk rumah, kulihat suamiku telah menyiapkan makan siang untuk Ibu Mertuaku. Aku diam saja dan berusaha menghindari tatapan marah Suamiku.
Di meja makan kulihat rendang yang tadi kusimpan. Aku ngin mengambil lauk kesukaanku itu, tapi tiba-tiba Aa' mendelik ke arahku dengan tatapan tak biasa. Akhirnya ake memilih mengalah.
" Maaf Ri, Mak makan duluan..tadi Mak mau ke rumah sebelah manggil kamu, tapi Mak nggak enak hati makanya Mak mutusin untuk nunggu kamu pulang aja," Mak memberi penjelasan. Mungkin tak ingin menantu dan putranya salah sangka.
"Iya Mak..Riana juga minta maaf, tadi kelamaan disebelah," jawabku dengan suara pelan.
Hari ini terasa begitu tidak mengenakan bagiku. Aku tau setelah ini, kami...Aku dan Suamiku bakal bertengkar lagi. Duh..!!
__ADS_1